BERBANGSA INDONESIA, BERTANAH AIR MALAYSIA, BERBAHASA INGGRIS

Baru baru ini  saya  mendengarkan paparan   Prof. John Lie dari University of  California  Berkeley  dalam acara Toward High Impact Publication and ISI Publication for Arts and Social   Scientist.  Beliau memaparkan  kualitas perguruan tinggi kelas dunia  sekarang ditentukan oleh  banyak publikasi  di jurnal ber high impact.  Kemudian  beliau memaparkan  nama nama professor dengan kualitas publikasi mendunia  yang ada di Barkeley sekarang.   Mencengangkan , dari nomor satu sampai sepuluh, semua adalah  nama nama Asia. Inilah salah satu  akibat globalisasi dan persaingan  bebas  termasuk di bidang sumber daya manusia.

Di Malaysia,  disamping jumlah publikasi  di Jurnal Ber High Impact, salah satu indikator  bagus tidaknya  perguruan tinggi  adalah berapa banyak dosen yang bergelar doktor dan  expatriate  yang bekerja  di  Perguruan Tinggi (bahasa Malaysia Pengajian Tinggi) tersebut   tanpa memandang  apa gambar dan warna   passportnya.  Untuk mencari orang orang terbaik , pimpinan  universitas  yang disebut Naib Cancellor melakukan road show ke seluruh dunia  untuk meyakinkan   top notch di seluruh dunia untuk bekerja di Universiti tersebut. Di Indonesia, setelah sekelompok orang terpilih, interview dilaksanakan di tiga kota : Yogya , Bandung dan Jakarta yang hasilnya hanya untuk mencari 3 orang saja. Bandingkan dengan Indonesia  dimana perekrutan dosen  masih menganut konsep  marketing  klasik yang disebut Word-of-Mouth maksudnya beredar di kalangan mulut mulut orang terdekat saja. Karena persamaan budaya dan bahasa yg sangat mirip  doktor doktor Indonesia sangat mendominasi.  Karena itu, kalaulah ada kebijakan semua anak keturunan Indonesia  harus keluar dari Malaysia , maka kemungkinan  sektor pendidikan  Tinggi Negara  ini  langsung teratih tatih    sebab para profesional    dari Indonesia ini    berperan sangat  penting bagi kemajuan tekenologi dan ekonomi negeri maju ini di samping para pekerja di sektor informal yang sering membuat hubungan  dua negara serumpun ini sering gonjang ganjing  dan membuat menteri Muhaimin pusing.

Image

Apakah motif ekonomi  yang membuat   doktor doktor Indonesia  lebih memilih berkarir di Malaysia? 

Seperti halnya di Indonesia,  grade dosen di Malaysia  pun terbagi empat:  Tutor, Pensyarah, Persyarah Kanan dan Profesor.  Grade kalau dalam  rentang angka untuk pegawai negeri di Malaysia  adalah 1 s/d 54 tanpa memandang apa instansinya termasuk bintang bintang sinetron yang bekerja di perusahaan televisi milik pemerintah.  Rata rata dosen grade-nya mulai 45 sampai dengan 54.  Para doktor Indonesia  yang bekerja di Malaysia  rata rata berada di grade 51 sd 54. Pada grade  51, 52  mendapat bayaran antara  7000 – 8000 RM kurang lebih  20 sd 23 jt rupiah.  Gaji guru besar   kurang lebih 10000 RM, yang setara dengan Rp 30 juta. Terlihat memang besar  tapi jangan lupa  living cost di sini juga cukup tinggi. Sewa rumah misalnya, rumah sederhana  selevel tipe 36  di Indonesia  dengan 2 kamar sewa berkisar antara 400 sd 500 RM per bulan, yang berarti antara 1jt 500 ribu perbulan atau  18 juta setahun. Bayangkan dengan uang 18 juta setahun di Indonesia bisa nyewa rumah sangat mewah. Belum lagi pajak yang cukup besar. Pajak untuk grade  51, 52 kurang lebih 650 RM sebulan. jadi untuk bisa berteduh saja sebulan kita harus merogoh kocek paling sedikit  RM 1000, kurang lebih 3 juta rupiah. Jadi isu  income  bukanlah hal yang paling utama.

Lantas apa yang membuat  mereka betah ? Jawabannya sederhana: infrastruktur di dalam negeri yang belum tertata rapi untuk mengakomodirkan keperluan mereka mengaktualisasikan diri.  Teman teman para dosen tentu  merasakan betapa sulitnya untuk memasukan tulisan ke  Jurnal  baik yg tidak terakreditasi maupun terakreditasi di dalam negeri, bahkan kita yg menulis pun diminta membayar agar tulisannya di muat. Sebaliknya di Malaysia  kalau  harus membayar (Jurnal jurnal Open Access biasanya  meminta bayaran untuk  biaya hosting dan maintance) , universitas  akan membayar dan dosen yang memasukan tulisannya di jurnal jurnal akan diberi insentif, makin  popular jurnal tersebut (ber high impact  factor tinggi)  semakin besar insentif. Kalau tidak ngetop  insentifnya-pun tidak kecil kecil amat, cukuplah buat sekali pulang ke Indonesia  dengan Air Asia yang sering mengobral  harga tiket.

Para dosen di Indonesia memang dilematis  dalam menyeimbangkan antara Koin (perut) dan Poin (otak).   Mereka yang   mengejar  koin, poin terlupakan , begitu juga sebaliknya. Dosen dosen di Malaysia  berlomba lomba mengejar poin (bahasa Malaysia-nya MATA) dengan   terlibat dalam  kegiatan dalam dan luar kampus . Dana riset betul betul menggiurkan yang disediakan oleh  Kementrian Pengajian Tinggi (Dikti-nya Malaysia) Universitas dan Industri. Model KPT sama dengan model dana riset Dikti, Cuma di  Malaysia  jumlahnya mencapai 200.000 RM (hampir Rp.600 jt)   untuk 2 tahun dan kalau proyek sudah selesai boleh memohon lagi. Dana ini boleh digunakan  untuk keperluan mengikuti seminar ke seluruh dunia termasuk membeli gadget gadget canggih dewasa ini. Sedangkan  dana universitas disediakan khusus  untuk tiap dosen  sebesar 20.000 RM  (60 juta) per tahun. Sayangnya  mulai tahun ini (2012), expatriate  tidak boleh lagi berkompetisi mendapatkan  dana dari universitas. Doktor doktor Indonesia   selalu berhasil  mendapat kan dana ini di tahun tahun lalu, karena itu mungkin ini dianggap sudah tidak level mereka lagi berkompetisi di kelas ini, jadi harus naik kelas kompetisinya.   Dan juga ada dana penelitian kerja sama dengan industry yg jumlahnya sangat besar, termasuk berperan di sini adalah bank bank yang menjadi sponsor.  Nah dosen tinggal pilih mau berkompetisi di tingkat mana? Sudah mendapatkan  dana penelitian, jalan jalan ke negara Eropa atau Amerika  untuk mengasah   kemampuan berdebat secara akademis dengan menggunakan bahasa Inggris atas nama universitas Malaysia  tapi tetap berbangsa Indonesia.

So what know..mengharapkan mereka kembali?  Menko Kesra Agung Laksono, Selasa (5/6/2012) ketika menerima anugerah gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jawa Tengah mengatakan  sangat banyak periset-periset unggul Indonesia yang saat ini tersebar di berbagai negara. Sudah saatnya mereka diminta ikut membangun budaya riset dan memberi kontribusi pemikiran bagi masalah bangsa . “Memanfaatkan jejaring dan sarana yang ada, tidaklah terlalu sulit mengoptimalkan potensi mereka,” tambahnya.. Oleh karena itu, dia berharap perguruan tinggi selain berorientasi pada riset, para dosen juga diharapkan meningkatkan kualitas risetnya. Perhatian dan penghargaan yang memadai kepada periset haruslah diberikan. Pemerintah juga perlu memberi bantuan terkait dengan perlindungan hak atas kekayaan intelektual, sehingga berbagai jenis temuan terlindungi sehingga mendorong penemu untuk terus berkarya.

Kalau mau belajar dengan  Pemerintah China  lihatlah apa yang dilakukannya. Mereka menjanjikan dana riset yang hampir tak terbatas, gaji yang besar dan fasilitas riset kelas dunia, guna menarik para peneliti cemerlang mereka yang malang melintang di jagat Amerika dan Eropa. Hasilnya menarik : terjadilah fenomena   ribuan insan brilian China yang telah berhasil di negeri seberang itu ramai-ramai pulang kampung untuk membangun tanah airnya.

Tetapi  hebatnya,   meski terus disergap beragam keterbatasan, periset  Indonesia tetap menunjukan kelasnya di dunia. Jumlah paper publikasi penelitian Indonesia memang rendah, tetapi kualitas riset Indonesia tergolong unggul. Demikian hasil analisis Thomson Reuters, sumber informasi intelijen terkemuka di dunia untuk perusahaan dan para profesional, yang disampaikan kepada wartawan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/4/2012).

Diketahui, secara ranking, jumlah publikasi riset Indonesia tergolong kedua terendah se-Asia Tenggara. Berdasarkan jumlah publikasi, negara yang paling produktif dalam riset berturut-turut adalah Singapura, Malaysia, dan Thailand. “Namun, berdasarkan jumlah riset yang disitasi, Indonesia nomor tiga se-Asia Tenggara. Artinya, risetnya sedikit tetapi kualitas dunia,” kata Wong Woei Fuh, Managing Director Rest of Asia Pacific Intellectual Property and Science di Thomson Reuters.

Berdasarkan jumlah citation (kutipan), negara yang dengan riset berkualitas di Asia Tenggara adalah Singapura, Filipina, dan Indonesia. Malaysia tergolong terendah di Asia Tenggara.  Nah..kena   doktor doktor Indonesia  yang bekerja di Malaysia.

Thomson.Reuters.Riset.Indonesia.Sedikit.tapi.Berkualitas

Uang memang tidak seberapa, tetapi kemungkinan mendapatkan dana riset  dan publikasi  internasional yang membuat diri  marketable  sangat besar  di Malaysia. Bukan-kah Mendiknas bapak Muh. Nuh   sudah   mensyaratkan harga mati untuk jadi profesor  harus ada publikasi internasional.  Di era Web.2.0 ini dimana semua orang bebas berekspresi: professor  without international  publication is like You Tube without music, Facebook without friends and Google  with no results.

Sebagai salah seorang PENSYARAH (sebutan untuk Dosen di Malaysia )  saya masih berharap suatu hari nanti,  ribuan  budak budak  bijak (anak cemerlang)  yang telah berkiprah di negeri seberang akan berbondong-bondong pulang kampung  untuk  membangun ibu pertiwi sehingga  peribahasa kita tidak dipelesetkan menjadi  ; hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,  (sumpah)  lebih enak di negeri orang.

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “BERBANGSA INDONESIA, BERTANAH AIR MALAYSIA, BERBAHASA INGGRIS

  1. khairil anwar

    semangat indoneisa

  2. Arie Asmara

    Salut … ulasan yang bagus pak.. Selama ini para dosen yang di luar selalu mendapat penilaian kurang baik.
    Semoga.. dengan tulisan ini semua sadar bahwa hidup di negeri orang.. tidak gampang. tidak disuruhpun akan selalu membawa nama Indonesia

  3. haji malaysia

    biaya kos hidup dan pangan di malaysia lebih murah.
    …250 juta rakyat indon..wajar mereka lebih unggul..

  4. joe

    Biaya hidup di malaysia secara umum jauh lebih murah daripada biaya hidup di bandung, jakarta, dan kota2 lain di jawa. Saya tinggal 5thn tinggal malaysia sbg dosen sdh membuktikannya. Juga dosen asing tetap boleh menjadi ketua peneliti dana univ, namin hrs ada anggota yg org lokal. Begitu koreksi kami. Tulisan yg bagus. Semangat terus menulis bang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: