Monthly Archives: September 2012

The Gap Between the Vision for Marketing and Reality

Adapted from

A  recent  article  written  by Philip Kotler, the marketing guru on  September 18, 2012, reveals  how far marketing has come and where there is room to grow.

For more than 60 years, marketers have had a clear vision of the ideal role of marketing, which consists of two core ideas. One is the concept of the “marketing mix,” which dates to the late 1940s. Harvard’s Neil Borden, when becoming  the  president of the American Marketing Association, realized there was no set formula for successful marketing. Instead, the marketer must choose the best mix from the set of all possible mixes. Jerome  McCarthy later codified the mix in the classic 4Ps of marketing — product, price, place and promotion. The task of the marketing executive is to    control  or  to  influence on  all of the 4Ps  then  blend them to produce the best value.

The second fundamental idea is that marketing decisions should be based on a solid understanding  of target customers and other stakeholders.   These two core components — control of the marketing mix and customer oriented   which is then elaborated  as  STP  (Segmenting, Targetting and Positioning) — are fundamental to the field’s shared vision of marketing.  The question now : how   is this classic concept  viewed  by  the marketing practitioners?

To answer this question, we turned to the IBM 2011 Global CMO Study   interviewing more than 1,700 CMOs (Chief Marketing Officers)  from 64 countries and 19 industries. CMOs were asked to rate how much influence they have over each of the 4Ps. They rated their influence on a scale ranging from 1, “No influence,” to 5, “Full control.” CMOs were also asked to what extent their marketing organization captures, analyzes and acts on customer data.  The results reveal that on average CMOs rate themselves and their companies at the 3.5 level on the Full-Scale Marketing Index — distinctly below the top mark. The CMO survey provides insights into the reasons for this gap.

HOW CHIEF MARKETING OFFICERS RATE THEIR INFLUENCE

CMOs rate themselves and their companies most highly on the  promotion part of the marketing mix. On average they give themselves a 4.2, and at least 25% of companies indicate they have “full control” over promotion. That assessment is not surprising. Promotion has a natural link to marketing as an organizational function.

Control of the product element of the mix is rated next most highly at 3.5, followed by use of data at 3.4. Control over place gets a 3.2, and control over price a 3.1. At least 25% of companies score 2 or lower when it comes to controlling price, and the bottom quartile for place is 2.6 or lower. Clearly, the vision that marketers control aspects of decision-making beyond promotion has not been fully realized.

Do some companies not compliant to the marketing vision because they have embraced new technologies such as online marketing and social media? The researchers  checked whether there were differences of this kind in the companies surveyed. It turns out that organizations with high control over the 4Ps and data use are also the most forward-looking — with greater intentions to increase use of newer tactics such as tablet and mobile applications, social media, e-mail marketing and predictive analytics. Companies that have mastered traditional marketing tend to be the ones embracing the new forms.

Thus, marketing from time to time remains the same, only the difference is in  its emphasis  and type of media used depending on target market to  reach.

Marketing Mix’s Jerome McCarthy and Segmenting- Targeting-Positioning’s Phillips  Kotler still  maintain  the legacy in marketing world even in the era of technology  advancement.

case 1

Categories: Strategi | Tags: , , , | Leave a comment

Kalah Juga Indah Bro!

Sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan, karena yang menang selalu didengarkan termasuk ketika dia mengatakan ada ayam yang bisa menyanyikan lagu “Iwak Peyek”. Beda dengan orang yang gagal ; tidak ada yang mau mendengarkan karena kultur kita sudah terbiasa untuk melihat siapa yang mengatakan , bukan apa yang dikatakan.
Sekolah sebagai tempat di mana masa depan disiapkan rupanya ikut-ikutan. Melalui program serba juara yang direfleksikan dalam program akselerasi, program bertarif internasional , dll sekolah ikut memperkuat keyakinan bahwa ‘kalah itu musibah’. Sepak bola apalagi, jadi semua harus dilakukan demi kemenangan, laser, petasan, paranormal dll.
Pada International Conference on Business Management and Research yang baru baru ini diikuti oleh penulis, semua peserta yang notabene adalah para doktor dan professor dari universitas terkemuka di dunia, semuanya ingin menang dan ide idenya harus di ikuti. Itulah para dosen, makanya jangan heran kalau sampai sekarang satu satunya organisasi profesi yg tidak memiliki wadah adalah para dosen karena mau menang terus menginginkan idenya diakomodir.
Tempat kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semuanya mau pangkatnya naik. Tidak ada yang mau turun termasuk dunia politik yang diwarnai oleh perseteruan polisi lawan KPK. Dulu pak presiden kita ada yg menyebut namanya Susi….Lho, kemudian Pak JK dipanggil KOLO yg dalam mistis Jawa identik dengan pembawa bencana, dan Pak Amin pernah di panggil Amin Ra Iso. Semua hal tersebut terjadi karena tokoh ybs dianggap kalah. Dan yang terbaru ketika Dr. Foke yang lulusan luar negeri tapi minim prestasi harus tersungkur ketika berhadapan dengan Jokowi yang wong ndeso tapi prestasinya diakui oleh dunia. Bermacam alasan dan analisa penuh dengan versinya masing masing baik yang pakar politik beneran maupun pakar politik dadakan.

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Ia pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Namun seberapa besar pun energi maupun semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya. Karena itu dalam menanggapi kekalahan ada baiknya kita merenungkan kata resi manajemen Indonesia Gede Prama yang mengatakan :

“Membawa tropi sebagai simbol kemenangan itu indah. Dihormati karena menang juga indah. Tapi tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang pandangannya mendalam yang bisa melakukannya. Ibarat gunung, pemenang-pemenang itu serupa dengan batu-batu di puncak gunung. Mereka tidak bisa duduk di puncak gunung bila tidak ada batu-batu di dasar dan lereng gunung (baca: pihak yang kalah).”

Dan kita telah melihat bahwa bang Foke dengan jiwa besar telah menunjukkan hal ini dengan mengucapkan secara simpatik ucapan selamat kepada Jokowi dan siap untuk bekerja sama untuk membangun ibukota.

Sebenarnya kekalahan lebih memulyakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan seperti pisau tajam yang sedang melukai bambu yang akan jadi seruling yang mewakili keindahan.

Kesabaran, kerendahatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Ia yang sudah membuka pintu ini, akan berbisik: kalah juga indah!. Semua datang dan pergi (kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan), yang paling penting adalah bagaimana mengukir makna dari sana.
Jarang terjadi ada manusia yang mengukir makna mendalam ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah sekali membuat manusia tergelincir ke dalam kemabukan dan lupa diri.
Sebuah gelas yang berisi air, dimasukkan sesendok garam ke dalamnya dan diaduk, tentu setelah dicicipi ternyata asin rasanya. Beda ketika kolam luas disi dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air, rasa air tidak lagi asin.

Inilah yang terjadi dengan batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Tatkala batinnya luas tidak terbatas, tidak ada satu pun hal yang bisa membuat kehidupan jadi mudah asin rasanya.

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Persis ketika jam menunjukkan sekitar jam enam pagi, waktunya matahari terbit. Bila jam enam sore putaran waktu matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam, tidak saja akan menjadi korban canda tetapi juga korban karena kecewa. Seperti Amerika Serikat  yang sampai putarannya dipimpin oleh orang kulit hitam, Jakarta-pun sudah saatnya  sampai pada putaran dipimpin oleh orang dari Luar Jakarta.

Dan ketika bang Foke sudah menunjukkan bagaimana menyikapi kekalahan, tidak perlu lah ada dikalangan pendukung setia yang sampai bersabda bahwa Ibukota dipimpin oleh non muslim suatu kemunduran. Singapore dan Malaysia hanya dipisahkan oleh sebuah sungai, tetapi terlihat kemajuan yang sangat kontras antara kedua negara yang notabene satu negara di pimpin oleh non muslim dan satu adalah negara muslim.

Marilah kita dukung semua upaya untuk membuat ibukota negara kita menjadi lebih manusiawi!

Categories: Indonesiana, Politik | Tags: , | Leave a comment

The Innocence of Muslim: Lumpur Kering Yang Hilang Dijentik.

Akhir akhir ini  kita menyaksikan gelombang protes yang sangat keras   terhadap sebuah film pendek yang berjudul  “The Innocence of Muslim”.  The  Innocence  of Muslim    menurut Sky News   adalah sebuah film “anti-Islam” dan “dirancang untuk membuat marah umat Muslim” Menurut kantor berita Reuters, trailer film ini menggambarkan  Nabi Muhammad sebagai orang yang “bodoh, hidung belang, dan penipu agama”.NBC News juga menulis bahwa dalam film ini, Muhammad digambarkan sebagai seorang “casanova, homoseksual, dan pelaku pelecehan anak”.

Karya amatiran Sam Basile  ini dibuka dengan Muslim Mesir yang sedang membakar rumah-rumah umat Kristen Mesir, sementara pasukan keamanan Mesir hanya berdiri menyaksikan. Adegan berikutnya kembali ke zaman Nabi Muhammad. Istrinya, Khadijah, ditunjuk untuk membuat Al-Quran berdasarkan ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.Pengikut Nabi Muhammad digambarkan sebagai “pembunuh biadab yang haus kekayaan dan bertekad membunuh semua perempuan dan anak-anak”. Dalam salah satu kutipan di trailer, Nabi Muhammad disebut sebagai seekor keledai. Majalah Time menulis bahwa film ini juga menggambarkan bahwa Nabi Muhammad memiliki sisi “homoerotis.”

Dengan penggambaran semacam itu tidak mengherankan  bila  film ini menuai protes hampir diseluruh dunia, khususnya negara mayoritas berpenduduk muslim. Sebenarnya pada awal mulanya  film ini  tidak  laku dan hampir tidak mendapat viewer   di You Tube sekalipun. Semuanya berubah dan menjadi promosi  bagi film tersebut ketika Al Nash TV Mesir menyiarkan  secuil potongan film tersebut.

 

Pengunjuk rasa dari Forum Umat Islam (FUI) bentrok dengan aparat kepolisian di depan Kedubes Amerika Serikat Jakarta Pusat, Senin (17/9/2012).

Media memang telah menjadi lebih kuat daripada jenis senjata perusak manapun yang belum pernah  seorangpun  membayangkan. Seorang  idiot bernama Sam Basile  yang hampir tidak memiliki  pengetahuan ,etika dan profesionalme     berhasil menghasilkan sebuah film amatiran  bodoh menggelikan tentang Islam, menaruhnya di internet.  Hasilnya : Satu duta besar  tewas, ratusan terluka, ribuan orang lain terancam mati, dan protes  makin meningkat di  Timur Tengah, Malaysia, Indonesia dan seantero dunia. Sebuah film konyol dengan kualitas yang layak untuk mati perlahan dan damai di sudut berlumut internet tiba-tiba menyebabkan gelombang kerusuhan di seluruh dunia.  Jika anda  sudi meluangkan waktu  selama  14 menit   untuk  ,menonton   “The Innocence of Muslim”  maka hal ini hanya akan akan membantu untuk mengkonfirmasi inti dan pesan  : film ini dibuat untuk memicu agresi Muslim menjadi kekerasan, tepatnya apa yang kita saksikan saat ini. Produser Sam Bacile telah mencapai tujuannya  untuk membuat kaum Muslimin jatuh ke perangkapnya. Sekarang seluruh dunia sedang duduk di depan TV, berpikir dan bergumam sendiri: “Oh dear! Ini benar! Islam memang kekerasan “.

Inti dari konflik tidak lain dari ketidakcocokan klasik dalam pemahaman budaya. Dalam budaya  Barat,  dengan  tegas diputuskan bahwa kebebasan berbicara tidak bisa dikorbankan, tidak peduli  dengan isi tulisan yang sangat menghina sekalipun.  Sedangkan bagi kebanyakan  umat beragama lain, kebebasan berbicara tidak berarti kebebasan orang lain menyinggung agama orang lain. Juga di sini letak perbatasan yang berbahaya, sejauh mana sesuatu yang dapat dilihat sebagai penghinaan?

Selanjutnya,   adalah suatu kenaifan mendengar pengunjuk rasa menuntut pemerintah Barat untuk melarang   media yang memuat penghinaan dan penistaan tentang agama. Halo kawan kawan:  Ini adalah 2012,   era dimana seorang anak berusia 5 tahun praktis dapat bermain dengan notebook  orang tuanya   dan menyebarkan ke  seluruh dunia suatu rahasia  yang orang tuanya  rela mati demi   menyimpan rahasia tersebut. Dengan teknologi saat ini, kontrol mutlak menjadi tidak  mungkin.

Terakhir, marilah kita  melihat konsep  controlling (“mengendalikan”). Para demonstran  harus mengerti bahwa  pemerintah di beberapa negara-negara Barat tidak bertindak, dan tidak mungkin bertindak seperti orang tua. Mereka mengeluarkan  undang undang  berdasarkan proses demokrasi yang begitu ketat, persis seperti sistem demokrasi yang banyak rakyat Indonesia tuntut  di era reformasi dengan segala macam pengorbanannya sehingga tercapai demokrasi seperti sekarang ini.

So, responding to an idiot just make us  another idiot!  Jadi anggap saja film ini percikan lumpur, jangan dipegang selama ia  basah, besok ia takkan lebih dari debu kering yang hilang dijentik. Kalau film ini karya sineas terklenal macam Steven Spielberg yang menghasilkan  film seperti  Jurassic Park dan  Saving Private Ryan, okelah kita merespon habis habisan karena ada unsur kesengajaan profesional disitu. Sam Basile  yang nama aslinya adalah  Nakoula Basseley Nakoula   hanyalah  seorang yang pernah masuk penjara karena penggelapan dan kasus obat terlarang, kemudian mencari makan  dengan membuat film esek esek kelas murahan. Layakkah kita bereaksi  berlebihan terhadap seorang idiot seperti Sam Basile?

Categories: Politik | Tags: , | Leave a comment

Selamat Datang Akademisi, Pengusaha dan Tentara di Pentas 2014

Pemilu 2014 sudah menjelang dan tentunya disamping mengaku sebagai partai yang paling reformis dan  paling siap menyejahterakan rakyat Indonesia,   semua partai politik sudah siap dengan jagoan jagoannya masing masing untuk menarik simpati rakyat supaya memilih  partai yang bersangkutan. Sekalipun Partai politik tidak memiliki kemampuan mengerahkan dan mewakili kepentingan warga negara maupun menghubungkan warga negara dengan pemerintah, kata peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lili Romli (Kompas, 14/9?2012), ambisi  menjadi  politisi  kayanya semakin membuncah saja, kayanya sudah menjadi  lifestyle kalau  belum jadi poltisi hidup belum lengkap dan ini dibaca oleh parpol parpol sebagai suatu simbiosis mutualisme organisasi: individu perlu wadah (parpol) dan parpol perlu individu sebagai magnet mendapatkan suara. Persoalannya sekarang kira kira  makhluk  seperti apa yang sangat diminati oleh parpol? Kalau dulu para aktivis  yang kerap menentang kebijakan pemerintah  dan para artis baik penyanyi maupun pelawak banyak mendominasi kader kader partai, tampaknya dalam pemilu 2014 hal ini masih berlanjut. Lihat saja  Partai Golkar menawarkan tiga musisi terkenal yakni Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Syahrini untuk menjadi calon anggota legislatif dari Partai Golkar di Pemilu 2014. Tawaran itu disampaikan Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso yang  menyebut kondisi parlemen periode 2009-2014 menjadi berwarna setelah 18 artis menjadi anggota Dewan. Sebagian dari mereka, kata Wakil Ketua DPR itu, tak hanya sekadar terkenal, namun juga berkualitas..gak taulah kualitas macam apa bro?? Karena tujuan akhir dari politik adalah menjadi penguasa negara maka  semua  cara dianggap halal untuk mencapai tujuan jadi sah sah saja apa yang dilakukan oleh punggawa parpol termasuk mengutip ayat ayat seperti : Pilihlah yang berkumis (HR. Rasuna Said) dan semua ilmu dan jurus akan dikerahkan demi tujuan tersebut.

Penganut mazhab Hermawan  Kertajaya    tentu sangat  paham bahwa marketing sangat ditentukan oleh yang namanya momentum. Momentum kurang lebih  sama dengan musim, jadi kalau musih hujan ya  kita jangan jualan es, tapi yang hangat hangat saja.  Karena politik adalah momen lima tahun sekali maka banyak orang  beramai ramai mempertaruhkan investasi sosial dan politiknya di meja judi politik. Ini yang dikatakan  oleh Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Politik UI  sebagai Politisi Musiman. Ada yang membangun partai politik, ada pula yang sekadar indekos di partai politik. Komoditas politik yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari integritas, nasionalisme sampai ekonomi kerakyatan.

Dan sepertinya dengan menggunakan teori momentum  politisi musiman yang paling menarik bagi partai politik adalah  akademisi, pengusaha, dan tentara. Logikanya sederhana: partai membutuhkan pikiran dari akademisi, logistik dari pengusaha, dan keamanan dari tentara. Karena politisi musiman biasanya  bermodalkan dua hal: logistik dan jaringan sosial,  maka,  tugas parpol adalah membuat  program percepatan politik untuk mengubah mereka yang tadinya mengajar ekonomi pembangunan jadi politisi yang pintar memutar statistik. Pengusaha yang biasa berpikir laba diubah secara paksa jadi pekerja sosial yang berempati. Tentara pun mau tak mau harus diajari demokrasi .Akademisi yang punya ribuan teori di kepalanya,mendadak    mampu berbicara dengan ibu-ibu rumah tangga dengan teori ekonomi makro yang disederhanakan.

Sah sah saja sebagai warga negara  ketiga  golongan tersebut menjadi politisi musiman.  Tetapi selanjutnya kata Bung  Donny politik membutuhkan konsistensi dalam tindakan, ucapan, dan pikiran. Politik adalah seni keabadian. Untuk itu dia membutuhkan kesetiaan. Politisi musiman, sayangnya, hanya ikut rombongan orang yang berbondong-bondong memasuki lapangan politik. Dia, seperti orang kebanyakan, berpikir, ”Ah, siapa tahu kali ini berhasil.” Ketika politik tidak seperti yang dijanjikan dia pun melengos dan berkata, ”Ah, memang politik itu bukan jalan hidupku.” Dia tidak tahu bahwa politik bukan sesuatu yang dapat dinyalakan lalu dimatikan kembali. Politik adalah sesuatu yang wajib ditekuni secara serius. Politik meminta komitmen penuh apa pun yang terjadi. Begitu orang bersumpah menjadi politisi, dia mengikatkan diri pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, seumur hidup. Musim politik boleh datang dan pergi, tetapi politisi tidak pernah mati. Politik adalah keabadian kecuali buat mereka, para politisi dadakan.

Kita pernah terlalu berharap terhadap politisi politisi  muda  yang notabene memulai karirnya sebagai politisi musiman, dan kalau mereka tetap memilih sebagai politisi   sepanjang hayat sebelum dipecat oleh partainya, maka perlulah kita apresiasi  karena politik adalah abadi.

Kepada teman teman akademisi yang terpilih nantinya  semoga dapat memelihara keabadian tersebut.

Categories: Politik | Tags: , , , , | Leave a comment

Negeri Besar, Penduduk Banyak Susah Maju?

Perbincangan saya dengan teman teman yang sama sama tinggal di luar negeri dan mengawasi perkembangan tanah air dari kejauhan sering berakhir dengan kesimpulan :besarnya jumlah penduduk dijadikan alasan kesulitan dan kelambanan kemajuan, karena Brunei dan Singapore sering dijadikan acuan. Kemajuan China adalah suatu bantahan atas atas nalar ini. Dengan 1,3 miliar penduduk, China bisa meraih kemajuan dalam kecepatan mengagumkan. Inggris perlu waktu 100 tahun sejak revolusi industri untuk melipatgandakan kemakmurannya; Amerika Serikat perlu 50 tahun. China mencapainya belasan tahun.
Karena itu tulisan Yudi Latif Negeri “Besar Minus Komitmen|” dengan komitmen dari para elite penguasa sebagai tesis utama sangat menarik dan bisa dijadikan referensi bagi kita.
Rahasia di balik kesuksesan ini adalah komitmen elite pada integrasi nasional sehingga membuat negeri yang dirundung pertikaian panjang dapat mencapai persatuan dan perdamaian. Mao Zedong dengan segala kekurangannya dihormati sebagai Bapak Pemersatu Bangsa seperti ditahbiskan di dinding kota dan beragam cendera mata.

Komitmen elite memberdayakan rakyat dengan menjaga kesinambungan antara tradisi dan inovasi. Tradisi kerja keras, disiplin, dan kerja sama kolektif warisan konfusianisme dan revolusi kebudayaan diberi darah baru oleh desain institusional yang memberi ruang bagi kreativitas individu. Hal ini bermula dari kebijakan reformer Deng Xiaoping untuk mengurangi intensitas politisasi rakyat warisan kebijakan Great Leap Forward-nya Mao. Sejak 1978, kadar politisasi ekonomi dikurangi lewat rasionalisasi dan dekolektivisasi.

Komitmen elite memulihkan martabat bangsa yang memijarkan rasa bangga bagi penduduk menjadi warga China. Setiap warga berlomba memilih peran terbaik yang bisa disumbangkan bagi keagungan bangsa. Bersamaan dengan kemajuan ekonomi, muncul semacam kredo bahwa ”Washington Consensus” adalah trayek masa lalu. Trayek masa depan adalah ”Beijing Consensus”. Ketika elite Indonesia berebut bertemu Hillary Clinton, Wakil Presiden China membatalkan pertemuannya dengan Nyonya Clinton.

Komitmen elite mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberantas korupsi. Sistem sosial memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang berilmu, pemerintahan mengikuti sistem meritokrasi dengan diisi putra-putri terbaik. Kesadaran bahwa Barat bukan satu-satunya sumber ilmu mendorong kesetaraan pengakuan terhadap ilmu-ilmu warisan tradisi leluhur. Korupsi bukannya tidak ada, tetapi tidak dibiarkan jadi kewajaran dengan sanksi keras.

Komitmen elite menjadikan media sebagai wahana pemacauan optimisme dan kepercayaan diri. Para peraih medali emas di Olimpiade London satu per satu di-interview televisi dalam penobatan mereka sebagai pahlawan. Saluran berbahasa Inggris, CCTV News, terus-menerus menayangkan slogan ”The Country is undergoing tremendous transformation”. Dampak penayangan repetitif slogan ini mengonstruksikan persepsi positif dan kepercayaan penonton akan kehebatan kemajuan China.

Kembali ke Tanah Air, gairah kemajuan bangsa terasa dingin. Selama 14 tahun reformasi, Indonesia kehilangan begitu banyak momentum. Awal 1990-an, ketika China masih merangkak di landasan, Indonesia telah memasuki fase lepas landas. Kemajuan yang kita capai waktu itu menjadikan negara ini sebagai salah satu ”Asian Tigers”.

Integrasi nasional terganggu karena elite politik berlomba mengkhianati negara. Semua tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan pelayanan publik. Institusi demokrasi membiarkan politik berbiaya tinggi, yang merobohkan kewibawaan politik. Politik didikte kapital, pemerintahan disesaki medioker, korupsi merajalela mendorong perekonomian berbiaya tinggi.

Peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, tetapi justru kian teperdaya. Pertumbuhan ekonomi hanya memperkaya elite negeri dengan memarjinalkan rakyat kebanyakan. Elite negeri lebih bangga mendapat ”isapan jempol” penghargaan asing ketimbang penghargaan dari rakyatnya sendiri.

Ketertiban dan keselamatan warga kerap dikorbankan oleh motif pengalihan isu. Kekerasan difabrikasi sebagai mekanisme defensif kegagalan pemerintah.

Tekad belajar elite negeri berhenti sebagai pepesan kosong ”studi banding” sebagai modus penjarahan uang negara. Dunia pendidikan sibuk memancangkan slogan ”taraf internasional” meski sebenarnya hanyalah ”tarif internasional”. Jumlah profesor tumbuh dengan jejak karya yang makin sulit dikenali. Akademisi dan cendekiawan bukan berkontribusi memikirkan desain institusional memperbaiki mutu kepemimpinan, malahan turut merayakan banalitas politik sebagai kaki tangan modal melalui semacam tim audisi pemimpin idola dalam tarian pragmatisme jangka pendek. Media sibuk menayangkan kebebalan politik tanpa agenda setting yang bersifat konstruktif.

Elite Indonesia terlalu gemar gebyar lahir dan terlalu gaduh untuk perkara remeh-temeh tanpa komitmen pada isi hidup dan arah hidup. Ketika kawasan Pasifik menjadi pusat kemajuan baru dan Asian Free Trade di ambang pintu, Negeri Besar dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini justru terus terhinakan kewibawaannya oleh kesempitan dan kekecilan mentalitas elite pemimpinnya.

Bagaimana pendapat anda?

Categories: Ekonomi, Strategi | Leave a comment

7 (tujuh) PTN Indonesia Masuk Universitas Top Dunia versi Quacquarelli Symonds (QS)

Tidak mau kalah dengan olah raga tinju  yang paling banyak induk organisasi dunianya dan mengeluarkan peringkat petinju dunia berdasarkankan versinya sendiri sendiri,  Quacquarelli Symonds (QS) yang merupakan sempalan  dari   The Times Higher Education,  mengeluarkan peringkat universitas dunia termasuk perguruan tinggi di  Indonesia. Penilaian didasarkan pada enam parameter pemeringkatan yang dinilai QS World University Ranking, yaitu reputasi akademik, reputasi institusi, rasio mahasiswa dan dosen, sitasi per fakultas, staf internasional, dan mahasiswa internasional. Dengan kriteria  seperti ini Universitas Indonesia yang sangat agresif dalam melakukan kerjasama internasional dalam melaksanakan joint conference  dengan perguruan tinggi asing terkenal  setiap tahun menimpati urutan teratas. Pada tahun  2009  UI mengadakan joint conference dengan University of Adeilade, 2010 (lupa karena  saya tidak ikut), 2011   dengan Ateneo de  Manila yang dianggap Harvard-nya ASEAN, dan  bulan November 2012 ini dengan Ho Chi Minh Faculty of Economics Vietnam.

Image

Joint Conference Certificate  between  University of Indonesia and Ateneo Manila

Selanjutnya yang masuk dalam peringkat adalah   Universitas Gadjah Mada , Institut Teknologi Bandung  , Universitas Airlangga  , Institut Pertanian Bogor  , Universitas Diponegoro  dan tidak ketinggalan  Universitas Brawijaya tempat saya pernah melewatkan waktu waktu susah sebelum hengkang ke luar negeri.

Jika   QS Asian Ranking University 2012 dijadikan  standard, ada sembilan PTN dan satu PTS yang masuk daftar PT terbaik di Asia. Selain PTN yang masuk dalam daftar top dunia, perguruan tinggi Indonesia yang diakui di Asia yakni Universitas Padjadjaran, Universitas Udayana, dan  sangat mengejutkan masuknya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengalahkan PTS PTS terkenal di kota ini seperti UK Petra, Universitas Surabaya, dan Universitas Pelita Harapan.

Karena badan pemeringkat memiliki  kriteria masing masing, perguruan tinggi yang belum masuk peringkat dunia  tidak perlu berkecil hati dan mencak mencak, dan buat UI terlepas dari kisruhnya krisis  rebut rebutan jadi bos PTN besar ini, sekarang sudah saatnya  untuk menarik PTN PTN lain bekerja sama agar peringkat dunianya juga ikut naik, jangan lupa Universitas Indonesia punya kewajiban moral untuk  mengangkat Perguruan Tinggi  Negeri di Indonesia.

Selamat berjuang para akademisi  Indonesia  untuk memperbaiki peringkat ditataran global tidak peduli mau versi apa saja.

Categories: high education in Indonesia, Indonesiana | Tags: , | Leave a comment

Indonesian Universities the Weak Link in Booming Economy

Indonesia’s creaking university system is failing to keep pace with its booming economy, struggling to produce graduates equipped for modern working life in the Southeast Asian nation.

Investors have flocked to the fast-modernizing country of 240 million people, attracted by its huge domestic market, rich natural resources and relatively low labor costs.

But badly resourced universities mean quality graduates are a rare commodity in Indonesia, where companies find it difficult to recruit people who can think critically and make a smooth transition into employment.

“University graduates often lack the necessary skills employers need,” the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) said in a recent report on education.

The report observed gaps in “thinking, technical and behavioral skills,” based on a World Bank survey of employers, which found 20 to 25 percent of graduates needed retraining on the job.

Indonesian universities are “lagging behind” those of other nations and lack global competitiveness, the OECD report said, in contrast to nations such as India that produce doctors, engineers and scientists whose skills are in demand worldwide.

None of Indonesia’s 92 public universities or around 3,000 private colleges appeared among the world’s top 400 tertiary institutions in the latest Times Higher Education rankings, seen as one of the world’s most authoritative sources of higher education information.

This is despite the fact that Indonesia is often placed on the same rung of development as BRICS nations — Brazil, Russia, India, China and South Africa — all of which made the list.

Headhunter Lina Marianti, who works for JAC Recruitment in Jakarta, said foreign employers reject more than half the graduates she recommends for corporate positions.

“We provide the best graduates, but even our best are unable to meet employers’ expectations,” Marianti told AFP.

“They complain that local graduates are not able to apply theory to practice. They lack analytical and leadership skills, and they have poor command of English and product knowledge.”

‘Many expect to be spoon-fed’

Rina, a human resources manager for a foreign-based chemicals company, said that many students graduate in Indonesia without a positive work ethic.

“It’s hard to believe some of these young professionals are graduates. They send blank emails with no cover letters to apply for jobs, don’t turn up for interviews and resign via text message,” said Rina, who like many Indonesians goes by one name.

“Many expect to be spoon-fed. They constantly need to be told what to do on the job.”

Many affluent Indonesians circumvent the problems by going abroad to study and some win coveted scholarships, with more than 32,000 enrolled in overseas universities and colleges in 2009, according to UNESCO’s most recent figures.

High-ranking officials and successful businesspeople often have at least one degree from a foreign university on their CVs, with Australia, the United States, Germany and the Netherlands among the top destinations.

Indonesian International Education Consultants Association chairman Sumarjono Suwito said Indonesia was going in the right direction, but suffered in comparison with its Asian rivals.

“Countries like China, India, Singapore, Malaysia and most recently Thailand have focused on education or have allocated ample funds to it,” he said.

“In the last five years, Indonesia has been doing a lot of catching up, but progress is still slow.”

The education sector is also hobbled by the corruption that is rife at all levels in the country.

Funds are siphoned off, poorly maintained school buildings collapse with sometimes fatal consequences and there is a widespread culture of cheating by school students just to get into tertiary education.

The frustrations are felt by students in the system, who complain their universities’ facilities and lecturers are under par.

“Some of my lecturers postpone lessons and just don’t turn up without letting anyone know,” said University of Indonesia health administration student Lentari Pancar Wengi, 19.

Wiyogo Prio Wicaksono, 21, a third-year chemistry student at the same university, in Jakarta, said he devotes time to extra-curricular activities after lessons to develop non-academic skills and network with industry players.

“My friends who keep their jobs are often those who got mediocre results at university, but they know the who’s who of the industry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories: high education in Indonesia | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.