Bangsa Berbudaya Konteks Tinggi

Pada tahun 1976, antrophologist Edward T. Hall dalam bukunya  Beyond Culture  memperkenalkan istilah high context culture (budaya konteks tinggi)  dan low context culture   (budaya konteks rendah) sebagai dikotomi pembagian cara cara berkomunikasi bangsa bangsa di dunia.  Menurut beliau, dalam suatu bangsa yang menganut high content culture : many things are left unsaid, letting the culture explain (tersirat) while in a lower context culture, the communicator needs to be much more explicit (tersurat). Dalam budaya konteks tinggi, umumnya orang berbicara tersamar karena kekhawatiran menyinggung perasaan orang atau untuk menjaga sopan-santun berbicara sedangkan dalam komunikasi konteks rendah, orang cenderung berbicara lugas dan apa adanya. Dan dimanakah kita   orang Indonesia? Kita  harus bangga karena kita  dikategorikan  dalam  konteks tinggi karena tidak  to the point. 

Menurut Prof. Tjipta Lesmana seorang gubes Ilmu Politik, dari segi konteks komunikasi, Soekarno, Habibie, dan Gus Dur tergolong rendah. Sebaliknya, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tergolong tinggi (high context). Dari perspektif komunikasi politik, SBY mirip Soeharto. Namun konteks komunikasi SBY rata-rata lebih tinggi daripada Soeharto. Konteks komunikasi sangat tinggi dalam menyikapi kemelut di tubuh PD   inilah yang kemudian melahirkan  berbagai  interpretasi mengenai nasib sang ketua umum ketika  beliau menyatakan tanggung jawab Fraksi, DPP, DPD, hingga DPC dialihkan dari ketua umum ke dirinya selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Keputusan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat   mengambil alih kewenangan ketua umum adalah final. Dengan adanya keputusan ini, Anas tidak berhak melakukan kegiatan apa pun dengan membawa atribut sebagai ketua umum.

Negara dalam Kategori Berbudaya Konteks Tinggi dan Rendah

“Ya keputusan itu artinya semua kewenangan partai yang dimiliki ketua umum jadi ke Pak SBY, termasuk yang simbolik dan pelantikan. Jadi Anas memang tidak lagi menjalani tugasnya sebagai ketua umum,” ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, Senin (11/2/2013), di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sementara yang masih pro kepada sang ketum : “Bahwa ditempuh dengan langkah apapun, Anas masih merasa tetap Ketua Umum yang sah Partai Demokrat,” kata Erlangga di depan rumah Anas, Jakarta, Senin (11/2/2013). Dia pun menambahkan KAHMI mengamini segala pernyataan Anas tersebut.

Tanpa bermaksud memihak kepada siapapun, yang membedakan pola pikir satu bangsa dengan bangsa yang lain adalah BUDAYA.

Geert Hofstede  mendefiniskan budaya “the collective programming of the mind distinguishing the members of one group or category of people from another”. The “category” can refer to nations, regions within or across nations, ethnicities, religions, occupations, organizations, or the genders.

Definisi  yang lebih sederhana adalah  ‘the unwritten rules of the social game’. Peraturan tidak tertulis yang menjadi norma sosial. Lebih jauh Ries dalam buku terbarunya Repositioning (2010) mengatakan Culture is the way we do things here- inilah cara kami! dan cara kami seperti yang dikatakan oleh Hall dalam High Content Culture tadi adalah tidak to the point .   Menurut Teori Konteks dari Profesor Edward T. Hall, pesan komunikasi selalu mengandung konteks tertentu yang bersifat situasional, relasional, politik, ekonomi, dan budaya.  Sekalipun yang paling sulit dipahami adalah konteks budaya seperti  misalnya, Pak Harto yang terkenal dengan sebutan the smiling general  ketika melemparkan senyum, apa artinya,  dalam kasus bro Anas, pemahaman akan budaya Jawa sudah cukup untuk membaca isyarat yang diberikan oleh Pak Be Ye. Dalam konteks pidato SBY , pernyataan yang disampaikan ke publik adalah komunikasi simbolik ala Jawa yang sangat high  Javanese content culture.  Dan bro  Anas yang merupakan orang  Jawa tentu paham apa maksudnya! Boleh saja bro Anas menerjemahkannya  dengan konteks hubungan  bapak –  anak  dimana  sang  bapak sedang marah kepada anaknya, tetapi publik mungkin melihatnya  dari konteks hubungan industri dimana  pemilik saham memutuskan untuk mengambil alih tugas direktur utama, dan kalau menggunakan konteks ini…silahkan terjemahkan sendiri karena itulah uniknya  menjadi bangsa yang berbudaya konteks tinggi, semua perlu kejelian untuk menginterpretasi. Bukankah  Frederick Nietzsche  seorang filosop  Jerman mengatakan : tidak ada yang namanya realita hanya interpretasi. 

Selamat  menginterpretasi mas mas bro semua!

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: