Ternyata “EMPATI” merupakan hal paling berharga di ajarkan di Harvard Business School

Laporan dari  Malaysia Insider  mengatakan sejak 2 tahun terakhir, menunjukkan kesemua permohonan-permohonan pelajar  Malaysia untuk masuk ke universiti paling bergengsi  di dunia,  Harvard University ditolak karena dilihat tidak layak dari segi kualitas dan kemampuan  untuk bersaing.

Universiti Harvard Malaysia Sudah 2 Tahun, Tiada Pelajar Malaysia Diterima Masuk Ke Universiti Harvard? Apa Sebabnya?

Sedangkan untuk mahasiswa Indonesia  saya tidak memiliki datanya, Seorang blogger  Indonesia yang diterima  di Harvard menceritakan  nikmat dan anugrah yang ia dapatkan setelah ia menjadi  mahasiswa paling ngetop tersebut, tetapi tidak berbagi  cerita apa sih yang dipelajari disitu?  Bagi saya apa yang membedakan suatu perguruan tinggi sama seperti restaurant adalah menu yang  menjadi andalan di restoran tersebut. Sebut saja Universitas Ciputra  yang ada di Surabaya milik pak Ci yang mengatakan di universitas ini mereka akan diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang entrepreneur.  Jadi menurut hemat saya orang beramai ramai berkompetisi dari seluruh dunia untuk  mendapatkan  tempat di HBS adalah menu atau apa yang diajarkan di sekolah tersebut.  Suatu perguruan tinggi boleh saja memiliki fasilitas yang teramat canggih dan profesor  profesor dengan tingkat kecanggihan pengetahuan luar biasa, toh pada akhirnya nanti semua akan  terwujud dalam bentuk apa yang diajarkan pada proses belajar mengajar.  James Allworth dalam   HBR Blog Network  edisi  May 15, 2012 mengatakan:  Empathy: The Most Valuable Thing They Teach at HBS. 

Beliau yang merupakan  pengarang buku  How Will You Measure Your Life   sedikit menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

“These probably aren’t words that you were expecting to see in the same sentence — Harvard Business School and empathy. But as I reflect back on my time as a student there, I’ve begun to realize that more than anything else, this is one of the the most valuable things that the school teaches.

It starts on day one. You’re put into a “section” with 90 incredibly smart folks, people with whom you quickly become good friends. Then the moment arrives when you step into class, prepared for a case discussion with what you’re sure is the right answer — but just before you’re able to stick your hand up and get in on the discussion, a good friend — someone who you deeply respect and admire — jumps in to the conversation with an opinion that’s exactly the opposite of yours. And it begins to dawn on you…that what they’ve expressed is right.”

So what now,…perlukah kita berjuang  mati matian ke sekolah elite tersebut kalau hanya  untuk belajar empathy?

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: