Monthly Archives: August 2012

Gajah Mada ternyata ikut puasa dan lebaran?.

Bangsa ini memang suka  berdebat adu argumentasi  dengan tujuan mencari kebenaran atau mencari pembenaran. Sebelum ini  Nahdathul Ulama (NU) dan  Muhammadiyah (MU) berdebat mengenai awal puasa dan kemungkinan juga akan  berbeda lagi  lebarannya nanti.  Sekarang  POLRI dan KPK berdebat tentang siapa yang lebih  layak mengusut  kasus  korupsi simulator SIM yang melibatkan para bintang 1 dan bintang 2.  Tapi ada satu perdebatan  karena tidak menyangkut ranah politis  gemanya tidak cukup besar  seperti halnya klaim budaya Indonesia  oleh Malaysia  yaitu  klaim bahwa  Gajah Mada  sang maha patih Majapahit  adalah  seorang muslim dan nama aslinya mirip Imam Ghozali yaitu Gaj Ahmada.  Nah lebaran dan puasa  dong kalo gitu sang  mahapatih  sama seperti  saudara saudara Muslim Indonesia, cuman  waktu itu belum ada  NU dan MU, jadi kita tidak tahu beliau ikut versi mana.

Gajah Mada: portrait bust

Gaj Ahmada?

Adalah Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta (2010) yang pertama kali menerbitkan hasil penelitiannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Berikut diantara hasil penelitian tersebut:

  1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah  Muhammad Rasulullah’. Sebagaimana kita ketahui, koin merupakan sebuah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Maka sungguhlah mustahil jika dikatakan bahwa sebuah kerajaan Hindu memiliki koin yang bertuliskan kalimat tauhid seperti ini.
  2. Pada batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrabim (Sunan Gresik) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agama Islam) kerajaan Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Agama Islam merupakan agama resmi kerajaan tersebut.
  3. Lambang kerajaan Majapahit berupa delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan arab yakni sifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan Dzat. Mungkinkah sebuah kerajaan Hindu memiliki logo/lambang resmi bertuliskan kata-kata arab seperti in?
  4. Pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya ternyata seorang muslim. Beliau adalah cucu dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama Islam Pasundan yang hidup selayaknya seorang sufi. Sedangkan neneknya merupakan seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya. Meskipun Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana(menggunakan bahasa sansekerta yang lazim digunakan saat itu), tidak lantas menjadikan beliau seorang pemeluk Hindu. Gelar seperti ini (menggunakan bahasa sansekerta) ternyata masih juga digunakan oleh raja-raja muslim jawa zaman sekarang seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam di Yogyakarta serta Pakubuwono di Surakarta/Solo.
  5. Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut. Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia). Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.
  6. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Timur tengah pun berada dalam situasi konflik yang tidak menentu. Terjadilah eksodus besar-besaran (pengungsian) kaum muslim dari Timur Tengah (tetutama keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan sebutan alawiyah). Mereka menuju kawasan Nuswantara (atau Nusantara) yang kaya akan sumber daya alamnya. Mereka pun menetap dan melanjutkan keturunan yang sebagian besar menjadi penguasa kerajaan-kerajaan di nusantara, termasuk kerajaan Majapahit.

Dan seperti biasa, karena  sejarah  menurut  bapak sejarah dunia  Herodotus merupakan  hasil  interpretasi  terhadap kejadian  yang telah terjadi  tentunya  pendapat  ini  menghadirkan  pro dan kontra. Satu hal yang menarik  sebelum ada Herodotus  tidak ada yang namanya sejarah yang ada hanya  lah cerita cerita sastra yang dipenuhi dengan dongeng, mitos, cerita kepahlawanan dan sebagainya dan kalau kita mau mengamati bukankah penulisan sejarah Indonesia   banyak yang model begini sehingga yang ada bukan History tetapi His Story (mirip kan dengan penggalan Gaj Ahmada). Lihat saja  kasus  teks Super semar yang asli-pun tidak ada yang tahu,,dimana tempatnya, padahal kejadiannya baru berapa puluh tahun, apalagi Majapahit  yang sudah  beratus ratus tahun lewat.

Tantangan dan bantahan keras  bahwa Majapahit adalah kerajaan Islam, membuat mereka yang  yakin akan pendapatnya  menghadirkan novum (bukti baru). Mereka ini menamakan diri Tim Riset Yamasta ( beranggotakan Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi, Drs. Mat Rais dan Farhaz Daud ). Inti laporannya seperti yang dirilis di :

http://oase.kompas.com/read/2012/08/07/12022947/Jejak.Prajurit.Islam.Majapahit.dari.Bali.hingga.Australia

“Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.” (Kompas, 7/8/2012).

Setelah anda meluangkan waktu  membaca interpretasi  dan narasi tim tersebut, sekarang sudah percaya bahwa Gajah Mada seorang muslim?

Menurut Prof. Purwanto seorang sejarahwan kondang Indonesia, menulis sejarah bukan hanya pekerjaan akademis tapi juga kegiatan politis. Berbagai klaim mengenai asal usul, wilayah, legitimasi pemegang kekuasaan, status pahlawan nasional, siapa musuh siapa kawan, siapa pengkhianat  siapa pahlawan, siapa kaum elit siapa kaum gurem selalu menjadi perdebatan. Klaim akan kebenaran masa lampau menjadi sangat penting karena dia berfungsi  sebagai alat untuk memperkokoh identitas nasional  atau sekelompok orang tertentu. Jadi jangan heran kalau asal usul tempat dari mana sang maha patih berasal di klaim dari berbagai daerah  baik di Jawa Timur, Bali, Sumatera,  Kalimantan  dan seantero pelosok Indonesia. Sekarang beliau di klaim  sebagai  seorang Muslim, nggak tau apa ada yang nyusul lagi mengklaim beliau sebagai  pemeluk agama lain?

Trouillot (1995) dalam bukunya  Silencing the Past: Power and the Production of History  mengatakan: ” permainan kekuasaan dalam menyusun narasi narasi  alternatif dimulai  dengan  penciptaan fakta maupun sumber.” Pada masa orde baru, sejarah ditulis dengan cara membungkam  suara pihak pihak yang menentang  penguasa dan militer. Kejatuhan  Orde Baru  mendorong  penulisan ulang  sejarah dengan mengedepankan tokoh tokoh baru dengan persepsinya masing masing untuk mengemukakan mana yang harus ditonjolkan atau dibesar besarkan perannya dalam sejarah dan siapa yang harus dihapus.

Sejarah Indonesia  banyak merujuk kepada  lima jilid  karya  StapelGeschidenis van Nederlandsch Indie (Sejarah Hindia Belanda)  yang  mana dua jilid pertama berisi tentang kerajaan kerajaan kuno di Jawa yang berdasarkan Hindu dan Islam. Sedangkan  jilid  ke 3, 4, 5  mulai menempatkan Belanda  sebagai pemain utama yang menjadi  pahlawan pembangunan di seluruh Nusantara. Jadi Belanda memiliki kepentingan yang jelas di sini. Para sejarawan Indonesia  menyusun sejarah Indonesia di atas basis kolonial dengan memancangkan asal usul  Indonesia  pada  imperialisme Majapahit yang  memuja muja Gajah Mada dan para tokoh ekspansionis   yang  suka menyerbu  kerajaan lain dalam memperluas wilayahnya.

Jika kita mengakui  bawa sejarah adalah  tentang APA YANG TELAH TERJADI dan APA YANG DIKATAKAN  TELAH TERJADI, maka perdebatan  tentang dua dimensi ini tidak akan pernah selesai.  Sekalipun bukan sejarawan, boleh saja  ada yang menginterpretasikan bahwa Borobudur   dibangun oleh Nabi Sulaiman karena bentuknya mirip piramid di Mesir negara asalnya Sulaiman, dan Nabi Sulaiman adalah  nenek moyang orang Jawa, buktinya nama orang Jawa kan banyak di mulai dengan SU…Suharto, Sukarno, Susilo, Suminten, Sugeng Rawuh, Sujiwotejo..dll..dan ternyata Sleman dekat  Borobudur tersebut berasal dari Kota Sulaiman…! Percaya?

Bangunan Nabi Sulaiman?

So what now?  Mau ikut yang percaya  Gajah Mada berlebaran atau tidak. Gampang saja, gunakan  analogi pemerintah dalam menyikapi perbedaan  puasa  dan lebaran. Yang  mau  puasa  Jum’at ikut MU ..monggo,,, yang mau ikut Sabtu ikut |NU..juga boleh..yang  ikut Bayern Munchen atau Arsenal, silahkan cari hari lain. Begitu juga   dengan Gajah Mada , silahkan ikut hati masing masing.

Yang lebih mendesak adalah penulisan  ulang sejarah  demi keadilan bukan demi kepentingan penguasa. Sisi kelam bangsa kita masih belum bisa  terungkap seperti  dimana teks Supersemar yang asli dan apa sebenarnya yang terjadi di balik peristiwa itu di tahun 1966,   Peristiwa  Tanjung Priok tahun 1984, Kerusuhan Masal yang meluluhlantakkan Jakarta tahun 1998,  serta kasus  Lumpur Lapindo. Semua yang terjadi  di era kemerdekaan dan saksi saksi masih ada aja  belum terungkap, apalagi Majapahit bro?

Categories: Indonesiana | Tags: , , | 4 Comments

Potret Buram dibalik pertumbuhan ekonomi tertinggi RI di ASEAN

17 Agustus tahun ini  bertepatan dengan bulan Ramadhan sama seperti  67 tahun yang lalu ketika Bung Karno  memproklamasikan  kemerdekaan negara ini yang juga terjadi pada bulan puasa. Dipilihnya tanggal 17  pada bulan ramadhan kemungkinan   beliau terinspirasi dengan 17 ramadhan  yang merupakan  hari turunnya Al Qur’an yang kemudian menjadi  panduan bagi umat Islam untuk menjalankan kehidupan  dengan prinsip  yang jelas untuk menentukan  mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh. Menjelang  hari kemerdekaan ini, benarkah kita betul betul berada di jalur seperti yang diinginkan oleh para pendiri negara ini dulu.  Di tengah keterpurukan demi keterpurukan  seperti terhentinya tradisi mendapatkan medali emas olimpiade, korupsi  yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya   menjadi  penegak hukum, mengkorupsi pengadaan kitab suci, toh  Pak Be Ye    masih bisa bangga  dengan pertumbuhan kita yang tertinggi di Asean (6.4%). Masalahnya adalah pertumbuhan itu untuk siapa?  Ditengah hiruk pikuknya  gelombang umrah di bulan ramadhan  yang tidak putus putusnya di bandara  sebagai bukti pertumbuhan dan sadarnya akan nilai religi, pada sisi lain kita juga harus menyaksikan antrian para penggemis yang semakin mengular minta sedekah di mesjid pada saat menjelang dan sesudah berbuka puasa.

 

Menyikapi fenomena ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam yang ingin bersedekah dan berzakat sebaiknya menyalurkan ke lembaga zakat atau masjid agar sumbangan yang diberikan tepat sasaran.

“Kemiskinan tidak boleh dieksploitasi dan mengemis juga tidak boleh jadi profesi. Untuk itu, negara harus hadir, negara berperan untuk memfasilitasi dan menjamin simbiosa mutualistik. Negara harus menjamin terlaksananya kewajiban orang kaya untuk membayar zakat dan terdistribusikannya zakat kepada yang berhak secara tepat,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam,

Kalau pajak yang dibayar sering diembat , pengadaan  Qur’an di korupsi,  polisi yang seharusnya jadi penegak hukum-pun ikut bermain,  yang mau percaya kepada lembaga negara  siapa? Jadi jangan salahkan kalau para dermawan kita ini langsung memberikan Bantuan Langsung Tunai kepada penggemis penggemis yang makin hari makin mengular karena ilmu getok tularnya...hei di Mesjid  XYZ  banyak dermawan..itulah kira kira yang beredar di SMS dan BBM para pencari rezeki ramadhan ini.

Potret banyaknya  para penggemis baik yang musiman maupun profesional, ratapan banyaknya keluarga  keluarga yang tidak mampu  menyekolahkan  anaknya, serta banyaknya pekerja migran ke negara jiran  merupakan suatu indikator bila pertumbuhan ekonomi yang diagung agungkan dan dibanggakan tersebut  tidak diikuti dengan makin sejahteranya rakyat sehingga   dicurigai pertumbuhan tersebut merupakan pertumbuhan tidak normal (anomali) sama seperti menjelang kejatuhan Indonesia pada krisis moneter tahun 1997.  Layak untuk dicurigai duit pertumbuhan itu berasal dari hutang  ( mencapai Rp 2.870 triliun) yang dijadikan sumber pendapatan utama pemerintah dan menjadikannya  sebagai  faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Kalau ente  tidak kerja bro..tapi  lu bisa tampil keren  dengan gadget dan mobil tercanggih  mungkin saja  karena lu  berani ngutang atau dapat warisan. Begitu lah halnya negara kita dengan pertumbuhannya. Mau dapat warisan dari mana? Belanda  yang pernah jadi tuan kita aja sekarang megap megap kena krisis  di Eropa sono. So, ngutang tentunya?

Disamping  hutang ada beberapa hal yang  harus dicermati mengenai pertumbuhan tersebut. Pertama, konsentrasi pertumbuhan tetap terpusat di Pulau Jawa dengan angka 57,5 persen sementara di luar Jawa masih berkutat dengan giliran pemadaman listrik dan infrastruktur. Masih sering diberitakan selama  bulan puasa ini di beberapa daerah yang terpaksa harus tarawih dalam kegelapan karena listrik mati.

Image

Potret Kemiskinan Di Luar Jawa

Kedua, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat yang bersumber dari naiknya harga sandang dan pangan, serta ditopang dari pertumbuhan kredit, khususnya kredit konsumsi.

Ketiga,  disamping mengekspor TKI ke Timur Tengah dan Malaysia, pertumbuhan ekonomi didorong ekspor bahan mentah, seperti bahan tambang, migas, hasil perkebunan dan hutan, sehingga tidak banyak menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.

Terakhir, pertumbuhan ekonomi didorong oleh investasi luar negeri yang membuat sumber daya   kian dikuasai asing. Lihat saja Mandala Air milik Singapore Airlines, Batavia Air jadi milik Air Asia, dan  Malaysia sudah menguasai  20% perkebunan sawit di Indonesia dan yang paling ironis adalah Air Asia  yang memonopoli  jalur Kuala Lumpur – Surabaya  tanpa ada  perlawanan dari maskapai lokal dan akibatnya bisa ditebak sendiri menjelang lebaran ini tiket KL – SBY sekali  jalan sudah mencapai RM 1400 – hampir 5 juta rupiah one way.

Setelah 67 tahun merdeka dan  14 tahun reformasi, politik menjadi  semakin berisik sebagai ”ajang adu omong kosong ” dalam skala besar, arena saling menjelekkan, klaim partainya lebih reformis dll tetapi kondisi  dilapangan menunjukkan  belum ada tanda bahwa pelbagai perubahan itu kian mendekatkan bangsa ke jalur kemenangan karena sikap penyelenggara negara tetap  lebih melayani kepentingan sendiri dan kelompoknya ketimbang kepentingan bangsa secara keseluruhan. Jadi apa sebenarnya yang kita  dapat dari reformasi  selain makin banyaknya partai partai baru yang kesemuanya mengklaim lebih reformis dan mengumbar janji akan masa depan Indonesia  yang lebih baik.

Melihat  kondisi pasca reformasi   sepertinya benar  dictum  Neguib Mafaouz’ seorang pengarang terkenal Mesir yang   mengatakan ” revolutions are initiated by dreamers, carried out by brave people, and profited  by coward  people” yang mana dalam konteks Indonesia  berbunyi : Reformasi  di mulai oleh para  visionaris, di lakukan oleh orang orang berani tetapi para pengecut lah yang mendapatkan  keuntungan dari reformasi tersebut. Sekedar melihat kebelakang  di tahun 1998; betapa Pak Amien  Rais yang visionaris  dan ribuan mahasiswa mahasiswa  dan elemen elemen masyarakat berani  yang dengan garangnya meneriakkan reformasi dan mengepung  gedung MPR RI…..dimanakah mereka mereka ini sekarang..dan  pada saat mereka berjuang diantara desingan peluru karet dan semburan gas air mata,  dan adakah yang tahu dimanakah para petinggi PD yang menjadi penguasa  negara saat ini seperti Pak Marzuki, Angelina Sondakh dan Nazarudin saat itu?

Kita ternyata masih mencari pola bagaimana   mengelola negara ini sehingga  kementrian agama dan polisi yang seharusnya  menjadi benteng terakhir  paling tidak nggak ikut korupsi-pun sudah roboh. Nah sekarang mau apa?

Seorang guru  meditasi  selalu bergumam, Minumlah Teh mu  yang kira kira kalo dimaknai berarti lakukan lah apa yang menjadi bagianmu. Kalau anda penyanyi dangdut ya nyanyi dangdutlah..tidk perlu  berkampanye jadi politisi  sampai terkena  isu SARA dan kalo anda politisi ya jadilah politisi yang baik, jangan nyambi jadi kontraktor, kalau anda Professor mengajar dan lakukanlah penelitian yang baik, jangan sambil  nyogok anggota DPR.  Hal ini sejalan dengan Ali bin Abi Thalib yang  mengatakan, ”Rakyat tidaklah akan menjadi baik kecuali penguasanya juga baik. Pun penguasa tidak akan baik kecuali dengan kejujuran rakyat. Maka, jika rakyat melakukan  kepada penguasa haknya dan penguasa menunaikan kepada rakyat hak mereka tidak akan terjadilah carut marut seperti sekarang ini..so simple, jadi tidak perlu debat di layar kaca dikemas dengan nama  macam    dan  berkicau di  Twitter  mengaku yang paling hebat dengan argumentasinya masing masing. Cukup kerjakan sesuatu berdasarkan JUKLAK dan JUKNIS yang sudah ada, jangan mencari celahnya untuk kepentingan pribadi. Itulah yang dilakukan oleh  Pemerintah Malaysia sehingga rakyatnya sejahtera..bekerja berdasarkan JUKLAK dan JUKNIS.  Daripada  studi banding jauh jauh ke Eropa atau Amerika, menyebranglah belajar kesini..tidak perlu malu.

Dirgahayu Indonesia.

Categories: Ekonomi, Indonesiana | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Kereta

Puisi Sitok Srengenge

1

Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis
Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih

Categories: Suka Suka | Tags: , | Leave a comment

Ternyata menindas bangsa sendiri telah diperagakan oleh penguasa Jawa sejak beradab-abad lalu

Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Wasino, dengan judul :  Kapitalisme Bumi Putra; Perubahan Masyarakat Mangkunegaran  menggambarkan  betapa sejak dulu bangsa  ini suka menindas bangsanya sendiri: menyetor upeti kepada Belanda  yang dikumpulkan dari memeras rakyatnya sendiri dan praktek itu terus berlanjut sampai sekarang cuma bentuknya aja yang beda.  Jadi jangan heran kalau rakyatnya ada yang duluan puasa sebelum bulan puasa, dan mungkin akan diteruskan lagi setelah ramadhan berakhir.

1333168478540467798

Makam Para Kapitalis

Berikut resensi buku  tersebut yang ditulis oleh  Munawir Aziz, Mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta.

Kapitalisme telah diperagakan oleh penguasa Jawa sejak beradab-abad lalu. Spirit kapitalisme ini ditanamkan oleh rezim kolonial Belanda kepada penguasa Jawa. Dengan menggunakan modal sosial, modal simbolik dan kekuasaan, penguasa Pribumi Jawa tak kuasa untuk menolak kegenitan kapitalisme. Maka lahirlah rezim pencari profit, yang lahir dari perselingkuhan penguasa dan kekuasaan di tanah bumiputra.

Dan, kerajaan Mangkunegara, terjangkit spirit kapitalisme dalam sistem pemerintahannya. Hal ini terjadi, ketika Belanda dengan semangat menggebu membangun beberapa pabrik gula di wilayah Jawa. Pemerintahan kolonial Belanda menjadikan sektor pertanian tebu sebagai ladang untuk mengeruk untung yang berlimpah. Inilah yang menjadikan kolonialisme begitu massif, karena menyalurkan pundi ekonomi bangsa ini melalui pipa penjajahan ke negeri Belanda.

Akan tetapi, di kerajaan Mangkunegara, iklim kapitalisme berwajah lain. Jubah kapitalisme tak lagi disandang oleh rezim kolonial, akan tetapi oleh penguasa Mangkunegara, yang merupakan kaum bumi putra. Inilah ironi yang tercatat dalam jejak sejarah bangsa ini. Kapitalisme merasuki keheningan jiwa penguasa Mangkunegara, raja yang kekuasaannya bergemuruh di kalangan bumiputra.

Gerak kapitalisme bumi putra ini berawal, ketika raja Mangkunegara IV dalam menggerakkan perekonomian kerajaan Mangkunegara. Sama halnya seperti kerajaan-kerajaan lain, yakni memanfaatkan bercocok tanam kopi, jahe, dan rempah-rempah lainnya untuk dijual. Selain itu, Raja Mangkunegara IV juga turut menyewakan tanah-tanah kekuasaannya untuk dijadikan ladang usaha para penanam modal asing yang datang dari kalangan swasta Barat dan China dengan menggerakkan usaha produksi dan pemasaran gula pasir dari tanaman Tebu yang dikuasai oleh VOC.

Setelah dirasa bahwa pendapatan—kerajaan baik dari usaha kerajaan sendiri maupun berbagai pajak (upeti) dari rakyat Mangkunegaran—tidak bisa menutup kebutuhan kerajaan, raja Mangkunegaran IV menarik kembali tanah-tanah yang ia sewakan terhadap pengusaha-pengusaha swasta Barat dan China untuk dijadikan usaha sendiri. Berbekal pengetahuan dan dukungan sahabat karibnya yang bernama Manuel (pemilik perkebunan indigo di Baron), raja Mangkunegara IV menggalakkan penanaman Tebu diberbagai tanah kekusaannya, yang kemudian disusul dengan didirikannya pabrik gula Colo Madu (tahun 1862) untuk menggiling dan memproses tanaman Tebu tersebut (hlm. 49).

Inilah yang menjadi titik balik kejayaan kerajaan Mangkunegara, mampu menimbun pundi-pundi ekonomi dari bisnis perkebunan tebu. Sejalan dengan hal ini, gemerlap usaha barunya itu pun mulai tampak dengan hasil gula pasir yang laku keras di pasaran Eropa. Laba hasil pemanenan Tebu di musim panen pertama inipun dirasa belum memuaskan raja Mangkunegara IV. Pada musim tanam tebu berikutnya, raja Mangkunegara IV, kembali bersungguh-sungguh dalam melanjutkan usahanya dengan menambah kuantitas penanaman Tebu ditanah-tanah kekuasan Mangkunegran yang lain dan mendirikan pabrik gula untuk kedua kalinya, dengan diberi nama Tasik Madu pada tahun 1874 (hlm 52).

Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang ini merupakan disertasi beliau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Buku ini berhasil merekam secara komprehensif jejak sejarah kerajaan Mangkunegara, dengan raut wajah kapitalisme yang tampak tergurat jelas dalam sistem pemerintahan.

Buku ini juga memotret secara apik benang kusut problematika kepemilikan tanah yang berlangsung di berbagai daerah. Penulis buku ini meriset hal ini secara utuh dalam bingkai kasus monopoli perkebunan tebu di kerajaan Mangkunegara. Kasus kepemilikan tanah menyimpan luka sejarah kelam, karena penuh dengan intrik dan pertentangan kepentingan. Sengketa kepemilikan tanah seringkali meletus antar berbagai pihak.

Temuan dalam buku ini, sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hiroyosi Kano, Frans Husken dan Joko Suryo, di daerah perkebunan tebu pabrik gula Comal, Jawa Tengah. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan, bahwa masyarakat di daerah pabrik gula tidak mengalami involusi, tetapi diferensiasi. Pemilikan tanah di pedesaan tidak merata, tetapi terjadi kesenjangan antara petani pemilik tanah luas dengan pemilik tanah sempit dan tak bertanah.

Monopoli tanah perkebunan tebu di Mangkunegara menjadikan rakyat gelisah dan bertambah sengsara. Warga Mangkunegara bukan sengsara akibat penjajahan kolonial yang kejam, akan tetapi otoritarianisme penguasa yang menghamba pada denyut kapitalisme. Inilah yang menjadikan Mangkunegara sebagai kerajaan pribumi yang memasung kemerdekaan rakyatnya, karena mengejar target materialisme semata.

Buku ini menarik dikaji, karena dari sebagian besar penelitian yang ada hanya mengungkap kasus monopoli perkebunan tebu dan industri gula oleh bangsa asing yang menjajah negeri ini. Penelitian yang terekam dalam buku ini memberikan sumbangsih besar, karena secara intim berhasil memotret gerak kapitalisme yang menggejolak dalam jiwa bumi putra. Buku ini menjadi rujukan penting untuk mengetahui “wajah lain” bumi putra dalam mengelola aset rakyatnya.

Jadi kalau ada seorang jenderal yang kononnya punya rumah di daerah Solo, kokoh seperti benteng  dan  berharga  sampai 34 milyar, kita patut  mengapresiasi  beliau sebagai   pembina warisan  Mangkunegara.

Categories: Ekonomi, Indonesiana | Tags: , , , | Leave a comment

10 Kampus Terbaik di Indonesia versi Generasi Facebook and Twitter

Webometrics melakukan pemeringkatan kampus di dunia berdasarkan parameter digital. Misalnya, volume konten global yang terindeks di Google, dan lainnya.
Dari Indonesia, jumlah perguruan tinggi yang masuk pemeringkatan ini adalah 361 untuk edisi Juli 2012. Sebelumnya, di Januari 2012, hanya 352 perguruan tinggi.

Universitas Gajah Mada

Berikut adalah 10 besar perguruan tinggi asal Indonesia yang meraih skor terbaik di Webometrics:

  • Universitas Gadjah Mada (Peringkat Dunia: 379; Peringkat ASEAN: 9)
  • Universitas Indonesia (507; 15 )
  • Institut Teknologi Bandung (568; 18)
  • Institut Teknologi Sepuluh November (582; 19)
  • Universitas Pendidikan Indonesia (630; 22)
  • Universitas Gunadarma (740; 24)
  • Institut Pertanian Bogor (764; 25)
  • Universitas Brawijaya (837; 29)
  • Universitas Sebelas Maret (883; 30)
  • Universitas Diponegoro (948; 32)

Dari 10 perguruan tinggi peringkat tertinggi di Indonesia itu, hanya Universitas Gunadarma yang merupakan perguruan tinggi swasta. Lainnya adalah kampus negeri yang cukup ternama.

Berikut adalah kriteria yang digunakan Webometrics dalam melakukan pemeringkatannya:

  • PRESENCE (Bobot: 20%), yaitu volume konten global yang terindeks Google
  • IMPACT (50%), yaitu kualitas konten yang diukur dengan tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibility-nya menggunakan dua mesin pencari yaitu Majestic SEO dan Ahrefs.
  • OPENNESS (15%), yaitu jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar
  • EXCELLENCE (15%), yaitu karya akademik yang dipublikasikan di jurnal international yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago.

Sebagai perbandingan, peringkat sepuluh besar dunia adalah:

  • Harvard University
  • Massachusetts Institute of Technology
  • Stanford University
  • University of California Berkeley
  • Cornell University
  • University of Minnesota
  • University of Pennsylvania
  • University of Wisconsin Madison
  • University of Illinois Urbana Champaign
  • Michigan State University

Sumber: 

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.