Monthly Archives: July 2012

Why Showing Your Face at Work Matters

Why Showing Your Face at Work Matters.

Advertisements
Categories: Human Resources Management | Tags: | Leave a comment

The Elements of Good Leadership

The Elements of Good Leadership.

Categories: Human Resources Management | Tags: , | Leave a comment

Selamat Jalan Nokia

 Hari Jumat (27/7/2012), Nokia mengonfirmasi rencana penutupan pabrik terakhirnya di Finlandia yang merupakan negara asal produsen tersebut.  Pabrik yang berlokasi di daerah Salo itu telah berhenti memproduksi ponsel sehari sebelumnya. Menurut jadwal, pabrik akan resmi ditutup bulan September mendatang. Sebagai akibatnya, sekitar 780 karyawan Nokia kehilangan pekerjaan mereka. Ponsel Nokia yang sempat merajai pasaran selama lebih dari satu dekade pun tak lagi bisa menyandang predikat “made in Finland”. Jadi kalau anda  masih memilikinya sebaiknya disimpan, siapa tahu menjadi barang antik yang  harganya menjadi selangit ditahun 2100 dan menghindari anak cucu kita kelak  mengenal ponsel Nokia hanya dari museum dan buku-buku sejarah masa silam.

Tinggal Kenangan

Mengingat betapa digjayanya Nokia, memang susah bagi kita untuk mepercayai bahwa sang raksasa harus  kolaps, tapi itulah  kompetisi bisnis dewasa ini yang merupakan bentuk   pertempuran paling beradab karena saling tidak berhadapan seperti lazimnya perang klasik, tetapi hasilnya sama musuh  jatuh, tewas tak berdaya, dan itulah yang dialami oleh Nokia saat ini,  karena tidak mampu dikeroyok oleh Apple, Blackberry dan Android.

Clayton Christensen dalam buku best seller berjudul :   The Innovator’s Dilemma: The Revolutionary Book that Will Change the Way You Do Business  menjelaskan kenapa perusahaan perusahaan besar yang dulunya market leader bisa kalah dengan pendatang pendatang baru.

Christensen menggambarkan 2 jenis  teknologi: sustaining technologies dan disruptive technologies. Sustaining Technologies  adalah teknologi yang meningkatkan kinerja produk.  Ini adalah teknologi yang kebanyakan perusahaan besar sudah akrab, misalnya  Nokia dengan symbian-nya dan menurut Christensen perusahaan besar memiliki masalah yang berhubungan dengan disruptive technologies, yaitu “inovasi yang membuat produk yang sudah mapan kinerjanya  menjadi lebih buruk .” Teknologi ini  umumnya “lebih murah, sederhana, dan  lebih nyaman untuk digunakan   sehingga  menyebabkan kegagalan perusahaan yang sangat sukses yang hanya siap untuk sustaining technologies.  Nokia merasa sudah nyaman dengan symbian  (sustaining technologies)    dan  tidak siap ketika    Android ( disruptive technologies)   datang menghajar.

Apakah Nokia dan perusahaan perusahaan besar tidak sadar akan yang namanya  disruptive technologies?  Mereka sadar itu, tapi sebagai produk yang sudah mapan dan memiliki pasar besar, menciptakan suatu produk baru bisa membahayakan produk mapan tersebut. Inilah yang disebut juga oleh Christensen sebagai  Innovator Dilemma.   Dan Innovator Dilemma bukan hanya terjadi pada perusahaan perusahaan dengan basis teknologi tinggi tetapi juga hampir di semua lini mengalamainya. Di tanah air kita menyaksikan  Gudang Garam dan Djarum takut melakukan inovasi dengan memproduksi  rokok mild lantaran takut akan menghantam balik produk utamanya  Gudang Garam Merah dan Jarum Super, dan akhirnya Sampoerna  datang  dengan A_Mild nya.  Dulu Honda ragu melakukan inovasi motor skutik  dan akhirnya Yamaha  Mio yang datang; sekalipun  Honda kemudian  mengejar balik. Garuda  ragu ragu dengan penerbangan murah dan akhirnya Lion Air yang datang, sehingga Garuda terpaksa ikut bermain dengan Citi-Link. Bank bank konventional awalnya ragu ikut memasuki   lembaga keuangan berbasis syariah karena takut nasabah lari, tetapi akhirnya ikut juga. Di Malaysia, Proton takut memasuki  segmen mobil kecil, dan ketika Produa memasuki segmen ini, Produa menjadi market leader.

Jadi, sebesar apapun anda, kalau tidak adaptif terhadap perubahan  anda akan tergilas. Bukankah Charlis Darwin  sejak lama mengatakan “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” .  Kalau  para politisi sibuk loncat partai sekarang, jangan disalahkan karena sejatinya mereka adalah inteltual intelektual yang pasti pernah membaca buku  Christensen dan  Charles Darwin.

Selamat beradaptasi terhadap perubahan saudara sebangsa dan setanah air!

Categories: Europah, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Menyoal Bangkitnya Lagi Peradaban Islam

Populasi banyak tidak selalu berarti kuat, apalagi sejahtera. Dan inilah yang terjadi pada komunitas muslim dinia yang kini jumlahnya mencapai 1,5 milyar orang. Ternyata, kesejahteraan seabrek manusia ini masih terbelakang.

Begitulah klaim Umar Juoro dari Center for Information and Development Studies (CIDES).

Padahal, kata Umar lagi, sumber daya alam yang dimiliki negara-negara Islam sangat potensial. Bayangkan saja, 74 persen cadangan minyak ada di negara-negara Islam.

Kendati begitu Umar optimistis, peradaban Islam yang kini melempem dibandingkan peradaban Barat, bisa bangkit kembali di era ini.

“Peradaban itu naik turun. Seiring waktu, ada yang naik, ada yang turun, ada yang hilang,” kata dia pada dialog Ramadan Masa Depan Umat di tengah Pusaran Globalisasi dan Konflik Internasional, Selasa sore kemarin.

Menurutnya, sekarang peradaban Islam memang kalah dari peradaban Barat, namun tidak di masa lampau. Posisi ini berbalikan di masa lalu.

“Tahun 1400, peradaban Barat terbelakang. Yang berkuasa adalah peradaban Timur. Barat tidak ada apa-apanya soal peradaban,” jelas Umar.

Lalu, mulai tahun 1990 Barat mengambilalih peradaban dunia.

“Saat Islam berjaya malah disebut The Dark Ages. Padahal sejarah Barat tak akan terjadi kalau tidak ada peradaban Islam,” kata dia.

Umar mengemukakan, peradaban itu ditopang militer dan ekonomi yang disebutnya sebagai faktor terpenting dibandingkan apa pun, termasuk militer.

Ekonomi penting karena sekuat apa pun militer, bila ekonominya lemah, maka peradabannya rentan hancur.

Berbalik

Pendulum agaknya tengah berbalik sekarang. Kedigjayaan ekonomi Barat mulai terusik oleh kemaharajaan-kemaharajaan ekonomi baru dunia.

China, India dan Brazil adalah beberapa kekuatan baru ekonomi dunia itu.

Di urutan berikutnya, ada Indonesia dan sejumlah negara muslim lainnya yang memang sudah dimakmurkan oleh minyak.  Iran dan beberapa negara di Timur Tengah termasuk di barisan ini.

Konfigurasi kekuatan dunia pun berubah. Barat tidak lagi dominan, setidaknya tidak menguasai seluruh teater kehidupan dunia.

“Sekarang bisa dibilang ada empat peradaban. Barat, Cina, India, dan Islam. Kalau Barat tidak hati-hati, peradabannya bisa tenggelam. The rise of the rest,” kata Umar Juoro.

Sembari mengutip salah satu hadits seputar tanda-tanda kiamat, Umar menjelaskan bahwa dia melihat ciri-ciri kemajuan ekonomi Islam.

Hadits itu adalah seperti diriwayatkan Ahmad yang mengatakan hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum munculnya pasar-pasar yang berdekatan.

“Saya melihat ini adalah globalisasi. Banyak pasar berarti ekonomi maju,” sambung Umar.

Ekonom CIDES ini mengemukakan, Islam berpeluang untuk bangkit kembali.

“Ada teori yang mengatakan pada tahun 2040 yang berkuasa nomor satu adalah China, lalu India, Amerika, dan bisa jadi nomor empat adalah Indonesia,” ungkap dia yakin.

Peradaban sendiri tidak dibatasi oleh negara dan budaya.

“Peradaban Islam bukan berarti negara Islam. Bayangkan, kalau China dan India maju. Jumlah umat muslim di India kan banyak, sekitar 280-300 juta, otomatis mayoritas masyarakat muslim akan menjadi kaya,” kata dia.

Renaisans baru

Itu adalah kesadaran baru mengenai bangkitnya kembali kekuatan Islam yang mungkin bisa dimulai dari Indonesia dan dari populasi muslim yang besar di India dan China.

Tapi ini semestinya tidak dimulai dari hitungan kalkulatif seperti itu. Sebaliknya, itu sebaiknya bertolak dari kualitas dan kesadaran dari umat Islam sendiri untuk bangkit. Ini adalah titik tolak penting dalam menuju kebangkitan Islam.

Untuk beberapa hal, kesadaran itu mungkin salah satunya diwujudkan dari apa yang disebut oleh Direktur Utama LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf sebagai pemikiran reflektif.

Yaitu refleksi untuk mengetahui sejauh mana perbuatan umat muslim dapat mempengaruhi naiknya peradaban Islam.  Refleksi itu dimulai dari bagaimana umat Islam mengambil peran kepemimpinan, dari level apa saja.

“Refleksikan kepemimpinan dari diri sendiri, lalu keluarga, organisasi, dan bangsa,” kata Mukhlis.

Dia menyambung, “Kita harus bertanya pada diri sendiri, perbuatan apa yang bisa ditunjukkan sebagai muslim yang baik?”

Mukhlis mengingatkan untuk selalu menghargai informasi dan pengetahuan. “Banyak peradaban hancur karena pengetahuannya hilang, perpustakaan dibakar,” begitu kata Mukhlis.

Ya, mungkin memang harus dimulai dari pengetahuan dan informasi. Ingat, kesadaran Barat untuk bangkit dari keterpurukan di abad pertengahan diawali dari kesadarannya bahwa mereka tertinggal ilmu pengetahuannya dari masyarakat lain.

Mereka bangkit melalui era yang disebut Renaissance atau Pencerahan.  Ini adalah titik tolak bangkitnya peradaban Barat.

“Era Renaisans menandai tahap menentukan dalam transisi Abad Pertengahan menuju dunia modern (peradaban modern Barat),” kata Wallace Ferguson, pengarang The Renaissance terbitan Harper & Row Publishing Inc, New York.

Mungkin umat Islam perlu meniru ini, membuat era pencerahannya sendiri, sebuah Renaisans Baru.  Dan itu akan lebih baik dimulai dari kesadaran akan berpengetahuan, berilmu.

Sumber:

Categories: Indonesiana | Tags: , , , | Leave a comment

The Time Has Changes: Time to be proud of your achievement not where you graduated from

This is the scenery when I attended the job interview for senior lecturer where small group of smart individuals were  asked to describe their professional achievements. One candidate explained: “I studied economics at University of Indonesia , worked at Bakri’s group for two years, then Ciputra Group. After finishing my ITB Master of Management , I took a banking job at Bank Central Asia.  When this candidate sat down, the others followed in much the same pattern, proudly rattling off their personal laundry lists of the prestigious companies they’d worked for and the top-tier universities they’d attended. Being one of candidates who notably graduated from the mediocre university, I feel my opportunity to get this job is so tiny but to my surprise, I make it happen. So what’s wrong with those guys from prominent companies and top-tiers university?

Traditionally, according to Daniel Gulati, the co-author of Passion & Purpose: Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders associating yourself with a prestigious brand did wonders for your career because of the signalling effect. Employees could credibly convey information about themselves by gaining experience at certain companies and acquiring academic credentials. If you got into Bakri’s Group, you might be a good negotiator with government proved with the unsettled Lapindo’s   volcano mud in East Java. If University of Indonesia admitted you, you’re a high-potential scientist. If you are from English Department of  Lambung Mangkurat University, you might perform well in other  jobs beside  English teachers.  But a core assumption of job-market signalling theory is   between employers and prospective employees. In other words, employers have to rely on imperfect signals as ways to glean information about potential hires. In today’s world, this assumption no longer holds.
Ironically, proudly flaunting your affiliations — company, university, or club — will only make you more of a commodity: another banker, another prominent graduate, another know-it-all scientist. Instead of just resume-gardening, distinguishing yourself through real, tangible accomplishments shows the world what you’ve actually done while de-emphasizing who accepted you into their organization. The latter is a superficial vanity device designed to boost confidence; the former is a validated, objective measure of your skills and experience.

Here’s why prestige matters less than ever in Indonesia.

Graduate from Oxford is not  a guarantee

1. Prestigious companies have suffered. The Financial Crisis tainted the reputations of some of the Indonesia largest corporations — from big banks to blue chips like Astra , Telkom and other recent corporate scandals like Bank Century have only fueled existing doubts. Signalling loses relevance to the extent that these organizations no longer confer credibility onto the individuals that join them.

2. Social media pierces the corporate veil. As the adoption of Twitter, LinkedIn, and Facebook continues to grow, we’re able to effectively separate the individual from the organization. Consumer internet platforms like these allow people to publish their output independent of their organizations, giving everyone a direct lens into an individual’s abilities and passions. This improves the underlying quality of information available, further reducing the need to signal the “old” way.

Indonesia ‘s largest companies and most prestigious universities deserve much respect. But being hired or admitted to these institutions is an opportunity to accomplish things, not the accomplishment itself. Therefore, a prudent strategy favors accumulating real accomplishments — revenues earned, clients transformed, or lives changed — in spite of any affiliations you may have.

As traditional notions of prestige are fast losing relevancy, we should all focus more on creating real value. If you’re lucky enough to have attended a great college or worked for a top company, you have an obligation to turn these affiliations into accomplishments. If you’re not one of the privileged few, you’re no longer at a disadvantage. Stand tall, because it’s mastering the process of consistently delivering results that will truly distinguish you in the end.

And this is that I have done so far  though I never worked in big companies, not graduated from top-tier university but remain stand still in the midst of fierce competition.

Have a nice day  and keep on working for a  better Indonesia!

Categories: Ekonomi, high education in Indonesia, Human Resources Management, Indonesiana, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Most Organizations Still Fear Social Media

Anthony J. Bradley and Mark P. McDonald in Harvard Business Review  July 2012, emphasized  that  most organizations still view social media as a threat to productivity, intellectual capital, security, privacy, management authority, or regulatory compliance. This is based on  more than 250 organizations   taking    Social Readiness Assessment  where respondents were split 50/50 between a positive and challenged attitude towards social media with many indicating that they recognize the potential for social media to address strategic needs and generate durable change.

The figure below shows the distribution of the six social media attitudes we identified.

bradley 1.png

Fearful, folly and flippant attitudes keep organizations from realizing the benefits of mass collaboration. Simple social media solutions that generate ‘likes’ may be easier to embrace but they offer little in the way of meaningful change.

The trouble with a fearful attitude is that an organization often doesn’t take a specific stance: it discourages and even prohibits the use of social media. While this approach reduces the potential for undesirable behavior — that’s the reason for restriction — it also stifles any business value that might be derived from grassroots use of social media.

In companies with a formulating attitude, organizational leadership recognizes both the value of community collaboration and the need to be more organized and strategic in its use. They actively plan how to use it with well-defined purposes. They are no longer fearful of its misuse nor flippant about its potential to drive results back into the organization.

bradley 2.png

Progression Path to Becoming a Social Organization

Source: The Social Organization

Social media sponsors who want to move beyond the three negative attitudes tend to build their social media capability in one of two ways: They either use it to demonstrate executive support and build confidence throughout the organization, or they start small with a narrow and specific purpose. Note that this is different than starting with a pilot. Social media pilots don’t work because they might limit the initial audience, which needs to grow organically and aggressively for success; or they tend to launch with a half-baked scope or technology that doesn’t inspire the community to participate.

The second option to overcome fear entails defining a purpose that engages people without threatening the organization. For example, instead of deploying a social network for all its employees to collaborate more effectively (but only starting with a pilot for the “western region”), a company can build a social media solution for sales people to network specifically on how to successfully identify and overcome the top three sales objections.

In other words, consider a starter set of social media purposes that are highly magnetic to individuals to attract them into collaborative communities. Purposes related to employee health and safety, customer support, or even organizing the company picnic have all been used to move beyond fear and into action and experience.

Any organization can get lucky and have a single successful implementation of social media. Social leaders, on the other hand, build collaborative capability through a learning process that starts with understanding their current attitude and taking the steps required to building confidence and trust. This turns a single social media success into a sustained source of competitive advantage.

Source: 

Categories: Strategi | Tags: , | Leave a comment

Lebaran ikut MU, NU atau Bayern Munchen?

Selamat datang Idul  Fitri, Selamat berjibaku mendapatkan tiket pulang mudik, selamat bermacet  ria dan  selamat datang pula ”kehebohan” yang selalu menjadi agenda utama di Tanah Air terkait dengan masih terjadinya perbedaan penetapan  lebaran  antara Muhammadiyah (MU)  dan Nahdathul   Ulama (NU). Penggemar bola yang akrab menganggap MU sebagai Manchester United, secara guyon mengatakan ikut Bayern Munchen atau Arsenal aja dah hari  ini (6 Agustus 2013)..he..he..he.

Terlepas dari ikut MU,NU atau Bayern Munchen, yang tampak pada bulan ini biasanya ”kesalehan” menjadi tampak mengalami lonjakan. ”Tuhan” kita temukan di mana-mana termasuk televisi yang berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sebagai media religius sekalipun banyak diisi oleh pelawak pelawak konyol.  Di bandara kita menyaksikan gelombang rombongan jemaah umrah yang tak pernah putus. Jika gejala ini mengindikasikan peningkatan kesadaran identitas keagamaan, juga sekaligus pertanda meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat yang mampu membiayai perjalanan keagamaan yang mahal demi status. Semua ini merupakan kesadaran beragama atau saudara saudara kita hanya merupakan korban dari budaya populer yang dibungkus dalam ritual Islam karena gejala peningkatan keagamaan yang terus meningkat itu jika dikaitkan dengan realitas lain dalam masyarakat Indonesia pada berbagai bidang kehidupan, dengan segera terlihat adanya kesenjangan mencolok. Di satu pihak ada semangat keagamaan yang terus meningkat, tetapi pada saat yang sama berbagai bentuk perbuatan keji dan mungkar terus mewabah di mana-mana. Dan, ini membawa orang pada pandangan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan semangat keagamaan dan kehidupan sosial. Bisa jadi muara semua itu karena sikap keberagamaan kita sudah tersandera oleh ”budaya populer”. Semuanya menjadi serba instan, dangkal, dan nyaris hilang sisi penghayatan dan kedalaman dari pengalaman keberagamaan itu.Dalam konsep budaya populer, yang dinomorsatukan adalah ”pencitraan”, ”pendangkalan”, ”kesan”, dan potret artifisial lainnya. Karena itu jangan kaget kalau di bulan puasa seperti ini kita menyaksikan para pelaku korupsi mencoba melakukan cuci dosa, misalnya dengan naik haji atau pergi umrah; mengirim anak-anak ke sekolah Islam, madrasah, atau pesantren; memberikan sumbangan, infak, dan sedekah ke masjid atau lembaga pendidikan Islam; dan lebih telanjang lagi dengan memakai jilbab atau bahkan cadar ketika diusut KPK atau kejaksaan dan di pengadilan. Publik secara tiba-tiba dihadapkan dengan kesan, para pelaku yang berjilbab dan bercadar itu adalah orang-orang yang menjalankan perintah agama dan karena itu ’tidak mungkin korupsi’.
Karena budaya populer telah mengisi domain religiositas, menjadi mudah dipahami kalau animo haji tidak pernah sebanding lurus dengan terciptanya masyarakat yang naik tarap hidupnya. Menjamurnya rumah ibadah tidak kemudian otomatis membuka cakrawala tersemainya sikap inklusif dan toleran bagi pemeluk agama.

Mudik Bro

Puasa yang telah sekian tahun kita lakukan tidak menjadi garansi bagi terwujudnya ruang publik yang bebas dari sikap tamak dan rakus. Bahkan, kitab suci yang notabene diturunkan di bulan Ramadhan pun tidak luput dari korupsi.
Puasa Bunda Maryam melahirkan bayi penebar damai: Isa. Puasa yang dilakukan Musa berdampak rontoknya kekuasaan tiranik Firaun. Puasa yang diteladankan Sidarta Gautama tidak hanya membuat beliau menanggalkan gelanggang politik tengik yang penuh intrik, juga kuasa kembali ke arena kekuasaan dengan akal budi yang tercerahkan. Puasa yang dilakukan Socrates dan santrinya, Plato, dapat mencapai kematangan nalar atau Hipokrates yang memberikan resep kepada pasiennya agar sering berpuasa. Termasuk Pythagoras, yang ternyata Rumus Pythagoras-nya konon diperoleh setelah sebelumnya berpuasa.
Tahun lalu, terinspirasi dari tokoh tokoh diatas, bos koperasi langit biru yang ngembat miliaran duit nasabah ditempat persembunyiannya pun tetap aktif berpuasa tentunya dengan pamrih dilupakan nasabah dan tidak ditangkap polisi. Ironisnya, malah ketangkap ketika mau buka puasa…nah nyaho lu, puasa kok di buat main main. Kalau sudah begini kita mohon maklum kenapa  KPK tak mau memeriksa dan menahan  Bro Anas ketika masih puasa.

Puasa itu pula yang dilakukan Muhammad SAW sehingga dia bukan hanya terampil mengelola kesabaran (puasa setengah dari sabar). Akan tetapi, juga kesabaran yang telah dirawat dan diruwatnya melalui puasa telah membuatnya menjadi pribadi yang bisa berempati kepada sahabat dan juga terhadap mereka yang berlainan haluan keyakinannya.

Jadi kalau puasa hanya merupakan budaya populer, kita sepatutnya tidak perlu risau  dan memperdebatkan  apakah   ikut MU, NU atau Bayern Munchen ketika lebaran nanti.

Adapted  from : Puasa Kebangsaan  ASEP SALAHUDIN       

Categories: Budaya | Tags: | 1 Comment

Mengelola Ekonomi Cara Thailand

Semua   pemerintah di  atas bumi ini  tentu ingin memakmurkan  dan menyejahterakan rakyatnya di bidang ekonomi  karena indikator  hebatnya suatu pemerintahan ditentukan oleh  kemampuannya dalam mensejahterakan rakyatnya. Dalam mencapai tujuan tersebut semua  kebijakan   ekonomi makro di arahkan pada  menstabilkan harga, tersedianya lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan  stabilitas nilai tukar terhadap  mata uang asing. Keempat  hal tersebut menjadi pakem bagi penguasa di belahan dunia mana-pun supaya kekuasaannya tetap langgeng. Rakyat Indonesia  tentu ingat betapa digjayanya pemerintah Orde Baru, tetapi begitu terganggu dengan harga yang tidak stabil dan nilai tukar rupiah yang terus merosot, semua yang dicapai oleh pemerintah orde baru seperti tidak ada artinya sehingga Pak Harto terpaksa harus lengser keprabon. Di tengah hiruk pikuk politik dewasa ini, sekalipun Pak Be Ye diterpa berbagai isu sebagai imbas dari  anak anak buah beliau, kita harus mengacungkan jempol, keempat indikator makro tersebut masih berada dalam  posisi aman aman saja sehingga beliau bisa bekerja dengan tenang  paling tidak sampai akhir 2014 nanti..jadi yang udah kebelet mau nggantiiin beliau sabar dulu ya???

Dalam mencapai  ke empat tujuan ekonomi makro tersebutlah digunakan berbagai jargon  seperti  ekonomi kapitalis, ekonomi  kerakyatan, ekonomi syari’ah , dll  dan tentunya tiap tiap negara  memiliki  cara nya masing masing dalam memartabatkan ekonomi bangsanya yang semuanya berazaskan  keempat tujuan keramat tersebut. Sebut saja China, pemimpin Reformasi RRC, Deng Xiaoping, ia mengatakan “ Tidak peduli kucing itu warna hitam, atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus “ suatu kalimat yang  membawa PRC berkembang luar biasa hebatnya  menjadikan negara itu memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar dan cadangan devisa terbanyak. Filosofi “kucing” Deng menimbulkan banyak perselisihan, baik di dalam maupun di luar China. Bagi Deng Xiaoping, pertanyaannya bukan apakah komunisme atau kapitalisme yang terbaik bagi China; pertanyaan sebenarnya adalah mana yang efektif dan mana yang tidak bagi bangsa itu untuk meraih potensinya di masa mendatang.

Belajar dari filosofi kucing tersebut, saya melihat itulah  yang terjadi   di Thailand sekarang ini dimana negara tersebut menerjemahkan filosofi tersebut   dalam konteks  Thailand. Dalam konteks ekonomi makro  sepertinya Thailand menganggap  indikator  tersedianya lapangan kerja adalah yang terpenting, sehingga  filosofi kucing diterjemahkan sebagai:  saya tidak peduli anda bekerja apa, yang penting menghasilkan  duit.

Thailand  memang kontras sesuai  dengan kata  “Thai” (ไทย)  yang berarti “kebebasan” dalam bahasa Thai. Di seluruh negara kita menjumpai begitu banyak pagoda (wat) dengan biksu biksu yg merefleksikan kehidupan religius tetapi  di sisi lain kita  menjumpai begitu bebasnya para waria mengekpresikan dirinya dan begitu banyaknya tempat  hiburan hiburan yang menyediakan tarian striptease dan layanan plus plus.  Kalau anda di tawarkan TIGER shows jangan harap ada harimau yang tampil karena TIGERS adalah pelesetan dari Thai Girls.

Kalau penasaran mau tau kaya apa  Tiger Shows ni coba liat disini :

Jadi kesimpulannya, yang mau jadi biksu silahkan, yang mau  jadi waria silahkan, yang mau jadi  Tiger silahkan sementara disektor sektor informal lainnya rakyat bekerja sebagai supir angkutan khusus yang dikenal dgn nama Tuk Tuk, dan sudah biasa mereka akan sangat menghantam  turis dengan  tarif yang kadang kadang tidak rasional.  Mau naik bis, silahkan kalau anda faham karena tidak ada petunjuk  dalam  huruf Latin atau bhs Inggris  yang menunjukkan kemana   bis tersebut berangkat dan ini sepertinya disengaja oleh pemerintah Thailand, sehingga turis akhirnya harus memilih Tuk Tuk atau  Taxi yang biasanya akan mengarahkan anda untuk pergi ke toko permata karena para supir taxi dan tuk tuk akan mendapatkan voucher bensin  bila mengantar turis ke toko  permata tersebut. Akhirnya anda yang harus berakting pura pura mau beli karena biasanya  pemilik toko tampak sewot bila anda tidak  jadi beli.  Dengan tingkat kemakmuran yang di bawah Malaysia  dan  Indonesia, sangatlah aneh kalau  Bangkok  mendapat peringkat sebagai kota termahal kedua setelah Singapore di  Asia Tenggara.

Prinsip kucing  menangkap tikus-pun terlihat  di bandara.  Bandara  Bangkok  sebenarnya tidak besar besar amat bila dibandingkan dengan KLIA Kuala Lumpur atau  Soekarno  Hatta  Jakarta. Tetapi ketidakjelasan petunjuk membuat kemungkinan  orang yang mau transit akan kesasar ke kounter imigrasi, dan kalau kesasar denda sebesar 2000 bacht  (sekitar 600 ribu rupiah) siap  menanti anda. Nah tidak salahkan kalo  mereka  tidak peduli mau cara apa..yang penting ekonominya tumbuh?

Selamat  datang ke suatu negara  bebas!

Categories: Ekonomi, Strategi | Tags: , | Leave a comment

Tidak Naik Naik Pangkat, Saatnya Meninjau Campuran Kopi Anda?

Kopi selalu menjadi teman kita untuk mengawali hari, atau daya berpikir kita mulai “meredup” di sore hari. Bila Anda termasuk orang yang selalu mengandalkan kopi untuk teman saat bekerja, coba baca hasil survei dari Nespresso ini. Kebiasaan ngopi ternyata bisa menunjukkan seberapa tingkat kesuksesan kita di tempat kerja.

Perusahaan pembuat mesin kopi ini sebelumnya melakukan survei terhadap 2.000 kalangan profesional di Inggris. Survei mengungkapkan beberapa fakta menarik seputar kebiasaan minum kopi. Lebih dari tiga perempat responden (77 persen) yang merupakan manajer golongan top dan senior ternyata lebih memilih kopi ketimbang teh saat bekerja. Orang-orang yang tergolong sangat ambisius (dengan tingkat ambisi 4 dan 5 dari skala 1-5) minum 1,5 cangkir kopi lebih banyak daripada yang dikategorikan kurang ambisius.

Namun alasan mereka memilih kopi ternyata tidak hanya itu. Kopi bagi mereka juga sangat berkaitan dengan status. Terbukti hampir separuh responden (45 persen) mengaku bahwa mereka menganggap kopi memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada teh.

Kemudian, responden diminta memilih deskripsi pekerjaan mereka yang disesuaikan dari 13 pilihan yang ada, dari managing director hingga supporting role seperti petugas keamanan atau office boy. Dari sini, responden dikelompokkan ke dalam Top Management, Senior Management, Middle Management, Junior Level, dan karyawan non-office. Pengelompokan ini ditujukan agar para peneliti dapat menentukan responden yang memiliki penghasilan tertinggi.

Terlihat, 78 persen dari responden dengan gaji yang tinggi mengakui bahwa kopi sudah menjadi kebutuhan bagi mereka, agar mereka merasa lebih “tune in” dan lebih produktif sepanjang hari. Mereka cenderung memilih kopi dengan citarasa yang kuat, seperti espresso atau macchiato. Kedua jenis kopi ini lebih dipilih oleh dua pertiga dari responden yang berada di top management, dan tiga perempat responden yang tergolong “ambisius”, ketimbang jenis kopi latte (dengan tambahan susu) dan cappuccino dengan taburan cokelat. Sebaliknya, jenis kopi panas dengan campuran susu lebih jadi favorit responden yang tergolong “kurang ambisius”.

Nah, sekarang Anda mungkin tahu alasannya, mengapa meskipun sudah minum lima cangkir kopi sehari tetapi tidak naik-naik pangkat juga. Mungkin Anda terlalu banyak menambahkan susu ke dalam kopi Anda.

Sumber: Kompas

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories: Indonesiana, Suka Suka | Leave a comment

Ternyata “EMPATI” merupakan hal paling berharga di ajarkan di Harvard Business School

Laporan dari  Malaysia Insider  mengatakan sejak 2 tahun terakhir, menunjukkan kesemua permohonan-permohonan pelajar  Malaysia untuk masuk ke universiti paling bergengsi  di dunia,  Harvard University ditolak karena dilihat tidak layak dari segi kualitas dan kemampuan  untuk bersaing.

Universiti Harvard Malaysia Sudah 2 Tahun, Tiada Pelajar Malaysia Diterima Masuk Ke Universiti Harvard? Apa Sebabnya?

Sedangkan untuk mahasiswa Indonesia  saya tidak memiliki datanya, Seorang blogger  Indonesia yang diterima  di Harvard menceritakan  nikmat dan anugrah yang ia dapatkan setelah ia menjadi  mahasiswa paling ngetop tersebut, tetapi tidak berbagi  cerita apa sih yang dipelajari disitu?  Bagi saya apa yang membedakan suatu perguruan tinggi sama seperti restaurant adalah menu yang  menjadi andalan di restoran tersebut. Sebut saja Universitas Ciputra  yang ada di Surabaya milik pak Ci yang mengatakan di universitas ini mereka akan diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang entrepreneur.  Jadi menurut hemat saya orang beramai ramai berkompetisi dari seluruh dunia untuk  mendapatkan  tempat di HBS adalah menu atau apa yang diajarkan di sekolah tersebut.  Suatu perguruan tinggi boleh saja memiliki fasilitas yang teramat canggih dan profesor  profesor dengan tingkat kecanggihan pengetahuan luar biasa, toh pada akhirnya nanti semua akan  terwujud dalam bentuk apa yang diajarkan pada proses belajar mengajar.  James Allworth dalam   HBR Blog Network  edisi  May 15, 2012 mengatakan:  Empathy: The Most Valuable Thing They Teach at HBS. 

Beliau yang merupakan  pengarang buku  How Will You Measure Your Life   sedikit menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

“These probably aren’t words that you were expecting to see in the same sentence — Harvard Business School and empathy. But as I reflect back on my time as a student there, I’ve begun to realize that more than anything else, this is one of the the most valuable things that the school teaches.

It starts on day one. You’re put into a “section” with 90 incredibly smart folks, people with whom you quickly become good friends. Then the moment arrives when you step into class, prepared for a case discussion with what you’re sure is the right answer — but just before you’re able to stick your hand up and get in on the discussion, a good friend — someone who you deeply respect and admire — jumps in to the conversation with an opinion that’s exactly the opposite of yours. And it begins to dawn on you…that what they’ve expressed is right.”

So what now,…perlukah kita berjuang  mati matian ke sekolah elite tersebut kalau hanya  untuk belajar empathy?

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.