Hanya yang Pintar dan Terpilih Berhak Jadi Guru

Di tahun 80″an Iwan Fals  boleh saja  memposisikan   guru  dengan lagu Oemar Bakrinya seperti di link ini

 

Tapi itu dulu, sekarang lain bro. Tidak ada lagi guru yang hidupnya pas pasan sejak adanya program pemerintah yang yang berfihak kepada kaum guru. Gaya hidup para guru yang sudah lulus sertifikasi pun berubah total. Kini tampilan  mereka sudah berubah total dengan model rambut terbaru,  menenteng  Blackberry dan ber- Avanza atau Ber- Xenia merefleksikan kehidupan kelas menengah Indonesia pada umumnya. Kini para orang tua pun tidak sembunyi sembunyi mengatakan bahwa  anak atau menantunya  seorang   guru .

Bila  ada berita yang sangat menarik  di negara tercinta ini selain  kasus  korupsi di hampir semua lini, maka berita tentang guru  dan calon guru lah yang  layak mendapatkan rating, mulai dari  banyaknya calon mahasiswa yang memilih untuk  mendaftar  di universitas universitas  yang menghasilkan tenaga    guru,  tercapainya target   sertifikasi  guru, resahnya guru guru yang sudah tersertifikasi karena mau di uji lagi, dan ini yang paling gress dan di tunggu tunggu :

BIAYA PENDIDIKAN  CALON GURU  DITANGGUNG HINGGA LULUS

http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/01/09135943

Tapi  jangan gembira dulu  dengan biaya yang ditanggung tersebut  karena mulai tahun 2013, pemerintah bakal membatasi jumlah penerimaan mahasiswa baru di lembaga pendidik dan tenaga kependidikan di PTN dan PTS. Ada apa lagi nih…….di negara ini, BBM bersubsidi  sudah dibatasi, sekarang orang mau jadi guru aja  di batasi, bukankah tahun tahun sebelumnya  kran  di buka selebar lebarnya. Menteri Pendidikan Nasional kita sekarang,  Mohammad Nuh,  yang merupakan pejabat karir dimana beliau   meniti karir   dari dunia pendidikan  sampai menjadi  orang nomor satu  tentunya sangat faham akan kondisi dunia pendidikan di Indonesia  dengan segala permasalahannya yang kompleks. Di era beliaulah insan insan pendidik bisa merasakan   martabatnya terangkat  dengan adanya dana pengembangan yang begitu besar  sehingga sangatlah mudah  untuk  pergi ke luar negeri  dengan kemasan  program sandwich, program academic recharging, mempresentasikan paper, dll.  Sekalipun hasilnya hanya kadang kadang  status update  di Facebook…..on the way ke  Hawaii…..mempresentasikan paper   tentang tiwul dan gaplek di university of…. tapi setidak tidaknya kepergian yang bersangkutan  ke negara lain  bisa meningkatkan percaya diri  dan bisa di jadikan bahan bercerita   selama satu bulan pada saatnya mengajar dalam kelas. Di level  perguruan tinggi  kebijakan  beliau  untuk para dosen  sudah terlihat gregetnya berupa makin kurangnya  yang bergelar profesor.  Kalo dulu…pangkat berjalan  saja seperti  air Bengawan Solo yang  mengalir sampai jauh hingga mentok ke level profesor..sekarang tunggu dulu. Profesor harus memiliki gelar Doktor…doktor beneran lho bukan Doktor Humoris  Causa…kalo tidak punya gelar doktor jangan harap dapat gelar Profesor. Akibatnya setelah itu ramai ramai  dosen yang sekolah  biar dapat gelar doktor. Sudah dapat doktor  terbayanglah  gelar profesor  karena biasanya  dengan penyesuaian sedikit sudah jadi +  tunjungan profesor yang cukup untuk hidup teramat layak. Tapi itu dulu, dengan kebijakan pak Menteri yang baru kalo mau jadi profesor harus punya  publikasi  internasional maka terkuburlah harapan banyak kawan kawan yang hampir profesor.

Mendiknas mengatakan, selalu ada pertanyaan mendasar setelah guru ditetapkan menjadi profesi dan tersertifikasi. Pertanyaan itu terkait sifat dari sertifikasi, yakni apakah mengikat sepanjang hayat atau ada periodesasi untuk mengevaluasi tentang kompetensi profesionalitasnya. Karena sertifikasi itu bertujuan memastikan profesionalitas, sedangkan sifat dari profesionalitas itu sangat fluktuatif, maka kualitas guru bisa naik dan menurun kapan saja.

Kualitas guru setelah tersertifikasi masih saja diperdebatkan.

Mempertanyakan kualitas guru yang tersertifikasi?

Para guru yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi tidak menunjukkan kualifikasi mengajar yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang belum lulus. Bahkan dalam kadar tertentu para guru yang belum lulus menunjukkan kinerja yang baik karena mempunyai harapan agar lulus sertifikasi. Mereka yang sudah lulus justru merasa sudah aman karena semua cita-citanya sudah kesampaian.

Sebagai guru  yang merupakan manusia terpilih ada dua keutamaan yg paling tidak harus dimiliki oleh para guru  yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan  prilaku.  Sekalipun  sudah  mendapat sertifikasi  yang dianggap sebagai tujuan akhir guru guru juga  menderita penyakit   penyakit sebagai berikut:

1. TIPES = Tidak punya salera
Rata rata tidak punya selera. Sama seperti makan kalau seleranya makan soto yah dimanapun berada harus makan soto. Begitu juga kalo mengajar, senangnya mengajar topik yang dia tau , dari dulu sampai sekarang ya itulah. Jadi prinsip yg dipakai adalah ajarkan apa yg mau diajarkan bukan apa yg mau siswa ketahui. Jadi jangan heran kalau ada guru selama 10 tahun yg diajarkan itu itu saja artinya yang bersangkutan  bukan berpengalaman 10 tahun, tetapi melakukan hal yang sama 10 tahun. Jadi mau sertifikasi atau tidak ya sami mawon.

(2) MUAL = Mutu pendidikan amat lemah
Kebijakan  harus  melanjutkan studi   membuat  guru guru Indonesia  sudah banyak  yang petentang petenteng dengan gelar masternya baik yang MSi ( sering di plesetkan Magister Sembarang Iso) dan MM  ( sering di plesetkan Mesti Marine  karena ikut  prilaku 4D : datang, duduk, diam, dapat title).  Di luar negeri pembuktian profesionalisme  adalah dengan berapa banyak hasil penelitian dan conference internasional yg diikuti. Sedangkan di Indonesia yg dibanggakan adalah banyaknya jam mengajar di mana mana dan sudah tersertifikasi apa belum?. Tetapi ketika ditanya pernah ikut konferensi internasional di mana atau berapa banyak penelitian yg dipublikasikan jawabnya adalah belum sempat. Ini menunjukkan kualitas pendidikan  yg amat lemah, karena meneliti hanya sekali waktu menulis untuk portofolio sertifikasi.

(3) KUDIS = kurang disiplin,
Masih dalam mengembangkan kompetensi akademik penyakit kurang disiplin terlihat dari malasnya para guru  membaca hasil hasil penelitian di jurnal terbaru bagimana trend  mengajar sekarang . Alasannya itu kan ditulis dalam bahasa Inggris. Bagaimana  bisa faham kalo tidak disiplin?

Disamping penyakit INTELEKTUAL diatas dalam hal PRILAKU , masih terlihat penyakit penyakit akut seperti ;

(4) ASMA = Asal masuk kelas
Kalau di DPR ada istilah 3D ; datang, duduk, duit, ada juga guru  guru  kita yg berprilaku asal ngajar. Yg penting ngoceh , nyeritain pengalaman susahnya dapat sertifikasi  sampai  2 jam , kemudian selesai , nyari kelas tempat bercerita lagi . Makanya begitu pelajaran selesai komentar siswanya adalah Gurune Ngedabrus… Gurune Asmuni —Asal Muni ….dlll Wajar saja mereka berkomentar begitu  karena hanya peserta didiklah satu-satunya kelompok orang yang merasakan bagaimana para guru mengajar.

(5) KUSTA = Kurang strategi,
Strategi bisa dianalogikan dgn cara memasak dan yg diajarkan ibarat menu . kalo yg diketahui cuman satu menu sejak 10 atau 20 tahun lalu, strategi macam apa yg mau diharapkan? Andalannya adalah bedah buku….membaca buku teks dr awal sampai akhir pelajaran .  Tunjangan sertifikasi mestinya dipergunakan   untuk  mengupgrade  diri supaya pengetahuannya  tetap relevan  dan menjadi  referensi dengan membeli  buku, kursus, mengakses internet agar kian kompeten   tidak dilakukan. Yang terjadi justru memoles penampilan  dengan mengikuti trend  terbaru  atau membeli  mobil supaya tambah prestise dengan jabatan sebagai guru.

(6). BISUL = Biasa sulap (nilai ujian) ; Nah inilah sisi humanis yg menunjukkan guru  juga manusia. Guru  banyak yg tidak tahan diratapi dan disambati  siswa dan orang tua siswa masalah kehidupan sehingga lebih banyak pertimbangan kemanusiaan yg dilakukan, dan juga untuk bermain favorit biar disenangi  siswa dan orang tua ditambah lagi  kita orang timur yang sudah terbiasa  mempraktekkan nilai nilai  hablum minan naas.

Bila sertifikasi hanya  diterjemahkan sebagai cara meningkatkan kualitas  kehidupan  guru dan supaya bisa tampil keren  apakah salah  apabila pemerintah ingin  menguji  kembali guru guru yang tersertifikasi dikaji kembali? Tujuan program sertifikasi  adalah  untuk memperbaiki kinerja guru supaya  terjadi  perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Jika hanya guru yang mendapat manfaat sementara peserta didik tidak mendapatkan apa yang seharusnya   didapatkan jangan  meratap kalau kuota untuk menjadi guru dibatasi dan akan diadakan   pengujian ulang terhadap mereka yang sudah tersertifikasi  mulai bulan Juli ini.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/04/22524591/Juli..Guru.Bersertifikat.

Selamat  kepada generasi generasi  baru  yang layak menjadi guru dan layak mendapat biaya merealisasikan  impiannya  menjadi seorang guru profesional. Kepada rekan rekan guru yang sudah tersertifikasi  tepiskan semua keraguan , tunjukan bahwa anda layak dengan menjauhi penyakit penyakit tersebut diatas. Selamat membangun Indonesia  supaya menjadi lebih baik.

Categories: high education in Indonesia | Tags: , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Hanya yang Pintar dan Terpilih Berhak Jadi Guru

  1. mantap pak, benar” menggugah para guru yng sakit biar cepat sembuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: