Monthly Archives: June 2012

Kembalikanlah Zikir Kami

Di sebuah pesantren  seorang kyai,  sebut saja Kyai Sudrun  sedang memberikan ilmu kepada santri Bondet    tentang berbangsa dan bernegara.

Berikut penggalan dialog penuh makna antara Kyai Sudrun dan  santri Bondet :

Kyai : “Coba engkau pejamkan matamu dan bayangkan Indonesia ini ada dalam jiwamu.

Lihatlah tanah air yang indah dari Sabang hingga Merauke ini. Ribuan pulau dengan segala macam sumberdaya alamnya. Minyak, gas, batu bara, emas, permata. Ribuan suku bangsa, beragam bahasa… Ungkapkanlah dengan satu kata saja wahai santriku! Ungkapkan dengan jujur!

”Santri : …. “Alhamdulillah!

Kyai : “Jawablah dengan jujur, anakku!”

Santri : “Alhamdulillah” (sambil meneteskan air mata bahagia)

Kyai : “Kemudian bayangkanlah mayoritas penduduknya.

Jutaan rakyat miskin yang antri BLT. Ribuan buruh pabrik dengan upah yang ala kadarnya. Anak anak kecil yang bergelantungan seperti Indiana Jones lewat jembatan putus demi sekolah dalam mengejar impian yang selalu mengganggu tidurnya.  Ungkapkanlah dengan satu kata, nak!”

Santri : … … “Subhanallah

Kyai : “Jujur nak, sekali lagi jujur!”

Santri : “Subhanallah!

Kyai : “Lalu bayangkanlah wajah para pejabatnya, nak.

 Wajah pejabat yang lantang dengan semboyannya: katakan tidak (padahal) korupsi, wajah pejabat yang sudah tidak bisa membedakan ini Qur’an apa Komik sehingga   dana pengadaan kitab suci-pun di embat.  Bayangkanlah wajah tante selebriti  yangmengatur tender pengadaan alat alat di perguruan tinggi sehingga orang tua harus merogoh kocek sangat dalam untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi negeri sekalipun.  Bayangkanlah wajah jaksa, hakim yang suka suap. Ungkapkan dalam satu kata, santriku!”

Santri : “… As… As… Astaghfirullahaladzim…. Astaghfirullah…”

Kyai : “Jujur, sekali lagi jawablah dengan jujur!”

Santri : “…As… Ass… ”

Kyai : “Kuatkan hatimu, nak. Jujurlah …”

Santri: “Ass .. Ass… Assssuuuuuuu……  ASUUUUUUUUUUU!!!” **)

Sang Kyai pun memeluk tubuh santrinya dengan tersenyum dan menangis bahagia.

Kyai Sudrun  bahagia mempunyai generasi penerus yang masih bisa berkata jujur tentang negeri Indonesia.

Itulah salah satu gambaran tentang Indonesia dewasa ini. Tetapi karena kita adalah negara autopilot yang bisa jalan sendiri dan dikenal sebagai salah satu negara  paling demokratik  di dunia opini tentang apa saja semua sah. Indonesia  memang  selalu bergejolak dari masa ke masa dalam mencari bentuknya yang ideal. Bukankah Friedrich Nietzsche  mengatakan  “You must have chaos within you to give birth to a dancing star,” dan  Indonesia  seperti yang dikatakan  Nietzsche  Indonesia  memang mengalami pergolakan dalam dirinya, tetapi dari pergolakan inilah selalu lahir bintang bintang  baru baik yang bintang beneran maupun bintang karbitan.

Image

Berbicara tentang  apakah Indonesia negara kacau atau  tidak  tentunya semua tergantung dari sudut kita memandang. Sama seperti gambar diatas, apakah yang anda lihat  gadis  cantik jelita atau gambar Mak  Lampir tergantung  dari  satu garis  yang ada disitu apakah anda melihatnya  sebagai  mulut atau  kalung leher. Persepsi andalah yang menentukan lagi seperti yang Nietzsche seorang  filsuf Jerman  mengatakan : Tidak ada yang namanya kebenaran, yang ada hanyalah persepsi.

Seorang teman dari Inggris yang  teramat bosan melihat keteraturan di negerinya bertahun-tahun, suatu hari bahagia sekali ketika pertama kali sampai di Kalimantan. Bukan karena terpukau keindahan alam yang masih alami, tetapi tersenyum-senyum gembira melihat manusia mengendarai motor tanpa helm, satu motor dinaiki empat orang, plus ekspresi bahagia. Sebagai orang Inggris ia  menderita di tengah keteraturan yang kaku, mengira orang Kalimantan bahagia karena melanggar peraturan. Ia melihat   keempat warga Kalimantan yang melaju di atas sepeda motor yang sama ini jelas sekali menyatu dengan tiupan angin, menemukan kedamaian.

Karena itu daripada  memperparah kehidupan melalui menendang yang menjengkelkan serta mencengkram yang menyenangkan mungkin indah bila mengingat pesan mahaguru Gede Prama yang bergumam: minumlah tehmu dengan melakukan apa yang bisa kita lakukan terbaik  sesuai dengan porsi kita. Bagi yang sudah sampai sini, mereka akan berbahagia melihat yang atas berbahagia, berdoa untuk kebahagiaan mereka yang masih di bawah dan zikir zikir orang yang dibawah akan kembali  seperti seharusnya.

Selamat  bekerja untuk Indonesia yang lebih baik.

Advertisements
Categories: Human Resources Management, Indonesiana, Psikologi Populer | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Indonesia Tidak Akan Menjadi Negara (NO WAY) Gagal ..Bro!

Disebutnya Indonesia  sebagai satu    negara yang   menuju kegagalan  berdasarkan Indeks Negara Gagal (Failed States Index)   yang dirilis Fund for Peace ditanggapi  dengan berbagai reaksi baik yang pro maupun kontra dengan sudut pandangnya masing masing. Yang bersebrangan dengan pemerintah (baca Pak Be Ye) tentu saja menganggap isu ini adalah isu yang paling seksi dan memiliki nilai jual sangat tinggi  apa lagi menjelang pemilu 2014.  Salah seorang mantan prersiden berkomentar : ” tidak mungkin sebuah negara seperti Indonesia dianggap gagal karena wilayahnya ada dan jelas. “Bagi saya, tak ada negara gagal, yang ada itu pemerintahan gagal. Negara itu selalu eksis,” Ya lah bude, Jerman sama Jepang yang di bom habis habisan aja masih exist  wilayahnya masih ada tuh. Politisi Senayan  ada yang menilai bahwa indeks kegagalan Pemerintah Indonesia lebih dikarenakan oleh kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lamban menangani korupsi sekalipun sudah ada tiga Tante selebritis  mondok nyantri di pesantren KPK. Salah seorang Pak Cik dari Partai Golkar malah berpendapat  yang dimaksud dengan negara gagal untuk memenuhi rasa aman dan kenyamanan warga adalah akibat pemerintahannya, dan bukan karena bangsanya.(Artinya tunggu kalau gua yang jadi pemerintah tidak akan seperti ini). Dikritik, tentu saja para punggawa   Pak Be Ye tidak tinggal diam, lihat aja reaksi reaksi mereka.

“Indonesia tidak akan bisa mundur, dia harus maju. Masalah berikutnya adalah ingin cepat atau lambat,” kata Dahlan dalam acara Konferensi Distrik Rotary International di Hotel Grand Panghegar Bandung, Jumat (22/6/2012).

“Indonesia negara gagal adalah kesimpulan yang salah. Ini fatal kesimpulannya,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana , Senin (25/6/2012).

“Indonesia justru menjauh dari negara gagal jika melihat peringkat ataupun Indeks Negara Gagal yang dirilis Fund for Peace tersebut secara menyeluruh,” kata Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana,  (Kamis, 21 /6/2012)

Bila  dalam doktrin agama di kenal istilah  apologetik berasal dari kata Yunani apologia yang berarti  ‘membela iman’ ,  maka  dalam politik apologetik adalah suatu sikap untuk mengambil   pandangan baik yang memperkuat kedudukan tetapi  menolak/membuang hal yang melemahkan.  Jadi wajar dan sah saja kalau pencapaian pertumbuhan ekonomi terus dirayakan, keberadaan Indonesia dalam kelompok G-20 dibanggakan  tapi melupakan kemunduran Indonesia dalam indeks korupsi yang pada tahun ini menempati urutan ke-100 dari 182 negara, juga dalam Indeks Pendayagunaan SDM  (Human Development Index ) yang menempatkan Indonesia di urutan ke-124 dari 187 negara (bandingkan: Singapore 26, Brunei 33, Malaysia 61, Thailand  103,  Phillipin 112) dan Alhamdulillah   masih ada yang di  bawah kita Vietnam 128, Timor Leste 147 dan Myanmar 148. Juga peduli amat  dengan laporan suatu survei yang menempatkan Jakarta sebagai salah satu dari 10 kota yang paling dibenci di dunia.

Nah, mau ikut siapa yang benar, penguasa atau oposisi yang kedua duanya mengaku benar dengan asumsinya masing masing sehingga  kita seperti dihadapkan pada mana yang dulu ayam atau telur?

 

Friedrich   Nietzsche 

Friedrich   Nietzsche seorang  filsuf Jerman  mengatakan : Tidak ada yang namanya kebenaran, yang ada hanyalah persepsi.   Karena itu tulisan ini tidak bermaksud  membela satu sisi, tapi lebih mengakomodirkan kedua belah pihak. Ketika ada dua orang sedang berdebat  di tepi satu sungai yang keruh airnya  memperdebatkan apa yang ada di dasar sungai, kan lebih baik menunggu  air sungai jernih sehingga kita bisa melihat sebenarnya apa yang ada di dasar sungai tersebut?

Apa sih sebenarnya Failed States Index itu?

Failed states secara umum mengetengahkan suatu gambaran kondisi di mana terjadi ketiadaan pemerintahan dan hukum, kekacauan meluas, serta kelangkaan kebutuhan paling mendasar (pangan dan sandang serta rasa aman). Makin kecil peringkatnya dianggap  makin berbahaya. Seperti tahun tahun sebelumnya,  Somalia  masih mendapat  kehormatan menempati ranking 1 , sedangkan peringkat terbesar   178  di tempati oleh Finlandia, suatu negara di ujung Eropa  sono.  Posisi kita  yang berada  pada peringkat  63 sedangkan tahun sebelumnya di peringkat 64 itulah yang menjadi polemik berkepanjangan karena  di interpretasikan dengan sudut pandang masing mengenai arti  angka 63 tersebut.

Professor Geert Hofstede yang merupakan pakar paling terkemuka  di dunia saat ini dalam bidang  perilaku bangsa bangsa di dunia mengatakan  sesuatu angka tidak ada artinya kalau tidak ada pembandingnya. Sebut aja kita bangga  dengan nilai adik adik kita di sekolah yang mendapatkan angka  8 untuk pelajaran  matematika . Tapi kalau  kita  tahu bahwa rata rata kelas adalah  9 maka baru lah kita tahu apa arti angka tersebut.Kalau  Somalia dan Sudan masuk dalam peringkat Top Ten sejak 2005 dapat dimengerti karena  seperti yang kita saksikan di TV di kedua negara itu selalu terjadi kelangkaan makanan , kelaparan meluas, kekacauan serius , perang antar suku, hukum sirna, bajak laut merajalela  dan pemerintahnya praktis tidak bisa berbuat apa. Tapi apakah ini  layak di jadikan pembanding dengan Indonesia karena sepertinya para oposisi memposisikan Indonesia akan seperti ini. Saya rasa tidak akan seperti itulah.. bro.

China dan India yang  diakui sebagian Eropa dan AS dengan potensi dan eksistensi kedua negara itu sebagai adidaya baru; secara ekonomi dan demokrasi  mendapat peringkat sedikit  lebih  baik dari  Indonesia (ranking 76 dan 78). Dengan ranking angka tersebut, kedua negara itu juga dapat   kategori negara akan mendekati  gagal.  Tapi  China dan India tidak peduli dengan  temuan index ini? Jadi mengapa kita harus ribut ribut. Masalahnya  adalah kita membandingkan  diri dengan  negara yang terjelek  seperti   Somalia, Kongo, Sudan, Zimbabwe, atau beberapa negara underdeveloped. Jarak kita  dengan Somalia 62 km, dengan India 15 km, cepat kemana kita nyampe duluan?   Bukankah kita  ditempatkan terhormat di dunia internasional dengan   keberadaan Indonesia di G-20 secara de facto yang  merupakan pengakuan dunia terhadap negara ini sebagai emerging economy, ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kita memang akan seperti Somalia kalo cuman tidur doang tidak buat apa apa. So what..!

Peringkat The Fund for Peace tidak  perlu disikapi dengan  berlebihan. Kesalahan  metodologinya adalah  pengambilan sampel yang   heterogen  dengan tidak melakukan pengelompokan terlebih dahulu, sehingga yang terjadi adalah pertarungan tinju dimana kelas nyamuk harus bertanding dengan kelas berat, yang mana hasilnya sudah bisa diprediksi. Profesor Clifford Geertz  yang tinggal bertahun tahun di Pare, Kediri dan mengikuti cara hidup orang Jawa saja masih tidak akurat menggambarkan dikotomi orang Jawa Indonesia, apalagi penelitian kualitatif semacam yang dilakukan oleh The Fund for Peace yang hanya mengandalkan software.

Jadi biarkan saja  lembaga tersebut   memvonis Indonesia tidak demokratis  karena  tidak mengizinkan pertunjukan Lady Gaga.Buat apa dipikirin, seharusnya para elit negara ini baik yang pro pak Be Ye maupun yang udah kebelet mau menggantikan beliau menyikapi tudingan lembaga asing harus semangat seperti Bro Anas Urbaningrum; Gantung Kami di Monas kalau negara ini gagal.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik.

Categories: Ekonomi, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

MOMENTUM: HARI GINI MASIH PAKE NOKIA

Harris Interactive, organisator jajak pendapat yang dinamai Harris Poll, belum lama ini melakukan jajak pendapat terhadap 23.000 penduduk Amerika, yang secara penuh waktu bekerja di berbagai industri penting dan area fungsional penting. Coba simak sebagian kecil dari temuan mereka yang mencengangkan:

• Hanya 37 persen yang mengatakan bahwa mereka memiliki pemahaman yang jelas mengenai apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh organisasi mereka, dan alasannya.
• Hanya 1 dari 5 yang merasa antusias mengenai tujuan tim dan organisasi mereka.
• Hanya 1 dari 5 pekerja yang mengatakan bahwa mereka melihat hubungan yang jelas antara tugas-tugas mereka dan tujuan tim maupun organisasi mereka.
• Hanya setengah dari mereka yang merasa puas dengan pekerjaan yang telah mereka selesaikan pada akhir minggu.
• Hanya 15 persen yang merasa bahwa organisasi mereka sepenuhnya memungkinkan mereka untuk mengejar tujuan-tujuan kunci.
• Hanya 15 persen yang merasa bahwa mereka bekerja dalam suatu lingkungan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
• Hanya 17 persen yang merasa bahwa organisasi mereka men-dorong komunikasi terbuka yang menghormati gagasan yang berbeda, yang semuanya bermuara pada terciptanya gagasan-gagasan yang baru dan lebih baik.
• Hanya 10 persen yang merasa bahwa organisasi mereka memastikan bahwa orang-orangnya bertanggungjawab atas hasil yang dicapai.
• Hanya 20 persen yang benar-benar mempercayai organisasi di mana mereka bekerja.
• Hanya 13 persen yang memiliki hubungan kerja yang amat kooperatif dan ditandai dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dengan kelompok atau departemen lain.

Andaikan sebuah tim sepakbola memiliki rata-rata angka seperti itu, berarti hanya akan ada empat orang dari sebelas pemain di lapangan yang mengetahui apa tujuan mereka ada di lapangan itu. Hanya dua orang dari sebelas pemain tadi yang peduli. Hanya dua dari sebelas pemain yang tahu posisi apa yang sedang mereka mainkan, dan tahu dengan tepat apa yang harus mereka lakukan. Artinya, kecuali dua orang tersebut, semuanya dengan cara masing-masing justru sedang bertanding melawan tim mereka sendiri, dan bukannya melawan lawan tanding mereka!  Mungkin ini yang terjadi  dengan Team Orange yang  runner up Piala Dunia  yang harus pulang lebih awal di Euro 2012 ini.

Data tersebut sungguh membuat ciut hati

Jadi kenapa para manajer dan organisasi tidak bisa mengilhami orang-orangnya untuk menyumbangkan bakat dan sumbangan terbesar mereka? Jawabannya sederhana. Orang-orang membuat pilihan. Secara sadar atau tidak, orang-orang memutuskan seberapa besar bagian dari diri mereka yang akan mereka abdikan dalam pekerjaan, dan itu tergantung pada bagaimana mereka diperlakukan, serta kesempatan mereka untuk memanfaatkan keempat dimensi kehidupan mereka, yaitu empat kebutuhan motivasi dasar dari semua orang,: untuk hidup (bertahan hidup), menyayangi (hubungan pertalian), belajar (tumbuh dan berkembang) dan meninggalkan nama baik (makna dan sumbangan)

– Coba kita amati beberapa skenario berikut :

Pertama, Anda tidak diperlakukan dengan adil. Dengan kata lain, ada banyak permainan politik yang berlangsung dalam organisasi Anda; ada nepotisme; sistem penggajian tidak adil dan tidak jujur; gaji Anda juga tidak dengan tepat mencerminkan besarnya sumbangan Anda. Apa kira-kira pilihan Anda?

Kedua, mari kita andaikan bahwa Anda diperlakukan dengan adil, dalam arti Anda digaji dengan adil, tetapi Anda tidak diperlakukan dengan baik. Anda tidak dihormati; perlakuan terhadap diri Anda berubah-ubah, semena-mena, banyak tak terduga, mungkin lebih banyak ditentukan oleh suasana hati bos Anda. Apa kira-kira pilihan Anda?

Ketiga, mari kita andaikan bahwa Anda dibayar dengan adil dan diperlakukan dengan baik, tetapi pendapat Anda tidak digubris. Dengan kata lain, tubuh dan hati Anda dihargai, tetapi pikiran Anda tidak. Apa pilihan Anda?

Keempat, katakanlah Anda dibayar dengan adil (tubuh), diperlakukan dengan baik (hati), dilibatkan secara kreatif (pikiran), tapi Anda diminta untuk menggali lobang dan menimbunnya kembali, atau disuruh membuat laporan yang tak akan pernah dilihat dan dimanfaatkan orang. Dengan kata lain, pekerjaannya sama sekali tidak berarti (jiwa). Apa kira-kira pilihan Anda?

Kelima, katakanlah sekarang Anda dibayar dengan adil, diperlakukan dengan baik, dan dilibatkan secara kreatif dalam suatu pekerjaan yang berarti, tapi ada banyak kebohongan dan kecurangan terjadi terhadap pelanggan dan pemasok, termasuk karyawan lain (jiwa). Apa kira-kira pilihan Anda?

Steven Covey pengarang buku Seven Highly Effective People mengatakan   jawabannya adalah: orang akan memberontak atau keluar, menurut tapi terus menggerutu dan curang  atau paling-paling rela memenuhi kewajibannya dengan terpaksa.

Melihat konteks sejarah—ada lima zaman peradaban manusia: pertama Zaman Berburu dan Mengumpulkan Makanan; kedua, Zaman Pertanian; ketiga, Zaman Industri; keempat Zaman Pekerja Pengetahuan/Informasi; dan akhirnya, Zaman Kebijaksanaan yang sedang mulai. Peter Drucker seorang guru manajemen mengatakan ” harta paling berharga perusahaan abad ke-20 adalah peralatan produksinya. Harta yang paling berharga dari institusi abad ke-21, entah institusi itu bisnis atau bukan, adalah para pekerja pengetahuannya dan produktivitas mereka.”

Dalam zaman Pekerja Pengetahuan/Informasi kita ini, hanya mereka yang dihormati
sebagai pribadi utuh dalam pekerjaannya—yaitu mereka yang dibayar dengan adil, diperlakukan dengan baik, dimanfaatkan secara kreatif, dan diberi kesempatan untuk melayani kebutuhan mengambil orang dengan cara-cara yang berprinsiplah – yang satu di antara tiga pilihan teratas, yaitu mau bekerjasama dengan sukarela, memberikan komitmen sepenuh hati, atau mencurahkan semangat dan kegairahan yang kreatif.

Masalahnya adalah, para manajer saat ini masih menerapkan model kontrol Zaman Industri itu terhadap para pekerja pengetahuan. Karena banyak orang yang memegang otoritas tidak menge-tahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orangnya, serta tidak memiliki pemahaman yang utuh dan tepat mengenai kodrat manusia, mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang. Kurangnya pemahaman ini juga menghalangi mereka untuk dapat mendayagunakan motivasi, bakat dan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh orang-orangnya. Hal itu merendahkan dan mengasingkan mereka, serta menciptakan budaya yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, seragam, dan serba curiga, penuh selidik.Pada tataran organisasi, sebuah falsafah manajemen yang me-nekankan pengendalian menentukan kinerja, komunikasi, kompensasi/imbalan, pelatihan, informasi, dan sistem-sistem inti lainnya, yang pada dasarnya mengekang bakat dan suara kita. Falsafah kendali ini memiliki akarnya di Zaman Industri, dan telah menjadi pola pikir manajemen yang diandalkan oleh orang-orang yang memiliki jabatan, yang terjadi di segala macam industri dan profesi.
Era telah berubah, ketika era Android  seperti  sekarang ini, masih ada yg menenteng Nokia  dan mengatakan ini adalah alat komunikasi terbaik, maka akan ditertawakan sekalipun begitu digjayanya Nokia  dulu. Begitu juga dengan marketing dan management yg semuanya ditentukan oleh yang namanya MOMENTUM. So if you are not productive in this knowledge era it means you are not used creatively (your mind), you are not paid properly (your body), you are not treated fairly (your heart) and management practice is against your spirituality.

The new era menghendaki gaya manajemen yg mengakomodasikan keempat hal tersebut, terutama untuk kaum knowledge worker supaya bisa tetap produktif.

Excerp from: The 8th Habit – from Effectiveness to Greatness by Stephen Covey

Categories: Human Resources Management, Psikologi Populer | Tags: , , | Leave a comment

Tidak Kuatir Indonesia Masuk Daftar Negara Gagal Tanda Tidak Genius

Dr Jeremy Coplan, pemimpin studi dan profesor psikiatri dari State University of New York Downstate Medical Center yang mempublikasikan risetnya pada 1 Februari 2012 dalam jurnal Frontiers di Evolusionary Neuroscience mengatakan, meskipun kita cenderung untuk melihat kecemasan sebagai suatu yang tidak baik, tapi hal ini sangat terkait dengan kecerdasan – suatu sifat yang sangat adaptif.
Riset ini menemukan adanya hubungan antara tingkat kecemasan dan tingkat IQ. Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang didiagnosa mengalami gangguan kecemasan cenderung memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi.

Bahkan jika dibandingkan orang sehat, mereka yang memiliki gangguan kecemasan cenderung memiliki skor IQ lebih tinggi serta tingkat aktivitas yang lebih tinggi di daerah otak, yang membantu dalam komunikasi antara bagian otak.
Lebih jauh Coplan mengungkapkan, seseorang yang memiliki sedikit rasa cemas dapat menimbulkan masalah bagi individu dan masyarakat. Karena orang-orang ini tidak mampu melihat bahaya apapun, bahkan ketika bahaya sudah dekat. “Jika orang-orang ini berada dalam posisi sebagai pemimpin, mereka akan menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa tidak perlu kawatir seperti yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara kita tercinta ini. Sekalipun di tahun 2012 ini Indonesia menempatkan diri diurutan 63 dari 178 negara didunia dalam publikasi Indeks Negara Gagal (Failed States Index) bos bos kita tenang tenang saja ; kan kita bukan peringkat 1 tergagal (paling gagal) masih ada Somalia di posisi ini, sama seperti PD yg di klaim bukan terkorup masih ada partai lain terkorup.
Membandingkan diri dengan yang terbaik masih bukan budaya kita; ukurannya selalu yg terjelek. Nah bila anda anda semua termasuk yg kuatir negara ini akan bangkrut, selamat anda telah menjadi bagian orang orang dengan IQ tinggi dan mungkin Jenius. Bravo!

Categories: Psikologi Populer | Tags: , | 1 Comment

RI needs more PhD graduates in sciences: Kadin

This article is from The Jakarta Post, Jakarta | Sat, 06/23/2012 .
I totally agree with this article. In term of technology Malaysia has Proton already. But Indonesia is only recognized from Djarum, Gudang Garam, Indomie and Dangdut.
Indonesia must improve its competitiveness by producing more PhD graduates in natural and technology sciences, said Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) vice chairman Peter F. Gontha on Friday.
Indonesia, with a population of 250 million people, has 30,000 doctorate graduates, with about 80 percent studying social sciences.
India and China had more PhD graduates, with most studying natural science and technology, Peter said.
“Let us take a look at China, with a population of 1.3 billion people, and India, with 1.1 billion people. They have 800,000 and 650,000 of PhD graduates respectively; 60 percent of which are science and technology majors,” he said during a discussion panel in Wharton Global Alumni Forum in Jakarta.
As a result, he said, Indonesia does not have any major technological brands, while other Asian countries, which have been intensifying their doctorate degree programs, are building technology brands by utilizing PhD graduates in companies’ research and development departments.
“What we have are Gudang Garam, Djarum and Indomie. Other than that, we have nothing,” he said, citing Indonesia’s major cigarettes and instant noodle producers.
Gontha suggested that if the nation did not produce 10,000 PhD graduates a year over the next 10 years, it would not be able to compete with fast-moving global competition.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management, Strategi | Tags: , | Leave a comment

Oxford itu nama kota bro…bukan nama universitas

pada edisi  1 Juni  2012  memberitakan Universitas Oxford, Inggris, mengundang dosen, peneliti, dan mahasiswa Indonesia untuk belajar dan melakukan penelitian di Inggris. Suatu berita  yang menggembirakan tentunya ..siapa sih yang belum pernah mendengar nama Oxford paling nggak Kamus  Oxford menjadi rujukan  kita termasuk saya waktu masih jadi mahasiswa jurusan bahasa  Inggris  dulu. Yang mau masuk siap siaplah dengan pertanyaan nyeleneh ketika di wawancara  yang menjadi ciri khas  universitas ini. Pertanyaan itu misalnya: mengapa singa memiliki surai atau mengapa buah stroberi berwarna merah? Pelamar jurusan ilmu biologi,  salah satunya, mereka akan ditanya seberapa penting kepunahan harimau. Sementara calon mahasiswa hukum diminta menilai kebenaran dari UU yang mengancam hukuman mati untuk parkir ilegal. Untuk calon mahasiswa ilmu material akan diminta menghitung suhu yang dibutuhkan sebuah balon udara untuk mengangkat seekor gajah. Untuk jurusan statistik di tanya kenapa orang Indonesia masih suka menggunakan analisa regresi berganda padahal sudah dikembangkan alat model baru yg namanya structural equation model? Kalo ini saya bisa kasih bocoran jawaban; karena dia di Indonesia kalau di India maka digunakan analis regresi ber Gandhi…he…he. Sudah siap untuk jawaban pertanyaan nyeleneh tersebut?

Kembali ke Lap Top.. sorry.. Kompas, berita tersebut di beri ilustrasi   gambar di bawah ini, dan di bawah gambar tersebut di tulis :

“Universitas Oxford, salah satu dari 10 universitas tertua di dunia”

Dengan  gaya penyajian tersebut yang baca haqqul yaqin menyimpulkan  itu adalah  gambar  bangunan suatu  universitas dengan nama  Oxford University. Padahal yang benar itu adalah gambar  salah satu gedung Christ Church College  yang berada  di kota Oxford, United Kingdom.  Penggemar film Harry Porter 1 tentu ingat  ada  adegan kejar kejaran  main bola  sambil naik sapu,,nah di situlah  film di buat di   lapangan  salah satu perguruan tinggi yang namanya Christ Church.  Karena dijadikan lokasi pembuatan film Harry Porter, masuk ke dalam universitas ini harus membayar  kalau di kurs kan ke rupiah hampir 150 ribu.  Jadi sama seperti Bak Pia Jogja, Pecel Madiun, Nasi Padang, Soto Banjar, Tahu Kediri semua universitas  yang terdapat di kota Oxford yang berjarak kurang lebih 200 km dari London ini  di sebut Oxford University meliputi lebih dari 40 universitas. Itulah hebatnya Oxford karena nama kota tersebut telah menjadi brand yang sangat kuat untuk suatu pendidikan yang berkualitas. Cukup sebut saja nama Oxford, maka jaminannya adalah suatu sistem pendidikan yang  ketat dan bermartabat. Semua  bak pia  yang  ada di  Jogja disebut bak pia  Jogja cuman yang membedakannya adalah  mereknya yang di kasih lebel  angka  1 sampai dengan   sejuta, makanya ada  bakpia pathuk 23, 24, 100 dst nya. Cuma masih disayangkan rasanya tidak standard karena produk produk yang dihasilkan sering nebeng popularitas dari kota asal  tempat  produk tersebut. Di kota kota Jawa Timur misalnya, semua  pecel di kasih lebel pecel Madiun sekalipun yang bikin  orang Madura. Nah ketika yang pernah nyicip bagaimana rasanya pecel  Madiun asli, kemudian nyoba pecel yang cuman lebelnya aja pecel Madiun maka setelah makan bukan ucapan Alhamdulilah mensyukuri nikmat Tuhan, yang lebih sering terjadi adalah sumpah serapah. Di Indonesia kalau kita menyebut Universitas Indonesia  maka hanya  ada satu universitas, begitu juga dengan  Universiti Malaysia, University of Phillipines yang menunjukan bahwa universitas tersebut merupakan yang paling top di negara tersebut.  Tapi  di Oxford, yang namanya  Oxford University adalah deretan perguruan  perguruan tinggi di kota Oxford. Produk tabungan BRI yang bernama SIMPEDES sering di plesetkan sebagai Simpanan Di Pedesaan. Dengan analogi ini Oxford University terjemahan bahasa Indonesianya adalah Universitas Di Oxford. Universitas universitas tersebut  antara lain   yang tertua  University CollegeBalliol, dan  Merton yang didirikan  antara tahun 1249 dan 1264, seumur   Majapahit. Christ Church  merupakan  college  paling ngetop di Oxford.  13 orang Perdana Menteri Inggris   adalah lulusan universitas ini. Daftar keseluruhan  university of Oxford  bisa dilihat disini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Colleges_of_the_University_of_Oxford#List_of_colleges

Christ Church, Landmark Oxford , Universitas Paling Top  

Disamping memiliki  perguruan  tinggi seusia  Ken Arok, Ken  Dedes maupun   Ken Norton, Oxford  juga memiliki perguruan tinggi   yang relatif baru   : Saïd Business School, University of Oxford. Tetapi sekalipun baru, kiprahnya tidak main main.  Universitas ini mendapat ranking  18 di dunia menurut  eduniversal rankings  2011. Pada tahun  2010, Forbes memberikan  ranking  1   sebagai universitas di luar Amerika   yang memiliki program MBA terbaik. Financial Times Global MBA Rankings 2012 memberikan  peringkat 16 di dunia  and ke 2 di Inggris setelah London Business School.

Mungkin yang menjadi  pertanyaan kok  nama universitas ini   berbau Timur Tengah atau seperti nama Hotel Sahid  yang di miliki keluarga Sahid di Indonesia sedangkan nama nama perguruan tinggi di Oxford banyak diambil dari  Injil seperti Jesus CollegeSt Anne’s CollegeLady Margaret HallSt Hugh’s CollegeSt John’s CollegeSt Peter’s College dll. Ternyata  universitas ini  bisa berdiri atas sumbangan Wafic Saïd  seorang makelar senjata keturunan Arab-Syria yang menyumbang sebesar   £23 juta. Bila  1 £ =  Rp. 15.000, silahkan hitung sendiri  berapa sumbangan milyarder arab ini, dan sebagai  imbalannya universitas  ini dinamakan seperti itu  untuk  mengenang jasa  Abi Saïd. Sebagai pelengkap di universitas itu juga  patung separo badan beliau mejeng.

A bust of Wafic Saïd in Saïd Business School, Oxford.

 Nah daripada kita meributkan masalah klaim budaya dengan Malaysia  padahal berbagai macam bukti dan arsip menyatakan bahwa budaya tersebut adalah budaya dari Indonesia, kenapa kita  tidak memperbaiki sistem  pendidikan dan pengarsipan  di negara kita termasuk  mendata semua budaya-budaya lokal yang ada ditengah masyarakat, dan mendaftarkannya sebagai warisan budaya nasional serta didaftarkan juga dibawah UNESCO.Jika Indonesia sudah mendaftarkan kebudayaannya ke UNESCO, maka negara lain yang ingin menampilkan budaya Indonesia di publik harus meminta izin ke pemerintah sehingga masyarakat Indonesia tak perlu repot-repot berpolemik dan melarang penggunaan budaya lokalnya oleh negara lain.

Kalau semua tertata baik, siapa tahu Tan Sri Tony Fernandez  boss-nya Air Asia  tertarik menyumbangkan dana untuk membuat sekolah di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Abi Said. Kualitas akan datang kalau kita memiliki uang untuk memperbaiki fasilitas. Who Knows?

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

Bangsa Mana di Dunia Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan hiruk pikuk-nya Euro 2012 yang membuat  saudara bangsa  se tanah air doyan begadang. Kalaupun masih demam  para pahlawan Euro saya hanya nitip pesan;  coba diusulkan supaya kita  memberikan  penghargaan kepada Mario Gomez dan Ronaldo yang telah berhasil membuat cucu cucu  penjajah  pulang kampung.

Paul Kennedy’s  dalam karyanya  Rise and Fall of the Great Powers  mengungkapkan  bagaimana  keunggulan  teknologi dan ekonomi   telah  menjadi keunggulan  strategis suatu bangsa tetapi   kegagalan untuk  mempertahankan keunggulan ini  akan mempercepat kemunduran suatu bangsa.  Sebelum perang dunia ke dua kita  menyaksikan betapa  tangguhnya kekuatan Inggris yang menguasai hampir seluruh dunia, tetapi  penyebaran teknologi industri secara bertahap membuat  Inggris menjadi lemah  dan muncul  Amerika Serikat dengan teknologinya.  Disisi lain Barat mengalahkan Uni Soviet tidak melalui peperangan tetapi dengan mempertahankan sistem ekonomi yang unggul dengan standar teknologi yang lebih tinggi. Kebangkitan Cina  di akhir abad ke-20  boleh dikatakan  masih merupakan  kelanjutan   dari Revolusi Industri yang  belum selesai.  Awal abad 21 adalah  saat geoteknologi menjadi lebih penting dari  penentu keunggulan  tradisional sebelumnya seperti geopolitik dan geoekonomi. Cina menjadi  negara adidaya saat ini bukan  karena memiliki dua kali lebih banyak senjata nuklir seperti   dua dekade lalu, tetapi karena telah mendominasi manufaktur melalui tenaga kerja, kecerdikan dan spionase  dan sekarang mereka berinvestasi pada  perangkat keras militer dan teknologi canggih lainnya. Malaysia dan Singapore mengungguli  Indonesia  dalam hal Human Development Index  bukan karena mereka memiliki  lebih banyak orang orang pintar di bandingkan Indonesia.   Apakah ini berarti Cina akan berhasil dalam meraih dominasi Geoteknologi? Begitu juga halnya  dalam kasus kita dengan negara jiran kita.  Itu semua tergantung pada   Technik.  Sekalipun diterjemahkan  sebagai technique,  Bahasa Inggris tidak memiliki padanan yang  setara untuk kata dari bahasa  Jerman ini karena kata tersebut tidak merujuk   hanya  kepada teknologi itu  sendiri, tetapi juga kepada  keterampilan dan proses  di sekitarnya . Technik menyatukan dimensi ilmiah dan dimensi mekanik  dengan berfokus kepada  efeknya terhadap  manusia dan masyarakat  sehingga  hasil akhirnya nanti merupakan suatu  peradaban.

                                      University of Hamburg, Pusat Technik Jerman

Technik adalah tentang kemampuan beradaptasi: kemampuan untuk memanfaatkan teknologi baru  untuk memperbaiki keadaan kita. Dalam dunia dengan  bentuk politik beragam – demokrasi, monarki, negara otoriter, negara Islam, negara Pancasila  -yang semakin membedakan masyarakat   bukan lagi tipe rezim   atau pendapatan per kapita , namun kapasitas masyarakat  untuk memanfaatkan teknologi. Masyarakat yang terus menerus meng-upgrade  Technik-nya  akan semakin berkembang. Ketika standar hidup yang terus-menerus terancam oleh perubahan teknologi,  Technik menjadi faktor dalam mengevaluasi stabilitas sosial? Perbedaan yang menyolok antara Human Development Index dan  pendapatan per kapita   mengisyaratkan pentingnya satu metrik ukuran yang lebih netral   demi kemajuan suatu bangsa.  HDI  merupakan  suatu ukuran  prestasikeseluruhan suatu negara menurut tiga dimensi Pembangunan Manusia, yaitu:

  • Panjangnya usia – diukur berdasarkan angka harapan hidup saat lahir
  • Pengetahuan – diukur berdasarkan angka melek huruf orang dewasa dan gabungan partisipasi sekolah di tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi (dengan pembobotan yang sama pada kedua indikator)
  • Standar hidup layak – diukur oleh pendapatan riil per kapita.  Untuk tahun 2011 Indonesia  masuk dalam kategori  Medium Human Development (124 dari 187). Negara  negara  Petro Dollar  seperti Saudi  Arabia   dan Kuwait ternyata  HDI-nya tidak tinggi , sementara China  meningkat dengan cepat sekalipun  pendapatan  per kapita masih sedang (peringkat 13). Selengkapnya bisa di lihat di  http://hdr.undp.org/en/statistics/ Di era  sekarang ini,   kriteria  lain untuk menilai suatu negara  juga harus diperhatikan seperti ,  Network Readiness Index yang menilai kualitas akses individu, peraturan pemerintah, dan investasi bisnis dengan menggunkan  lebih dari 50 indikator. Tidak mengherankan, Swedia, Singapura dan Finlandia berada di atas, tapi menarik, teknokrat  Cina mempunyai  skor yang lebih tinggi daripada demokrat India, dan India  memiliki  skor lebih tinggi dari Italia. Technik yang baik memerlukan kombinasi berbagai elemen supaya  menghasilkan  Indeks  pembangunan manusia yang tinggi, pertumbuhan ekonomi,  partisipasi aktif dalam  politik, dan kesiapan teknologi.
    Kembali ke pertanyaan diatas Bangsa  Mana-kah  di Dunia ini  Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

    Amerika Serikat boleh dikatakan sebagai  tempat darimana  datangnya  beberapa pelopor utama   inovasi  “Technik”  yang membantu kita  beradaptasi dengan masa depan. Sebagian besar dunia  adidaya silikon  adalah produk  Amerika seperti: IBM, Google, Cisco, Apple, Microsoft dan banyak lagi.  Produk produk  dari perusahaan-perusahaan tersebut meletakkan  dasar   inovasi untuk  pengguna yang beragam di seluruh dunia yang tidak bisa ditandingi oleh  Eropa apalagi Asia.Tapi  keunggulan  Amerika sebagi first mover   sekarang sedang mengalami kemerosotan seiring  dengan Produk  Domestik Bruto nya yang menurun,  dana untuk Riset dan pengembangan  jatuh menjadi sekitar 20 persen, dan karena tidak cukupnya   dana tersebut yang dikhususkan untuk inisiatif komersialisasi, Amerika Serikat kadang-kadang harus membeli barang yang  ditemukan satu dekade yang lalu dari pesaing luar negeri. Sains dan teknik telah menjadi menciptakan jurang  antara mahasiswa Amerika dan pembuat kebijakan.

Mengingat pesatnya  proporsi kepemimpinan Asia dengan latar belakang ilmu pengetahuan, teknik dan matematika, dan pertumbuhan yang dipicu ekspor negara dalam  menciptakan surplus yang cukup besar, tidak mengherankan bila Jepang, kemudian Korea dan Cina, telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur untuk mengejar ketinggalan dengan AS  – dan berpotensi melampaui – Barat. Jepang telah memiliki tiga kota tercepat di dunia  berdasarkan kecepatan koneksi internet, Singapura telah meluncurkan zona Biopolis dan Fusionopolis untuk menciptakan keunggulan di bidang ilmu pengetahuan alam , anak Korea belajar bahasa Inggris dari robot dan menjadi mahir dalam pemrograman sejak dini. Dan jangan lupa,  Indonesia  telah menjadi  negara dengan pengguna Facebook terbanyak menunjukkan tingkat melek Teknologi Informasi  yang cukup bagus.

Meskipun produk produk silicon valley Asia   masih belum secanggih made in America, mereka dengan cepat belajar dan menempatkan posisinya di pasar. Bukankah Nokia yang begitu digjaya  terkapar karena Samsung dan HTC yang notabene made in Asia.  Dalam ekonomi yang berkembang pesat di seluruh dunia, perusahaan  kecil tetapi berkembang   inovatif dengan jiwa  entrepreneur yang tinggi adalah pencipta lowongan pekerjaan  dan pendorong  pertumbuhan pendapatan. Dalam dekade ke depan, tidak hanya  kesenjangan jarak  antara penemuan baru (invention) dan inovasi (innovation) menjadi  sempit, tetapi aliran kedua duanya  akan semakin mempersempit jarak  antara Timur dan Barat.

Bagaimana  peran  universitas sebagai tempat berkembangnya   ilmu dan teknologi?

Perguruan tinggi   harus memperkuat peran mereka dalam meningkatkan Technik.  Para ilmuwan dan insinyur dari   universitas teknik seperti ITB atau ITS di Indonesia  sudah memainkan peran penting. Tapi sekolah bisnis   harus berbuat lebih banyak . Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah bisnis telah disalahkan karena berada di  lini belakang  dalam mengajarkan keterampilan manajemen dunia nyata seperti kepemimpinan, etika, dan  menganalisa risiko politik. Technik  termasuk dalam daftar itu juga. Studi kasus mengenai  adaptasi perusahaan terhadap teknologi -harus ditampilkan  jauh lebih menonjol.  Ketika technologi menjadikan ukuran bisnis  apakah menjadi besar atau kecil, kita  harus membandingkan diri   atas dasar Technik di atas segalanya. Tidak  ada persiapan yang lebih baik  selain mempersiapkan  diri pada  era yang muncul dari persaingan Geoteknologi.

Karena itu kita patut mengapresiasi  yang dilakukan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang bekerjasama dengan Lund University, Swedia, untuk membangun science park di area kampus UMN, Serpong.  Dan juga pendirian  Surya University   di Gading Serpong, Tangerang yang menurut  Yohanes Surya pendirinya  di Jakarta, (12/6/2012), universitas ini dibuat untuk mendukung lahirnya teknologi terdepan di Indonesia, termasuk juga lewat technopreneur. Untuk itu, Prof Yo, demikian Yohanes sering disapa, menggandeng para doktor Indonesia di luar negeri untuk menjadi pengajar.

Di kampus ini juga dikembangkan laboratorium yang nantinya dapat mendukung terciptanya teknologi-teknologi terbaru karya ilmuwan Indonesia.  .”Saya kembangkan inovasi dalam jurusan-jurusan untuk mendukung lahirnya technopreneur di Indonesia,” ujar beliau.

Semoga  hal yang dilakukan oleh putra putra bangsa ini  dengan niat  memperbaiki Technik bangsa kita  bukan cuma naluri bisnis yang sedang membaca ke arah mana angin sedang bertiup. 

Selamat bekerja untuk   kehidupan yang lebih baik saudara sebangsa dan setanah air.

Diadopsi dari : http://blogs.hbr.org/cs/2012/06/which_nation_has_the_best_tech.html

Categories: high education in Indonesia, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Menyesuaikan Bisnis Model Dengan Kehadiran Facebook dkk.

Di tengah miskinnya prestasi kita untuk menjadi  yang terbaik di peringkat dunia, sebut saja tersingkir  awal di Piala Thomas, menjadi runner up sepak bola di piala  AFF , runner up lagi di SEA Games  dan lagi lagi dan lagi jadi spesialis runner up  di  Sultan Hassanal Bolkiah Indonesia  di nobatkan  sebagai negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia.  Kalau Facebook sebuah negara  tentu kita  boleh  menyebut  Jakarta sebagai ibukota  Facebook. Akhirnya  ada juga kita yang nomor satu di dunia, sekecil apapun prestasi  seharusnya kita rayakan dan terima kasih sebesar besarnya kepada  para Facebooker Indonesia, without you we cannot become the numbero uno in the world.  Facebook di Indonesia  sepertinya   sudah menjadi  kawan dalam suka dan duka serta digunakan untuk berbagai kepentingan terutama dalam hal dukung mendukung.   Dulu ketika kasus Prita Mulyasari mencuat, jumlah pengguna FB meningkat tajam. Juga ada   Gerakan 1,000,000 Juta Facebookers mendukung Bibit – Chandra. Mungkinkah nanti ada  Gerakan 1,000,000 Juta Facebookers mendukung  pembebasan  Angelina – Miranda? Wallahualam. Facebook juga telah  mendefinisikan persahabatan itu seperti apa? Dulu kalau kita tidak suka dengan orang cara mengekspresikannya macam macam, dengan adanya Facebook jadi sederhana, cukup : delete from friend . Melalui Facebook juga kita  seperti disatukan kembali dengan serpihan-serpihan masa lalu  – dan tiba-tiba kita  seperti kembali menjadi sangat dekat dengan teman-teman lama .

Selamat datang di era web 2.0, sebuah era dimana komunikasi dua arah  yang ada pada Facebook,  Twitter dan Youtube menyeruak; menyapa ramah penghuni   jagat, mulai dari pekerja pekerja yang di bayar Yen Jepang di negara Sakura sana  hingga  yang di bayar Yen Ono Duite . Selamat  datang era online mutakhir, dimana setiap individu kini memiliki kekuatan penuh kadang tanpa rambu rambu  untuk menyuarakan ide dan gagasannya hampir di semua lini kehidupan.  Perubahan selalu membawa  implikasi dan kita  dituntut menyesuaikan irama tarian kita  dengan perubahan tersebut. Dulu di zaman ngetop ngetopnya Mas Ebiet G. Ade  kita kalau ada masalah sering menjawab : tanyakan saja pada rumput yang sedang bergoyang, sekarang kan  tidak ngetrend  lagi makanya  disesuaikan dengan  tanyakan saja pada Dewi Persik atau Jupe  yang sedang bergoyang.

Harvard Business Review  di   edisi  nya May 2012  memaparkan beberapa  pergeseran   yang seharusnya kita  amati biar  tidak dilindas  oleh perubahan tersebut. Mereka  yang berubah terlalu awal biasanya dikatakan  eksentrik, yang  lambat berubah sering dianggap antik sedangkan yang  menyesuaikan diri dengan perubahan dan berubah pada saat yang tepat  itulah JENIUS.  Partai partai politik di Indonesia  merupakan ajang yang  sempurna untuk melihat fenomena ini.  Ketika  angin perubahan  mengarah ke Partai  Demokrat  maka  berduyunlah kaum jenius tersebut hijrah  ke Demokrat, dan kalaupun  di Pemilu 2014  mereka tidak di Demokrat lagi, jangan salahkan lah pengamat angin perubahan  tersebut karena mereka tetap ingin mempertahankan kejeniusannya.

1. Media: From Audience to Community

Perubahan  pertama adalah pada fungsi  Media  yang bergeser dari  Pendengar ke  Komunitas. Dulu  kita terbiasa  menganggap  bahwa media  elektronik adalah alat untuk menyampaikan pesan kepada pendengar.  Tetapi ketika  “one-to-many” menjadi  “many-to-many,” maka pendengar kita berubah menjadi  komunitas.  Pendengar dulu pasif, tidak dikenal dan terisolir sekarang mendadak  menjadi , aktif, diberdayakan, and terkoneksi.  Kita  tidak memberi ceramah lagi; kita menjadi tuan rumah suatu pesta. Kesuksesan kita ditentukan  oleh bagaimana cara kita menghubungkan tamu tamu yang ada dan bagaimana caranya supaya  percakapan terus  berjalan tanpa ada kebisuan diantara mereka. jangan sampai terjadi seperti anda posting topik yang tidak menarik di Facebook yang menghasilkan no comments dan tida ada yang like.

2. Individuals: From Consumer to Co-Creator

Evolusi  pendengar  pasif ke  aktif komunitas   membawa implikasi perubahan dari  pengguna ke pencipta.  Dalam  bisnis pelanggan secara  aktif ikut menentukan  kualitas itu seperti apa menurut persepsi mereka.  Berbagai  ukuran kualitas   manajemen  perusahaan  baik dengan lebel ISO 9000 atau ISO 14000 bisa  menjadi  ISO GENDHENG bila perusahaan yang sudah   susah payah   mendapatkan sertifikat tersebut  produknya kemudian dipersepsi oleh konsumen sebagai produk yang tidak berguna melalui posting posting negatif  di social media.  Hal  yang sama juga terjadi sekalipun produk tersebut belum tersertifikasi ISO, tetapi bila dipersepsi  positif oleh pengguna media sosial, kecenderungannya akan berhasil cukup besar.


3. Brands: From Push to Pull

Perubahan selanjutnya yang terjadi adalalah dari  Mendorong(Memaksa) ke  Menarik.  Di era sosial media masyarakat tidak suka dipaksa . Mereka tidak perlu diberi tahu  merek apa yang di beli, dimana membeli dan kapan membeli.  Media sosial melakukannya untuk mereka. Itulah sebabnya  para boss   Saatchi and Saatchi  yang merupakan perusahaan periklanan terbesar di London baru baru ini menyatakan  “Marketing is dead” karena suara sosial media merupakan suara megaphone yang paling keras dewasa ini.  Dulu orang  di dorong untuk menggunakan  maskapai penerbangan tertentu  kalau mau bepergian, sekarang dengan  Web 2.0  semua informasi  tersedia dengan jelas, beserta tipe pesawatnya, singgah dimana dan harga tiketnya di mana. Kalu mau coba silahkan coba disini.
http://www.cheaptickets.nl/en/index.cfm

Untuk penerbangan ke luar negeri  selalu terlihat   dan

 selalu terlihat lebih mahal, makanya jadi susah bersaing dengan penerbangan lain di kolong jagad ini  seperti   dan 

 4. Organizations: From Hierarchies to Networks

Organisasi juga mengalami pergerseran paradigma  sebagai akibat dari karyawan yang makin   terkoneksi dengan kawan kawannya secara virtual di jagad ini.  Selamat tinggal masa  sang jagoan sendiri yang sering tampak pada film film action macam Ramboo yang begitu saktinya menghabisi lawan lawannya.  Salah satu ukuran kehebatan sekarang adalah  sekuat apa network kita yang satu indikatornya ditunjukan dengan berapa juta orang followers di   twitter  seperti Lady Gaga.

5. Markets: From Products to Platforms
Keunggulan bersaing  suatu produk  bergeser dari produk ke platform.  Pergeseran ini sangat terlihat jelas di arena teknologi. Platform Apple adalah dia tidak menjual smartphone tetapi  menjual pengalaman yang di dapat lewat platform produknya.  Dominasi Apple adalah karena keberhasilannya menciptakan  platform yang lebih dari produk-produknya. Perusahaan lain membuat smartphone yang sangat baik. Tapi iPhone adalah platform yang unggul dalam menciptakan pengalaman terbaik melalui iTunes, App Store, dan sekarang iCloud.

6. Leadership: From Control to Empower
Revolusi sosial menghendaki  jenis kepemimpinan baru . Diperlukan keterampilan yang berbeda untuk mengelola hirarki dan mempengaruhi publik . Tantangan kepemimpinan baru adalah bagaimana merancang jaringan, membangun platform, dan melibatkan komunitas . Dibutuhkan tingkat keaslian, transparansi, dan visi yang lebih tinggi   dikombinasikan dengan komitmen terhadap  keunggulan,  ketanggapan , dan kinerja.   Di era  sosial media , sifat kekuasaan bergeser dari seberapa banyak Anda mengontrol ke  seberapa baik Anda memberdayakan. Terlepas dari apa yang terjadi pada Facebook,   perubahan fundamental yang terjadi   akan  selalu mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Sejak di temukannya mesin cetak oleh  Gutenberg  beberapa perubahan   besar  terjadi : the Protestant Reformation, the Renaissance, the Scientific Revolution, dan munculnya negara bangsa (nation state). Diperlukan  waktu  300 tahun untuk semua perubahan ini berlangsung. Tetapi pada langkah kecepatan pada dewasa  ini, kita harus menghitung dalam hitungan  tahun bukan abad. Bisa kah anda bayangkan  Nokia yang begitu digjaya  menjadi  terseok seok dalam kurun waktu yang singkat?

Kalau anda berminat membaca artike asli, silahkan link ke sini.

http://blogs.hbr.org/cs/2012/05/putting_facebook_in_perspectiv.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+harvardbusiness+%28HBR.org%29

Semoga bermanfaat. Have a nice weekend!

Categories: Strategi | Tags: , , , , , | 1 Comment

Kebebasan akademik landasan moral para ilmuwan untuk bekerja memaksimalkan kemampuan intelektualnya

Kebebasan Akademik Itu…

Oleh Sulistyowati Irianto

Tahun 2050, penduduk dunia diramalkan mencapai 9 miliar. Manusia akan menghadapi problem sangat kompleks. Mulai dari kekurangan pangan, air bersih, krisis energi, ancaman penyakit, kerusakan hutan, hingga semakin hancurnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

Bagaimanakah sikap para ilmuwan Indonesia menghadapi masalah kemanusiaan di masa depan? Mampukah perguruan tinggi di Indonesia melahirkan puncak kreativitas dan inovasi, sejajar dengan perguruan tinggi lain di dunia?

Universitas adalah gerakan moral tempat lahirnya produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan. Para ilmuwan dengan kapasitas intelektual dan kepeduliannya yang tinggi punya potensi sangat besar untuk ikut mengatasi berbagai persoalan dunia di masa depan.

Namun, potensi itu saja tak cukup. Ada hal mendasar yang sangat dibutuhkan, yaitu kebebasan akademik! Inilah landasan moral para ilmuwan untuk bekerja memaksimalkan kemampuan intelektualnya. Jika menghendaki bangsa yang kuat, kebebasan akademik tak boleh dibatasi oleh siapa pun, bahkan harus didukung sepenuhnya oleh negara melalui perangkat hukum.

Di Jerman dan Filipina, kebebasan akademik termuat dalam konstitusi. Bagaimana Indonesia? Sesudah 66 tahun Indonesia merdeka serta menjadi negara demokrasi dan rule of law, kebebasan akademik yang paling esensial itu pun masih harus diperjuangkan.

Universitas setiap saat dapat diintervensi pemerintah dalam bentuk apa pun, antara lain dengan dalih ketergantungan dana kepada pemerintah. Padahal, secara konstitusional sudah kewajiban negara untuk memberikan hak pendidikan kepada setiap warga negara, termasuk menghidupi universitas. Jadi, tidaklah tepat apabila universitas menggadaikan kebebasan akademiknya, lalu dikontrol pemerintah, dengan alasan kegiatan operasionalnya dibiayai pemerintah. Bukankah itu sudah merupakan kewajiban negara?

Otonomi universitas

Pemerintah di negara-negara maju bahkan ada yang mendanai 100 persen, tetapi tidak mencampuri urusan pendidikan tinggi. Hampir di seluruh dunia—bahkan di sejumlah negara berkembang, termasuk ASEAN—universitas sudah menjadi independen, tetapi pemerintah tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya dalam hal pendanaan. Ada banyak pemerintah yang bahkan menciptakan skema pinjaman keuangan kepada para mahasiswa untuk membiayai kuliah mereka.

Indonesia ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain dalam hal memandirikan perguruan tinggi. Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa prestasi ilmuwan Indonesia termasuk yang rendah di dunia meski ada banyak orang pandai di negeri ini. Pemerintah bahkan tidak memiliki konsep mendasar. Kebijakan yang diambil pun ”tambal sulam”, yang justru menuai banyak kritik. Contohnya, mensyaratkan kelulusan mahasiswa dengan tulisan di jurnal ilmiah tanpa paham apa kriteria dan standar tulisan ilmiah itu.

Ketidakmandirian pendidikan tinggi juga menjelaskan mengapa banyak ilmuwan Indonesia yang sangat pandai lari ke luar negeri, membaktikan dirinya untuk kemajuan bangsa lain. Di sini mereka tidak mendapatkan laboratorium yang memadai dan kesejahteraan lahir batin yang dibutuhkan untuk sampai pada puncak prestasi akademik. Atmosfer akademik tak menunjang. Adakalanya ilmuwan tidak bisa bersuara karena terbelenggu oleh kedudukannya dalam hierarki birokrasi akademik.

Kebebasan akademik hanya bisa diperoleh dalam universitas yang otonom. Di dalamnya terdapat persyaratan tata kelola dan aksesibilitas publik terhadap pendidikan tinggi.

Kebebasan akademik adalah hak setiap profesor, staf pengajar, dan peneliti terkait kegiatan mereka dalam pengajaran dan penelitian. Tentu saja yang sejalan dengan tradisi universitas, kode etik, prinsip toleransi, dan obyektivitas.

Profesor bebas menentukan isi kuliahnya dan menerbitkan hasil penelitian tanpa meminta persetujuan. Akademisi hanya mengabdi pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan, terbebas dari kepentingan politik praktis dan agama tertentu dalam tugasnya. Jangan terulang lagi masa kelam Orde Baru saat pemerintah mencengkeram universitas dan membungkam akademisi.

Kebebasan akademik juga ada pada institusi, yaitu kebebasan untuk mengangkat pegawai, menetapkan standar masuk bagi mahasiswa. Mahkamah Agung Amerika pernah memutuskan bahwa kebebasan akademik universitas adalah untuk menentukan sendiri siapa boleh mengajar, apa yang diajarkan, bagaimana cara mengajar, dan siapa yang diizinkan untuk belajar.

Independensi universitas

Otonomi universitas akan menumbuhkan budaya akademik yang mengajarkan nilai-nilai ilmu pengetahuan, argumentasi dengan dasar ilmiah dalam setiap pengambilan keputusan. Budaya akademik yang demikian akan melahirkan hubungan kolegial yang egaliter dan sehat atas dasar saling menghormati dan memberdayakan di antara para ilmuwan.

Apabila universitas dijadikan bagian dari birokrasi pemerintah, akan tumbuh budaya birokrasi yang lamban, tidak efisien, dan korup. Universitas di Indonesia akan semakin tidak mampu mengejar perkembangan ilmu dan akan kalah bersaing dengan universitas di dunia.

Otonomi universitas setali tiga uang dengan tata kelola universitas, yaitu akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik untuk ikut mengontrol. Ada otonomi untuk mengelola keuangan sendiri dan tidak melibatkan birokrasi kementerian yang rawan korupsi seperti selama ini. Semakin terkait dengan birokrasi keuangan pemerintah, semakin tersedia celah bagi penyalahgunaan kewenangan dan korupsi.

Aksesibilitas masyarakat, khususnya kelompok rentan secara ekonomi dan sosial, harus dapat dijamin dalam universitas yang otonom. Pendanaan universitas tidak boleh mengandalkan dari bayaran mahasiswa, tetapi dari negara, korporasi dengan corporate social responsibility (CSR)-nya, dan kegiatan-kegiatan penelitian yang hebat.

Tujuan dari otonomi adalah memampukan para ilmuwan untuk sampai pada puncak prestasi akademik, seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa ini. Kreativitas dan inovasi ilmuwan dinantikan masyarakat ilmiah dunia untuk bersama-sama mengatasi persoalan kemanusiaan di masa depan.

Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan dari masyarakat luas dan negara. Mahkamah Konstitusi pernah membuat ”kesalahan” dengan putusan finalnya yang mematikan cikal bakal otonomi perguruan tinggi. Para profesor terbaik bangsa ini sekarang sedang berjuang merumuskan RUU Pendidikan Tinggi. Semoga kesalahan tidak terulang kembali, demi kejayaan Indonesia.

Sulistyowati Irianto Guru Besar Antropologi Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

PTN-PTN kuat melakukan komersialisasi pendidikan dengan sangat vulgar

Kebebasan akademik, Kebebasan yang mencekik

SYAMSUL RIZAL

Tulisan Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia, berjudul ”Kebebasan Akademik Itu…” (Kompas, 5/5) perlu dicermati. Saat ini sangat jarang kita temui pendapat yang ideal, bernas, dan penuh pengayaan buat masyarakat, khususnya masyarakat akademik.

Pendapat beliau yang sangat mengharukan itu saya kutip kembali. Otonomi universitas akan menumbuhkan budaya akademik yang mengajarkan nilai-nilai ilmu pengetahuan, argumentasi dengan dasar ilmiah dalam setiap pengambilan keputusan. Budaya akademik yang demikian akan melahirkan hubungan kolegial yang egaliter dan sehat atas dasar saling menghormati dan memberdayakan di antara para ilmuwan.

Apabila universitas dijadikan bagian dari birokrasi pemerintah, akan tumbuh budaya birokrasi yang lamban, tidak efisien, dan korup. Universitas di Indonesia akan semakin tidak mampu mengejar perkembangan ilmu dan akan kalah bersaing dengan universitas di dunia.

Sebetulnya kebebasan akademik, walau secara terbatas, pernah diberikan kepada perguruan tinggi negeri (PTN) tertentu. Tatkala kebebasan akademik itu diberikan kepada PTN yang merupakan centre of excellence di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Gadjah Mada, PTN-PTN ini langsung terasa sangat ”lapar”. Kebebasan akademik yang diberikan oleh pemerintah itu telah disalahartikan dan ditafsirkan lain oleh pengelolanya.

Bukan kebebasan akademik saja yang dilaksanakan, kebebasan yang terasa mencekik masyarakat juga dipertontonkan secara vulgar. Biaya kuliah yang ditetapkan, terutama pada program studi favorit, melesat ke ruang angkasa.

Panitia penerimaan mahasiswa baru PTN-PTN kuat ini road show ke sejumlah provinsi. Di setiap provinsi, mereka bersekongkol dengan pejabat pemerintah daerah setempat dengan cara win-win solution. Anak-anak di daerah direkrut dengan alasan PTN kuat ini akan melakukan penerimaan yang merata sampai ke daerah-daerah. Dengan biaya mahal, pemda merogoh kantong APBD-nya dalam-dalam agar anak-anak di daerah tersebut diberi beasiswa. Perlu juga ditelusuri, siapa saja anak-anak penerima beasiswa itu.

Di samping itu, dengan biaya yang sangat tinggi, semakin sulit saja mahasiswa miskin masuk ke PTN-PTN kuat. Karena itu, tatkala Mahkamah Konstitusi membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan, yang salah satu alasannya karena UU ini bertentangan dengan Pasal 28D Ayat 1, dan Pasal 31 UUD 1945, masyarakat pun bersorak gembira.

”Hukum rimba”

Hanya yang kuatlah yang menang! Inilah makna dari survival of the fittest, sebuah frase yang diperkenalkan pertama kali oleh filsuf Herbert Spencer setelah membaca karya monumental Charles Darwin, On the Origin of Species. Frase ini pemaknaannya terus berkembang dinamis. Dalam dunia kemasyarakatan, frase ini sering direfleksikan sebagai hukum rimba: yang kaya memakan yang miskin, yang pandai mengelabui yang bodoh, yang kuat menginjak-injak yang lemah.

Frase survival of the fittest ini juga berlaku di dunia perguruan tinggi di Indonesia. PTN-PTN yang kuat begitu berbeda dengan PTN lemah. Ilmuwan-ilmuwan dari PTN kuat penuh percaya diri. Sementara ilmuwan dari PTN lemah tampil penuh harap dan belas kasih dari ilmuwan-ilmuwan PTN-PTN kuat.

Jurang kualitas PTN kuat dan PTN lemah terasa sangat lebar. PTN-PTN yang kuat (maaf!) sangat menikmati jurang kualitas ini. Tatkala PTN-PTN kuat harus bekerja sama dengan PTN lemah, akan ada istilah yang sangat terkenal: PTN kuat sedang membina PTN yang lemah. Sering istilah membina tersebut dipelesetkan menjadi membinasakan. Sebab, yang sering terjadi adalah asas pemanfaatan: yang kuat memanfaatkan yang lemah.

Akibatnya, PTN-PTN lemah lebih nyaman bekerja sama dengan PTN-PTN asing. Hal ini dilakukan bukan karena ingin bergaya kebarat-baratan. Juga bukan perkara mental inlander. Ini perkara keadilan. Tak ada satu pihak pun di dunia ini yang mau bekerja sama dengan pihak lain kalau duduk tidak sama rendah dan berdiri tidak sama tinggi. Apalagi sesama anak bangsa.

Sangat jarang kita temui ilmuwan-ilmuwan dari PTN-PTN kuat yang secara sadar dan ikhlas ikut memperjuangkan keadilan bagi PTN lemah. Padahal, bangsa ini tak mungkin bisa maju kalau hanya PTN kuat saja yang harus berkembang dan diberi kepercayaan menghela atau menarik ”pedati” kualitas dan kebebasan akademik. Kita harus bergerak dengan kekuatan yang merata dan berjemaah untuk mengalahkan bangsa-bangsa lain.

Kesalahan kita selama ini, yang telah memberikan perhatian yang sangat berlebihan kepada PTN-PTN kuat, harus dikoreksi. Contoh kasus memalukan yang menimpa bangsa kita dan telah disadarkan oleh Dirjen Dikti adalah jumlah publikasi ilmuwan-ilmuwan kita yang kalah telak oleh jumlah publikasi ilmuwan-ilmuwan Malaysia. Kalau mau jujur, ilmuwan-ilmuwan dari PTN-PTN kuat inilah yang paling bertanggung jawab terhadap kalahnya kita bersaing dari segi publikasi internasional ”melawan” ilmuwan-ilmuwan dari negara jiran, Malaysia.

Dua catatan

Di akhir artikelnya yang penuh idealisme, Prof Sulistyowati Irianto mengajak masyarakat luas dan negara untuk mendukung kebebasan akademik yang sedang diperjuangkan demi kejayaan Indonesia. Saya yakin dukungan akan diperoleh dari masyarakat luas, negara, dan rekan-rekan ilmuwan dari PTN-PTN yang lemah, dengan mempertimbangkan dua catatan berikut.

Pertama, kesalahan yang pernah dibuat oleh PTN-PTN kuat, yaitu melakukan komersialisasi pendidikan yang terasa sangat vulgar, tidak boleh terulang lagi. Tatkala MK membatalkan UU BHP dengan alasan melanggar UUD 1945, sungguh alasan yang sangat menyakitkan. PTN-PTN kuat seakan telah lari dari masyarakat yang telah melahirkan dan membesarkannya. Masyarakat luas, terutama yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi, merasa seakan-akan telah ditinggalkan oleh PTN-PTN kuat.

Kedua, PTN-PTN di seluruh Indonesia harus diupayakan adil dan merata kualitasnya. Atau dalam bahasa Prof Sulistyowati, ”…melahirkan hubungan kolegial yang egaliter dan sehat atas dasar saling menghormati dan memberdayakan di antara para ilmuwan.” Seharusnya PTN-PTN kuat, seperti ITB, IPB, UI, dan UGM, hadir tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi kualitas mereka yang hebat harus hadir juga di daerah- daerah pada wilayah NKRI yang sangat luas dan majemuk ini.

Syamsul Rizal Guru Besar dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.