Target Seratus Ribu Doktor Pada 2015; Terus inyong kudu muni “WOW” kaya kuwek?

Indonesia menargetkan jumlah pemegang gelar doktor mencapai seratus ribu orang pada 2015. Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar Internasional Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA).”Jika Indonesia memiliki doktor yang banyak, inovasi dan ilmu pengetahuan akan maju dengan pesat,” kata Musliar, Minggu (26/8/2012). Sepertinya beliau sangat percaya bahwa kuantitas sangat menentukan. Sebenarnya apa sih uniknya doktor sehingga banyak orang-orang yang kebelet dengan gelar tersebut  sampai sampai tokoh nasional macam Pak Be ye, Pak  Akbar Tanjung  dan   Marissa Haque, konon katanya sampai harus membuat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala supaya dapat gelar tersebut.  Kalau di luar negeri sebutan Doktor  adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang berhasil  menyelesaikan susahnya   program PhD  (Doctor  of Philosopy). Jadi PhD adalah titel  bukan panggilan, sedangkan di Indonesia  PhD diselewengkan jadi Pas Hampir D.O yang  lebih berupa olok olok kepada mereka yang menyelesaikan  Program Doktor  karena dikasihani. Orang awam kalau ditanya jawabnya  Doktor itu ya S3, TERUS YANG MEMBEDAKAN KEAHLIANNYA DENGAN  S2 dan S1 apa..karena kadang kadang ada   ungkapan sinis, pendidikan S3 tapi keahlian  S1..jangan marah bro kalau ente masuk yang gitu karena dilapangan gejala seperti itu ada.  Nah supaya yang  bergelar doktor tidak petentang petenteng dengan gelarnya dan  masyarakat bisa menilai doktor beneran atau doktor humoris causa, marilah kita bersama lihat apa yang dikatakan oleh  Profesor Matthew Might, seorang ahli  ilmu komputer dari the University of Utah makhluk macam apa  sang doktor tersebut.  Karena sulit menggambarkan dengan kata kata beliau menggunakan gambar seperti dibawah ini:

Bayangkan  satu lingkaran yang berisi  pengetahuan semua  umat manusia di muka bumi.

Ketika kita menamatkan sekolah dasar, kita mengetahui sedikit.

Ketika kita menyelesaikan sekolah menengah pertama dan atas, pengetahuan kita bertambah sedikit lagi.

Ketika  kita menyelesaikan  sarjana muda, kita mulai memiliki keahlian khusus.

Gelar master (magister)  mempertajam spesialisasi tersebut.


Membaca  secara intensif jurnal jurnal berkualitas  dalam dan luar negeri (bukan jurnal yang termasuk dalam blacklist ini http://www.tempo.co/read/news/2012/08/30/061426338/Waspadai-Daftar-Jurnal-Hitam-Berikut)  akan membawa anda ke  titik puncak  pengetahuan umat manusia dalam bidang yang menjadi spesialisasi anda.

Ketika anda berada di tataran tersebut anda harus  fokus untuk  mencari  celah yang bisa anda isi.

Pada saat anda berada di tataran ambang batas tersebut, anda harus menghabiskan waktu bertahun tahun untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang akan anda lakukan memberikan sumbangan yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Hingga suatu saat ambang batas tersebut berhasil anda lewati.

Dan ketika anda sudah berhasil mengisi ruang sangat kecil tersebut barulah anda layak di sebut Doktor dan ketika kriteria ini terpenuhi dengan senang hati inyong kudu muni “Wow” kaya kuwek.

Jadi, kesimpulannya jangan lupa dari lingkaran besar tersebut ada satu yang menjadi keunikan anda. Meminjam istilah Steven Coveys pencetus kebiasaan ke 8 : Find your voice and inspire others to find theirs (Tunjukan ente siapa dan inspirasikan orang lain untuk menemukan jati diri mereka siapa), pemegang gelar doktor more less seperti itu lah.

Nah saya yakin pak Wamen pingin Doktor beneran yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan bangsa ini. Selamat berjuang putra putra bangsa terbaik, tunjukan bahwa anda layak jadi doktor dan ketika anda mendepatkan gelar tidak di respon: Terus gue harus bilang “WOW” gitu?? Dados kawula kedah matur “WOW” mekaten? D’ailleurs dois-je dire “WOW” ?

Dan kepada kawan kawan yang sudah jadi doktor jangan lupa, di era WEB 3.0, kalau tidak sampai pada tataran standar janganlah berkecil hati kalo dikatakan pendikan S3 tapi keahlian S1 (mohon maaf kalo tulisan ini dijadikan alat sebagai pisau analisa). Dan juga: PhD holders without international publication is like You Tube without music, FB with no friends, Twitter with no followers and Google with no result.

So now you understand  my PhD holder friends, mengapa Pak  Menteri Muh. Nuh  mensyaratkan harga mati  publikasi internasional di jurnal berkualitas, bukan jurnal abal abal untuk persyaratan menjadi guru besar. Contoh Jurnal abal abal seperti African Journal of Agricultural Research (AJAR) yang menampilkan nama Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis dalam salah satu artikel di jurnal dengan judul “Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-Temporal Satellite Imagery” yang dimuat di volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044, yang terbit 24 Juli 2012. Ternyata setelah ditelusuri tulisan itu diambil dari tulisan Arika Brdhikitta dan Thomas J. Overcamp, dengan judul “Estimation of Southeast Asian Rice Paddy Areas with Different Ecosystem from Moderate-Resolution Satellite Imagery”, yang dipadukan dengan tulisan Abdul Karim Makarim dari Central Research Institute for Food Crops yang beralamat di Jalan Merdeka 147, Bogor, dengan judul “Bridging the Rice Yield Gap in Indonesia”.

What a non sense bila seorang penyanyi bisa melewati boundary seorang pakar pertanian!
Tapi itulah Indonesia, sepertinya yang tidak mungkin hanyalah menghidupkan kembali orang mati..tinggal kita yang masih merasa waras dan rasional silahkan melihat dan mengamati dengan kerangka pikir yang jelas.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: