Lebaran ikut MU, NU atau Bayern Munchen?

Selamat datang Idul  Fitri, Selamat berjibaku mendapatkan tiket pulang mudik, selamat bermacet  ria dan  selamat datang pula ”kehebohan” yang selalu menjadi agenda utama di Tanah Air terkait dengan masih terjadinya perbedaan penetapan  lebaran  antara Muhammadiyah (MU)  dan Nahdathul   Ulama (NU). Penggemar bola yang akrab menganggap MU sebagai Manchester United, secara guyon mengatakan ikut Bayern Munchen atau Arsenal aja dah hari  ini (6 Agustus 2013)..he..he..he.

Terlepas dari ikut MU,NU atau Bayern Munchen, yang tampak pada bulan ini biasanya ”kesalehan” menjadi tampak mengalami lonjakan. ”Tuhan” kita temukan di mana-mana termasuk televisi yang berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sebagai media religius sekalipun banyak diisi oleh pelawak pelawak konyol.  Di bandara kita menyaksikan gelombang rombongan jemaah umrah yang tak pernah putus. Jika gejala ini mengindikasikan peningkatan kesadaran identitas keagamaan, juga sekaligus pertanda meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat yang mampu membiayai perjalanan keagamaan yang mahal demi status. Semua ini merupakan kesadaran beragama atau saudara saudara kita hanya merupakan korban dari budaya populer yang dibungkus dalam ritual Islam karena gejala peningkatan keagamaan yang terus meningkat itu jika dikaitkan dengan realitas lain dalam masyarakat Indonesia pada berbagai bidang kehidupan, dengan segera terlihat adanya kesenjangan mencolok. Di satu pihak ada semangat keagamaan yang terus meningkat, tetapi pada saat yang sama berbagai bentuk perbuatan keji dan mungkar terus mewabah di mana-mana. Dan, ini membawa orang pada pandangan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan semangat keagamaan dan kehidupan sosial. Bisa jadi muara semua itu karena sikap keberagamaan kita sudah tersandera oleh ”budaya populer”. Semuanya menjadi serba instan, dangkal, dan nyaris hilang sisi penghayatan dan kedalaman dari pengalaman keberagamaan itu.Dalam konsep budaya populer, yang dinomorsatukan adalah ”pencitraan”, ”pendangkalan”, ”kesan”, dan potret artifisial lainnya. Karena itu jangan kaget kalau di bulan puasa seperti ini kita menyaksikan para pelaku korupsi mencoba melakukan cuci dosa, misalnya dengan naik haji atau pergi umrah; mengirim anak-anak ke sekolah Islam, madrasah, atau pesantren; memberikan sumbangan, infak, dan sedekah ke masjid atau lembaga pendidikan Islam; dan lebih telanjang lagi dengan memakai jilbab atau bahkan cadar ketika diusut KPK atau kejaksaan dan di pengadilan. Publik secara tiba-tiba dihadapkan dengan kesan, para pelaku yang berjilbab dan bercadar itu adalah orang-orang yang menjalankan perintah agama dan karena itu ’tidak mungkin korupsi’.
Karena budaya populer telah mengisi domain religiositas, menjadi mudah dipahami kalau animo haji tidak pernah sebanding lurus dengan terciptanya masyarakat yang naik tarap hidupnya. Menjamurnya rumah ibadah tidak kemudian otomatis membuka cakrawala tersemainya sikap inklusif dan toleran bagi pemeluk agama.

Mudik Bro

Puasa yang telah sekian tahun kita lakukan tidak menjadi garansi bagi terwujudnya ruang publik yang bebas dari sikap tamak dan rakus. Bahkan, kitab suci yang notabene diturunkan di bulan Ramadhan pun tidak luput dari korupsi.
Puasa Bunda Maryam melahirkan bayi penebar damai: Isa. Puasa yang dilakukan Musa berdampak rontoknya kekuasaan tiranik Firaun. Puasa yang diteladankan Sidarta Gautama tidak hanya membuat beliau menanggalkan gelanggang politik tengik yang penuh intrik, juga kuasa kembali ke arena kekuasaan dengan akal budi yang tercerahkan. Puasa yang dilakukan Socrates dan santrinya, Plato, dapat mencapai kematangan nalar atau Hipokrates yang memberikan resep kepada pasiennya agar sering berpuasa. Termasuk Pythagoras, yang ternyata Rumus Pythagoras-nya konon diperoleh setelah sebelumnya berpuasa.
Tahun lalu, terinspirasi dari tokoh tokoh diatas, bos koperasi langit biru yang ngembat miliaran duit nasabah ditempat persembunyiannya pun tetap aktif berpuasa tentunya dengan pamrih dilupakan nasabah dan tidak ditangkap polisi. Ironisnya, malah ketangkap ketika mau buka puasa…nah nyaho lu, puasa kok di buat main main. Kalau sudah begini kita mohon maklum kenapa  KPK tak mau memeriksa dan menahan  Bro Anas ketika masih puasa.

Puasa itu pula yang dilakukan Muhammad SAW sehingga dia bukan hanya terampil mengelola kesabaran (puasa setengah dari sabar). Akan tetapi, juga kesabaran yang telah dirawat dan diruwatnya melalui puasa telah membuatnya menjadi pribadi yang bisa berempati kepada sahabat dan juga terhadap mereka yang berlainan haluan keyakinannya.

Jadi kalau puasa hanya merupakan budaya populer, kita sepatutnya tidak perlu risau  dan memperdebatkan  apakah   ikut MU, NU atau Bayern Munchen ketika lebaran nanti.

Adapted  from : Puasa Kebangsaan  ASEP SALAHUDIN       

Categories: Budaya | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Lebaran ikut MU, NU atau Bayern Munchen?

  1. Reblogged this on Izmi Rajiani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: