Monthly Archives: March 2013

Masih Relevankah Politik Dinasti?

Konsep manajemen  right  man on the right place sepertinya tidak berlaku di jagad politik Indonesia. Pertanyaan mendasar dari para  konstituen  bukannya  apa yang bisa dibuat oleh orang  ini, tetapi orang ini  anak, adik, ipar, istri, suami  atau cucu siapa.  Lihat saja dalam pemilihan beberapa kepala daerah dimana  incumbent tidak boleh menjabat melebihi dua periode, pemenang selanjutnya  adalah keluarga dari yang bersangkutan. Jadi yang namanya meritokrasi : bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan  seperti-nya hanyalah dambaan yang semakin jauh  melayang  seperti cita cita reformasi dulu.  Dalam karya Michael  Young (1958)   meritokrasi dalam pemerintahan  adalah  dimana penunjukan dan tanggung jawab diberikan secara objektif  kepada seorang individu berdasarkan  apa yang melekat pada diri mereka  seperti; kecerdasan,  kredensial  dan pendidikan  setelah melalui evaluasi dan verifikasi tanpa mempertanyakan dia  dari dinasti mana?

Sangat ironis dulu kita teriak teriak  dengan yang namanya  kolusi dan nepotisme. Tetapi politik dinasti yang biasanya bertujuan  untuk  melanggengkan akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi di tangan satu keluarga atau klan tertentu semakin menjadi jadi termasuk isu hangat yang ingin menjadikan  Bu Ani dan  Jenderal  Pramono Edhi Wibowo menjadi Ketum Partai Demokrat.

Politik dinasti merupakan fenomena global. Tak hanya di Indonesia, dinasti politik juga tumbuh dan berkembang di dunia. Dinasti politik Kennedy dan Bush di Amerika Serikat, keluarga Aquino, Arroyo, dan Conjuangco di Filipina, Gandhi di India, dan Bhutto di Pakistan adalah beberapa contohnya. Meski demikian, kekuasaan trah politik tersebut tidak kekal.

Dinasti Kennedy, misalnya. Selama lebih dari 64 tahun, nama Kennedy terus berkibar di jagat politik AS. Mendiang John F Kennedy, sebelum terpilih sebagai presiden pada 1960, telah mengabdikan dirinya di senat dan parlemen sejak 1947. Adiknya, Robert Kennedy, yang tewas ditembak pada 1968 adalah mantan jaksa agung 1961-1964. Edward Kennedy menjadi senator dari Negara Bagian Massachusetts 1962-2009.

Kematian Senator Edward Kennedy pada 2009 dinilai banyak pihak menandai berakhirnya penguasaan trah Kennedy di level tinggi kekuasaan politik. Sejumlah skandal dan tragedi melingkupi keluarga terpandang tersebut. Terakhir, Patrick Kennedy, anak Edward Kennedy, harus mundur dari senat pada 2010 karena masalah alkohol dan obat bius. Saat ini, Joseph P Kennedy III, cucu Robert Kennedy, sedang berupaya merebut kembali kejayaan nama Kennedy melalui pemilihan kongres di Negara Bagian Massachusetts.

Dinasti politik Gandhi memiliki kisah berbeda. Selama 65 tahun kemerdekaan India, dinasti Gandhi mendominasi politik. Jawaharlal Nehru; putrinya, Indira Gandhi; dan cucunya, Rajiv Gandhi; berhasil terpilih sebagai Perdana Menteri India. Indira dan Rajiv mengalami nasib naas tewas ditembak saat berkuasa. Saat ini, Partai Kongres yang dibesarkan trah Gandhi dipimpin Sonia Gandhi, janda mendiang Rajiv Gandhi.

Namun, generasi keempat Gandhi tak lagi ”laku” dijual. Rahul Gandhi, putra Rajiv yang digadang-gadang menggantikan Sonia, tak mampu memenangi hati rakyat. Pada Maret 2012, Partai Kongres mengalami kekalahan memalukan di Negara Bagian Uttar Pradesh. Dari 403 kursi parlemen yang diperebutkan, Kongres hanya mendapat 28 kursi. Bahkan, Kongres hanya menduduki peringkat keempat dalam pemilu di Uttar Pradesh yang berpenduduk 200 juta jiwa. Yang menyakitkan adalah kekalahan itu terjadi di negara bagian tempat Kongres pertama kali muncul sebagai sinar baru kemerdekaan India.

Sejumlah pengamat demokrasi barat  menilai, dalam era egalitarian ini, nama besar keluarga tak bisa lagi dipakai untuk mendapat jabatan publik.

Bagaimana  dengan di Indonesia. Rakyat Indonesia terkenal pemaaf. Contoh Widya Kandi Susanti masih bisa terpilih menjadi Bupati Kendal, Jawa Tengah, setelah suaminya, Hendy Boedoro, ”berhenti” sebagai Bupati Kendal karena terlibat korupsi. Belajar dari kasus  India yang bisa bertahan sampai generasi keempat, dan kasus kasus perusahaan keluarga yang bisa bertahan  sampai generasi ketiga, sepertinya begitu pula yang terjadi di jagad politik Indonesia sekarang, jadi masih ada waktu buat Puan Maharani.  Memang tidak ada  larangan anggota  keluarga untuk maju ke pilkada karena itu adalah hak politik warga negara. Tetapi suatu keputusan seorang profesional  untuk menjadi pemimpin adalah keputusan yang  tidak melanggar hukum dan etika. Memang tidak melanggar hukum, tapi etiskah? Berharap  dari partai politik  untuk  mencegah politik dinasti dengan cara mengedepankan etika dalam penentuan calon kepala daerah, nanti dulu. Karena itu  mungkin ada baiknya  pengantar etika yang merupakan  cabang dari filsafat moral diajarkan atau diwajibkan disekolah sekolah sejak SMP.

Semoga saja pemecatan Lili Wahid dari DPR didukung oleh semangat meritokrasi bukan berusaha menghapuskan dinasti Wahid dari politik Indonesia dan bukan usaha untuk mempertahankan keberadaan dinasti tertentu saja di jagad politik Indonesia.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik!

Diadaptasi dari:  

Categories: Politik | Tags: , , | 1 Comment

Creating Brand Engagement on Facebook

If you like using Facebook as promotion media, the question is  “does your   content create   engagement in the form of  being liked, commented or shared by readers?  Based  on more than 1,000 wall posts from 98 global brands, Malhotra et.al (2012)  identify  eight ways    how different wall-post attributes impact the number of “likes,” comments and “shares” a post receives.

1. Express yourself through photos. Every picture tells a story. A photo is personal, and it can communicate quickly and easily. It also requires more thought and effort to take and include a photo in addition to text.

2. Be topical. Keep up with the times. Messages considered topical are those referring to holidays, festivals, important events, etc.

3. Don’t hesitate to be in your face. Promote the brand and its products. When consumers visit the brand’s wall, promotional messages are expected. Consumers visit the walls of brands they identify with and want to engage with.

4. Share the validation. Take a bow. Everyone wants to align themselves with a winner. By sharing success stories, achievements, awards and praise through wall posts, consumers can signal approval while also basking in the glory of a brand they identify with. By “liking” the post, fans indicate to their personal network their alignment with a successful brand. They are expressing their own positive self-identity through the brand’s achievements.

5. Educate the fans. Create informational value. Brands that generated or passed along information through wall posts also garnered a high number of “likes,” especially information designed for fans’ enrichment and education. This education could include informing fans about the history of the brand or the ways in which the company operates or produces products. When fans “like” these posts, they are in turn creating educational content for their personal networks.

6. Humanize the brand. Inject emotions. The salience of brand communication using social media is the “social” part. Fans like messages that paint the brand as a living object and express human emotions. Brand managers should view Facebook as a personal communication platform rather than a broadcast medium. Sharing posts that contain emotions helps fans convey their own emotions to their network of friends.

7. Humor is the best social medicine. Laugh and everyone laughs with you. People like to laugh. Funny things are appreciated. Being funny is an art, and not everyone can be funny. In terms of sheer numbers, most posts are not funny, especially brand posts. So the posts that generate a chuckle receive a significant boost in the number of “likes.”  Posting funny pictures  is one of the most common ways to present humor. Art and copy can often be combined to send a humorous message.

8. Ask to be “liked.” Ask and you shall receive. It’s as simple as it sounds. We found that if you directly ask to be “liked” on Facebook, you tend to receive more “likes.” Granted, this should be done in a polite way. Additionally, this should not be overdone, which could lead to diminishing returns or something worse, such as a consumer backlash.

What Prevents Wall Messages From Being “Liked”

1. Brevity Is Better The longer the wall posts, the less likely they are to be “liked.” Brevity is strongly correlated with the number of “likes” a post garners. We advise brand managers to convey their messages in the briefest manner possible.

2. Event-Related Messages: coming soon to an area not near you. Sharing event information via wall posts can significantly lower the number of “likes.” Many fans did not even “like” messages related to online events, which are geographically neutral. It appears that Facebook is a medium in which to organize and coalesce around information in the here and now, rather than at some later time and other place. Event pictures or descriptions were also not well “liked.”

3. Social Cause Affiliation Don’t assume consumers care about the same causes you do. On average, posts regarding social causes also did not generate many “likes.” In fact, these posts were not well “liked” at all. Brand managers should not assume consumers will care about the same causes as the brand. These messages may come across as pushy and preachy.

4. Enter Our Contests They can see through your brand promotional strategies. Contests are a popular sales promotion technique, but our research showed that wall posts announcing contests were less likely to be “liked.” Given the informative content (contest availability and participation instructions), these messages may be read and acted upon but do not result in many “likes.”

5. Deal (or No Deal) We’ll take no deal, please. Wall posts offering deals were less likely to be “liked.” In fact, deal-related posts, on average, got the least “likes” of all the attributes we measured. These wall posts from brands could be electronic coupon codes, complementary offers or time-sensitive discounts. While fans might want to avail themselves of these deals, they see no need to express appreciation through the click of a “like” button.

Let’s try!

Source   Winter 2012.

Categories: Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.