Selamat Jalan Nokia

 Hari Jumat (27/7/2012), Nokia mengonfirmasi rencana penutupan pabrik terakhirnya di Finlandia yang merupakan negara asal produsen tersebut.  Pabrik yang berlokasi di daerah Salo itu telah berhenti memproduksi ponsel sehari sebelumnya. Menurut jadwal, pabrik akan resmi ditutup bulan September mendatang. Sebagai akibatnya, sekitar 780 karyawan Nokia kehilangan pekerjaan mereka. Ponsel Nokia yang sempat merajai pasaran selama lebih dari satu dekade pun tak lagi bisa menyandang predikat “made in Finland”. Jadi kalau anda  masih memilikinya sebaiknya disimpan, siapa tahu menjadi barang antik yang  harganya menjadi selangit ditahun 2100 dan menghindari anak cucu kita kelak  mengenal ponsel Nokia hanya dari museum dan buku-buku sejarah masa silam.

Tinggal Kenangan

Mengingat betapa digjayanya Nokia, memang susah bagi kita untuk mepercayai bahwa sang raksasa harus  kolaps, tapi itulah  kompetisi bisnis dewasa ini yang merupakan bentuk   pertempuran paling beradab karena saling tidak berhadapan seperti lazimnya perang klasik, tetapi hasilnya sama musuh  jatuh, tewas tak berdaya, dan itulah yang dialami oleh Nokia saat ini,  karena tidak mampu dikeroyok oleh Apple, Blackberry dan Android.

Clayton Christensen dalam buku best seller berjudul :   The Innovator’s Dilemma: The Revolutionary Book that Will Change the Way You Do Business  menjelaskan kenapa perusahaan perusahaan besar yang dulunya market leader bisa kalah dengan pendatang pendatang baru.

Christensen menggambarkan 2 jenis  teknologi: sustaining technologies dan disruptive technologies. Sustaining Technologies  adalah teknologi yang meningkatkan kinerja produk.  Ini adalah teknologi yang kebanyakan perusahaan besar sudah akrab, misalnya  Nokia dengan symbian-nya dan menurut Christensen perusahaan besar memiliki masalah yang berhubungan dengan disruptive technologies, yaitu “inovasi yang membuat produk yang sudah mapan kinerjanya  menjadi lebih buruk .” Teknologi ini  umumnya “lebih murah, sederhana, dan  lebih nyaman untuk digunakan   sehingga  menyebabkan kegagalan perusahaan yang sangat sukses yang hanya siap untuk sustaining technologies.  Nokia merasa sudah nyaman dengan symbian  (sustaining technologies)    dan  tidak siap ketika    Android ( disruptive technologies)   datang menghajar.

Apakah Nokia dan perusahaan perusahaan besar tidak sadar akan yang namanya  disruptive technologies?  Mereka sadar itu, tapi sebagai produk yang sudah mapan dan memiliki pasar besar, menciptakan suatu produk baru bisa membahayakan produk mapan tersebut. Inilah yang disebut juga oleh Christensen sebagai  Innovator Dilemma.   Dan Innovator Dilemma bukan hanya terjadi pada perusahaan perusahaan dengan basis teknologi tinggi tetapi juga hampir di semua lini mengalamainya. Di tanah air kita menyaksikan  Gudang Garam dan Djarum takut melakukan inovasi dengan memproduksi  rokok mild lantaran takut akan menghantam balik produk utamanya  Gudang Garam Merah dan Jarum Super, dan akhirnya Sampoerna  datang  dengan A_Mild nya.  Dulu Honda ragu melakukan inovasi motor skutik  dan akhirnya Yamaha  Mio yang datang; sekalipun  Honda kemudian  mengejar balik. Garuda  ragu ragu dengan penerbangan murah dan akhirnya Lion Air yang datang, sehingga Garuda terpaksa ikut bermain dengan Citi-Link. Bank bank konventional awalnya ragu ikut memasuki   lembaga keuangan berbasis syariah karena takut nasabah lari, tetapi akhirnya ikut juga. Di Malaysia, Proton takut memasuki  segmen mobil kecil, dan ketika Produa memasuki segmen ini, Produa menjadi market leader.

Jadi, sebesar apapun anda, kalau tidak adaptif terhadap perubahan  anda akan tergilas. Bukankah Charlis Darwin  sejak lama mengatakan “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” .  Kalau  para politisi sibuk loncat partai sekarang, jangan disalahkan karena sejatinya mereka adalah inteltual intelektual yang pasti pernah membaca buku  Christensen dan  Charles Darwin.

Selamat beradaptasi terhadap perubahan saudara sebangsa dan setanah air!

Categories: Europah, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: