Indonesia Tidak Akan Menjadi Negara (NO WAY) Gagal ..Bro!

Disebutnya Indonesia  sebagai satu    negara yang   menuju kegagalan  berdasarkan Indeks Negara Gagal (Failed States Index)   yang dirilis Fund for Peace ditanggapi  dengan berbagai reaksi baik yang pro maupun kontra dengan sudut pandangnya masing masing. Yang bersebrangan dengan pemerintah (baca Pak Be Ye) tentu saja menganggap isu ini adalah isu yang paling seksi dan memiliki nilai jual sangat tinggi  apa lagi menjelang pemilu 2014.  Salah seorang mantan prersiden berkomentar : ” tidak mungkin sebuah negara seperti Indonesia dianggap gagal karena wilayahnya ada dan jelas. “Bagi saya, tak ada negara gagal, yang ada itu pemerintahan gagal. Negara itu selalu eksis,” Ya lah bude, Jerman sama Jepang yang di bom habis habisan aja masih exist  wilayahnya masih ada tuh. Politisi Senayan  ada yang menilai bahwa indeks kegagalan Pemerintah Indonesia lebih dikarenakan oleh kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lamban menangani korupsi sekalipun sudah ada tiga Tante selebritis  mondok nyantri di pesantren KPK. Salah seorang Pak Cik dari Partai Golkar malah berpendapat  yang dimaksud dengan negara gagal untuk memenuhi rasa aman dan kenyamanan warga adalah akibat pemerintahannya, dan bukan karena bangsanya.(Artinya tunggu kalau gua yang jadi pemerintah tidak akan seperti ini). Dikritik, tentu saja para punggawa   Pak Be Ye tidak tinggal diam, lihat aja reaksi reaksi mereka.

“Indonesia tidak akan bisa mundur, dia harus maju. Masalah berikutnya adalah ingin cepat atau lambat,” kata Dahlan dalam acara Konferensi Distrik Rotary International di Hotel Grand Panghegar Bandung, Jumat (22/6/2012).

“Indonesia negara gagal adalah kesimpulan yang salah. Ini fatal kesimpulannya,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana , Senin (25/6/2012).

“Indonesia justru menjauh dari negara gagal jika melihat peringkat ataupun Indeks Negara Gagal yang dirilis Fund for Peace tersebut secara menyeluruh,” kata Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana,  (Kamis, 21 /6/2012)

Bila  dalam doktrin agama di kenal istilah  apologetik berasal dari kata Yunani apologia yang berarti  ‘membela iman’ ,  maka  dalam politik apologetik adalah suatu sikap untuk mengambil   pandangan baik yang memperkuat kedudukan tetapi  menolak/membuang hal yang melemahkan.  Jadi wajar dan sah saja kalau pencapaian pertumbuhan ekonomi terus dirayakan, keberadaan Indonesia dalam kelompok G-20 dibanggakan  tapi melupakan kemunduran Indonesia dalam indeks korupsi yang pada tahun ini menempati urutan ke-100 dari 182 negara, juga dalam Indeks Pendayagunaan SDM  (Human Development Index ) yang menempatkan Indonesia di urutan ke-124 dari 187 negara (bandingkan: Singapore 26, Brunei 33, Malaysia 61, Thailand  103,  Phillipin 112) dan Alhamdulillah   masih ada yang di  bawah kita Vietnam 128, Timor Leste 147 dan Myanmar 148. Juga peduli amat  dengan laporan suatu survei yang menempatkan Jakarta sebagai salah satu dari 10 kota yang paling dibenci di dunia.

Nah, mau ikut siapa yang benar, penguasa atau oposisi yang kedua duanya mengaku benar dengan asumsinya masing masing sehingga  kita seperti dihadapkan pada mana yang dulu ayam atau telur?

 

Friedrich   Nietzsche 

Friedrich   Nietzsche seorang  filsuf Jerman  mengatakan : Tidak ada yang namanya kebenaran, yang ada hanyalah persepsi.   Karena itu tulisan ini tidak bermaksud  membela satu sisi, tapi lebih mengakomodirkan kedua belah pihak. Ketika ada dua orang sedang berdebat  di tepi satu sungai yang keruh airnya  memperdebatkan apa yang ada di dasar sungai, kan lebih baik menunggu  air sungai jernih sehingga kita bisa melihat sebenarnya apa yang ada di dasar sungai tersebut?

Apa sih sebenarnya Failed States Index itu?

Failed states secara umum mengetengahkan suatu gambaran kondisi di mana terjadi ketiadaan pemerintahan dan hukum, kekacauan meluas, serta kelangkaan kebutuhan paling mendasar (pangan dan sandang serta rasa aman). Makin kecil peringkatnya dianggap  makin berbahaya. Seperti tahun tahun sebelumnya,  Somalia  masih mendapat  kehormatan menempati ranking 1 , sedangkan peringkat terbesar   178  di tempati oleh Finlandia, suatu negara di ujung Eropa  sono.  Posisi kita  yang berada  pada peringkat  63 sedangkan tahun sebelumnya di peringkat 64 itulah yang menjadi polemik berkepanjangan karena  di interpretasikan dengan sudut pandang masing mengenai arti  angka 63 tersebut.

Professor Geert Hofstede yang merupakan pakar paling terkemuka  di dunia saat ini dalam bidang  perilaku bangsa bangsa di dunia mengatakan  sesuatu angka tidak ada artinya kalau tidak ada pembandingnya. Sebut aja kita bangga  dengan nilai adik adik kita di sekolah yang mendapatkan angka  8 untuk pelajaran  matematika . Tapi kalau  kita  tahu bahwa rata rata kelas adalah  9 maka baru lah kita tahu apa arti angka tersebut.Kalau  Somalia dan Sudan masuk dalam peringkat Top Ten sejak 2005 dapat dimengerti karena  seperti yang kita saksikan di TV di kedua negara itu selalu terjadi kelangkaan makanan , kelaparan meluas, kekacauan serius , perang antar suku, hukum sirna, bajak laut merajalela  dan pemerintahnya praktis tidak bisa berbuat apa. Tapi apakah ini  layak di jadikan pembanding dengan Indonesia karena sepertinya para oposisi memposisikan Indonesia akan seperti ini. Saya rasa tidak akan seperti itulah.. bro.

China dan India yang  diakui sebagian Eropa dan AS dengan potensi dan eksistensi kedua negara itu sebagai adidaya baru; secara ekonomi dan demokrasi  mendapat peringkat sedikit  lebih  baik dari  Indonesia (ranking 76 dan 78). Dengan ranking angka tersebut, kedua negara itu juga dapat   kategori negara akan mendekati  gagal.  Tapi  China dan India tidak peduli dengan  temuan index ini? Jadi mengapa kita harus ribut ribut. Masalahnya  adalah kita membandingkan  diri dengan  negara yang terjelek  seperti   Somalia, Kongo, Sudan, Zimbabwe, atau beberapa negara underdeveloped. Jarak kita  dengan Somalia 62 km, dengan India 15 km, cepat kemana kita nyampe duluan?   Bukankah kita  ditempatkan terhormat di dunia internasional dengan   keberadaan Indonesia di G-20 secara de facto yang  merupakan pengakuan dunia terhadap negara ini sebagai emerging economy, ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kita memang akan seperti Somalia kalo cuman tidur doang tidak buat apa apa. So what..!

Peringkat The Fund for Peace tidak  perlu disikapi dengan  berlebihan. Kesalahan  metodologinya adalah  pengambilan sampel yang   heterogen  dengan tidak melakukan pengelompokan terlebih dahulu, sehingga yang terjadi adalah pertarungan tinju dimana kelas nyamuk harus bertanding dengan kelas berat, yang mana hasilnya sudah bisa diprediksi. Profesor Clifford Geertz  yang tinggal bertahun tahun di Pare, Kediri dan mengikuti cara hidup orang Jawa saja masih tidak akurat menggambarkan dikotomi orang Jawa Indonesia, apalagi penelitian kualitatif semacam yang dilakukan oleh The Fund for Peace yang hanya mengandalkan software.

Jadi biarkan saja  lembaga tersebut   memvonis Indonesia tidak demokratis  karena  tidak mengizinkan pertunjukan Lady Gaga.Buat apa dipikirin, seharusnya para elit negara ini baik yang pro pak Be Ye maupun yang udah kebelet mau menggantikan beliau menyikapi tudingan lembaga asing harus semangat seperti Bro Anas Urbaningrum; Gantung Kami di Monas kalau negara ini gagal.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik.

Categories: Ekonomi, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: