Bahasa Negara Jiran.

Sekalipun  Bahasa Indonesia  dan   Bahasa  Melayu (Malaysia) merupakan bahasa  serumpun, beberapa  kosa kata  bisa (Melayu = boleh)  menyebabkan salah pengertian. Beberapa    orang teman Indonesia  yang mengadakan  kunjungan ke  markas besar (Melayu = Ibu Pejabat) suatu perguruan tinggi  sering  begitu  kunjungannya selesai yang buru buru dilakukan adalah mencari tempat  untuk pipis karena saking kebeletnya.  Usut punya usut ternyata mereka  sekalipun ke toilet (Melayu = tandas ) tidak berani  pipis karena ada tulisan KAKI TANGAN SAHAJA. Nah sekalipun ke  toilet  mereka tidak berani pipis cuman nyuci kaki dan tangan doang..nah nyaho kan, padahal kaki tangan itu maksudnya adalah  staff. Di Malaysia kalau  menggunakan kata kamar kecil untuk   membuang air kecil akan  dibetulkan dengan , ”gi tandas ke?” Tentu saja orang Indonesia merasa tidak nyaman   dengan  kata tersebut karena   agak aneh  akibat pengaruh kalimat ini: Saya makan  ubi rebus  ini hingga licin tandas –  yang bisa berkonotasi   malu seleranya masih makan  telo sambit ngumpet di toilet.


Yang sudah sering bepergian ke wilayah wilayah Malaysia atau tinggal  akan melihat dan merasakan   bahwa  bahasa Melayu tidak baku dalam penggunaannya sehingga mulai dari Johor, Negeri Sembilan, Selangor sampai di ujung Semenanjung Malaysia yakni Kelantan bahasa Melayu yang digunakan jauh berbeda penggunaannya. Sekalipun saya tinggal di Malaysia cukup lama, sampai sekarang saya tidak akan pernah paham  bahasa Kelantan (sering dipelesetkan jadi Kelate). Ditambah lagi dengan gaya anak mudanya yang mencampur baurkan bahasanya dengan bahasa Inggris. Bahasa Melayu diucapkan dengan medok oleh etnis China dan menggoyang-goyangkan kepala gaya nehi nehi oleh etnis India.Anak-anak muda lebih suka berbahasa Caca Merba (campur baur dengan bahasa prokem, bahasa etnis dan bahasa Inggris) hal ini tercermin dari drama-drama dan film-film yang mereka buat.
I nak letak kete(kereta) dekat townhouse sana” “ you pigi sana lah , tak payah bising-bising…”  You nak makan Tahu dengan I ke?  KALAU YANG INI PASTI NGGAK ADA YANG MAU, karena Tahu tu dengan u, kalo dengan I jadi Tahi ..gitu lho ,   dan sebagainya. Itu gaya bahasa yang seringkali terdengar. Orang Malaysia memang menggunakan istilah Inggris untuk berbahasa. Bagaimanapun mereka merupakan commonwealth Inggris. Contohnya dalam mengeja huruf: e bi si di ie ef ji dan seterusnya.  Orang Indonesia  sering   tampak kurang suka ketika lulusan Malaysia  ditanya : “Dimana ambil PhD?”, dan dijawab, “Yu ke em” maksudnya adalah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bukan maksudnya kebarat baratan tapi ya spellingnya memang seperti itu bukan  “U ka em”. sebut saja U ka em, U em, U tem jamin tidak ada yang tahu karena di Malaysia  dilafalkan  Yu ke em,Yu em,  Yu tem .
Kalau bahasa Indonesia mempunyai aturan bagaimana kaidah penulisan serapan dari unsur bahasa Inggris, misalnya yang berakhiran “ion” menjadi si, misalnya administration > administrasi, illustration > illustrasi, television > televisi, sebaliknya Bahasa Melayu cenderung menyerap bahasa Inggris dengan bebas dan dicampur dengan percakapan Bahasa Melayu sehari hari. Jadi bahasa Inggris dimelayukan seperti: bas untuk bus, epal untuk apple, stesen untuk station, berus untuk brush, selipar untuk slipper, kek untuk cake, lesen untuk licence, bek untuk bag, tayar untuk tire, wayar untuk wire, vasu untuk vase, ais untuk ice, saman untuk summon, lokap untuk lock up, polis untuk police, polisi untuk policy, dan lain sebagainya. Jangan heran jika makcik-makcik dan abang-abang di pasar-pasar dengan lancar berbicara,”Tak sure lah” atau “So, cam mane nak ape lagi?”.
Disamping itu penggunaan kata “sedap” yang digunakan untuk menyatakan tentang rasa yang menyenangkan di semua lini, sementara dalam bahasa Indonesia kata tersebut hanya untuk menyatakan rasa makanan. Jadi jangan heran kalau suara Rosa penyanyi yang saat ini ngetop di Malaysia dikatakan: :suara Rosa sedap, yang baru datang dari Bandung (tempat favorit orang Malaysia) akan ditanya: Bandung sedap?

Ketika saya baru baru bertugas di salah satu universiti (Ind: Universitas), seorang professor yang bertemu saya di ruang mensyuarat (Ind: rapat) bertanya” Awak duduk kat mane?” Saya dengan wajah polos menjawab,”Duduk dimana-mana saja”, dan Profesor itu segera memperlihatkan mimik wajah kurang suka pada saya. Mengapa beliau tidak suka, belakangan saya baru tahu arti kata “duduk” yang berarti “tempat tinggal”. Ia menanyakan dimana rumah saya , dan ia menganggap saya tidak menjaga maruah (Ind: martabat) universiti karena sebagai pensyarah (IND: dosen) suka tinggal dimana-mana tidak punya rumah tetap, sementara saya mengira ia bertanya soal tempat duduk di ruang rapat.

Kawan saya Dr. Martinus yang bertugas lebih awal dari saya juga mengalami salah paham soal bahasa ini. Beliau mendapat telpon dari kawan Malaysianya,”Dr, saye jemput ye pukul 8 dekat rumah ada majlis hari jadi (IND = hari ulang tahun) saye”. Dr. Martinus betul-betul menunggu dijemput pada pukul 8 malam itu.
Sayangnya “menjemput” artinya adalah mengundang, sehingga Dr. Martinus memang harus gigit jari dan nyumpah nyumpah karena semalaman kawannya tak muncul juga untuk membawanya ke acara hari ulang tahun.

Di kampus kampus sering tertulis poster:

Semua dijemput hadir ke Seminar Motivasi, pakar Motivasi Ternama. Masuk adalah percuma.

Di Malaysia, percuma bermakna ‘gratis’ atau ‘tidak membayar apapun’ sudah lama tidak kita gunakan . Kata ‘percuma’ sekarang karena perkembangan bahasa menjadi bermakna ‘sia-sia’ atau ‘tiada gunanya’. Kalau dalam hal ini penggunaan kata gratis Indonesia sama dengan kata gratis dalam bahasa Belanda dan Jerman.

Ketika saya posting beberapa gambar sedang bepergian di FB saya, maka komen yang ada adalah : “Seronoknya makan angin ” artinya: “Asyik ya jalan-jalan ”.

Kata lain yang perlu diperhatikan adalah kata “beta” yang masuk dalam kategori bahasa melayu tinggi dan hanya raja yang boleh menggunakannya untuk menunjukan “saya”, sementara di Indonesia adakah yang mau (di Pulau Jawa utamanya) membahasakan “saya” dengan “beta”?

Doktor doktor Indonesia yang mbalelo  mengajar di Malaysia biasanya adalah segelintir putra putra terbaik  dan biasanya memiliki  kemampuan diatas rata rata  sehingga sering mendapat pujian  dari mahasiswanya dengan  mengatakan:  “seronoknya belajar dengan Dr. A kerana beliau memiliki  KELAINAN”  maksudnya ; belajar dengan Dr. A sangat menyenangkan karena  beliau memiliki kelebihan.  Seorang mahasiswa  kalau di Indonesia  berani mengatakan dosennya memiliki kelainan, bisa  bayangkan deh apa yang bakalan terjadi?  Sebaliknya,  di Malaysia  para dosen (pensyarah) akan sangat bangga kalau dikatakan memiliki kelainan.

Sekalipun serumpun, masih banyak kosa kata yang perlu diperhatikan untuk menghindari misunderstanding. Dan kalau anda menemui kata kata seperti ini, janganlah coba untuk mengerti karena saya pun tidak paham.

“Hang mai la sini sat. Aku nak ajak hang pi nat sat.”
(Perlis, Kedah, Pulai Pinang)

“Teman suke ghomah tepi pante”. (Perak)

“Mu nok gi make mano?” (Kelantan)

Adapted from:  Kompas.com   Cita Rasa Bahasa Melayu di Malaysia

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Bahasa Negara Jiran.

  1. nur

    bahasan yg menarik. Thaks for sharing Pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: