Kalah Juga Indah Bro!

Sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan, karena yang menang selalu didengarkan termasuk ketika dia mengatakan ada ayam yang bisa menyanyikan lagu “Iwak Peyek”. Beda dengan orang yang gagal ; tidak ada yang mau mendengarkan karena kultur kita sudah terbiasa untuk melihat siapa yang mengatakan , bukan apa yang dikatakan.
Sekolah sebagai tempat di mana masa depan disiapkan rupanya ikut-ikutan. Melalui program serba juara yang direfleksikan dalam program akselerasi, program bertarif internasional , dll sekolah ikut memperkuat keyakinan bahwa ‘kalah itu musibah’. Sepak bola apalagi, jadi semua harus dilakukan demi kemenangan, laser, petasan, paranormal dll.
Pada International Conference on Business Management and Research yang baru baru ini diikuti oleh penulis, semua peserta yang notabene adalah para doktor dan professor dari universitas terkemuka di dunia, semuanya ingin menang dan ide idenya harus di ikuti. Itulah para dosen, makanya jangan heran kalau sampai sekarang satu satunya organisasi profesi yg tidak memiliki wadah adalah para dosen karena mau menang terus menginginkan idenya diakomodir.
Tempat kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semuanya mau pangkatnya naik. Tidak ada yang mau turun termasuk dunia politik yang diwarnai oleh perseteruan polisi lawan KPK. Dulu pak presiden kita ada yg menyebut namanya Susi….Lho, kemudian Pak JK dipanggil KOLO yg dalam mistis Jawa identik dengan pembawa bencana, dan Pak Amin pernah di panggil Amin Ra Iso. Semua hal tersebut terjadi karena tokoh ybs dianggap kalah. Dan yang terbaru ketika Dr. Foke yang lulusan luar negeri tapi minim prestasi harus tersungkur ketika berhadapan dengan Jokowi yang wong ndeso tapi prestasinya diakui oleh dunia. Bermacam alasan dan analisa penuh dengan versinya masing masing baik yang pakar politik beneran maupun pakar politik dadakan.

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Ia pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Namun seberapa besar pun energi maupun semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya. Karena itu dalam menanggapi kekalahan ada baiknya kita merenungkan kata resi manajemen Indonesia Gede Prama yang mengatakan :

“Membawa tropi sebagai simbol kemenangan itu indah. Dihormati karena menang juga indah. Tapi tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang pandangannya mendalam yang bisa melakukannya. Ibarat gunung, pemenang-pemenang itu serupa dengan batu-batu di puncak gunung. Mereka tidak bisa duduk di puncak gunung bila tidak ada batu-batu di dasar dan lereng gunung (baca: pihak yang kalah).”

Dan kita telah melihat bahwa bang Foke dengan jiwa besar telah menunjukkan hal ini dengan mengucapkan secara simpatik ucapan selamat kepada Jokowi dan siap untuk bekerja sama untuk membangun ibukota.

Sebenarnya kekalahan lebih memulyakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan seperti pisau tajam yang sedang melukai bambu yang akan jadi seruling yang mewakili keindahan.

Kesabaran, kerendahatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Ia yang sudah membuka pintu ini, akan berbisik: kalah juga indah!. Semua datang dan pergi (kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan), yang paling penting adalah bagaimana mengukir makna dari sana.
Jarang terjadi ada manusia yang mengukir makna mendalam ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah sekali membuat manusia tergelincir ke dalam kemabukan dan lupa diri.
Sebuah gelas yang berisi air, dimasukkan sesendok garam ke dalamnya dan diaduk, tentu setelah dicicipi ternyata asin rasanya. Beda ketika kolam luas disi dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air, rasa air tidak lagi asin.

Inilah yang terjadi dengan batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Tatkala batinnya luas tidak terbatas, tidak ada satu pun hal yang bisa membuat kehidupan jadi mudah asin rasanya.

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Persis ketika jam menunjukkan sekitar jam enam pagi, waktunya matahari terbit. Bila jam enam sore putaran waktu matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam, tidak saja akan menjadi korban canda tetapi juga korban karena kecewa. Seperti Amerika Serikat  yang sampai putarannya dipimpin oleh orang kulit hitam, Jakarta-pun sudah saatnya  sampai pada putaran dipimpin oleh orang dari Luar Jakarta.

Dan ketika bang Foke sudah menunjukkan bagaimana menyikapi kekalahan, tidak perlu lah ada dikalangan pendukung setia yang sampai bersabda bahwa Ibukota dipimpin oleh non muslim suatu kemunduran. Singapore dan Malaysia hanya dipisahkan oleh sebuah sungai, tetapi terlihat kemajuan yang sangat kontras antara kedua negara yang notabene satu negara di pimpin oleh non muslim dan satu adalah negara muslim.

Marilah kita dukung semua upaya untuk membuat ibukota negara kita menjadi lebih manusiawi!

Categories: Indonesiana, Politik | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: