Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik.


Bila ada polling pemilihan tokoh paling populer   di Indonesia hari ini, hampir pasti pemenangnya adalah Bapak Dahlan Iskan. Beliau menjadi buah bibir dimana-mana dan sering diundang kemana mana termasuk akhir akhir ini warga Kalimantan yang mengajak beliau  ikut bermalam di Kalimantan supaya bisa menyaksikan  seringnya listrik mati.  Sayangnya ngundangnya cuman lewat twitter di hash tag-kan ke beliau. Kalau di undang betul  betul  kemungkinan beliau mau datang karena beliau-pun pernah di tinggal di Kalimantan. Populernya beliau sampai membuat kesengsem   tim pak Andri Wongso  yang  dinobatkan termasuk sebagai  salah satu  motivator terbaik di Indonesia  membingkai kata kata beliau.  Saya sendiri heran kok di Indonesia ada istilah motivator nomor  1 sementara Peter Drucker  yang dianggap sebagai  bapak manajemen dunia mengakui  tidak ada satu-pun cara yang terbaik untuk memotivasi orang. Inilah kata kata beliau yang saya  kutip dari

http://www.andriewongso.com/awartikel-4755-AW_Corner-Good_Speech_dari_Dahlan_Iskan

Menjadi pemimpin itu dianggap enak. Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa.

Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin.

Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik.

Saya meragukan seseorang yang ketika menjadi anak buah tidak baik, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang patuh tetapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Bukan anak buah yang selalu merepotkan atasannya, anak buah yang selalu membikin masalah pemimpinnya dan anak buah yang selalu memberikan persoalan bagi pemimpinnya.

Jadi ketika menjadi anak buah, dia harus bisa menjadi anak buah yang baik, bukan menjadi bagian persoalan dari pemimpinnya, tetapi menjadi problem solver bagi pemimpinnya.

Nah… kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena seorang pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik, maka dia bisa mengetahui bagaimana rasanya pernah menjadi anak buah.

Dengan demikian dia bisa tahu apa saja yang diperlukan anak buah dan bagaimana perasaan anak buah.

Esensinya adalah: Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik.

Luar biasa sekali. Sebagai seorang akademisi   keahlian saya  hanyalah berbicara berdasarkan  hasil riset dan data empiris di lapangan dengan mengambil beberapa  rujukan sebagai perbandingan dan kajian. Paling paling anda berkomentar nantinya Ah..itu teori.

Pada tahun 2005  dan dilanjutkan sampai sekarang  Tower Perrin, suatu perusahan konsultan mengadakan survey terhadap 86.000 karyawan yang bekerja di perusahaan skala besar dan menengah di 16 Negara. Menggunakan 9 indeks untuk mengukur bagaimana komitmen karyawan terhadap perusahaan, pernyataan yang direspon adalah :

1.saya benar benar peduli mengenai masa depan organisasi saya
2.saya merasa bangga memberi tahu orang lain di mana saya bekerja
3. pekerjaan saya membuat saya merasa mencapai satu prestasi
4. Saya akan merekomendasikan tempat saya bekerja kepada teman atau keluarga bahwa tempat saya merupakan tempat yg bagus untuk berkarir
5. organisasi saya menginspirasi saya untuk melakukan ygt terbaik
6. saya mengerti bagaimana unit saya berkontribusi terhadap kesuksesan organisasi
7. saya memahami bagaimana peran saya di organisasi dalam hal pencapaian tujuan organisasi keseluruhan
8. Saya sudi untuk bekerja lebih giat melebihi standard yg ditentukan
9. Secara pribadi, saya termotivasi untuk membuat organisasi saya sukses.

Data yang didapat kemudian di tabulasi dan di kategorikan menjadi 3 bagian ; Komitmen Tinggi, Biasa biasa saja dan tidak memiliki komitmen. Setelah selesai hasilnya ternyata adalah : SEBAGIAN BESAR KARYAWAN PADA SEMUA LEVEL hanya memiliki komitmen pada level RATA RATA. Hasil penelitian menunjukkan hanya 14 % pekerja diseluruh dunia yg memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan, dan 24 % tdk memiliki komitmen. Dengan kata lain, 64 % makhluk tuhan yg bekerja di penjuru dunia tidak memberikan apa yg seharusnya mereka berikan kepada organisasi . Apakah mereka anak buah yang baik? Anda mungkin berkomentar: ah itu kan di luar negeri, Indonesia kan  tidak begitu.  Baik kita lanjutkan sudut pandang saya yang cuma akademisi ini. Dalam literatur manajemen yang  disepakati  di seluruh pakar dunia ada satu konsep yang namanya Total Quality Management  yang sangat menekankan pada proses  dan kemudian di patenkan dengan label International Standard Of Quality (ISO) yang mana makin tinggi angka ISO-nya dianggap makin hebat. Dari situlah muncul istilah ISO 9000, ISO  9001, dan kalau  belum berhasil maka perusahaannya sering di olok-olok dengan kategori ORA ISO. Esensinya sederhana proses yang baik akan menghasilkan output yang baik. Cara merekrut anak buah akan menentukan apakah anak buahnya nanti menjadi anak buah yang baik.

Melihat para anak buah yang ada terutama di sektor publik dan BUMN sekarang ini,  saya mengkategorikan mereka  sebagai berikut:

  1. The Genius. Ini adalah mereka yang kemampuannya betul betul luar biasa dan biasanya  sudah di inden sejak mereka belum lulus dari perguruan tinggi. Jadi begitu lulus pekerjaan dan fasilitas  sudah menunggu.
  2. The  Mama Boy. Ini adalah mereka  yang bernasib beruntung  menjadi  keluarga, kolega, kenalan atau tetangga dari para petinggi  republik ini baik di parpol maupun di instansi instansi pemerintah lain, jadi begitu   lulus  dengan mudah  menjadi pegawai.
  3. The Street Fighter. Nah inilah para petarung jalanan yang harus berjibaku untuk mendapatkan kesempatan berebut tempat dari 1 per 100000 peluang yang ada dimana untuk mendapatkan  job ini mereka kadang kadang harus melalui screening dokumen yang kadang kadang tidak masuk akal.
  4. Jalur Prestasi. Ini yang diberikan kepada  mereka yang membawa harum nama  daerah, juara lomba karung se provinsi misalnya. Karena yang bersangkutan membawa harum nama daerah sekalipun tidak relevan dengan keahliannya maka di pas pas kanlah posisi yang mungkin.

Nah silahkan hitung sendiri, mereka yang jadi anak buah tersebut masuk  jalur mana?

Garry Hamel (2007) dalam The Future of Management menempatkan Passion (keinginan yang membuncah) sebagai kualitas paling atas bagi organisasi di abad 21 dimana kemampuan beradaptasi dan inovasi menjadi syarat mutlak bagi kesuksesan kompetitif. Orang dengan keinginan membuncah sering dianggap ambisius dan tidak waras, tetapi ini adalah rahasia yg mengubah keinginan menjadi prestasi. Orang semacam ini mau mendaki mengatasi rintangan dan tidak mau menyerah seperti yang dikatakan oleh novelis E.M Forster ; ‘satu orang dengan keinginan membuncah yg tinggi lebih baik daripada empat puluh orang yang cuma berminat. Selanjutnya Hamel memperingkat kualitas kualitas lain sebagai berikut ; Creativity, Initiative, Intellect , Diligence and Obedience. Menariknya adalah obedience (kepatuhan) – kemampuan mengikuti perintah dan mentaati aturan ditaruh diperingkat paling bawah. Di Indonesia  sepanjang yang saya amati  , mereka yang tergolong anak buah biasanya terbagi menjadi 5 (lima) ; sang penuntut yang selalu menunggu perintah, sendiko dawuh yg selalu menurut apa saja, pembangkang yg selalu mencari alasan menolak tugas, sang pragmatis yang  melihat kemana angin berhembus dan sang jagoan yg memiliki energi positif, tdk selalu mengiyakan tetapi memberikan solusi apa yg terbaik kalo bertentangan dgn nuraninya. Ini  mungkin yang diisyaratkan  sebagai anak buah yang baik menurut Pak menteri. Tapi  di Indonesia , kecenderungan para bos memilih anak buah yang kategori pertama dan kedua dimana kepatuhan merupakan syarat mutlak. Konsep produksi sederhana : input – proses – output(sorry teori lagi). Kita ingin memproduksi anak buah yang baik, dan kalau kita terjemahkan maka : Inputnya adalah  mayoritas Mama Boy, di proses  supaya   sendiko dawuh terus , dan ouputnya apakah …anak buah yang baik? 

Dan bila kita termasuk bukan anak buah yang   baik, tidak usah kecil hati, artinya kita seirama dengan teman teman diseluruh dunia yaitu  64 % makhluk tuhan yg bekerja   tidak memberikan apa yg seharusnya mereka berikan kepada organisasi.

Selamat menjadi warga global.

Categories: Human Resources Management | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: