Bangsa Mana di Dunia Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan hiruk pikuk-nya Euro 2012 yang membuat  saudara bangsa  se tanah air doyan begadang. Kalaupun masih demam  para pahlawan Euro saya hanya nitip pesan;  coba diusulkan supaya kita  memberikan  penghargaan kepada Mario Gomez dan Ronaldo yang telah berhasil membuat cucu cucu  penjajah  pulang kampung.

Paul Kennedy’s  dalam karyanya  Rise and Fall of the Great Powers  mengungkapkan  bagaimana  keunggulan  teknologi dan ekonomi   telah  menjadi keunggulan  strategis suatu bangsa tetapi   kegagalan untuk  mempertahankan keunggulan ini  akan mempercepat kemunduran suatu bangsa.  Sebelum perang dunia ke dua kita  menyaksikan betapa  tangguhnya kekuatan Inggris yang menguasai hampir seluruh dunia, tetapi  penyebaran teknologi industri secara bertahap membuat  Inggris menjadi lemah  dan muncul  Amerika Serikat dengan teknologinya.  Disisi lain Barat mengalahkan Uni Soviet tidak melalui peperangan tetapi dengan mempertahankan sistem ekonomi yang unggul dengan standar teknologi yang lebih tinggi. Kebangkitan Cina  di akhir abad ke-20  boleh dikatakan  masih merupakan  kelanjutan   dari Revolusi Industri yang  belum selesai.  Awal abad 21 adalah  saat geoteknologi menjadi lebih penting dari  penentu keunggulan  tradisional sebelumnya seperti geopolitik dan geoekonomi. Cina menjadi  negara adidaya saat ini bukan  karena memiliki dua kali lebih banyak senjata nuklir seperti   dua dekade lalu, tetapi karena telah mendominasi manufaktur melalui tenaga kerja, kecerdikan dan spionase  dan sekarang mereka berinvestasi pada  perangkat keras militer dan teknologi canggih lainnya. Malaysia dan Singapore mengungguli  Indonesia  dalam hal Human Development Index  bukan karena mereka memiliki  lebih banyak orang orang pintar di bandingkan Indonesia.   Apakah ini berarti Cina akan berhasil dalam meraih dominasi Geoteknologi? Begitu juga halnya  dalam kasus kita dengan negara jiran kita.  Itu semua tergantung pada   Technik.  Sekalipun diterjemahkan  sebagai technique,  Bahasa Inggris tidak memiliki padanan yang  setara untuk kata dari bahasa  Jerman ini karena kata tersebut tidak merujuk   hanya  kepada teknologi itu  sendiri, tetapi juga kepada  keterampilan dan proses  di sekitarnya . Technik menyatukan dimensi ilmiah dan dimensi mekanik  dengan berfokus kepada  efeknya terhadap  manusia dan masyarakat  sehingga  hasil akhirnya nanti merupakan suatu  peradaban.

                                      University of Hamburg, Pusat Technik Jerman

Technik adalah tentang kemampuan beradaptasi: kemampuan untuk memanfaatkan teknologi baru  untuk memperbaiki keadaan kita. Dalam dunia dengan  bentuk politik beragam – demokrasi, monarki, negara otoriter, negara Islam, negara Pancasila  -yang semakin membedakan masyarakat   bukan lagi tipe rezim   atau pendapatan per kapita , namun kapasitas masyarakat  untuk memanfaatkan teknologi. Masyarakat yang terus menerus meng-upgrade  Technik-nya  akan semakin berkembang. Ketika standar hidup yang terus-menerus terancam oleh perubahan teknologi,  Technik menjadi faktor dalam mengevaluasi stabilitas sosial? Perbedaan yang menyolok antara Human Development Index dan  pendapatan per kapita   mengisyaratkan pentingnya satu metrik ukuran yang lebih netral   demi kemajuan suatu bangsa.  HDI  merupakan  suatu ukuran  prestasikeseluruhan suatu negara menurut tiga dimensi Pembangunan Manusia, yaitu:

  • Panjangnya usia – diukur berdasarkan angka harapan hidup saat lahir
  • Pengetahuan – diukur berdasarkan angka melek huruf orang dewasa dan gabungan partisipasi sekolah di tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi (dengan pembobotan yang sama pada kedua indikator)
  • Standar hidup layak – diukur oleh pendapatan riil per kapita.  Untuk tahun 2011 Indonesia  masuk dalam kategori  Medium Human Development (124 dari 187). Negara  negara  Petro Dollar  seperti Saudi  Arabia   dan Kuwait ternyata  HDI-nya tidak tinggi , sementara China  meningkat dengan cepat sekalipun  pendapatan  per kapita masih sedang (peringkat 13). Selengkapnya bisa di lihat di  http://hdr.undp.org/en/statistics/ Di era  sekarang ini,   kriteria  lain untuk menilai suatu negara  juga harus diperhatikan seperti ,  Network Readiness Index yang menilai kualitas akses individu, peraturan pemerintah, dan investasi bisnis dengan menggunkan  lebih dari 50 indikator. Tidak mengherankan, Swedia, Singapura dan Finlandia berada di atas, tapi menarik, teknokrat  Cina mempunyai  skor yang lebih tinggi daripada demokrat India, dan India  memiliki  skor lebih tinggi dari Italia. Technik yang baik memerlukan kombinasi berbagai elemen supaya  menghasilkan  Indeks  pembangunan manusia yang tinggi, pertumbuhan ekonomi,  partisipasi aktif dalam  politik, dan kesiapan teknologi.
    Kembali ke pertanyaan diatas Bangsa  Mana-kah  di Dunia ini  Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

    Amerika Serikat boleh dikatakan sebagai  tempat darimana  datangnya  beberapa pelopor utama   inovasi  “Technik”  yang membantu kita  beradaptasi dengan masa depan. Sebagian besar dunia  adidaya silikon  adalah produk  Amerika seperti: IBM, Google, Cisco, Apple, Microsoft dan banyak lagi.  Produk produk  dari perusahaan-perusahaan tersebut meletakkan  dasar   inovasi untuk  pengguna yang beragam di seluruh dunia yang tidak bisa ditandingi oleh  Eropa apalagi Asia.Tapi  keunggulan  Amerika sebagi first mover   sekarang sedang mengalami kemerosotan seiring  dengan Produk  Domestik Bruto nya yang menurun,  dana untuk Riset dan pengembangan  jatuh menjadi sekitar 20 persen, dan karena tidak cukupnya   dana tersebut yang dikhususkan untuk inisiatif komersialisasi, Amerika Serikat kadang-kadang harus membeli barang yang  ditemukan satu dekade yang lalu dari pesaing luar negeri. Sains dan teknik telah menjadi menciptakan jurang  antara mahasiswa Amerika dan pembuat kebijakan.

Mengingat pesatnya  proporsi kepemimpinan Asia dengan latar belakang ilmu pengetahuan, teknik dan matematika, dan pertumbuhan yang dipicu ekspor negara dalam  menciptakan surplus yang cukup besar, tidak mengherankan bila Jepang, kemudian Korea dan Cina, telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur untuk mengejar ketinggalan dengan AS  – dan berpotensi melampaui – Barat. Jepang telah memiliki tiga kota tercepat di dunia  berdasarkan kecepatan koneksi internet, Singapura telah meluncurkan zona Biopolis dan Fusionopolis untuk menciptakan keunggulan di bidang ilmu pengetahuan alam , anak Korea belajar bahasa Inggris dari robot dan menjadi mahir dalam pemrograman sejak dini. Dan jangan lupa,  Indonesia  telah menjadi  negara dengan pengguna Facebook terbanyak menunjukkan tingkat melek Teknologi Informasi  yang cukup bagus.

Meskipun produk produk silicon valley Asia   masih belum secanggih made in America, mereka dengan cepat belajar dan menempatkan posisinya di pasar. Bukankah Nokia yang begitu digjaya  terkapar karena Samsung dan HTC yang notabene made in Asia.  Dalam ekonomi yang berkembang pesat di seluruh dunia, perusahaan  kecil tetapi berkembang   inovatif dengan jiwa  entrepreneur yang tinggi adalah pencipta lowongan pekerjaan  dan pendorong  pertumbuhan pendapatan. Dalam dekade ke depan, tidak hanya  kesenjangan jarak  antara penemuan baru (invention) dan inovasi (innovation) menjadi  sempit, tetapi aliran kedua duanya  akan semakin mempersempit jarak  antara Timur dan Barat.

Bagaimana  peran  universitas sebagai tempat berkembangnya   ilmu dan teknologi?

Perguruan tinggi   harus memperkuat peran mereka dalam meningkatkan Technik.  Para ilmuwan dan insinyur dari   universitas teknik seperti ITB atau ITS di Indonesia  sudah memainkan peran penting. Tapi sekolah bisnis   harus berbuat lebih banyak . Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah bisnis telah disalahkan karena berada di  lini belakang  dalam mengajarkan keterampilan manajemen dunia nyata seperti kepemimpinan, etika, dan  menganalisa risiko politik. Technik  termasuk dalam daftar itu juga. Studi kasus mengenai  adaptasi perusahaan terhadap teknologi -harus ditampilkan  jauh lebih menonjol.  Ketika technologi menjadikan ukuran bisnis  apakah menjadi besar atau kecil, kita  harus membandingkan diri   atas dasar Technik di atas segalanya. Tidak  ada persiapan yang lebih baik  selain mempersiapkan  diri pada  era yang muncul dari persaingan Geoteknologi.

Karena itu kita patut mengapresiasi  yang dilakukan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang bekerjasama dengan Lund University, Swedia, untuk membangun science park di area kampus UMN, Serpong.  Dan juga pendirian  Surya University   di Gading Serpong, Tangerang yang menurut  Yohanes Surya pendirinya  di Jakarta, (12/6/2012), universitas ini dibuat untuk mendukung lahirnya teknologi terdepan di Indonesia, termasuk juga lewat technopreneur. Untuk itu, Prof Yo, demikian Yohanes sering disapa, menggandeng para doktor Indonesia di luar negeri untuk menjadi pengajar.

Di kampus ini juga dikembangkan laboratorium yang nantinya dapat mendukung terciptanya teknologi-teknologi terbaru karya ilmuwan Indonesia.  .”Saya kembangkan inovasi dalam jurusan-jurusan untuk mendukung lahirnya technopreneur di Indonesia,” ujar beliau.

Semoga  hal yang dilakukan oleh putra putra bangsa ini  dengan niat  memperbaiki Technik bangsa kita  bukan cuma naluri bisnis yang sedang membaca ke arah mana angin sedang bertiup. 

Selamat bekerja untuk   kehidupan yang lebih baik saudara sebangsa dan setanah air.

Diadopsi dari : http://blogs.hbr.org/cs/2012/06/which_nation_has_the_best_tech.html

Categories: high education in Indonesia, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: