Monthly Archives: June 2010

Penyakit Dosen Indonesia

Menyandang predikat dosen di INDONESIA memang  membanggakan sekalipun sering dipelesetkan sebagai orang dengan pekerjaan sa DOS tetapi bayarannya sa SEN. Bandingkan dengan dosen di Malaysia yang hanya berkewajiban mengajar 3 Mata Kuliah satu semester ( 9 jam seminggu), dengan jam kerja Senin S.D Jum’at, sementara sabtu dan minggu digunakan untuk mengupgrade skill (bagi yg mau) dan dibiayai oleh negara. Bayaran , untuk level Pensyarah Kanan (pensyarah kiri nggak ada) atau lektor di Indonesia antara 20 s.d 30 jt , + tunjangan lain lain. Sebagai dosen yg merupakan manusia terpilih ada dua keutamaan yg paling tidak harus dimiliki oleh para dosen yaitu keutamaan inteltual dan keutamaan prilaku.

Picture 005

Sekalipun usaha pemerintah tidak kurang — termasuk yang paling ngetop yaitu SERDOS atau sertifikasi dosen, di lapangan gejala yg nampak masih aja terdapat beberapa penyakit dosen Indonesia, yg tidak mendukung keutamaan 2 perilaku tersebut yaitu :

(1) TIPES = Tidak punya salera
Rata rata tidak punya selera. Sama seperti makan kalau seleranya makan soto yah dimanapun berada harus makan soto. Begitu juga kalo mengajar, senangnya mengajar topik yg dia tau , dari  dulu sampai sekarang ya itulah. Jadi prinsip yg dipakai adalah ajarkan apa yg mau diajarkan bukan apa yg mau mahasiswa ketahui. Jadi jangan heran kalau ada dosen selama 10 tahun yg diajarkan itu itu saja artinya ybs bukan berpengalaman 10 tahun, tetapi melakukan hal yg sama 10 tahun.

(2) MUAL (mutu pendidikan amat lemah)
Banyak dosen Indonesia petentang petenteng dengan gelar doktornya. Di luar negeri pembuktian kedoktoran adalah dengan berapa banyak hasil penelitian dan conference internasional yg diikuti. Sedangkan di Indonesia yg dibanggakan adalah banyaknya jam mengajar di mana mana, tetapi ketika ditanya pernah ikut konferensi internasional di mana atau berapa banyak penelitian yg dipublikasikan jawabnya adalah belum sempat. Ini menunjukkan kualitas kedoktoran yg amat lemah, karena meneliti hanya sekali waktu menulis disertasi.

(3) KUDIS = kurang disiplin,
Masih dalam mengembangkan kompetensi akademik penyakit kurang disiplin terlihat dari malasnya para dosen membaca hasil hasil penelitian di jurnal terbaru. Alasannya itu kan ditulis dlm bhs Inggris. Bgm bisa faham kalo tidak disiplin?

Disamping penyakit INTELEKTUAL diatas dalam hal PRILAKU , masih terlihat penyakit penyakit akut seperti ;

(4) ASMA = asal masuk kelas,
Kalau di DPR ada istilah 3D ; datang, duduk, duit, ada juga dosen kita yg berprilaku asal ngajar. Yang penting ngoceh , nyeritain pengalaman susahnya jadi doktor sampai 2 jam , kemudian selesai , nyari kelas tempat bercerita lagi . Makanya  selesai komentar mahasiswanya adalah Dosene Ngedabrus… Dosene Asmuni —Asal Muni ….dlll

(5) KUSTA= kurang strategi,
Strategi bisa dianalogikan dgn cara memasak dan yg diajarkan ibarat menu . kalo yg diketahui cuman satu menu sejak 10 atau 20 tahun lalu, strategi macam apa yg mau diharapkan? Andalannya adalah bedah buku….membaca buku teks dari awal sampai akhir pelajaran .  Padahal sekarang sudah banyak dikembangkan Teknologi Pembelajaran On Line yang bisa  digunakan secara gratis seperti Edmodo  misalnya.Tapi kali ini mahasiswa tdk bisa berkomentar ASMUNI krn dosen membedah buku teks ilmiah..he..hee..he

(6). BISUL = Biasa sulap (nilai ujian) ; Nah inilah sisi humanis yg menunjukkan dosen juga manusia. Dosen Indonesian banyak yg tidak tahan diratapi dan disambati mahasiswa masalah kehidupan sehingga lebih banyak pertimbangan kemanusiaan yg dilakukan, dan juga untuk bermain favorit biar disenangi mahasiswa. Makanya komentar mahasiswa …nggak papa sama Mr. A..lulusnya gampang

dan

(7) BATUK = bantuan khusus skripsi—- silahkan interpretasikan sendiri.

Jujur sebagai dosen , saya sedang berusaha sembuh dari penyakit tersebut dalam usaha menjadi seseorang yg utama baik secara intelektual maupun prilaku.

Tapi jangan lupa terpenuhi kedua hal tersebut bukan otomatis membuat kita hebat… buktinya ada aja orang yg tidak terbukti kualitas intelektual dan dari segi moral tidak hebat masih diperebutkan.

Advertisements
Categories: high education in Indonesia | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.