Dosen

Tulisan ini merupakan  ungkapan perasaan Prof. Bakdi Soemanto setelah  menguji sidang disertasi  saya di tahun 2009   yang di terbitkan di  Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. 

Prof. Bakdi Soemanto menyelesaikan pendidikan di jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra UGM (1977), mengikuti “American Studies Program” di Universitas Indonesia (1982), dan menyelesaikan program pasca sarjana di UGM (1985). Pernah mengajar di IKIP Sanata Darma (1971-1979), Akademi Kewanitaan Yogyakarta (1976-1979), Akademi Bahasa Asing Kumendaman Yogyakarta (1979-1982), Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo (1979-1982) dan Oberlin College dan Northern Illinois University, AS (1986-1987). Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur Basis (1965-1967), Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah (1966-1969), Peraba (1971-1976), dan Semangat (1975-1979). Ia pun pernah menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta.

KAMIS minggu lalu, Monsieur Rerasan diundang ke kota apel, yakni Malang, untuk menguji seorang promovendus yang menulis disertasi tentang manajemen personalia berbasis kebudayaan Jawa. Sangat menyenangkan, karena Rerasan boleh menentang ia punya mevrouw. Kami diinapkan di guest house Universitas yang nyaman.
Disertasi itu ditulis dalam bahasa Inggris. Maklumlah, S1 promovendus adalah Jurusan Inggris. Mungkin yang lebih menarik, promovendus bukan asli dari Jawa, tetapi Kalimantan; namun, bahasa Jawanya bagus. Tentu saja, lha wong nyonyanya dari Jawa. Jadi sudah klop kalau disertasinya mengaduk-aduk kebudayaan Jawa. Ia masih sangat muda lagi. Tentu ini bikin iri: cintanya kepada  kebudayaan sendiri begitu dalam dan tinggi!
Ujian berjalan dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Sebab, ada seorang guru besar penguji yang tidak setuju ujian diselenggarakan dalam bahasa Inggris. Ya… mangga saja! Kalau memang Universitas memperkenankan dan dianggap tidak melanggar peraturan, Rerasan setuju saja… asal bukan campuran bahasa Tarzan dengan bahasa sapi, lho!
Sangat unik ujian tahap akhir ini. Berbeda dengan UGM yang menyelenggarakan ujian tahap akhir cekat-ceket satu jam saja, di Malang tiga jam. Untung promovendusnya tidak pingsan. Malah Rerasan yang menjelang akhir ujian krasa gliyer-gliyer. Eeeee, ternyata ngelih.
Di samping itu, pertanyaan tidak satu persatu diajukan, tetapi dibrondong. Rerasan takut kalau promovendus gugup dan lupa, tetapi, Ketua Program berbisik: kami biasa begini. Mendengar jawaban itu, Rerasan ingat pepatah Jawa: Kutha mawa tata, desa mawa cara… Setiap tempat memang mempunyai caranya sendiri-sendiri. Yang penting, gaya unik masing-masing itu tidak menyakitkan, tidak menyiksa dan tidak membuat menderita. Kalau sampai mencelakakan mahasiswa bisa urusan dengan komnasham dong…
Sebelum promovendus mengambil program doktor, ia sudah menjadi dosen manajemen. Maklumlah, S2-nya MM. Tentu saja, setelah semuanya beres, sang doktor muda segera kembali ke tempat tugasnya di Surabaya, kota rujak cingur…

Tetapi, apa sebenarnya dosen? Siapa dia? Makhluk semacam apa dia? Apa dosen punya peran dalam pemilu? Wah ini gila. Dalam perjalanan ke bandara Juanda, Rerasan seperti diberondong pertanyaan. Ketika ia menoleh ke belakang, mevrouw tampak setengah tidur, tapi kelihatan lebih cantik dari biasanya. Jadi suara siapa tadi? Mungkin suara Rerasan sendiri yang menggugat Rerasan sendiri.
Begini, dosen itu guru. Adapun maknanya adalah: sing digugu lan ditiru. Walaupun demikian, pak Eddy dhalang yang juga guru, memaknai profesi itu sebagai sing wagu lan kuru. Bagi Rerasan, kalau toh hakikat dosen itu guru, apa pun yang akan dicelotehkan orang, asalkan SK Menteri menyebut dia dosen, bagaimana ia mau mengelak? Yang penting adalah memberi arti jejer-nya, profesinya sebagai guru alias dosen itu.
Jelasnya, apakah pak atau bu dosen sekadar mentransfer pengetahuan dari otak guru alias dosen ke dalam otak mahasiswa? Menurut Rerasan koq tidak hanya itu. Guru alias dosen harus bisa menunjukkan kebenaran dan mempertahankannya. Sebab, itulah yang diarep-arep orang-orang di sekitar kampus. Oleh karena itu, jika pemilu makin dekat, guru dan dosen pada saat-saat rileks dengan mahasiswa bisa ngobrol dengan mahasiswa tentang kebenaran. Tentunya, pak dosen atau pak guru mengajak mahasiswa berhati-hati untuk bersama meluruskan yang kurang tepat diumbar di mana-mana.
Yang paling penting, dosen yang hakikatnya guru harus selalu mengingatkan mahasiswa akan pesan Multatuli: Tugas manusia yang pokok adalah menjadi manusia dan memanusiakan manusia lain…

From : Harian Kedaulatan Rakyat Mei 2009, Yogyakarta

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: