Masih Relevankah Politik Dinasti?

Konsep manajemen  right  man on the right place sepertinya tidak berlaku di jagad politik Indonesia. Pertanyaan mendasar dari para  konstituen  bukannya  apa yang bisa dibuat oleh orang  ini, tetapi orang ini  anak, adik, ipar, istri, suami  atau cucu siapa.  Lihat saja dalam pemilihan beberapa kepala daerah dimana  incumbent tidak boleh menjabat melebihi dua periode, pemenang selanjutnya  adalah keluarga dari yang bersangkutan. Jadi yang namanya meritokrasi : bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan  seperti-nya hanyalah dambaan yang semakin jauh  melayang  seperti cita cita reformasi dulu.  Dalam karya Michael  Young (1958)   meritokrasi dalam pemerintahan  adalah  dimana penunjukan dan tanggung jawab diberikan secara objektif  kepada seorang individu berdasarkan  apa yang melekat pada diri mereka  seperti; kecerdasan,  kredensial  dan pendidikan  setelah melalui evaluasi dan verifikasi tanpa mempertanyakan dia  dari dinasti mana?

Sangat ironis dulu kita teriak teriak  dengan yang namanya  kolusi dan nepotisme. Tetapi politik dinasti yang biasanya bertujuan  untuk  melanggengkan akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi di tangan satu keluarga atau klan tertentu semakin menjadi jadi termasuk isu hangat yang ingin menjadikan  Bu Ani dan  Jenderal  Pramono Edhi Wibowo menjadi Ketum Partai Demokrat.

Politik dinasti merupakan fenomena global. Tak hanya di Indonesia, dinasti politik juga tumbuh dan berkembang di dunia. Dinasti politik Kennedy dan Bush di Amerika Serikat, keluarga Aquino, Arroyo, dan Conjuangco di Filipina, Gandhi di India, dan Bhutto di Pakistan adalah beberapa contohnya. Meski demikian, kekuasaan trah politik tersebut tidak kekal.

Dinasti Kennedy, misalnya. Selama lebih dari 64 tahun, nama Kennedy terus berkibar di jagat politik AS. Mendiang John F Kennedy, sebelum terpilih sebagai presiden pada 1960, telah mengabdikan dirinya di senat dan parlemen sejak 1947. Adiknya, Robert Kennedy, yang tewas ditembak pada 1968 adalah mantan jaksa agung 1961-1964. Edward Kennedy menjadi senator dari Negara Bagian Massachusetts 1962-2009.

Kematian Senator Edward Kennedy pada 2009 dinilai banyak pihak menandai berakhirnya penguasaan trah Kennedy di level tinggi kekuasaan politik. Sejumlah skandal dan tragedi melingkupi keluarga terpandang tersebut. Terakhir, Patrick Kennedy, anak Edward Kennedy, harus mundur dari senat pada 2010 karena masalah alkohol dan obat bius. Saat ini, Joseph P Kennedy III, cucu Robert Kennedy, sedang berupaya merebut kembali kejayaan nama Kennedy melalui pemilihan kongres di Negara Bagian Massachusetts.

Dinasti politik Gandhi memiliki kisah berbeda. Selama 65 tahun kemerdekaan India, dinasti Gandhi mendominasi politik. Jawaharlal Nehru; putrinya, Indira Gandhi; dan cucunya, Rajiv Gandhi; berhasil terpilih sebagai Perdana Menteri India. Indira dan Rajiv mengalami nasib naas tewas ditembak saat berkuasa. Saat ini, Partai Kongres yang dibesarkan trah Gandhi dipimpin Sonia Gandhi, janda mendiang Rajiv Gandhi.

Namun, generasi keempat Gandhi tak lagi ”laku” dijual. Rahul Gandhi, putra Rajiv yang digadang-gadang menggantikan Sonia, tak mampu memenangi hati rakyat. Pada Maret 2012, Partai Kongres mengalami kekalahan memalukan di Negara Bagian Uttar Pradesh. Dari 403 kursi parlemen yang diperebutkan, Kongres hanya mendapat 28 kursi. Bahkan, Kongres hanya menduduki peringkat keempat dalam pemilu di Uttar Pradesh yang berpenduduk 200 juta jiwa. Yang menyakitkan adalah kekalahan itu terjadi di negara bagian tempat Kongres pertama kali muncul sebagai sinar baru kemerdekaan India.

Sejumlah pengamat demokrasi barat  menilai, dalam era egalitarian ini, nama besar keluarga tak bisa lagi dipakai untuk mendapat jabatan publik.

Bagaimana  dengan di Indonesia. Rakyat Indonesia terkenal pemaaf. Contoh Widya Kandi Susanti masih bisa terpilih menjadi Bupati Kendal, Jawa Tengah, setelah suaminya, Hendy Boedoro, ”berhenti” sebagai Bupati Kendal karena terlibat korupsi. Belajar dari kasus  India yang bisa bertahan sampai generasi keempat, dan kasus kasus perusahaan keluarga yang bisa bertahan  sampai generasi ketiga, sepertinya begitu pula yang terjadi di jagad politik Indonesia sekarang, jadi masih ada waktu buat Puan Maharani.  Memang tidak ada  larangan anggota  keluarga untuk maju ke pilkada karena itu adalah hak politik warga negara. Tetapi suatu keputusan seorang profesional  untuk menjadi pemimpin adalah keputusan yang  tidak melanggar hukum dan etika. Memang tidak melanggar hukum, tapi etiskah? Berharap  dari partai politik  untuk  mencegah politik dinasti dengan cara mengedepankan etika dalam penentuan calon kepala daerah, nanti dulu. Karena itu  mungkin ada baiknya  pengantar etika yang merupakan  cabang dari filsafat moral diajarkan atau diwajibkan disekolah sekolah sejak SMP.

Semoga saja pemecatan Lili Wahid dari DPR didukung oleh semangat meritokrasi bukan berusaha menghapuskan dinasti Wahid dari politik Indonesia dan bukan usaha untuk mempertahankan keberadaan dinasti tertentu saja di jagad politik Indonesia.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik!

Diadaptasi dari:  

Categories: Politik | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Masih Relevankah Politik Dinasti?

  1. Tulisan yang cemerlang, terima kasih. Setuju atau tidak boleh beda pendapat. Tapi, mari gunakan istilah Bahasa Indonesia sebelum istilah yang keliru terlanjur menjadi baku. Jangan katakan ‘DINASTI’, katakan ‘WANGSA’. Dalam bahasa Indonesia sudah ada arti kata dinasti yakni, WANGSA. Bukan dinasti Syailendra, melainkan wangsa Syailendra. Bukan politik dinasti, melainkan POLITIK WANGSA. Kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan peduli dengan bahasa kita? Jangan sampai bahasa kita lama-lama menjadi jiplakan mentah bahasa Inggris. Kunjungi http://terjemahinggris.blogspot.com/2013/10/jangan-katakan-dinasti-katakan-wangsa.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: