Inggris, Spanyol, Eyang Subur, Fathanah dan Kancil

Dalam literatur manajemen David McClelland  sangat terkenal dengan teori motivasinya  yang disebut teori tiga kebutuhan karena menyimpulkan  ada tiga kebutuhan utama  manusia  seperti yang terlihat di gambar berikut:

Three Needs Theory

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa McClelland untuk sampai ke hasil ini menggunakan analisanya terhadap cerita cerita anak anak di Inggris dan Spanyol seperti yang diuraikan dalam bukunya The Achieving Society yang ditulis pada tahun 1961. Kesimpulan beliau cerita yang disampaikan kepada anak anak akan mempengaruhi motivasi mereka dalam menjalani hidup kedepan. Cerita atau dongeng karya sastrawan Inggris biasanya penuh muatan muatan spiritual dan motivasi untuk maju  dari dulu hingga sekarang, lihat saja  sekuel Harry Porter yang difilmkan misalnya, Alice in Wonderland,  Romeo and Juliet,  sebaliknya  dongeng rakyat  Spanyol isinya banyak  cerita cerita yang meninabobokan  dan saking hebatnya masalah tidur ini, kata SIESTA adalah bahasa Spanyol yang diadopsi oleh bangsa bangsa Eropa dan Amerika untuk sebutan keren Tidur Siang. Sekalipun dua negara tersebut merupakan penjajah terkenal  sampai berakhirnya perang dunia ke 2, fakta menunjukan Inggris makin  maju sementara Spanyol makin terpuruk termasuk klub sepakbolanya yang menjadi kebanggaan sekarangpun  berpindah ke Jerman. Era Barcelona dan Real Madrid sepertinya sudah bergeser ke Bundesliga sekarang. Jadi apa yang bisa  dibanggakan Spanyol selain sepakbola sekarang?

Kalau teori Oom  David ini benar bahwa cerita atau dongeng pengantar tidur anak anak menentukan motivasi seorang anak bangsa untuk mencapai prestasi, maka  kita tentu sedih karena cerita pengantar tidur yang paling terkenal di Indonesia adalah Cerita Sang Kancil dengan berbagai lakon.Tokoh si Kancil dengan segala sepak terjangnya tak bisa disangkal sudah menjadi ikon dunia dongeng anak Indonesia. Semua ending biasanya berakhir dengan  kecerdikan  (kelicikan) si Kancil  menjebak lawannya hewan hewan yang lebih besar dan buas.

Celakanya  salah satu cerita yang paling populer adalah cerita Kancil  Mencuri  Ketimun. Coba aja nanya ke penjaga kebun binatang, pernahkah ia memberi makan  kancil ketimun? Yang namanya kancil itu binatang pemalu, dan pendiam. Makanan yang paling disukainya adalah buah-buahan kecil yang berair. Ya, ketimun memang berair. Tapi kancil NGGAK SUKA  makan ketimun. Kalau pun tuh kancil kepepet dan mesti makan ketimun, bisa mokat dia  alias koit bin  death. Tapi itulah, mau ngawur atau tidak cerita Kancil  tetap menjadi favorit anak anak yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Melihat pak Susno Duaji yang melarikan diri sebelum  menyerahkan diri dengan alasan interpretasi beliau tidak ada perintah penahanan dari MK,  Eyang Subur yang beristri melebihi kapasitas tapi masih mencari celah, dan Pak De Fathonah yang sibuk mencari pembenaran kenapa dia memberikan duit dan bonus yang banyak kepada  model majalah hot Vitalia Shesa, apakah dongeng tentang kancil  yang identik dengan cerdik, licik, banyak akal, dll tadi begitu membekas dalam memori mereka ini?

Pujaan Hati Pak De Fathanah

Kalau begitu, maka perlu-lah repositioning cerita Kancil tersebut untuk generasi berikutnya. Anda memang tidak berubah jadi kancil kalau makan daging kancil terus, tapi  dijejali cerita kancil terus terusan sejak kecil akan membuat perilaku anda seperti kancil.  Kalaupun  kancil dipandang sebagai  makhluk kreatif, maka kreatifitas tersebut lebih menjurus kearah yang nyeleneh seperti Pak De Fathanah dan  Eyang Subur yang selalu membawa bawa agama, kemungkinan ini adalah interpretasi Syariah yang diwujudkan sebagai PLAYBOY SYARIAH!  Tapi setidak  tidaknya  baik Pak De Fathanah  maupun Eyang Subur telah menunjukkan bahwa  mereka  hanya perlu dua  kebutuhan yaitu Need for Power (Power karena perlu cewek lebih dari satu)  dan  Need for Achievement (Tua tua masih sukses menggaet cewek cantik).  Dan kalaupun Pak De Fathanah gagal menjadikan Vitalia  Sheisa  menjadi istri atau membuatnya menjadi Vitalnya Sisa  setidak tidaknya beliau sudah melengkapi  Need yang ketiga :

Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat – The Need for Affiliation
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain.  Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain melalui pembeliaan Honda Jazz dan arloji mahal.
Nah, kalau analisa yang terakhir ini mungkin dipengaruhi juga oleh cerita kancil yang saya dengar waktu kecil karena   berusaha mengait ngaitkan sesuatu mencari pembenaran mohon harap maklum. Kancil gitu lho….!
Categories: Human Resources Management | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: