Monthly Archives: October 2012

Shame Culture (Budaya Malu), Guilt Culture (Budaya Bersalah) or No Culture?

Pada  tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog  dalam bukunya yang berjudul  The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture (Budaya Malu) dan Guilt Culture (Budaya Bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian  bagaimana pola pikir Barat  dan Timur.  Barat  di kategorikan sebagai guilt culture dimana  orang merasa  bersalah kalau melakukan sesuatu perbuatan yang salah sekalipun tidak ada yang melihat. Contohnya di Jerman dan negara negara Eropa Barat (kecuali Inggris), kalau anda naik kereta api dan bis dalam kota  tidak ada yang memeriksa apakah anda punya tiket atau tidak, tapi orang orang yang menggunakan moda transport tersebut tetap membeli tiket sesuai dengan tujuannya masing masing karena mereka merasa bersalah (guilt) kalau naik transportasi umum tidak membayar. Sebaliknya suatu bangsa  yang  menganut  shame culture, orang akan terus melakukan sesuatu  perbuatan  yang salah  dan merasa nyaman saja  dan akan merasa malu (shame) kalau ketahuan. Nah tahu kan sekarang alasannya kenapa sampai ada  yang berani sumpah gantung di Monas  segala  demi  tidak mendapat malu karena  dalam konsep shame culture  semuanya ditandai oleh rasa malu dan disini tidak dikenal rasa bersalah. Menurut pandangan ini budaya malu (shame  culture) adalah kebudayaan dimana  kata kata seperti “hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila seseorang melakukan suatu kejahatan, hal ini  tidak dianggap  sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, tetapi boleh disembunyikan demi kepentingan yang lebih besar. Malapetaka  hanyalah terjadi  bilamana kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain sehingga pelaku kehilangan muka. Jadi jangan heran bro..kalau laporan KPK di intervensi, kasus Century masih kabur, KPK dan Polisi  saling berantem semuanya itu dilakukan demi menyelamatkan yang namanya hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi.

Image

No  train ticket checking in Germany

Ketika terjadi promosi jabatan untuk sejumlah bekas terpidana korupsi di Provinsi Kepulauan Riau  beberapa pakar berkomentar: “rasa malu di kalangan pejabat publik Indonesia semakin menipis”. Jika dibiarkan, kondisi ini rawan menyuburkan praktik korupsi di pemerintahan. “Kalau punya malu, mereka semestinya tak bekerja lagi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), apalagi kemudian diangkat menjadi pejabat publik,” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia, Salim Said, di Jakarta, Rabu (24/10/2012).Menurut Salim Said, pengangkatan para mantan terpidana korupsi sebagai pejabat itu mencerminkan bahwa orang tak merasa malu lagi untuk bekerja melayani publik meski cacat moral. Orang yang terbukti korup itu berarti telah mengkhianati amanat melayani rakyat.

“Enak saja, mereka sudah korup, diadili dan terbukti korupsi, dijatuhi hukuman, kok malah balik lagi menjadi pejabat. Mereka harus mundur dari jabatannya,” kata Salim.  “Siapa saja yang pernah dihukum karena korupsi tidak boleh lagi diangkat menjadi pejabat publik dalam semua tingkat selamanya,” katanya.

Wajar saja Prof  Salim geram, tapi kalau  Ruth Benedict masih hidup dan sekalipun terdapat pro dan kontra terhadap doktrinnya dikalangan para antropolog,  melihat fakta di mana  orang yang jelas jelas  bersalah (guilt) tapi tetap saja tidak memiliki rasa malu (shame)  mungkin beliau akan menambah satu  lagi tipologi nya  menjadi  No Culture  khusus  kepada   orang orang semacam ini. Diawal awal penelitiannya  Ruth Benedict menggunakan  sampel  Amerika sebagai guilt culture dan Jepang sebagai  shame culture.  Tapi penelitian yang dilakukan oleh Prof. Creighton dari University of British Columbia  Vancouver  membuktikan bahwa orang Jepang ternyata lebih ke guilt culture.  Sifat  kesahihan penelitian ilmu sosial adalah  tentatif: diterima   bila sementara  belum ada teori baru yang menyanggahnya.  Lihat saja  tipologi dimensi Hofstede National Culture yang awalnya cuma ada empat: Power Distance, Uncertainty Avoidance, Masculine  vs Feminine, Collectivism vs Individualism, begitu sampai ke Asia timbul satu dimensi baru yang namanya Long Term Orientation. Melihat fakta fakta yang terjadi di negara tercinta, tidak kah anda merasa malu bila  satu dimensi yang bernama No Culture atau apapun namanya akan  muncul dengan mengambil sampel  Indonesia?

Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | 1 Comment

Bahasa Negara Jiran.

Sekalipun  Bahasa Indonesia  dan   Bahasa  Melayu (Malaysia) merupakan bahasa  serumpun, beberapa  kosa kata  bisa (Melayu = boleh)  menyebabkan salah pengertian. Beberapa    orang teman Indonesia  yang mengadakan  kunjungan ke  markas besar (Melayu = Ibu Pejabat) suatu perguruan tinggi  sering  begitu  kunjungannya selesai yang buru buru dilakukan adalah mencari tempat  untuk pipis karena saking kebeletnya.  Usut punya usut ternyata mereka  sekalipun ke toilet (Melayu = tandas ) tidak berani  pipis karena ada tulisan KAKI TANGAN SAHAJA. Nah sekalipun ke  toilet  mereka tidak berani pipis cuman nyuci kaki dan tangan doang..nah nyaho kan, padahal kaki tangan itu maksudnya adalah  staff. Di Malaysia kalau  menggunakan kata kamar kecil untuk   membuang air kecil akan  dibetulkan dengan , ”gi tandas ke?” Tentu saja orang Indonesia merasa tidak nyaman   dengan  kata tersebut karena   agak aneh  akibat pengaruh kalimat ini: Saya makan  ubi rebus  ini hingga licin tandas –  yang bisa berkonotasi   malu seleranya masih makan  telo sambit ngumpet di toilet.


Yang sudah sering bepergian ke wilayah wilayah Malaysia atau tinggal  akan melihat dan merasakan   bahwa  bahasa Melayu tidak baku dalam penggunaannya sehingga mulai dari Johor, Negeri Sembilan, Selangor sampai di ujung Semenanjung Malaysia yakni Kelantan bahasa Melayu yang digunakan jauh berbeda penggunaannya. Sekalipun saya tinggal di Malaysia cukup lama, sampai sekarang saya tidak akan pernah paham  bahasa Kelantan (sering dipelesetkan jadi Kelate). Ditambah lagi dengan gaya anak mudanya yang mencampur baurkan bahasanya dengan bahasa Inggris. Bahasa Melayu diucapkan dengan medok oleh etnis China dan menggoyang-goyangkan kepala gaya nehi nehi oleh etnis India.Anak-anak muda lebih suka berbahasa Caca Merba (campur baur dengan bahasa prokem, bahasa etnis dan bahasa Inggris) hal ini tercermin dari drama-drama dan film-film yang mereka buat.
I nak letak kete(kereta) dekat townhouse sana” “ you pigi sana lah , tak payah bising-bising…”  You nak makan Tahu dengan I ke?  KALAU YANG INI PASTI NGGAK ADA YANG MAU, karena Tahu tu dengan u, kalo dengan I jadi Tahi ..gitu lho ,   dan sebagainya. Itu gaya bahasa yang seringkali terdengar. Orang Malaysia memang menggunakan istilah Inggris untuk berbahasa. Bagaimanapun mereka merupakan commonwealth Inggris. Contohnya dalam mengeja huruf: e bi si di ie ef ji dan seterusnya.  Orang Indonesia  sering   tampak kurang suka ketika lulusan Malaysia  ditanya : “Dimana ambil PhD?”, dan dijawab, “Yu ke em” maksudnya adalah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bukan maksudnya kebarat baratan tapi ya spellingnya memang seperti itu bukan  “U ka em”. sebut saja U ka em, U em, U tem jamin tidak ada yang tahu karena di Malaysia  dilafalkan  Yu ke em,Yu em,  Yu tem .
Kalau bahasa Indonesia mempunyai aturan bagaimana kaidah penulisan serapan dari unsur bahasa Inggris, misalnya yang berakhiran “ion” menjadi si, misalnya administration > administrasi, illustration > illustrasi, television > televisi, sebaliknya Bahasa Melayu cenderung menyerap bahasa Inggris dengan bebas dan dicampur dengan percakapan Bahasa Melayu sehari hari. Jadi bahasa Inggris dimelayukan seperti: bas untuk bus, epal untuk apple, stesen untuk station, berus untuk brush, selipar untuk slipper, kek untuk cake, lesen untuk licence, bek untuk bag, tayar untuk tire, wayar untuk wire, vasu untuk vase, ais untuk ice, saman untuk summon, lokap untuk lock up, polis untuk police, polisi untuk policy, dan lain sebagainya. Jangan heran jika makcik-makcik dan abang-abang di pasar-pasar dengan lancar berbicara,”Tak sure lah” atau “So, cam mane nak ape lagi?”.
Disamping itu penggunaan kata “sedap” yang digunakan untuk menyatakan tentang rasa yang menyenangkan di semua lini, sementara dalam bahasa Indonesia kata tersebut hanya untuk menyatakan rasa makanan. Jadi jangan heran kalau suara Rosa penyanyi yang saat ini ngetop di Malaysia dikatakan: :suara Rosa sedap, yang baru datang dari Bandung (tempat favorit orang Malaysia) akan ditanya: Bandung sedap?

Ketika saya baru baru bertugas di salah satu universiti (Ind: Universitas), seorang professor yang bertemu saya di ruang mensyuarat (Ind: rapat) bertanya” Awak duduk kat mane?” Saya dengan wajah polos menjawab,”Duduk dimana-mana saja”, dan Profesor itu segera memperlihatkan mimik wajah kurang suka pada saya. Mengapa beliau tidak suka, belakangan saya baru tahu arti kata “duduk” yang berarti “tempat tinggal”. Ia menanyakan dimana rumah saya , dan ia menganggap saya tidak menjaga maruah (Ind: martabat) universiti karena sebagai pensyarah (IND: dosen) suka tinggal dimana-mana tidak punya rumah tetap, sementara saya mengira ia bertanya soal tempat duduk di ruang rapat.

Kawan saya Dr. Martinus yang bertugas lebih awal dari saya juga mengalami salah paham soal bahasa ini. Beliau mendapat telpon dari kawan Malaysianya,”Dr, saye jemput ye pukul 8 dekat rumah ada majlis hari jadi (IND = hari ulang tahun) saye”. Dr. Martinus betul-betul menunggu dijemput pada pukul 8 malam itu.
Sayangnya “menjemput” artinya adalah mengundang, sehingga Dr. Martinus memang harus gigit jari dan nyumpah nyumpah karena semalaman kawannya tak muncul juga untuk membawanya ke acara hari ulang tahun.

Di kampus kampus sering tertulis poster:

Semua dijemput hadir ke Seminar Motivasi, pakar Motivasi Ternama. Masuk adalah percuma.

Di Malaysia, percuma bermakna ‘gratis’ atau ‘tidak membayar apapun’ sudah lama tidak kita gunakan . Kata ‘percuma’ sekarang karena perkembangan bahasa menjadi bermakna ‘sia-sia’ atau ‘tiada gunanya’. Kalau dalam hal ini penggunaan kata gratis Indonesia sama dengan kata gratis dalam bahasa Belanda dan Jerman.

Ketika saya posting beberapa gambar sedang bepergian di FB saya, maka komen yang ada adalah : “Seronoknya makan angin ” artinya: “Asyik ya jalan-jalan ”.

Kata lain yang perlu diperhatikan adalah kata “beta” yang masuk dalam kategori bahasa melayu tinggi dan hanya raja yang boleh menggunakannya untuk menunjukan “saya”, sementara di Indonesia adakah yang mau (di Pulau Jawa utamanya) membahasakan “saya” dengan “beta”?

Doktor doktor Indonesia yang mbalelo  mengajar di Malaysia biasanya adalah segelintir putra putra terbaik  dan biasanya memiliki  kemampuan diatas rata rata  sehingga sering mendapat pujian  dari mahasiswanya dengan  mengatakan:  “seronoknya belajar dengan Dr. A kerana beliau memiliki  KELAINAN”  maksudnya ; belajar dengan Dr. A sangat menyenangkan karena  beliau memiliki kelebihan.  Seorang mahasiswa  kalau di Indonesia  berani mengatakan dosennya memiliki kelainan, bisa  bayangkan deh apa yang bakalan terjadi?  Sebaliknya,  di Malaysia  para dosen (pensyarah) akan sangat bangga kalau dikatakan memiliki kelainan.

Sekalipun serumpun, masih banyak kosa kata yang perlu diperhatikan untuk menghindari misunderstanding. Dan kalau anda menemui kata kata seperti ini, janganlah coba untuk mengerti karena saya pun tidak paham.

“Hang mai la sini sat. Aku nak ajak hang pi nat sat.”
(Perlis, Kedah, Pulai Pinang)

“Teman suke ghomah tepi pante”. (Perak)

“Mu nok gi make mano?” (Kelantan)

Adapted from:  Kompas.com   Cita Rasa Bahasa Melayu di Malaysia

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: | 1 Comment

Relying on Social Media for Selling?…Be Ready to get disappointed!

From:    

If you believe  in social media advertising  too much..be ready  to get disappointed now. That is according to Robert Berkman (2012)  in  No Sales For Social?Although a company’s social site can do well for branding, loyalty and customer word of mouth, new research from Forrester shows that social sites are not currently creating direct sales.A just-released study by Forrester Research, which tracked the origins of digital purchases, found that fewer than 1% of over 77,000 transactions could be attributed directly to social sites. The study, “The Purchase Path of Online Buyers in 2012,” was written by Sucharita Mulpuru with Patti Freeman Evans and Douglas Roberge. The researchers examined 77,000 consumer orders between April 1 and April 14 2012 to figure out how shoppers touched various digital marketing channels such as search, email and social before making a purchase. The result can be observed in the following chart.
 

  

As the chart illustrates, for new customers, the most common ways they arrived at a purchase were direct visits (20%), organic search (16%) and then paid search (11%), with some variation based on whether or not there were one or two preceding touch points. In both cases, though, social represented less than 1%. For repeat customers, email gets a higher response, with 30% coming from that route (13% after reading the email and 17% after seeing the email and interacting with other marketing forms), with other channels like organic and paid search following depending on whether there was one or two touch points involved. Again, though, social represented less than 1% of the path leading to a direct sale.
The key question is: What to make of this?
The research did not track small businesses, which, in fact, Mulpuru herself has said do perform better with social commerce, particularly in Facebook stores.

Another important factor is that the research does not comment on whether those social sites were trying to deliver sales. It measures how social is being used now — and more often than not, social sites are not set up to produce direct sales. It also does not show if any sites that were set up to produce direct sales were done in any kind of effective or ineffective manner.
We don’t want to minimize the results, though. We think the research does show precisely what it says: that at this point in time, sales are not coming directly from social sites. This fact should be an important consideration in how businesses think about their social business activity: in short, don’t count on it for direct sales.

So after reading this, would your confidence in the value of social business decrease if you learned that only a very small portion amount of business’s direct sales originated from social links?

Anyway, one thing that you should remember is that this research not included small-scale business which recently counts on Facebook as advertising channel. I still believe that for this type of business Social media Advertising still do mainly for Indonesia, where the most Facebookers reside.

Categories: Marketing | Tags: | Leave a comment

Target Seratus Ribu Doktor Pada 2015; Terus inyong kudu muni “WOW” kaya kuwek?

Indonesia menargetkan jumlah pemegang gelar doktor mencapai seratus ribu orang pada 2015. Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar Internasional Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA).”Jika Indonesia memiliki doktor yang banyak, inovasi dan ilmu pengetahuan akan maju dengan pesat,” kata Musliar, Minggu (26/8/2012). Sepertinya beliau sangat percaya bahwa kuantitas sangat menentukan. Sebenarnya apa sih uniknya doktor sehingga banyak orang-orang yang kebelet dengan gelar tersebut  sampai sampai tokoh nasional macam Pak Be ye, Pak  Akbar Tanjung  dan   Marissa Haque, konon katanya sampai harus membuat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala supaya dapat gelar tersebut.  Kalau di luar negeri sebutan Doktor  adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang berhasil  menyelesaikan susahnya   program PhD  (Doctor  of Philosopy). Jadi PhD adalah titel  bukan panggilan, sedangkan di Indonesia  PhD diselewengkan jadi Pas Hampir D.O yang  lebih berupa olok olok kepada mereka yang menyelesaikan  Program Doktor  karena dikasihani. Orang awam kalau ditanya jawabnya  Doktor itu ya S3, TERUS YANG MEMBEDAKAN KEAHLIANNYA DENGAN  S2 dan S1 apa..karena kadang kadang ada   ungkapan sinis, pendidikan S3 tapi keahlian  S1..jangan marah bro kalau ente masuk yang gitu karena dilapangan gejala seperti itu ada.  Nah supaya yang  bergelar doktor tidak petentang petenteng dengan gelarnya dan  masyarakat bisa menilai doktor beneran atau doktor humoris causa, marilah kita bersama lihat apa yang dikatakan oleh  Profesor Matthew Might, seorang ahli  ilmu komputer dari the University of Utah makhluk macam apa  sang doktor tersebut.  Karena sulit menggambarkan dengan kata kata beliau menggunakan gambar seperti dibawah ini:

Bayangkan  satu lingkaran yang berisi  pengetahuan semua  umat manusia di muka bumi.

Ketika kita menamatkan sekolah dasar, kita mengetahui sedikit.

Ketika kita menyelesaikan sekolah menengah pertama dan atas, pengetahuan kita bertambah sedikit lagi.

Ketika  kita menyelesaikan  sarjana muda, kita mulai memiliki keahlian khusus.

Gelar master (magister)  mempertajam spesialisasi tersebut.


Membaca  secara intensif jurnal jurnal berkualitas  dalam dan luar negeri (bukan jurnal yang termasuk dalam blacklist ini http://www.tempo.co/read/news/2012/08/30/061426338/Waspadai-Daftar-Jurnal-Hitam-Berikut)  akan membawa anda ke  titik puncak  pengetahuan umat manusia dalam bidang yang menjadi spesialisasi anda.

Ketika anda berada di tataran tersebut anda harus  fokus untuk  mencari  celah yang bisa anda isi.

Pada saat anda berada di tataran ambang batas tersebut, anda harus menghabiskan waktu bertahun tahun untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang akan anda lakukan memberikan sumbangan yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Hingga suatu saat ambang batas tersebut berhasil anda lewati.

Dan ketika anda sudah berhasil mengisi ruang sangat kecil tersebut barulah anda layak di sebut Doktor dan ketika kriteria ini terpenuhi dengan senang hati inyong kudu muni “Wow” kaya kuwek.

Jadi, kesimpulannya jangan lupa dari lingkaran besar tersebut ada satu yang menjadi keunikan anda. Meminjam istilah Steven Coveys pencetus kebiasaan ke 8 : Find your voice and inspire others to find theirs (Tunjukan ente siapa dan inspirasikan orang lain untuk menemukan jati diri mereka siapa), pemegang gelar doktor more less seperti itu lah.

Nah saya yakin pak Wamen pingin Doktor beneran yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan bangsa ini. Selamat berjuang putra putra bangsa terbaik, tunjukan bahwa anda layak jadi doktor dan ketika anda mendepatkan gelar tidak di respon: Terus gue harus bilang “WOW” gitu?? Dados kawula kedah matur “WOW” mekaten? D’ailleurs dois-je dire “WOW” ?

Dan kepada kawan kawan yang sudah jadi doktor jangan lupa, di era WEB 3.0, kalau tidak sampai pada tataran standar janganlah berkecil hati kalo dikatakan pendikan S3 tapi keahlian S1 (mohon maaf kalo tulisan ini dijadikan alat sebagai pisau analisa). Dan juga: PhD holders without international publication is like You Tube without music, FB with no friends, Twitter with no followers and Google with no result.

So now you understand  my PhD holder friends, mengapa Pak  Menteri Muh. Nuh  mensyaratkan harga mati  publikasi internasional di jurnal berkualitas, bukan jurnal abal abal untuk persyaratan menjadi guru besar. Contoh Jurnal abal abal seperti African Journal of Agricultural Research (AJAR) yang menampilkan nama Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis dalam salah satu artikel di jurnal dengan judul “Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-Temporal Satellite Imagery” yang dimuat di volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044, yang terbit 24 Juli 2012. Ternyata setelah ditelusuri tulisan itu diambil dari tulisan Arika Brdhikitta dan Thomas J. Overcamp, dengan judul “Estimation of Southeast Asian Rice Paddy Areas with Different Ecosystem from Moderate-Resolution Satellite Imagery”, yang dipadukan dengan tulisan Abdul Karim Makarim dari Central Research Institute for Food Crops yang beralamat di Jalan Merdeka 147, Bogor, dengan judul “Bridging the Rice Yield Gap in Indonesia”.

What a non sense bila seorang penyanyi bisa melewati boundary seorang pakar pertanian!
Tapi itulah Indonesia, sepertinya yang tidak mungkin hanyalah menghidupkan kembali orang mati..tinggal kita yang masih merasa waras dan rasional silahkan melihat dan mengamati dengan kerangka pikir yang jelas.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.