Mengelola Ekonomi Cara Thailand

Semua   pemerintah di  atas bumi ini  tentu ingin memakmurkan  dan menyejahterakan rakyatnya di bidang ekonomi  karena indikator  hebatnya suatu pemerintahan ditentukan oleh  kemampuannya dalam mensejahterakan rakyatnya. Dalam mencapai tujuan tersebut semua  kebijakan   ekonomi makro di arahkan pada  menstabilkan harga, tersedianya lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan  stabilitas nilai tukar terhadap  mata uang asing. Keempat  hal tersebut menjadi pakem bagi penguasa di belahan dunia mana-pun supaya kekuasaannya tetap langgeng. Rakyat Indonesia  tentu ingat betapa digjayanya pemerintah Orde Baru, tetapi begitu terganggu dengan harga yang tidak stabil dan nilai tukar rupiah yang terus merosot, semua yang dicapai oleh pemerintah orde baru seperti tidak ada artinya sehingga Pak Harto terpaksa harus lengser keprabon. Di tengah hiruk pikuk politik dewasa ini, sekalipun Pak Be Ye diterpa berbagai isu sebagai imbas dari  anak anak buah beliau, kita harus mengacungkan jempol, keempat indikator makro tersebut masih berada dalam  posisi aman aman saja sehingga beliau bisa bekerja dengan tenang  paling tidak sampai akhir 2014 nanti..jadi yang udah kebelet mau nggantiiin beliau sabar dulu ya???

Dalam mencapai  ke empat tujuan ekonomi makro tersebutlah digunakan berbagai jargon  seperti  ekonomi kapitalis, ekonomi  kerakyatan, ekonomi syari’ah , dll  dan tentunya tiap tiap negara  memiliki  cara nya masing masing dalam memartabatkan ekonomi bangsanya yang semuanya berazaskan  keempat tujuan keramat tersebut. Sebut saja China, pemimpin Reformasi RRC, Deng Xiaoping, ia mengatakan “ Tidak peduli kucing itu warna hitam, atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus “ suatu kalimat yang  membawa PRC berkembang luar biasa hebatnya  menjadikan negara itu memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar dan cadangan devisa terbanyak. Filosofi “kucing” Deng menimbulkan banyak perselisihan, baik di dalam maupun di luar China. Bagi Deng Xiaoping, pertanyaannya bukan apakah komunisme atau kapitalisme yang terbaik bagi China; pertanyaan sebenarnya adalah mana yang efektif dan mana yang tidak bagi bangsa itu untuk meraih potensinya di masa mendatang.

Belajar dari filosofi kucing tersebut, saya melihat itulah  yang terjadi   di Thailand sekarang ini dimana negara tersebut menerjemahkan filosofi tersebut   dalam konteks  Thailand. Dalam konteks ekonomi makro  sepertinya Thailand menganggap  indikator  tersedianya lapangan kerja adalah yang terpenting, sehingga  filosofi kucing diterjemahkan sebagai:  saya tidak peduli anda bekerja apa, yang penting menghasilkan  duit.

Thailand  memang kontras sesuai  dengan kata  “Thai” (ไทย)  yang berarti “kebebasan” dalam bahasa Thai. Di seluruh negara kita menjumpai begitu banyak pagoda (wat) dengan biksu biksu yg merefleksikan kehidupan religius tetapi  di sisi lain kita  menjumpai begitu bebasnya para waria mengekpresikan dirinya dan begitu banyaknya tempat  hiburan hiburan yang menyediakan tarian striptease dan layanan plus plus.  Kalau anda di tawarkan TIGER shows jangan harap ada harimau yang tampil karena TIGERS adalah pelesetan dari Thai Girls.

Kalau penasaran mau tau kaya apa  Tiger Shows ni coba liat disini :

Jadi kesimpulannya, yang mau jadi biksu silahkan, yang mau  jadi waria silahkan, yang mau jadi  Tiger silahkan sementara disektor sektor informal lainnya rakyat bekerja sebagai supir angkutan khusus yang dikenal dgn nama Tuk Tuk, dan sudah biasa mereka akan sangat menghantam  turis dengan  tarif yang kadang kadang tidak rasional.  Mau naik bis, silahkan kalau anda faham karena tidak ada petunjuk  dalam  huruf Latin atau bhs Inggris  yang menunjukkan kemana   bis tersebut berangkat dan ini sepertinya disengaja oleh pemerintah Thailand, sehingga turis akhirnya harus memilih Tuk Tuk atau  Taxi yang biasanya akan mengarahkan anda untuk pergi ke toko permata karena para supir taxi dan tuk tuk akan mendapatkan voucher bensin  bila mengantar turis ke toko  permata tersebut. Akhirnya anda yang harus berakting pura pura mau beli karena biasanya  pemilik toko tampak sewot bila anda tidak  jadi beli.  Dengan tingkat kemakmuran yang di bawah Malaysia  dan  Indonesia, sangatlah aneh kalau  Bangkok  mendapat peringkat sebagai kota termahal kedua setelah Singapore di  Asia Tenggara.

Prinsip kucing  menangkap tikus-pun terlihat  di bandara.  Bandara  Bangkok  sebenarnya tidak besar besar amat bila dibandingkan dengan KLIA Kuala Lumpur atau  Soekarno  Hatta  Jakarta. Tetapi ketidakjelasan petunjuk membuat kemungkinan  orang yang mau transit akan kesasar ke kounter imigrasi, dan kalau kesasar denda sebesar 2000 bacht  (sekitar 600 ribu rupiah) siap  menanti anda. Nah tidak salahkan kalo  mereka  tidak peduli mau cara apa..yang penting ekonominya tumbuh?

Selamat  datang ke suatu negara  bebas!

Categories: Ekonomi, Strategi | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: