Monthly Archives: December 2012

Menjual Pariwisata: dengan Vietnam saja kita kalah?

Menyebut nama  Vietnam, apa  yang ada  di benak anda, perang, Vietcong, gerilyawan, beras,  atau  varian sipilisnya yang  sangat dahsyat terkenal  dengan sebutan Vietnam Rose? Secara  mengejutkan diam diam negara yang pernah hancur lebur dikoyak perang tersebut  dengan  segala  keterbatasannya  berhasil mendatangkan  wisatawan  sampai sepuluh juta orang. Bandingkan dengan Indonesia  dengan berbagai  pesona budaya dan keindahan alam termasuk peninggalan bersejarah masih belum mampu mencapai angka tersebut. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata,  ketinggalan Vietnam dengan Indonesia  sudah  terlihat sejak pesawat mendarat.  Kalau di Indonesia  pesawat yang  merapat ke  bandara cukup di pandu oleh  petugas air traffic controller tetapi di  bandara international Tan Son Nhat  Ho Chi Minh  pesawat   dipandu oleh mobil, yah semacam polisi cepek lah kalau di jalan raya Indonesia..anda jangan ketawa dan melecehkan karena memang begitu. Tapi setidak tidaknya radar di bandara ini belum pernah ngadat  seperti di bandara international Soetta beberapa hari yang lalu.

Image

Pesawat Lion Air  Indonesia  dipandu mobil di Tan Son Nhat Airport   Ho Chi Minh

Keterbatasan  lain  juga terlihat di fasilitas yang dimiliki oleh perguruan tinggi paling ngetop di Vietnam, University of Economics  Ho Chi Minh City. Untuk  perguruan  tinggi  papan atas ini  bangku   kuliah yang digunakan    lebih jelek  dari  fasilitas  kursi untuk SD INPRES  di wilayah pedalaman Indonesia; hanya bangku panjang seperti di warung warung kopi pinggir jalan PANTURA.

Image

Kursi panjang untuk 5 0rang, ngebayangin nggak rasanya kuliah disini

Keterbatasan  tidak mereka jadikan alasan untuk menarik wisatawan. Vietnam bisa disebut sebagai salah satu negara yang amat cerdas menjadikan wisata sebagai industri penghasil devisa. Negara yang pernah tercabik-cabik karena perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat ini jeli melihat peluang mengail wisatawan asing. Terowongan  tempat persembunyian di kemas  diolah seperti suasana zaman perang  lengkap dengan lapangan tembak   untuk menggunakan  AK 47 asli sehingga menjadi serasa di dunia perang beneran, rongsokan mesin mesin perang Amerika yang tertinggal dijadikan  museum. Tapi satu hal yang jangan sekali kali dicoba yaitu naik becak dan ojek di Vietnam karena semuanya rata rata penipu, begitu anda naik siap siaplah untuk diperas dengan harga yang jauh melebihi untuk  ongkos naik taksi.

Sebetulnya, dibanding Vietnam, Indonesia memiliki jauh lebih banyak obyek wisata yang fantastis, dan benar-benar kelas dunia ditambah dengan tukang becak dan ojeknya yang  jujur . Akan tetapi wisatawan asing yang datang tidak sampai sepuluh juta orang. Jauh di bawah Singapura, sebuah negara dengan luas hampir sama luas wilayah DKI Jakarta. Ada apa ini?

Kita perlu belajar banyak dari negara lain, kalau perlu dari Vietnam yang jauh ketinggalan, tidak perlu lah studi banding sampai ke Eropa sono.

Advertisements
Categories: Budaya, Ekonomi | Tags: , | Leave a comment

Kalau Mau di kenal Ngeblog dan Ngetwitlah

Kehadiran instagram yang menghasilkan gambar  yang bisa dikirim dengan cepat untuk  memvisualisasikan  kondisi sebenarnya suatu hal memang membantu kalau yang divisualisasikan  sudah real di depan mata, tetapi kalau yang mau divisualisasikan berupa ide ide pemikiran  dimana sesuatu biasanya dimulai dengan ide ide dan pemikiran, maka instagram tidak akan membantu.  Inilah yang membuat  sekalipun pertumbuhannya mulai  pesat, Instagram masih bukan merupakan alat sosial media yang paling ampuh dewasa ini. Karena itu bagi organisasi dan individu yang mau dikenal akan ide idenya, cara yang paling  jelas, sekalipun masih dipandang rendah- adalah melalui blog atau mini blog semacam Twitter.

Kalau anda ingin membentuk opini publik, anda harus  menciptakan  narasinya!   Pentingnya narasi ini jauh jauh hari telah didengungkan oleh Steven Covey  pengarang buku   7  Habits of Highly Effective People  dan  habit yang ke 8 selanjutnya menurut beliau ialah : Finding your voice and helping others find theirs ; tunjukan jati diri anda dan bantu orang lain menemukan jati diri mereka . Lebih ngetrend lagi pakar pemasaran dunia Phillips Kotler  dalam bukunya   Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit   mengakui pentingnya ngecap menjual diri ini dengan mengatakan  salah satu elemen  dari marketing  3.0 adalah : tell your story to the world.

Dan opini publik yang tercipta bermula  dari  narasi yang telah anda ciptakan. Makanya di negara  yang  penduduknya super kreatif  karena  pemerintahnya tidak seberapa peduli, ketika Bang Haji Rhoma Irama  mencalonkan   dirinya  menjadi Capres 2014, narasi  yang dinyanyikan  lewat lagu lagu  beliau cenderung dijadikan  publik sebagai bahan yang lebih berupa olok olok, sebut saja : tidak akan berada di istana karena Berkelana  terus, lembur ditiadakan karena    Begadang tiada artinya, dll.  Tentunya anda   ngeh sekarang kenapa  ABR  capres dari Golkar  di wilayah Sidoarjo yang menderita karena semburan lumpur Lapindo tidak dinarasikan sebagai Abu Rizal Bakri  tapi Asli  Raja B*h*ng?  Itu semua karena  narasi yang diciptakan sudah terlanjur melekat, lain cerita kalau beliau menulis  paling tidak di blog atau koran yang berisi pemikiran kenegaraan cerita mungkin akan lain. Kita masih menunggu narasi apa lagi yang akan tercipta ketika Bung Farhad Abbas pun menyatakan kesiapan nya  menjadi Capres 2014, tidak lambat bro..kalau mau ikut ikutan blogging sekarang supaya pemikiran anda bisa membentuk opini publik! Semudah itu…nanti dulu?

Suatu  penelitian yang dilakukan oleh Yahoo di tahun 2011  menunjukkan bahwa  hanya 0.05 % dari   keseluruhan pengguna Twitter  yang Tweetnya  dibaca orang, artinya dari sekitar 100 juta  pengguna  di dunia hanya sedikit sekali yang berhasil menjadi orang orang elit di dunia maya karena  tweetnya di baca, selebihnya dilewatkan begitu saja. Bagaimana mau  tweetnya di baca kalau isinya cuman..,nyapres  ah…. makan bebek goreng dulu ….rujakan yu  atau paling banter  isinya cuman 3 hal : bola, makan makan dan jalan..bagaimana  bisa menginspirasi orang?

Salah seorang dari khulufaur rasyidin mengatakan ” sebaik baik teman di segala masa adalah kitab.” Di negara yang peradaban pengetahuannya lebih maju, pertanda status sosial itu adalah buku. You ARE what you READ. Buku dan tradisi membaca yang kuat selalu menjadi elemen penting bagi hadirnya sebuah peradaban yang digdaya. Teman teman yang memiliki  background  Pendidikan bahasa Inggris  tentu   mengenal doktrin : Reading  is a passive command of  Written Language  and   Writing is  the active command of  written language.  Dengan  doktrin  ini secara  tersirat  bahwa  kemampuan  menulis sangat ditentukan oleh   berapa banyak dan sepaham apa yang dibaca. Tetapi  orang juga tidak akan tahu sepintar apa  anda dari yang  dibaca bila tidak dituangkan  atau di tweetkan melalui tulisan…jadi jangan disalahkan bro kalau ada yang menilai  you are what you twit!
Image

Reading is a passive command of written language

Memang menuangkan ide dalam blog berupa 700 atau lebih kata dan tidak dibayar bukanlah pekerjaan mudah, tapi kalau anda mau jadi presiden apakah jadi lebih mudah? Karena itu berlatihlah dulu membaca buku dan menulis supaya orang tahu isi otak anda wahai calon calon presiden jadi modalnya nggak cuman siap doang atau jawaban yang tidak terukur seperti karena prihatin melihat kondisi bangsa, karena panggilan nurani. Miss World saja mensyaratkan 3B: beauty, body, and brain.

Writing is still the clearest and most definitive medium for demonstrating expertise. Dan kalau anda tidak melakukannya jangan salahkan publik yang membentuk narasinya sendiri melebihi syarat untuk menjadi Miss World yang 3B saja menjadi 4B, tapi ini  Benar Benar Bloon  Bro!   Dan kalau ini yang terjadi   ingatlah kata kata Mark Twain   seorang novelist terkenal yang namanya  karena susah dieja diucapkan oleh teman saya  semasa kuliah  di jurusan bahasa Inggris dulu   “Merek Taiwan” :   Never argue with fools yang versi Quran-nya adalah   Wa a’rid ‘an al-jahilin. :Berpalinglah dari orang orang  bodoh.

Masih mau  nyapres?

Categories: Marketing in Digital Era, Strategi | Tags: , , , , | 1 Comment

Quantitative, Qualitative or Mixed Methods, What is the difference?

Because mixed methods is a new design, researchers need an introduction to the approach, guidance as to how to conduct the design, and information about the specific procedures involved. Anyway since it is the combination of  quantitative  and qualitative, the researcher  needs  to understand the difference   about these two methodology, not simply claiming using Mixed Method to follow the trend.    Mixed methods is a new approach, but I recognize that others may not see it as a recent approach. Researchers for many years have collected both quantitative and qualitative data in the same studies. However, to put both forms of data together as a distinct research design or methodology is new. Thus the idea of mixing the data, the specific types of research designs, the notation system, the terminology, the diagrams of procedures, and the challenges and issues in using different designs are  collected  from  several articles  to  provide understanding about this issues. Enjoy!

The first article  describes  the difference  between qualitative and quantitative research, then followed by what are the differences  with the new comer called Mixed Method. The last one   describes   what is actually  Mixed method   together with the procedure and condition where to apply Mixed research Method.

Presenting Research Methodology

Presenting Research Methodology

Hypothesis in Quantitative and Qualitative Research

Quantitative, Qualitative and Mixed Methods.

Understanding Mixed Method

Categories: Research Methodology | Tags: , , , , | Leave a comment

The 7th International Conference on Business and Management Research (ICBMR)

Adapted from:  news

The 7th ICBMR jointly organized by University of Economics Ho Chi Minh City and Universitas Indonesia, and supported by ABEST21, was successfully held in Ho Chi Minh, Vietnam, on November 16, 2012. The ICBMR is an annual conference organized by Universitas Indonesia with international partners, in an effort to develop a platform for international collaboration in research. Since 2010, the conference is supported by ABEST21. The 7th ICBMR, which focused on “Transforming Local and Regional Networks into Sustainable Growth”, received 127 applications, but only 61 papers were selected for presentation in the one day conference at University of Economics Ho Chi Minh City. The papers addressed various interesting and critical topics in the areas of finance and banking, capital market, economic development, human resources management, marketing, accounting and governance, strategic and general management and were presented by researchers from countries such as Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, and Japan.

All full papers presented at the conference were evaluated by the organizing committee, track chairs and scientific committee for the ABEST21 Best PaperAwards. In this conference, ABEST21 sponsored two awards for outstanding papers: One in the area of business and management, and one – in economics.The president of ABEST21  Fumio Itoh presented the certificates and monetary awards to the winners during the dinner cruise on Saigon River.

Image

The president of ABEST21 Fumio Itoh  (on black suit) presented   awards to the winners

The winners for theABEST21 Award for the Best Paper in Business and Management are “Repositioning Strategy for Malaysian Companies Internationalization” by   Ismi Rajiani of University Technical Malaysia.

It is interesting to note  here that Dr. Ismi Rajiani is an Indonesian  serving Malaysian  university. He wins for Malaysia, sad for Indonesia! His achievement  in this event attract  Utusan Malaysia  the most  popular  national  newspaper  to cover the news.

Categories: Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.