Gelar Sarjana Indonesia

Dunia pendidikan  tinggi Indonesia memang selalu gonjang ganjing dari dulu dengan berbagai aturan…dan biasa ganti menteri kayanya akan ganti aturan pula. Lihat aja mulai zaman Pak Daoed Joesoef yang memperpanjang masa sekolah sehingga semester tidak  dimulai lagi di bulan Januari, Pak Noegroho Notosusanto yang memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus sehingga mahasiswa tidak boleh demo dan ikut kegiatan politik, Pak Nuh yang baru lengser sangat getol menggerogoti APBN dengan alasan kualitas dosen melalui program sertifikasi sekalipun hasilnya gak banyak dosen yg  bisa menghasikan publikasi internasional berkualitas sehingga saya punya pemikiran ekstrim kenapa program sertifikasi itu dihentikan saja udah…lumayan duitnya buat nombokin BBM sehingga kenaikan bisa ditunda gitu lho. Tapi ada satu kebijakan yg sakti amat dan abadi sampai sekarang yaitu warisan Pak Fuad Hasan yang mengganti titel Drs dan Ir dengan berbagai macam embel embel sehingga hasilnya Indonesia merupakan negara dengan gelar sarjana terbanyak di dunia sebut saja sebagai contoh; sarjana ekonomi, sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana pertanian, sarjana kehutanan,  sarjana karawitan dll, dan bila disingkat menjadi macam macam  sedangkan di luar negeri hanya  mengenal  beberapa titel sebut aja Bachelor of Art (BA) atau Bachelor of Science (BSc)  tergantung dia  dari ilmu sosial atau pasti alam. Sebut aja si A memiliki gelar kesarjanaan di bidang pendidikan maka dia akan menulis dalam daftar riwayat hidupnya Bachelor of Art in Education…jadi untuk penghematan yang membedakan hanyalah in…tersebut, bandingkan dengan di Indonesia yang harus menyebutkan semua sehingga ada titel Sarjana Agama, Sarjana Teknik (gak tau Sarjana Santet udah ada apa belum yaa…?). Di level master (Ind = magister), sama saja diluar negeri tidak banyak titel yang dipakai. MBA dan MSc adalah gelar yang paling umum. Untuk ilmu ekonomi dan bisnis misalnya;  gelar MBA diberikan kepada mereka yg menyelesaikan  pendidikannya melalui  moda  melengkapi mata  kuliah sebanyak 12 mata kuliah dan penyusunan tesis yang tidak susah susah amat. Sedangkan MSc  diberikan kepada mereka yg   menyelesaikan studinya lewat jalur riset dengan menempuh 2 atau 3 mata kuliah wajib. Bandingkan dengan program MM Indonesia  dari PT papan atas yang harus menempuh 12 mata kuliah + tesis komprehensif yang amat susah demi mendapatkan gelar Magister Manajemen.  Juga yang membedakan disiplin ilmu hanya di tunjukan dengan kata in...jadi MBA in International Business, MSc in Entrepreneurship….kagak seperti di bumi Pancasila gelar Magisternya banyak amiir, sehingga dibuat satu gelar yang bisa mencakup semua yaitu MSi (Magister Sembarang Iso)…makanya jangan heran S2 Akuntansi gelarnya MSi, S2 komputer juga MSi, S2 Administrasi Publik juga MSi..dan silahkan cari sendiri MSi yang lain.

Setelah wisuda

Setelah wisuda

Di level yg lebih tinggi, kalau sebutan Doctor (Dr) di luar negeri adalah sebutan profesional kepada orang yang telah menyelesaikan PhD, tetapi di Indonesia Dr.  adalah gelar bukan sebutan profesional. Nah dengan akan datangnya Asean Economic Community (AEC) di akhir 2015 dimana  semua tenaga kerja ASEAN akan bersaing secara bebas, tidak akan kesulitankah  sarjana sarjana Indonesia nantinya dengan gelar mereka yg mungkin susah dimengerti tersebut? Para sarjana tersebut  mungkin akan minder karena gelar kesarjanaannya yang agak nyeleneh tersebut. Tanya saja  adik adik yg di ITS atau ITB sekarang mereka  akan bangga bergelar Sarjana Teknik atau Ir (Engineer). Di Malaysia saja lulusan beberapa PT diberi  gelar Engineer yg saya percaya akan meningkatkan rasa pede mereka.

Suatu model itu akan diikuti kalau dia memiliki kriteria Respected (Dihormati), Referred (Dirujuk) dan Relevan (Sesuai dgn zaman).  Dengan menggunakan framework tersebut silahkan dianalisa model  gelar sarjana Indonesia tersebut?

Masihkan relevan gelar sarjana yang kita pakai sekarang ini?

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Leave a comment

Executhief, Legislathief and Executhief

Pada tahun 1968 , Gunnar Myrdal seorang peraih nobel berkebangsaan Swedia  menulis buku  yg berjudul Asian drama: an inquiry into the poverty of nations  berdasarkan analisa  beliau terhadap India  dan kemudian diteruskan ke  Indonesia. Beliau  memberi judul bukunya drama  sebagai bentuk kepesimisan  melihat kepura puraan yang terjadi   di negara negara Asia  dalam penyelengaraan tatanegara yang bermartabat dan terhormat. Satu istilah yang dilontarkan adalah  Soft State  (negara lemah) untuk  menunjukkan perbedaan Asia dan negara negara barat dalam penyelenggaraan tata negara. Diantara ciri ciri  negara lemah adalah:

  1. Golongan penguasa  tidak menghormati dan  mentaati  undang-undang, malah menggunakan  kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar besarnya demi kepentingan sendiri.
  2. Semuanya diperdagangkan , di Indonesia  mulai dari sapi sampai keadilan.
  3. Peraturan sengaja dilanggar untuk memperkaya golongan berkuasa dan berpangkat
  4. Meluluskan undang-undang tetapi non sense dalam pelaksanaannya
  5. Pembayaran pajak dipermainkan dan kalau bisa tidak perlu dibayar
  6. Semua ngomong kalau dapat  jabatan : ini  amanah, tapi dalam prakteknya amanah untuk memperkaya diri
  7. “Budi politik”   ditabur atau dijual kepada  siapa yang bisa  mendukung menjadi kepala daerah, anggota DPR, lurah, dll.


Singkatnya, ciri utama negara lemah (soft state)  ialah merajalelanya  korupsi, kerakusan, keangkuhan dan penyalahgunaan  kekuasaan di  kalangan eksekutif (kepala daerah,  bupati, gubernur, menteri dan semua penjalan kebijakan), merebak   ke kalangan  legislatif (DPR) , dan  akhirnya tidak mau kalah berpartisipasi juga  kalangan yudikatif (hakim, jaksa).

Tangkapan besar  terbaru  KPK  yg melibatkan  eksekutif, legislatif  dan yudikatif :  menunjukkan pembuktian apa yang dikatakan oleh Mbah Gunnar Myrdal sejak puluhan tahun  yang lalu  masih tetap dipertahankan sampai sekarang ini.

Pada  tahun 1748 Montesquieu menerbitkan bukunya yang mashur  L’esprit des lois (The Spirit of the Laws), yang mengandung teorinya tentang ‘Trias Politica’. Menurut Montesquieu, maka kekuasaan dalam negara itu seyogyanya dibagi menjadi tiga kekuasaan, yaitu kekuasaan membuat undang-undang atau ‘legislatif’, kekuasaan menjalankan undang-undang atau ‘eksekutif’, dan kekuasaan mengadili undang-undang atau ‘yudicatif’. Ketiga kekuasaan itu perlu sekali dipisah-pisahkan, yaitu diberi kedaulatan sendiri-sendiri dalam lapangannya supaya dengan demikian ada ketegasan dalam negara dan tercapai kebebasan yang sebaiknya bagi tiap-tiap warga negara.

Nah kalau Montesquieu masih hidup  mungkin beliau akan miris  melihat Trias Politica-nya di Indonesia  menjadi ExecuThief, LegislaThief  dan YudicaThief tetapi Mbah Myrdal makin sumringah karena teori beliau  kekal dan abadi. Dan kalau beliau masih hidup dan meneruskan observasinya tentang  Indonesia mungkin akan ditambah satu  lagi kriteria soft state: percaya dengan  tahyul termasuk dukun dukun politik sehingga iklan iklan perdukunan yang bisa menjadikan orang kepala daerah banyak di temui. Nih contohnya satu:

Garansi insya Allah jadi, dukun politik ngaku keturunan nabi

Anda boleh saja berkomentar miring tentang Doktor (katanya) keblinger satu ini, tapi   saya yakin ada saja yang percaya, karena di  soft state kaya di Indonesia   sepertinya  menghidupkan  orang mati saja yang nggak bisa.

Prof. Rhenald Kasali boleh saja cuap cuap terus dengan teori beliau tentang perubahan dan mendapat pengakuan sebagai pakar  change management dan sejenisnya, tetapi yang namanya  perubahan itu harus dimulai dari orang  yang berada di atas. Tanpa perubahan dari orang orang yang diatas  Drama yang dikatakan oleh Gunnar Myrdall akan terus berlanjut, entah sampai kapan?

Categories: Budaya, Indonesiana, Politik | Leave a comment

Personality Characteristics Hampering the New Economic Models

This paper is presented on

Malaysian Technical Universities International Conference on Engineering & Technology (MUiCET 2011)

click the link  here: MUICET 2011 Program Book

ABSTRACT

Malaysia is under economic reform from New Economic Policy to New Economic Model.  Unlike the previous model, The New Economic Model implicitly will lead the Malays to market based-economy. Conditioned this way, all ethnics forming 1 Malaysia will compete. Drawing on cultural approach, characteristics of South East Asian Malays   (hereafter referred to as Bumiputera) are identified which may account for selected personality characteristics being significant predictors of entrepreneurial spirit. Although numerous personality characteristics have been associated with entrepreneurs, this study is limited to; risk-taking propensity, tolerance for ambiguity, internal locus of control, innovativeness, and independence.  Generally, these characteristics are not prevalent in Malayan Bumiputera’s culture. Lack of these characteristics may hamper the effectiveness of the rhetoric of entrepreneurship, as expressed in the language of New Economic Model.

 

Keywords: entrepreneurs; risk-taking propensity; tolerance for ambiguity; internal locus of control; innovativeness; independence.

 

 INTRODUCTION

Identifying and inculcating potential entrepreneurs is one way towards finding solutions to stimulate the economy.  This particularly is useful in South East Asian economies, where the economic crisis in the late 1990s has seen rising unemployment and recession. Malaysia is studied because this country has a deep interest in developing an entrepreneurial spirit among its people in an effort to achieve the country mission to be a fully developed country in 2020. Since Malaysia’s success has deep roots in Malaysia’s history, governments and the public management scholars who seek to adopt the model need to understand both the strengths and weaknesses of administrations like Malaysia’s, and understand the character and origins of a policy that they wish to transfer.

Malaysia is a multi-racial country of about 23.27 million people (Census, 2010) consisting of the indigenous Bumiputeras (65.1 percent), Chinese (26 percent), Indians (7.7 percent) and others (1.2 percent). The  study is  particularly important for  Malayan Bumiputeras  as they were historically farmers and fishermen   with little interest  in  business, while , the immigrant Chinese and Indians in  tin mines and rubber plantation that later on become the modern economic sectors.   Malays formerly were economic laggards. There were two schools of thought; structural and cultural hypothesis, as to their economic predicament (Lim, 2001). The structural hypothesis blamed   the structural impediments erected by non-Malays (especially the colonial British and the immigrant Chinese). The cultural hypothesis proposed that Malay values were instrumental in obstructing their economic advancement.

In 1970, the Malay-led government launched New Economy Policy to eradicate poverty, especially among the Bumiputeras, and to restructure society as well as to diffuse the correlation between ethnicity and occupation. By 1990, Malays were to secure 30% (from only 4.3% in 1970) of the corporate assets as well as their proportionate share of employment in commercial activities. This policy effectively removed the structural impediments, providing the smooth way for Malays to advance into the commercial arena once dominated by non-Malays. However, when the policy expired in 1990, Malays were able to obtain only 19% of the corporate wealth instead of the targeted 30% (Kamal and Yusof, 1989). In 2000, their share further deteriorated to 16% (Strait Times).  From this point, it is obvious that structural hypothesis  has only  limited power to explain the phenomena.  Furthermore, National Economic Advisory Council (NEAC) on the New Economic Model for Malaysia (2010) stated:

Ethnic-based economic policies worked but implementation issues also created problems. The NEP has reduced poverty and substantially addressed inter-ethnic economic imbalances. However, its implementation has also increasingly and inadvertently raised the cost of doing business.

Based on previous experience, NEM very likely will emphasize the concept of equal opportunity. This way, it is time to observe the cultural hypothesis that proposes   Malay values are   instrumental in obstructing their economic advancement. Specific to this research, cultural characteristics of Malayan (hereafter referred to as Bumiputera) are identified which may account for selected personality characteristics being significant predictors of entrepreneurial spirit. Since culture affects personality (Hofstede & Mc.Crae, 2004, Rajiani, 2012), the objective of this article is to develop a model of the predictor personality characteristics that identify individuals with more versus less entrepreneurial spirit. 

Reynolds et.al (2002) find the three main obstacles to entrepreneurial activity; (1) financial support; (2) social and cultural norms that oppose the entrepreneurial spirit; and (3) inadequate or insufficient governmental policies.  Up to this point the Malaysian government has been supportive of entrepreneurship. It has taken various steps to promote the development of entrepreneurs in general (including providing conducive  economic environment, various financing and funding schemes, tax incentives, as well as business advisory centers). The government has regarded nurturing entrepreneurs as a way to facilitate and upgrade the industrial structure so as to create industries for the next generation. However a common critique is the extent of the bureaucracy or “red tape” with which entrepreneurs must contend when dealing with.  As such this article also   highlights empirical   findings on the role of government agencies readiness in adopting the concept of New Economic Model.

 

ENTREPRENEURIAL PERSONALITY THEORY

Ang and Hong (2000) proposed several factors that may influence the emergence of entrepreneurship. Economic factors, such as market incentives and capital availability, are necessary to start these ventures. In comparison with the rest of the countries in the region, Malaysia has always had a healthy banking and financial sector. While there were some concerns raised during the height of the crisis, the financial and banking sector is currently regarded as one of the healthiest in the region. The government continues to develop the financial system, implement policies to promote a robust and resilient financial system, and reduce the potential for financial instability. These efforts have been undertaken in order to ensure that the financial sector is able to remain sound and intact despite the severe consequences of the recession following the Asian economic crisis. Before capital is needed for funding   , there have to be factors that foster entrepreneurial inclination. Noneconomic factors, such as culture and psychological factors, such as achievement orientation and motivation, have been identified as encouraging entrepreneurship. As this study is on the spirit of entrepreneurship rather than the extent to which such entrepreneurial activities exist, economic factors are not discussed. Instead, noneconomic factors, such as personality   characteristics that influence entrepreneurial spirit, are examined.

Entrepreneurial spirit pertains to the entrepreneurial outlook and stance. As an entrepreneur often is defined as an individual who undertakes new, innovative, and risky ventures, entrepreneurial spirit often is referred to as the possession of such personality characteristics as risk-taking propensity (Tan, Siew, Tan, & Wong, 1995). These characteristics enable a person to be entrepreneurial (Ang and Hong, 2000).  Although numerous personality characteristics have been associated with entrepreneurs (Hornaday, 1982), the more commonly observed and cited ones are risk-taking propensity, tolerance for ambiguity, persistence, achievement orientation, internal locus of control, innovativeness, and independence (Ang and Hong, 2000).

Entrepreneurs are generally believed to take more risks than do managers because the entrepreneur actually bears the ultimate responsibility for the decision. Palich and Bagby (1995) suggested that a possible reason for the higher risk-taking behavior is because entrepreneurs tend to view business situations more positively and perceive them as “opportunities” while non entrepreneurs may see little potential in them. Therefore, they are more likely to undertake these “opportunities” compared to less entrepreneurial individuals. Among the South East Asians, risk-taking propensity is not a common characteristic. Hofstede (1980) found that South East Asians, including Malays, generally avoid uncertainty and seek assurance. Bumiputera Malayan     culture is classically uncertainty avoiding, tends to generate predictable behavior and does not tolerate breaking the rules. They suggested that  bertolak-ansur  (or tolerance ), a characteristic of many Malayan  relationships, is practiced in part to minimize risk among individuals. Mahathir (1970) emphasizes; “it is typical of the Malay to stand aside and let someone else pass.” Therefore, based on the above discussion, risk-taking propensity is a differentiating cue because it is not a common characteristic among the Malayan Bumiputera.  An individual who is willing to take risk and face uncertainty is more likely to have an entrepreneurial spirit compared to one who avoids uncertainty.

Thus, the following proposition is proposed:

Low    risk taking propensity hampers Malayan Bumiputera to be an entrepreneur.

Entrepreneurs face an uncertainty that is introduced by the dynamic business world. Besides setbacks and surprises, an entrepreneurial environment often lacks organization, structure, and order. Yet, entrepreneurs thrive in such an ambiguous existence. Therefore, entrepreneurs are said to have a higher tolerance for ambiguity and enjoy situations without structure and procedure (Begley & Boyd, 1986; Timmons, 1978; Ang and Hong, 2000). Similar to the above argument forwarded on risk-taking propensity, the low tolerance for uncertainty among Malayan Bumiputera would suggest that tolerance for ambiguity is a significant predictor of entrepreneurial spirit.

Thus, the following proposition is proposed:

Low    tolerance for ambiguity hampers Malayan Bumiputera to be an entrepreneur

Entrepreneurs also have a high internal locus of control (Timmons, 1978), believing that they can control their life’s events. Thus, when failures are encountered, they attribute them to their own actions (Brockhaus, 1982; Ang and Hong, 2000). In Malay culture, Islam constitutes the key elements in ethnic identity.  Almost all Malayan Bumiputera are Muslim and since Independence in 1957 Islam has been adopted ‘the religion of Federation.”   This way Islam permeates every aspects of life in the realm of value and behavior. As Islam teacher that divine law is immutable and absolute, (takdir) it is in a very rare occasion to find any Malayan Bumiputera opposes the absoluteness of value written in the Quran. The concept of takdir, or pre destiny, is endorsed widely. Takdir refers to the belief that fate or supernatural forces determine personal outcomes. Therefore, given Malayan Bumiputera’s general reliance on external rather than internal locus of control, it is expected individuals who prefer to have control of their own lives to be more entrepreneurial which is very rarely found among Malayan Bumiputera.

Thus, the following proposition is proposed:

External locus of control hampers Malayan Bumiputera to be an entrepreneur.

Because entrepreneurs tend to be discontented with routine and regularity, they often come up with new ideas (Bajaro, 1981) and become more innovative (Buttner & Gryskiewicz, 1993). Their indifference towards making mistakes also serves as an advantage in overcoming the creativity barrier (Adams, 1980). However, Malayan Bumiputera is not known for innovativeness. One reason is Malayan Bumiputera’s paternalistic environment. The well-defined hierarchy, with its explicit roles for each member (Hofstede, 1980), inhibits creativity and innovation. Further, face—a measure of social value—is an important concept to the Malays. The potential loss of face from failure may discourage innovativeness. Therefore, in a culture where innovativeness is not encouraged, it becomes a differentiating cue that discriminates more from less entrepreneurial spirit.

Thus, the following proposition is proposed:

Innovativeness hampers Malayan Bumiputera to be an entrepreneur

Entrepreneurs also tend to be self-reliant and independent (Bajaro, 1981). They are able to work on their own and need less social support than non-entrepreneurs. Lodge (1975) argued that an individualistic culture promotes entrepreneurship because it allows an individual to do and change whatever he wants regardless of whether these are planned, exploratory, or experimental. Further, as observed by Levenhagen and Thomas (1990), individuals become entrepreneurs because they are dedicated to certain values that are in conflict with those of their previous employer. These conflicts draw them to be independent and set up their own business.

In contrast, Malays are known to be collectivistic (Hofstede, 1980), where social bonding plays an instrumental role in many aspects of living.  Alike other collectivist South East Asian countries, business are commonly patrimonialistic, where there exists paternalism, hierarchy, responsibility, mutual obligation, family atmosphere, personalism, and protection. Hofstede (1991) studied the work-related values of employees in IBM’s subsidiaries in numerous countries and proposed that the ethnic groups of Malaysia ‘may really be culturally not so different’. This proposition was defended based on approximation data from ethnically related neighboring countries (i.e. Indonesian data is used to approximate for Malays, Singaporean data for Malaysian Chinese, and Indian data for Malaysian Indian).  This practice has been legally adopted since 1970 under the existence of affirmative action    the “New Economic Policy “. These characteristics discourage change, which impedes entrepreneurial growth. Given the relationship between independence and entrepreneurship, we expect such independence to be a predictor of entrepreneurial spirit. Thus, the following proposition is proposed:

Dependence hampers Malayan Bumiputera to be an entrepreneur.

Lack of these entrepreneurship characteristic    dated back to as Malaysia’s first prime minister, Tunku Abdul Rahman, put it: ‘The Malays have gained for themselves political power. The Chinese and Indians have won for themselves economic power. The blending of the two . . . has brought about peace and harmony’ (Case, 2002). Since ‘political power’ included the power to shape the bureaucracy, ‘the bargain’ ratified what Crouch (1996) calls: ‘The old stereotypes – Malay bureaucrats and peasants, Chinese business and trades people, Indian professionals and estate labourers.’ (McCourt & Foon, 2007).

Some observers have suggested that ethnic identity has begun to weaken or fragment (Weiss 1999; Thompson 2001; Choi 2003), leading Case (1995) in McCourt & Foon (2007) to make the intriguing suggestion that there is now room for farsighted leaders to innovate within the parameters of cultural familiarity, couching initiatives in enough palliatives that they can push cultural change along a desired direction. This is reflected in political moves to sponsor a single Malaysian identity, or Satu Malaysia and economic reform under New Economic Model. Governments will only voluntarily adopt a policy if they believe it is successful.  Although keen to trumpet Malaysia’s achievements, affirmative action   is one crucial and distinctive aspect of civil service management, the political reflection of Malaysia’s precarious ethnic mix but blamed for bureaucratic inefficiency. Under the rhetoric of  New Economic Model  government policy demands public sector to reengineer its orientation to be more customer-oriented and entrepreneurial-driven. However, Zamhury  et.al (2010)  noted that  to change traditional bureaucratic culture that has long been embedded in the culture of Malaysian civil service is not an easy task. Their finding in Malaysia governmental organizations indicates that entrepreneurial culture is statistically insignificant relative to the adoption of market orientation philosophy.

Conclusion

Since end of New Economic Policy in 1990, Malaysia has been undertaking public sector restructuring until the formulation of the concept New Economic Model.  Concerning the concept of entrepreneur government, Turner (2002) utilized a metaphor of three types of diners to illustrate this point in South East Asia Country. According to this metaphor, enthusiastic diners are represented by Singapore and Malaysia, cautious diners are represented by Philippines, Thailand and Indonesia and diners who are unfamiliar with the menu are represented by Laos, Vietnam and Cambodia. The enthusiastic diners have bureaucracies that are capable of learning and adapting from successes elsewhere.  In Malaysia context, professional attitudes and macro environment (government policy) has been ready to adopt the policy. However attention must be given to organizational leadership and entrepreneurial culture (Zamhury et.al 2010) which seem not ready yet to adopt the policy of entrepreneurial government. The cautious diners demonstrate some degree of decentralization and privatization, but with only minimal overall changes having taken place within the centralized state. The unfamiliar diners have yet to build capacity and systemic processes to initiate and sustain public sector reform.

The present study argues that Malaysia is placed between the cautious diners and the unfamiliar diners. If so, pragmatic and contextual application and adaptations of NEM are required in dealing with the menu; that is the entrepreneurial spirit of Malayan Bumiputera and   entrepreneurial culture of Malaysia governmental organizations.

REFERENCE

Ang, Swee Hoon and   Hong, Don G. P (2000). Entrepreneurial Spirit among East Asian Chinese. Thunderbird International Business Review  42(3) , 285–309.

Bajaro, A.S. (1981). Entrepreneurial self-assessment. In Entrepreneur’s handbook (pp. 1–9, 263–270). The Philippines: University of the Philippines Institute for Small-scale Industries, Technonet Asia.

Begley, T.M., & Boyd, D.P. (1986). Psychological characteristics associated with entrepreneurial performance. Paper presented at the Boston Entreprenurial Research Conference, Wellesley, MA.

Buttner, E.H., & Gryskiewicz, N. (1993). Entrepreneurs’ problem-solving styles: An empirical research using the Kirton Ad-Inn Theory. Journal of Small Business Management.

Case, W. (1995) ‘Malaysia: Aspects and Audiences of Legitimacy’ in M. Alagappa (ed.) Political Legitimacy in South East Asia. Stanford, CA: Stanford University Press.

Case, W (2002) ‘Malaysia: Semi-Democracy with Strain Points’ in W. Case (ed.) Politics in South East Asia. Richmond: Curzon.

Choi, J. (2003) Ethnic and Regional Politics after the Asian Economic Crisis: A Comparison of Malaysia and South Korea, Democratization 10(1), 121 – 134.

Crouch, H. (1996) Government and Society in Malaysia, Ithaca, NY: Cornell University Press.

Hilley, J. (2001) Malaysia: Mahathirism, Hegemony and the New Opposition, London: Zed.

Hofstede &   Mc. Crae, R. (2004)  Personality and Culture      Revisited: Linking Traits and Dimensions of Culture . Cross-Cultural Research

Hofstede, G. (1980). Cultural consequences: International differences in work-related values. Beverly Hills, CA: Sage.

Hofstede, G.(1991).Cultures and organizations: software of the         mind. New     York, NY:  McGraw-Hill

Hornaday, J.A. (1982). Research about living entrepreneurs. In C.A. Kent, D.L. Sexton, & K.H. Vesper (eds.), Encyclopedia of entrepreneurship (pp. 26–27). Englewood-Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Kamal, S.   and Yusop, Z. (1989) Overfview of The  New Economic Policy and Framework  for the Post-1990 Economic Policy. Malaysian Management Review.

 

Levenhagen, M., & Thomas, H. (1990). Entrepreneurship, cognition, and framing complex environments: Evidence from computer software start-ups. Unpublished manuscript, University of Illinois.

 

Lim, Long (2001). Work-Related Values of Malays and Chinese Malaysians. International Journal of Cross Cultural Management   1:   209-226.

Lodge, G.C. (1975). The new American ideology. New York, NY: Alfred Knopf.

Mahathir, M. (1970) The Malay Dilemma, Singapore  ; Federal Publication.

McCourt, W. & Foon, Lee Meng (2007). Malaysia as Model,   Policy transferability in an Asian country. Public Management Review 9(2), 211 – 229.

New Economic Model  for Malaysia (2010).

Palich, L.E., & Bagby, D.R. (1995). Using cognitive theory to explain entrepreneurial risk-taking: Challenging conventional wisdom. Journal of Business Venturing, 10(6), 425–438.

Rajiani, I. (2012). Applying Personality Traits to Predict Loyalty and Neglect among Employees of Bank Jatim Located in 10 Big Cities of East Java (Mc Crae’s and Hofstede’s Theories on effect of Culture to Personality Revisited). Jurnal Aplikasi Manajemen, 8(3), pp-617.

Reynolds D, Bygrave D, Autio E, Cox L, Hay M (2002). Global Entrepreneurship Monitor , GEM. Executive Report

Strait Times (1999) . Bumi Wealth to Rebuild After Crisis . 11 September

Tan, W.L., Siew, L.K., Tan, W.H., & Wong, S.C. (1995). Entrepreneurial spirit among tertiary students in Singapore. Journal of Enterprising Culture

Thompson, M. (2001) Whatever Happened to ‘Asian Values’?, Journal of Democracy12( 4) ,154 – 165.

Timmons, J.A. (1978). Characteristics and role demands of entrepreneurship. American Journal of Small Business, 3(1), 5–17.

Turner, Mark (2002) . Choosing  Items  from  The  Menu: New Public  Management  in  Southeast  Asia.  International Journal of Public Administration 25(12), 1493-1512.

Weiss, M. (1999) What Will Become of Reformasi? Ethnicity and Changing Political Norms in Malaysia. Contemporary Southeast Asia. 21(12)  424 – 50.

Wilken, P.H. (1987). Entrepreneurship. New Jersey: Ablex.

Zamhury, Nurulaini, Hashim, Rugayah & Ahmad,  Jasmine  (2010). The Level of Acceptance in Adopting the Philosophy of Market Orientation in the Malaysian Public Organizations. Journal of Administrative Science 7 (2) , 69-82.

Categories: Ekonomi | Tags: , , | Leave a comment

Lebaran ikut MU, NU atau Bayern Munchen?

Izmi Rajiani

Selamat datang Idul  Fitri, Selamat berjibaku mendapatkan tiket pulang mudik, selamat bermacet  ria dan  selamat datang pula ”kehebohan” yang selalu menjadi agenda utama di Tanah Air terkait dengan masih terjadinya perbedaan penetapan  lebaran  antara Muhammadiyah (MU)  dan Nahdathul   Ulama (NU). Penggemar bola yang akrab menganggap MU sebagai Manchester United, secara guyon mengatakan ikut Bayern Munchen atau Arsenal aja dah hari  ini (6 Agustus 2013)..he..he..he.

Terlepas dari ikut MU,NU atau Bayern Munchen, yang tampak pada bulan ini biasanya ”kesalehan” menjadi tampak mengalami lonjakan. ”Tuhan” kita temukan di mana-mana termasuk televisi yang berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sebagai media religius sekalipun banyak diisi oleh pelawak pelawak konyol.  Di bandara kita menyaksikan gelombang rombongan jemaah umrah yang tak pernah putus. Jika gejala ini mengindikasikan peningkatan kesadaran identitas keagamaan, juga sekaligus pertanda meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat yang mampu membiayai perjalanan keagamaan yang mahal demi status. Semua ini merupakan kesadaran beragama atau saudara saudara kita…

View original post 505 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Haruskah Saya Menerima LinkedIn Invitation?

Akhir  akhir  ini saya banyak sekali menerima  undangan supaya terkonek lewat platform sosial media yang bernama LinkedIn.   Should I Accept that LinkedIn Invitation?  adalah pertanyaan yang sering saya dengar  karena  sekalipun  platformnya seperti Twitter atau Facebook, LinkedIn lebih dirancang  untuk  koneksi antar profesional. Masalahnya adalah siapa yang kita kategorikan sebagai profesional yang layak dalam hidup kita: mereka yg sering merekomendadikan tulisan kita, sering mengutip ata meretweet posting kita, meyukai status Facebook kita, tetangga sebelah , mahasiswa  atau teman makan siang sembunyi sembunyi selama bulan puasa?

Karena  memiliki   platform umum seperti Twitter & FB  dimana orang kadang kadang   melihat dan menilai Anda pada jumlah pengikut Anda, banyak yang main hantam kromo saja terima invitation untuk terkoneksi lewat  LinkedIn.

Sebenarnya supaya bisa  menggunakan LinkedIn bekerja    sepenuh potensinya , anda perlu menggunakan  kekuasaannya sebagai mesin pengenalan siapa anda ke dalam sebuah  buku alamat di mana semua profesioanl  dapat melihat dan terhubung dengan yang lain untuk membuat network  dengan anda dan  berbagi hal hal yang sama sama kita minati. Kalau para profesional tadi golongan yang suka tidak berpuasa, anda akan berbagi dimana tempat makan siang yang aman  dan nikmat tanpa harus ketahuan oleh anggota FPI yang sering melakukan razia, dan kalaupun ketahuan anda berbagi tips disitu  bagaimana  menghindarinya dan lolos.

Tapi mesin pengenalan itu  hanya bekerja jika Anda selektif  menerima yang menjadi koneksi. Jadi filter diperlukan dalam hal ini. Tes untuk menentukan apakah anda menerima atau tidak koneksi lewat  platform ini sederhana saja: Apakah anda akan melakukan sesuatu buat dia  dalam hubungan profesioal atau tidak atau kira kira orang tersebut akan melakukan sesuatu kah buat anda? Kalau ya..terima..kalau tidak ya ngak usah.

Karena ini hubungan profesional pertanyaan secara lebih spesifik  bagi saya  sebagai seorang akademisi adalah:  Will you attend my conference? Can you review my book? Can you contribute to my article publication in  good journal, Is it worth to put your name as my Co-author dll.

Ketika anda berpikiran apakah akan menerima undangan seseorang untuk saling terkoneksi , bayangkan pertanyaan tersebut. Perhatikan bahwa ada perbedaan antara mengatakan YA untuk sebuah konferensi karena ia merupakan acara yang menarik, dan mengatakan YA  karena  ingin membantu ANDA sebagai  orang yang menawarkan. Yang terakhir adalah orang yang telas lulus test yang anda lakukan.  Jika Anda konsisten dalam menerapkan test tersebut, anda dapat membangun jaringan LinkedIn yang berguna dan efisien dalam mendukung setiap tujuan profesional.

Jadi anda tidak perlu ikut terjebak  dengan menjadi  tipe orang yang mengevaluasi orang berdasarkan jumlah koneksi seperti di FB dan Twitter.  Inti dari tes tersebut (kalau dalam istilah pemerintah Indonesia: fit n proper test) adalah berpikir tentang kualitas dua arah hubungan anda.

Ingat LinkedIn adalah wadah para profesional saling terkoneksi dimana kualitas lebih menuntukan dari kuantitas.

Selamat berlinkedin ria!

Categories: Social Media | Tags: , | Leave a comment

Where is my University?

Recently  Quacquarelli Symonds (QS) issues the rank of  Malaysia universities  compared to other universities in Asia. The QS World University Rankings  with London home base is regarded as one of the three most influential and widely observed international university rankings, along with the Times Higher Education World University Rankings and the Academic Ranking of World Universitie. In Malaysia   the nation’s five oldest universities are in the top 100 of the 2013 QS University Rankings: Asia for the second consecutive year. Universiti Malaya ranked at 33, followed by Universiti Kebangsaan Malaysia at 57 and Universiti Sains Malaysia at 61.  Universiti Teknologi Malaysia is placed 68 while Universiti Putra Malaysia is ranked at 72.The  entire  list  for Malaysian universities is observable below:

How does Quacquarelli Symonds (QS) come to this  conclusion?

The ranking method had not changed from the previous years and was based on   academic reputation (40%),  employer reputation (10%),  student/faculty ratio (20%), papers per faculty/citations per paper (20%)  internationalization orientation (10 %).

The most controversial part of the QS World University Rankings is their use of an opinion survey referred to as the Academic Peer Review to determine academic reputation. Using a combination of purchased mailing lists and applications and suggestions, this survey asks active academicians across the world about the top universities in fields they know about and this score counted  for 50% in 2004 and starting from 2005  becomes 40%.

Student/faculty ratio  is a classic measure to determine  teaching commitment. Big class indicates less commitment as  teachers should share a limited amount of attention to many students, while the   small class indicates  committed teachers devoting  enough time for sufficient interaction during teaching and learning process. This item is counted for 20 %.

Citations of published research are among the most widely used inputs to national and global university rankings. The QS World University Rankings used citations data from Thomson (now Thomson Reuters) from 2004 to 2007, and since then uses data from Scopus, part of Elsevier. The total number of citations for a five-year period is divided by the number of academicians in a university to yield the score for this measure, which accounts for 20 per cent of a university’s possible score in the Rankings.

Employer reputation  is obtained by a similar method to the Academic Peer Review, except that it samples recruiters who hire graduates on a global or significant national scale   to produce 10 per cent of any university’s possible score  in the belief that   graduate quality is a barometer of teaching quality.

The final 10 %  of a university’s possible score is derived from measures intended to capture their internationalism: 5 % t from their percentage of international students, and another 5 %  from their percentage of international staff. This is of interest partly because it shows whether a university is putting effort into being global, but also because it tells us whether it is taken seriously enough by students and academics around the world for them to want to be there.

So, when a university  is not included on the list, it means  that  serious effort must be made   to make  the school:

1. To  be recognized  widely by global scholars so that recommendation is granted as a reputable school.

2. To  set  the proper  and ideal ratio between the number  of lecturers and students to maximize interaction during teaching and learning

3. To encourage and to stimulate  lecturers  to publish their findings in highly reputable journals (at least visible in Google Scholars ) because research  without publication is like playing a good music in concert hall but there is no audience. What is  the value?

4. To focus more on international marketing  to attract   expatriate  to  work in the university and foreign students to come to  study at the university.

So..is your university included? Please check at this link   http://bit.ly/17oHDKH  for full details Asian Universities.

Categories: Top Malaysian Universities | Tags: , | Leave a comment

Menjadi Komunitas Ilmuwan Global

Baru baru ini (3 Juni 2013) saya mendapat kehormatan menjadi dosen tamu (guest lecturer) pada Program Doktor Ilmu Manajemen  (PDIM) Universitas  Brawijaya Malang, Indonesia yang juga menjadi alma mater saya. Sangat menyenangkan,  betapa tidak 4 tahun yang lalu saya masih duduk sebagai mahasiswa program doktor, tapi hari itu saya menjadi  dosen tamu yang  berbagi ilmu pengetahuan  sebagai seorang ilmuwan global, agak berlebihan mungkin, tapi itulah hidup,  ada saatnya kita manggut manggut tertunduk mengiyakan apa kata orang tetapi ada saatnya  orang dipaksa manggut manggut mendengar apa yang kita katakan.

Mendapat undangan sebagai dosen tamu dari Universitas se kaliber BRAWIJAYA yang merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas merupakan  hal yang tidak mudah karena selama ini universitas hanya mengundang orang orang  dengan kaliber tertentu dari perguruan tinggi asing ternama dari luar negeri sehingga  peluang yang diberikan kepada saya  membuat anda bertanya tanya sehebat apa sih saya?

Saya sih tidak hebat hebat amat, tapi selama saya berkarir di PTN di luar negeri selama tiga tahun  saya telah  mendapatkan beasiswa untuk presentasi  di  Said Business School Oxford University, salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia, mendapatkan grant dari Pemerintah Jerman untuk mempresentasikan penelitian tentang Sustainable Consumption di Asia, mendapatkan best paper  Award di bidang bisnis dan manajemen  dari ABEST 21(salah satu konsorsium pendidikan tinggi papan atas dunia), mendapat kehormatan mempublikasikan artikel  di South East Asian Journal of Management-(Jurnal terbitan Universitas Indonesia dengan akreditasi A) dan juga mendapat kehormatan menjadi salah satu anggota scientific committee  pada international conference yang diselenggarakan oleh University of Nagoya, Japan (http://bit.ly/13nxUP8).

Dengan modal segitu cukuplah syaratnya untuk datang ke Alma Mater dengan embel embel sebagai dosen  tamu.

Pertanyaan yang sering diajukan kepada saya adalah apa yang harus kita buat supaya bisa menjadi seorang global scientist? Pada hemat saya apapun di dunia ini untuk menjadi dikenal kita harus memahami yang namanya TREND. Kalau sekarang trendnya musim layang layang ya kita harus ikut main layang layang, nah kalau main layang layang ngetrend tapi anda main congklak ya jelas gak ada yang ngelirik. Dance with the change…kan itu inti dari semua pelajaran tentang manajemen sekarang ini.

Melihat trend di dunia tentang perguruan tinggi atau universitas, lembaga ini ada tiga kategori: universitas yang berfokus pada RISET, pada PENGAJARAN dan yang TIDAK JELAS riset apa pengajaran?

Dan trend dari universitas universitas terkemuka di dunia adalah mengarah ke Research University!

The world-class scholars come from a variety of public and private universities in various countries;

They tend to read the same scholarly journals and attend the same scholarly conferences;

To be a world-class scholar, you must become a part of the world-wide network of scholars!

Riset berkonotasi publikasi, melakukan riset tanpa publikasi adalah seperti mengadakan konser yang hebat dalam satu ruang besar dengan musik yang mendayu dayu hebat tapi tanpa penonton. Secara pribadi mengadakan konser tanpa penonton memang memberikan kepuasan secara personal tetapi orang lain tidak mendapatkan faedah dari kegiatan ini dan tidak ada nilainya karena tidak ada yang menghargai anda. Jadi anda jangan heran kalau ada teman2 dosen yang sudah pergi ikut program sandwich di luar negeri ataupun sudah menjadi dosen di luar negeri masih belum bisa menjadi ilmuwan global harap maklum karena satu satunya cara untuk menjadi ilmuwan global adalah lewat PUBLIKASI, there is no other way!

South East Asian Journal of Management, Accredited A by Indonesian Government

SELAMAT BERJALAN KE ARAH ILMUWAN GLOBAL REKAN REKAN AKADEMISI. It is not the matter where you are from, but where you are going! Saya dari perguruan tinggi swasta kecil di Indonesia, tapi saya mengarah ke arah ilmuwan global, dan anda juga tentu bisa kalau memiliki sikap mau belajar dengan kerendahan hati.

Dan kalaupun anda belum bisa jadi ilmuwan global dengan fokus riset, bukankah universitas terbagi menjadi tiga kategori, masih ada dua kategori yang masih bisa anda isi. Kita hidup mengikuti jalur hidup masing masing sambil membaca isyarat dari atas untuk melakukan yang terbaik.

Categories: Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Inggris, Spanyol, Eyang Subur, Fathanah dan Kancil

Dalam literatur manajemen David McClelland  sangat terkenal dengan teori motivasinya  yang disebut teori tiga kebutuhan karena menyimpulkan  ada tiga kebutuhan utama  manusia  seperti yang terlihat di gambar berikut:

Three Needs Theory

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa McClelland untuk sampai ke hasil ini menggunakan analisanya terhadap cerita cerita anak anak di Inggris dan Spanyol seperti yang diuraikan dalam bukunya The Achieving Society yang ditulis pada tahun 1961. Kesimpulan beliau cerita yang disampaikan kepada anak anak akan mempengaruhi motivasi mereka dalam menjalani hidup kedepan. Cerita atau dongeng karya sastrawan Inggris biasanya penuh muatan muatan spiritual dan motivasi untuk maju  dari dulu hingga sekarang, lihat saja  sekuel Harry Porter yang difilmkan misalnya, Alice in Wonderland,  Romeo and Juliet,  sebaliknya  dongeng rakyat  Spanyol isinya banyak  cerita cerita yang meninabobokan  dan saking hebatnya masalah tidur ini, kata SIESTA adalah bahasa Spanyol yang diadopsi oleh bangsa bangsa Eropa dan Amerika untuk sebutan keren Tidur Siang. Sekalipun dua negara tersebut merupakan penjajah terkenal  sampai berakhirnya perang dunia ke 2, fakta menunjukan Inggris makin  maju sementara Spanyol makin terpuruk termasuk klub sepakbolanya yang menjadi kebanggaan sekarangpun  berpindah ke Jerman. Era Barcelona dan Real Madrid sepertinya sudah bergeser ke Bundesliga sekarang. Jadi apa yang bisa  dibanggakan Spanyol selain sepakbola sekarang?

Kalau teori Oom  David ini benar bahwa cerita atau dongeng pengantar tidur anak anak menentukan motivasi seorang anak bangsa untuk mencapai prestasi, maka  kita tentu sedih karena cerita pengantar tidur yang paling terkenal di Indonesia adalah Cerita Sang Kancil dengan berbagai lakon.Tokoh si Kancil dengan segala sepak terjangnya tak bisa disangkal sudah menjadi ikon dunia dongeng anak Indonesia. Semua ending biasanya berakhir dengan  kecerdikan  (kelicikan) si Kancil  menjebak lawannya hewan hewan yang lebih besar dan buas.

Celakanya  salah satu cerita yang paling populer adalah cerita Kancil  Mencuri  Ketimun. Coba aja nanya ke penjaga kebun binatang, pernahkah ia memberi makan  kancil ketimun? Yang namanya kancil itu binatang pemalu, dan pendiam. Makanan yang paling disukainya adalah buah-buahan kecil yang berair. Ya, ketimun memang berair. Tapi kancil NGGAK SUKA  makan ketimun. Kalau pun tuh kancil kepepet dan mesti makan ketimun, bisa mokat dia  alias koit bin  death. Tapi itulah, mau ngawur atau tidak cerita Kancil  tetap menjadi favorit anak anak yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Melihat pak Susno Duaji yang melarikan diri sebelum  menyerahkan diri dengan alasan interpretasi beliau tidak ada perintah penahanan dari MK,  Eyang Subur yang beristri melebihi kapasitas tapi masih mencari celah, dan Pak De Fathonah yang sibuk mencari pembenaran kenapa dia memberikan duit dan bonus yang banyak kepada  model majalah hot Vitalia Shesa, apakah dongeng tentang kancil  yang identik dengan cerdik, licik, banyak akal, dll tadi begitu membekas dalam memori mereka ini?

Pujaan Hati Pak De Fathanah

Kalau begitu, maka perlu-lah repositioning cerita Kancil tersebut untuk generasi berikutnya. Anda memang tidak berubah jadi kancil kalau makan daging kancil terus, tapi  dijejali cerita kancil terus terusan sejak kecil akan membuat perilaku anda seperti kancil.  Kalaupun  kancil dipandang sebagai  makhluk kreatif, maka kreatifitas tersebut lebih menjurus kearah yang nyeleneh seperti Pak De Fathanah dan  Eyang Subur yang selalu membawa bawa agama, kemungkinan ini adalah interpretasi Syariah yang diwujudkan sebagai PLAYBOY SYARIAH!  Tapi setidak  tidaknya  baik Pak De Fathanah  maupun Eyang Subur telah menunjukkan bahwa  mereka  hanya perlu dua  kebutuhan yaitu Need for Power (Power karena perlu cewek lebih dari satu)  dan  Need for Achievement (Tua tua masih sukses menggaet cewek cantik).  Dan kalaupun Pak De Fathanah gagal menjadikan Vitalia  Sheisa  menjadi istri atau membuatnya menjadi Vitalnya Sisa  setidak tidaknya beliau sudah melengkapi  Need yang ketiga :

Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat – The Need for Affiliation
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain.  Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain melalui pembeliaan Honda Jazz dan arloji mahal.
Nah, kalau analisa yang terakhir ini mungkin dipengaruhi juga oleh cerita kancil yang saya dengar waktu kecil karena   berusaha mengait ngaitkan sesuatu mencari pembenaran mohon harap maklum. Kancil gitu lho….!
Categories: Human Resources Management | Tags: , , , | Leave a comment

Pola Pikir Berkembang (Growth) dan Tetap (Fixed)

Dunia social media di  Indonesia sudah sedemikian bebasnya dimana   tidak ada rambu-rambu dimana orang boleh mau cuap cuap apa saja, memaki, menghina, menjelek jelekan  yang bersebrangan dengan dia  tanpa memandang siapa sekalipun yang bersangkutan adalah kepala Negara. Tidak ada yang lepas dari kritik, bahkan pak presiden sendiripun yang sekarang memiliki  akun twitter @SBYudhoyono juga menjadi sasaran kritik.

Menariknya  di media   ada selalu dua kubu yang  suka menjelek jelekan keadaan negara dan pemimpin  dengan sangat vulgar   dan  yang selalu   berpikiran positif dengan menunjukkan hal hal baik dari Negara tercinta ini  sehingga  kita kita menjadi bingung  mau ikut yang mana karena kedua pihak memiliki bukti kuat. Dan biasa yang bersebrangan dengan pemerintah bahasanya sangat vulgar dan berani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah  vulgar dan berani mengkritik  pemerintah di  media itu hebat? Kalau zaman Pak Harto yang jadi presiden  anda buat begitu anda memang hebat bro… tapi sekarang ini  semua orang sama beraninya  dengan ente. So apa hebatnya gitu lho? Jadi apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh mereka yang merasa berani ini? Tanpa bermaksud  membandingkan coba kita lihat Pak Amin Rais dan Pak Hatta Rajasa, pintar dan berani yang mana? Saya yakin tanpa berpikir anak kecil aja tahu jawabannya, tapi lihat karirnya moncer yang mana?

Setelah melalui  riset beberapa  dekade,  Carol Dweck,  seorang  professor   psikologi  pada Stanford University menyimpulkan ada dua jenis  pola pikir yang menentukan perilaku seseorang  yang juga bisa  digunakan untuk  melihat prilaku seseorang terhadap kebijakan pemerintah. Menurut beliau :

the key  isn’t ability; it’s whether you look at ability as something inherent that needs to be demonstrated or as something that can be developed.

“kuncinya bukanlah kemampuan, tetapi apakah anda menganggap kemampuan itu sebagai bakat yang harus dipamerkan petentang petenteng kesana kemari atau sesuatu yang bisa dikembangkan.”

Jadi mereka yang  dengan vulgar dan beraninya  mention melalui tweetnya kepada yang bersangkutan sebenarnya hanya ingin pamer bahwa mereka itu berani, mereka memiliki bakat  pembangkang, nyinyir  dan  ingin orang  tau bahwa mereka itu berani..gitu lho. Inilah yang digambarkan oleh   Carol Dweck  sebagai  Fixed Mindset and Growth Mindset.

Dalam mindset tetap (fixed)  orang percaya kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat  bersifat abadi. Mereka menghabiskan waktu untuk mendokumentasikan kecerdasan mereka atau bakat bukannya mengembangkan mereka termasuk dengan cara cara mengkritik pemerintah tadi dengan  ucapan  maupun twit yang pedas dan vulgar.
Dalam mindset berkembang (growth) , orang percaya bahwa kemampuan yang paling dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras-otak dan bakat hanyalah titik awal. Pandangan ini menciptakan cinta belajar dan ketahanan yang sangat penting bagi prestasi luar biasa.

Lebih jauh perbedaan kedua pola pikir ditunjukkan  dalam diagram dibawah ini:

Seperti yang terlihat di diagram diatas, orang dengan fixed mindset bertindak karena keinginan membentuk image supaya terlihat pintar maka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, tidak perlu berusaha maksimum, cuek terhadap kritik dan merasa terancam kalau ada orang lain yang lebih sukses dari dia. Akibatnya potensi mereka tidak bisa berkembang maksimal dan cenderung mandek sebelum mereka mencapai tahapan yang seharusnya. Sebaliknya mereka yang tergolong growth mindset mereka diarahkan oleh keinginan belajar yang sangat kuat sehingga mereka cenderung menantang badai,konsisten dan tidak mudah menyerah, percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, menghadap kritik dengan sikap positif dan mencerna yang relevan, belajar dan terinspirasi dari kesuksesan orang lain. Akibatnya prestasi jadi jauh lebih tinggi. Nah begitulah kira kira jawaban kenapa Pak Hatta Rajasa bisa melesat jauh dari Pak Amin Rais dan yang terjadi kepada mereka yang merasa berani dengan twit twitnya dan juga mereka yang selalu merespond positif setiap perubahan tersebut. Dikotomi fixed dan growth mindset menjadi garis demarkasi yang jelas.

Dengan framework yang sama ini juga saya bisa mengerti mengapa teman saya Ir. Budiono MM yang sama sama bekerja dengan saya di salah satu Universitas Malaysia, sekalipun belum Doktor tapi bisa lebih terbilang dibandingkan dengan Dr. Senang  Kentoet  yang cuman bisa petentang petenteng gembar gembor telah menerbitkan lima buku di Indonesia karena ybs hanya ingin membentuk image dan meyakinkan orang bahwa dia pintar.

Ingin mengetahui anda tipe yang mana, silahkan klik link ini http://mindsetonline.com/testyourmindset/index.html

 

THE WORLD IS SIMPLY DIVIDED INTO LEARNERS AND NON-LEARNERS!

Categories: Human Resources Management | Tags: , | 2 Comments

Positioning – Merasa Dizalimi?

Merasa  dizalimi   sepertinya sekarang menjadi trend dan mantra  ditanah air untuk  mencari pembenaran atas segala peristiwa yang menimpa seorang individu. Bro Anas merasa dizalimi karena dipecat    dari Ketum Partai Demokrat,  Teten Masduki dan Oneng merasa dizalimi karena  kalah dalam pilkada Jawa Barat, Neneng istri    Muhammad Nazaruddin yang menjadi terdakwa korupsi merasa dizalimi, Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso dizalimi KPU karena  partainya tidak boleh ikut pemilu, Gayus PNS termuda tapi terkaya yang divonis korupsi dizalimi, Komunitas Partai Keadilan Sejahtera merasa dizalimi ketika  partainya diplesetkan sebagai Partai Korupsi Sapi, dan  ketika divonis tiga tahun, terdakwa kasus dugaan suap cek perjalanan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom juga merasa  dizalimi oleh hukum serta  masih banyak  lagi contoh.

Dalam bahasa Indonesia, kata “zalim” berarti  bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil dan kejam. Orang yang terzalimi berarti dia diperlakukan secara keji dan bengis oleh seseorang. Melihat begitu mudahnya seseorang mengaku dirinya dizalimi  pertanyaan mendasar apakah orang tersebut paham akan  makna dari dizalimi tersebut ataukah  publik Indonesia ini begitu bodoh  sehingga   sangat mudah  bersimpati dengan orang yang mengaku “terzalimi”?

Parahnya  orang orang yang bermasalah  memposisikan diri “terzalimi”  sering  menjadikan agama sebagai komoditas karena ujung ujungnya  dia    mengutip sebuah hadist:
 “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”   Emangnya  Tuhan tidak memiliki sifat  sama (maha mendengar)  dan basyar (maha melihat)? Dan adalah suatu kenaifan kalau menganggap masyarakat sekarang bersifat  sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami menaatinya”. Orang sekarang, begitu mendengar anda dizalimi , akan menjawab,
“Sami’na wa seminarna wa risetna idza cocokna wa masuk akal’na wa imanna.
 Kami mendengar, menyeminarkan dan merisetkan. Jika cocok dan masuk akal, baru kami percaya,”
Satu hal yang sangat menarik bila diamati orang orang yang merasa dizalimi ini rata rata dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Saya belum pernah mendengar orang orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit koar koar merasa dizalimi atau mereka yang ditolak di  sekolah sekolah elit sekalipun memiliki kemampuan intelektual tinggi.  Jadi gejala  apa sebenarnya  yang  membuat orang orang yang notabene ini berkecukupan  memposisikan  dirinya (positioning)   DIZALIMI
Pakar marketing Al Ries  mengatakan: in marketing, positioning is the process by which marketers try to create an image or identity in the minds of their target market for its product, brand, or organization.
Kalau merujuk kepada definisi diatas  image yang ingin diciptakan kepada publik adalah  poses mereka memposisikan  diri  tidak bersalah..padahal jelas jelas salah….ini yang namanya ruarrrr biasaa.
Clifford  Geertz  seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang sangat  dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia karena mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan  dalam memahami perilaku sekelompok masyarakat  memperkenalkan istilah  Interpretive Anthropology yang esensinya mengatakan apa yang dilakukan oleh seseorang merupakan symbol atau lambang terhadap sesuatu  maksud.  Antropologi menurut beliau adalah ilmu memahami orang dengan melihat symbol atau sinyal sinyal yang dipancarkan tersebut dan orang orang  yang mengaku dizalimi tersebut  jelas jelas memberikan sinyal bahwa dirinya  tidak bersikap satria dengan berusaha memposisikan dirinya tidak bersalah apalagi   mengaku bersalah. Karena mereka   sadar bahwa masyarakat kita pemaaf maka kloplah sudah   mengaku dizalimi ini  sebagai usaha membersihkan diri supaya tetap dianggap orang baik.
Terinspirasi dari DIZALIMI POSITIONING ini  teman saya seorang dosen yang bekerja di perguruan  tinggi Malaysia sebut saja namanya Doktor Senang Kentoet, sekalipun sudah  punya gaji lebih dari 20 juta sebulan masih saja   ngobyek  mengajar di program MM gurem  di Jawa Timur, dan ketika ketahuan  ikut ikutan memposisikan dirinya dizalimi padahal aturan sudah jelas jelas melarang   ngobyek  di tempat lain.
Jadi dizalimi tuh sudah milik kaum elit dengan berbagai profesi elit  untuk menyembunyikan semangat hedonism yang sangat liar sehingga semua etika dilanggar.
Kini saya baru paham kenapa  seorang peneliti senior dari Universitas di Jepang mengatakan orang Indonesia sangat beruntung padahal di media apalagi yang namanya di Twitter berita macam macam tentang problema bangsa ini. Di Jepang kalau merasa malu banyak yang bunuh diri tidak peduli tua muda bahkan disediakan  gunung khusus sebagai tempat bunuh diri yang bernama Gunung  Aokigahara: Japan’s Haunted Forest of Death, sedangkan  di Indonesia cukup mengaku dizalimi (baca: are you stupid enough to believe what I am saying).
Selamat menjadi bangsa yang beruntung dengan memposisikan diri dizalimi tapi ingat pesan Abraham Lincoln :
You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.