The Innocence of Muslim: Lumpur Kering Yang Hilang Dijentik.

Akhir akhir ini  kita menyaksikan gelombang protes yang sangat keras   terhadap sebuah film pendek yang berjudul  “The Innocence of Muslim”.  The  Innocence  of Muslim    menurut Sky News   adalah sebuah film “anti-Islam” dan “dirancang untuk membuat marah umat Muslim” Menurut kantor berita Reuters, trailer film ini menggambarkan  Nabi Muhammad sebagai orang yang “bodoh, hidung belang, dan penipu agama”.NBC News juga menulis bahwa dalam film ini, Muhammad digambarkan sebagai seorang “casanova, homoseksual, dan pelaku pelecehan anak”.

Karya amatiran Sam Basile  ini dibuka dengan Muslim Mesir yang sedang membakar rumah-rumah umat Kristen Mesir, sementara pasukan keamanan Mesir hanya berdiri menyaksikan. Adegan berikutnya kembali ke zaman Nabi Muhammad. Istrinya, Khadijah, ditunjuk untuk membuat Al-Quran berdasarkan ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.Pengikut Nabi Muhammad digambarkan sebagai “pembunuh biadab yang haus kekayaan dan bertekad membunuh semua perempuan dan anak-anak”. Dalam salah satu kutipan di trailer, Nabi Muhammad disebut sebagai seekor keledai. Majalah Time menulis bahwa film ini juga menggambarkan bahwa Nabi Muhammad memiliki sisi “homoerotis.”

Dengan penggambaran semacam itu tidak mengherankan  bila  film ini menuai protes hampir diseluruh dunia, khususnya negara mayoritas berpenduduk muslim. Sebenarnya pada awal mulanya  film ini  tidak  laku dan hampir tidak mendapat viewer   di You Tube sekalipun. Semuanya berubah dan menjadi promosi  bagi film tersebut ketika Al Nash TV Mesir menyiarkan  secuil potongan film tersebut.

 

Pengunjuk rasa dari Forum Umat Islam (FUI) bentrok dengan aparat kepolisian di depan Kedubes Amerika Serikat Jakarta Pusat, Senin (17/9/2012).

Media memang telah menjadi lebih kuat daripada jenis senjata perusak manapun yang belum pernah  seorangpun  membayangkan. Seorang  idiot bernama Sam Basile  yang hampir tidak memiliki  pengetahuan ,etika dan profesionalme     berhasil menghasilkan sebuah film amatiran  bodoh menggelikan tentang Islam, menaruhnya di internet.  Hasilnya : Satu duta besar  tewas, ratusan terluka, ribuan orang lain terancam mati, dan protes  makin meningkat di  Timur Tengah, Malaysia, Indonesia dan seantero dunia. Sebuah film konyol dengan kualitas yang layak untuk mati perlahan dan damai di sudut berlumut internet tiba-tiba menyebabkan gelombang kerusuhan di seluruh dunia.  Jika anda  sudi meluangkan waktu  selama  14 menit   untuk  ,menonton   “The Innocence of Muslim”  maka hal ini hanya akan akan membantu untuk mengkonfirmasi inti dan pesan  : film ini dibuat untuk memicu agresi Muslim menjadi kekerasan, tepatnya apa yang kita saksikan saat ini. Produser Sam Bacile telah mencapai tujuannya  untuk membuat kaum Muslimin jatuh ke perangkapnya. Sekarang seluruh dunia sedang duduk di depan TV, berpikir dan bergumam sendiri: “Oh dear! Ini benar! Islam memang kekerasan “.

Inti dari konflik tidak lain dari ketidakcocokan klasik dalam pemahaman budaya. Dalam budaya  Barat,  dengan  tegas diputuskan bahwa kebebasan berbicara tidak bisa dikorbankan, tidak peduli  dengan isi tulisan yang sangat menghina sekalipun.  Sedangkan bagi kebanyakan  umat beragama lain, kebebasan berbicara tidak berarti kebebasan orang lain menyinggung agama orang lain. Juga di sini letak perbatasan yang berbahaya, sejauh mana sesuatu yang dapat dilihat sebagai penghinaan?

Selanjutnya,   adalah suatu kenaifan mendengar pengunjuk rasa menuntut pemerintah Barat untuk melarang   media yang memuat penghinaan dan penistaan tentang agama. Halo kawan kawan:  Ini adalah 2012,   era dimana seorang anak berusia 5 tahun praktis dapat bermain dengan notebook  orang tuanya   dan menyebarkan ke  seluruh dunia suatu rahasia  yang orang tuanya  rela mati demi   menyimpan rahasia tersebut. Dengan teknologi saat ini, kontrol mutlak menjadi tidak  mungkin.

Terakhir, marilah kita  melihat konsep  controlling (“mengendalikan”). Para demonstran  harus mengerti bahwa  pemerintah di beberapa negara-negara Barat tidak bertindak, dan tidak mungkin bertindak seperti orang tua. Mereka mengeluarkan  undang undang  berdasarkan proses demokrasi yang begitu ketat, persis seperti sistem demokrasi yang banyak rakyat Indonesia tuntut  di era reformasi dengan segala macam pengorbanannya sehingga tercapai demokrasi seperti sekarang ini.

So, responding to an idiot just make us  another idiot!  Jadi anggap saja film ini percikan lumpur, jangan dipegang selama ia  basah, besok ia takkan lebih dari debu kering yang hilang dijentik. Kalau film ini karya sineas terklenal macam Steven Spielberg yang menghasilkan  film seperti  Jurassic Park dan  Saving Private Ryan, okelah kita merespon habis habisan karena ada unsur kesengajaan profesional disitu. Sam Basile  yang nama aslinya adalah  Nakoula Basseley Nakoula   hanyalah  seorang yang pernah masuk penjara karena penggelapan dan kasus obat terlarang, kemudian mencari makan  dengan membuat film esek esek kelas murahan. Layakkah kita bereaksi  berlebihan terhadap seorang idiot seperti Sam Basile?

Categories: Politik | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: