REFLEKSI MANUSIA INDONESIA SETELAH 67 TAHUN MERDEKA

Sudah hampir dua tahun ini saya malas menulis di blog tapi tetap mengikuti perkembangan dalam negeri dari jauh.    Image

Di depan asrama Indonesia  di London

Kerinduan akan kampung halaman nan jauh membuat saya mengingat ingat kembali bagaimana sih orang Indonesia.  Dalam satu  kelas seorang Professor   bercerita tentang orang Australia, Malaysia dan Indonesia  yang pergi bersama  untuk piknik  dan masing masing disuruh membawa bekal yang cukup karena perjalanan lewat sungai dan jauh. Orang Australia membawa apel,  orang  Malaysia tentu saja membawa  nasi Lemak dan kawan kita yang dari Indonesia cukup membawa rokok kretek Gudang Garam_nya.  Ketika dalam perjalanan orang Australia mulai lapar ia mulai memakan apelnya, tetapi dia hanya menggigit sekali  dan selanjutnya melempar  sisa apel gigitannya ke sungai. Kawan dari Indonesia   bertanya kenapa kamu buang..si  Australia santai aja menjawab..di Australia kan banyak apel..baik yang Apel Malang maupun Apel Washington (Boleh tanya Angelina Sondakh kalo tidak percaya). Selanjutnya ketika kawan Indonesia lapar,,,dia mulai mengisap rokok kreteknya..tetapi  cukup diisap sekali dan langsung di buang dan kawan dari Malaysia yg nanya..hey kenapa lu buang..terus di jawab dgn santai oleh  kawan kita : di Indonesia kan banyak  rokok kretek…Indonesia gitu lho. Selanjutnya ketika kawan dari Malaysia lapar…dia tidak membuka bekal  nasi lemaknya, tapi dia malah menangkap kawan  kita orang Indonesia  dan membuangnya ke sungai. Si Australia kaget dan nanya;; hey kenapa kamu buang dia, kawan dari Malaysia dengan santai menjawab : nggak papa  di Malaysia kan banyak orang Indonesia (nah..lho). Mungkin ini yang buat Menteri Muhaimin  menargetkan tahun 2017 tidak ada lagi pengiriman tenaga informal ke luar negeri.  Apapun yg terjadi Indonesia  bagi saya tetap menarik dan  tulisan ini merefleksikan kembali bagaimana sih orang Indonesia  itu.

 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, puluhan tahun  tahun yang lalu Muhtar Lubis bikin heboh dengan pidatonya yang kemudian dibukukan dengan judul MANUSIA INDONESIA. Terdapat banyak pro dan kontra saat itu ; dengan argumentasinya masing masing,, maka biarkanlah waktu yg membuktikan kebenaran . Setelah 35 tahun berlalu, setelah waktu bergulir, marilah kita tinjau ulang apakah yang di katakan oleh Muhtar Lubis tersebut benar dan relevan dgn kondisi sekarang. Menurut Mochtar, ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrisi atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Lihat saja slogan slogan partai : KATAKAN TIDAK PADA(HAL) KORUPSI.  Kita tentu ingat bagaimana aktor kawakan kita Bung Roy Marten yang berapi api menyuruh kita menjauhi narkoba dalam suatu seminar di pagi hari dan kemudian malam harinya dia tertangkap menggunakan narkoba. Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Ada yg berani bersumpah  siap di gantung di Monas, tidak punya BB sekalipun semuanya sudah menjadi rahasia publik. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”Kita bisa melihat carut marut dan hiruk pikuknya kasus Bank Century hanya untuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab , dan ketika kasus itupun berakhir juga tidak jelas siapa yg bertangungg jawab. Ciri ketiga manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan. Semangat ini sekarang terlihat jelas dalam pengkaderan partai partai besar. PAN yang sempat diharapkan menjadi partai masa depan akan terus menurun pamornya karena tidak ada lagi trah pak Amin Rais disitu. Demokrat pun mengalami krisis yang sama, kasian Bu Ani Yudhoyono yang seperti dipaksa untuk  dicalonkan  menjadi presiden di pemilihan 2014.  Ciri keempat manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Seorang  mantan menteri agama-pun percaya dan memerintahkan penggalian di satu  wilayah  Bogor karena percaya ada harta karun disitu.  Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen. Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan seperti di jaman Pak Harto ; REPELITA 1, 2, 3, 4 dst, Ekonomi Kerakyatan yg sempat ngetop di zaman Bu Megawati.  Mantra terbaru sekarang adalah HEMAT BBM, sementara diam diam BBM non subsidi dijual.  Ciri kelima, manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah. Teman teman yang pernah tinggal atau mampir ke Yogya kota budaya dan seni menjelang perayaan Sekatenan tentunya tidak akan melewatkan kesempatan mampir ke tobong tobong di alun alun selatan untuk menonton Dangdut artistik dan sensual , sangat enjoy sekalipun kita tidak tau dgn jelas lagu apa yg dinyanyikan. Karya Ariel Peter Porn dan rekaman video yang dicurigai salah satu anggota DPR  seharusnya juga diapresiasi sebagai satu karya sensual dan artistik  Demikian juga dengan goyang Inul, Julia Perez dan Dewi Persik dan   pertunjukan Lady  Gaga yang  sayangnya  dibatalkan.  Ciri lainnya, manusia Indonesia tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat.  Selain menelanjangi yang buruk, beliau  tak lupa mengemukakan sifat yang baik antara lain :  cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan.    Akademisi  Indonesia  sekalipun kurang banyak publikasi  Internasional, tapi penelitiannya  sedikit dan berkualitas lho. Cek aja disini:  http://bit.ly/IGCFKq

Thomson  Reuters merupakan satu lembaga internasional yang paling bergengsi dalam menentukan  kualitas publikasi internasional.  Banyaknya ilmuwan yang mengutip tulisan di jurnal sebagai referensi menjadi salah satu ukuran  berkualitas tidaknya tulisan.

Setelah 35 tahun  ternyata  sifat2 TERSEBUT masih bertahan, tapi ada yang bertambah yaitu : Belum merasa jadi Manusia Indonesia Sesungguhnya kalo belum naik haji.  

Di Jawa Timur  pernah digegerkan dengan seorang hamba Allah yang sangat  ngebetnya naik haji sekalipun biaya tidak cukup  sehingga yang bersangkutan  nekat menyelundup masuk pesawat  dan berhasil sampai ke Jeddah sekalipun di kembalikan. Kasus ini   mendapat perhatian dari boss  Jawa Pos  waktu itu  Pak Dahlan Iskan  yang sekarang   menjadi menteri dan   kemudian mewujudkan niat hamba Allah tersebut menjadi haji beneran bukan lagi Haji Nunut (ikut)  yg menjadi guyonon waktu itu.  Berbagai    cara menjadi haji di Indonesia  menghadirkan berbagai  atribut haji seperti Haji Nunut,  Haji  pasport hijau, Haji Abidin (Atas Biaya Dinas), haji Abim (Atas Bantuan Mertua), haji Tomat (tobat mari kumat)  dan  yang paling gress menurut Dirjen   Slamet Riyanto (Kompas 1 Juli, 2012) Haji Sandal Jepit. “Jika dilihat di beberapa tempat, ada jemaah keleleran (telantar), berarti itu mereka,” kata Kepala Daerah Kerja Madinah Subakin Abdul Muthalib pada musim haji 2010.Yang lebih membingungkan adalah ketika mereka tersesat. Petugas tak bisa mengembalikan mereka ke pemondokan karena tidak punya penginapan pasti.

Saya percaya pada dasarnya manusia Indonesia masih memiliki sikap yang baik. Tidak perlu cari kejelekan kita, cukup tunjukkan satu hal baik saja dalam diri kita seperti halnya jangan cari 1000 alasan kenapa kita gagal, cukup cari satu alasan untuk sukses. For me RIGHT or WRONG, it is my NATION. Selamat membangun Indonesia dengan segala keunikannya.

Categories: Human Resources Management, Psikologi Populer | Tags: , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “REFLEKSI MANUSIA INDONESIA SETELAH 67 TAHUN MERDEKA

  1. harry

    Mantab cak…
    Ciri selanjutnya…manusia indonesia suka pijet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: