Monthly Archives: April 2013

Pola Pikir Berkembang (Growth) dan Tetap (Fixed)

Dunia social media di  Indonesia sudah sedemikian bebasnya dimana   tidak ada rambu-rambu dimana orang boleh mau cuap cuap apa saja, memaki, menghina, menjelek jelekan  yang bersebrangan dengan dia  tanpa memandang siapa sekalipun yang bersangkutan adalah kepala Negara. Tidak ada yang lepas dari kritik, bahkan pak presiden sendiripun yang sekarang memiliki  akun twitter @SBYudhoyono juga menjadi sasaran kritik.

Menariknya  di media   ada selalu dua kubu yang  suka menjelek jelekan keadaan negara dan pemimpin  dengan sangat vulgar   dan  yang selalu   berpikiran positif dengan menunjukkan hal hal baik dari Negara tercinta ini  sehingga  kita kita menjadi bingung  mau ikut yang mana karena kedua pihak memiliki bukti kuat. Dan biasa yang bersebrangan dengan pemerintah bahasanya sangat vulgar dan berani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah  vulgar dan berani mengkritik  pemerintah di  media itu hebat? Kalau zaman Pak Harto yang jadi presiden  anda buat begitu anda memang hebat bro… tapi sekarang ini  semua orang sama beraninya  dengan ente. So apa hebatnya gitu lho? Jadi apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh mereka yang merasa berani ini? Tanpa bermaksud  membandingkan coba kita lihat Pak Amin Rais dan Pak Hatta Rajasa, pintar dan berani yang mana? Saya yakin tanpa berpikir anak kecil aja tahu jawabannya, tapi lihat karirnya moncer yang mana?

Setelah melalui  riset beberapa  dekade,  Carol Dweck,  seorang  professor   psikologi  pada Stanford University menyimpulkan ada dua jenis  pola pikir yang menentukan perilaku seseorang  yang juga bisa  digunakan untuk  melihat prilaku seseorang terhadap kebijakan pemerintah. Menurut beliau :

the key  isn’t ability; it’s whether you look at ability as something inherent that needs to be demonstrated or as something that can be developed.

“kuncinya bukanlah kemampuan, tetapi apakah anda menganggap kemampuan itu sebagai bakat yang harus dipamerkan petentang petenteng kesana kemari atau sesuatu yang bisa dikembangkan.”

Jadi mereka yang  dengan vulgar dan beraninya  mention melalui tweetnya kepada yang bersangkutan sebenarnya hanya ingin pamer bahwa mereka itu berani, mereka memiliki bakat  pembangkang, nyinyir  dan  ingin orang  tau bahwa mereka itu berani..gitu lho. Inilah yang digambarkan oleh   Carol Dweck  sebagai  Fixed Mindset and Growth Mindset.

Dalam mindset tetap (fixed)  orang percaya kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat  bersifat abadi. Mereka menghabiskan waktu untuk mendokumentasikan kecerdasan mereka atau bakat bukannya mengembangkan mereka termasuk dengan cara cara mengkritik pemerintah tadi dengan  ucapan  maupun twit yang pedas dan vulgar.
Dalam mindset berkembang (growth) , orang percaya bahwa kemampuan yang paling dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras-otak dan bakat hanyalah titik awal. Pandangan ini menciptakan cinta belajar dan ketahanan yang sangat penting bagi prestasi luar biasa.

Lebih jauh perbedaan kedua pola pikir ditunjukkan  dalam diagram dibawah ini:

Seperti yang terlihat di diagram diatas, orang dengan fixed mindset bertindak karena keinginan membentuk image supaya terlihat pintar maka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, tidak perlu berusaha maksimum, cuek terhadap kritik dan merasa terancam kalau ada orang lain yang lebih sukses dari dia. Akibatnya potensi mereka tidak bisa berkembang maksimal dan cenderung mandek sebelum mereka mencapai tahapan yang seharusnya. Sebaliknya mereka yang tergolong growth mindset mereka diarahkan oleh keinginan belajar yang sangat kuat sehingga mereka cenderung menantang badai,konsisten dan tidak mudah menyerah, percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, menghadap kritik dengan sikap positif dan mencerna yang relevan, belajar dan terinspirasi dari kesuksesan orang lain. Akibatnya prestasi jadi jauh lebih tinggi. Nah begitulah kira kira jawaban kenapa Pak Hatta Rajasa bisa melesat jauh dari Pak Amin Rais dan yang terjadi kepada mereka yang merasa berani dengan twit twitnya dan juga mereka yang selalu merespond positif setiap perubahan tersebut. Dikotomi fixed dan growth mindset menjadi garis demarkasi yang jelas.

Dengan framework yang sama ini juga saya bisa mengerti mengapa teman saya Ir. Budiono MM yang sama sama bekerja dengan saya di salah satu Universitas Malaysia, sekalipun belum Doktor tapi bisa lebih terbilang dibandingkan dengan Dr. Senang  Kentoet  yang cuman bisa petentang petenteng gembar gembor telah menerbitkan lima buku di Indonesia karena ybs hanya ingin membentuk image dan meyakinkan orang bahwa dia pintar.

Ingin mengetahui anda tipe yang mana, silahkan klik link ini http://mindsetonline.com/testyourmindset/index.html

 

THE WORLD IS SIMPLY DIVIDED INTO LEARNERS AND NON-LEARNERS!

Categories: Human Resources Management | Tags: , | Leave a comment

Positioning – Merasa Dizalimi?

Merasa  dizalimi   sepertinya sekarang menjadi trend dan mantra  ditanah air untuk  mencari pembenaran atas segala peristiwa yang menimpa seorang individu. Bro Anas merasa dizalimi karena dipecat    dari Ketum Partai Demokrat,  Teten Masduki dan Oneng merasa dizalimi karena  kalah dalam pilkada Jawa Barat, Neneng istri    Muhammad Nazaruddin yang menjadi terdakwa korupsi merasa dizalimi, Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso dizalimi KPU karena  partainya tidak boleh ikut pemilu, Gayus PNS termuda tapi terkaya yang divonis korupsi dizalimi, Komunitas Partai Keadilan Sejahtera merasa dizalimi ketika  partainya diplesetkan sebagai Partai Korupsi Sapi, dan  ketika divonis tiga tahun, terdakwa kasus dugaan suap cek perjalanan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom juga merasa  dizalimi oleh hukum serta  masih banyak  lagi contoh.

Dalam bahasa Indonesia, kata “zalim” berarti  bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil dan kejam. Orang yang terzalimi berarti dia diperlakukan secara keji dan bengis oleh seseorang. Melihat begitu mudahnya seseorang mengaku dirinya dizalimi  pertanyaan mendasar apakah orang tersebut paham akan  makna dari dizalimi tersebut ataukah  publik Indonesia ini begitu bodoh  sehingga   sangat mudah  bersimpati dengan orang yang mengaku “terzalimi”?

Parahnya  orang orang yang bermasalah  memposisikan diri “terzalimi”  sering  menjadikan agama sebagai komoditas karena ujung ujungnya  dia    mengutip sebuah hadist:
 “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”   Emangnya  Tuhan tidak memiliki sifat  sama (maha mendengar)  dan basyar (maha melihat)? Dan adalah suatu kenaifan kalau menganggap masyarakat sekarang bersifat  sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami menaatinya”. Orang sekarang, begitu mendengar anda dizalimi , akan menjawab,
“Sami’na wa seminarna wa risetna idza cocokna wa masuk akal’na wa imanna.
 Kami mendengar, menyeminarkan dan merisetkan. Jika cocok dan masuk akal, baru kami percaya,”
Satu hal yang sangat menarik bila diamati orang orang yang merasa dizalimi ini rata rata dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Saya belum pernah mendengar orang orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit koar koar merasa dizalimi atau mereka yang ditolak di  sekolah sekolah elit sekalipun memiliki kemampuan intelektual tinggi.  Jadi gejala  apa sebenarnya  yang  membuat orang orang yang notabene ini berkecukupan  memposisikan  dirinya (positioning)   DIZALIMI
Pakar marketing Al Ries  mengatakan: in marketing, positioning is the process by which marketers try to create an image or identity in the minds of their target market for its product, brand, or organization.
Kalau merujuk kepada definisi diatas  image yang ingin diciptakan kepada publik adalah  poses mereka memposisikan  diri  tidak bersalah..padahal jelas jelas salah….ini yang namanya ruarrrr biasaa.
Clifford  Geertz  seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang sangat  dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia karena mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan  dalam memahami perilaku sekelompok masyarakat  memperkenalkan istilah  Interpretive Anthropology yang esensinya mengatakan apa yang dilakukan oleh seseorang merupakan symbol atau lambang terhadap sesuatu  maksud.  Antropologi menurut beliau adalah ilmu memahami orang dengan melihat symbol atau sinyal sinyal yang dipancarkan tersebut dan orang orang  yang mengaku dizalimi tersebut  jelas jelas memberikan sinyal bahwa dirinya  tidak bersikap satria dengan berusaha memposisikan dirinya tidak bersalah apalagi   mengaku bersalah. Karena mereka   sadar bahwa masyarakat kita pemaaf maka kloplah sudah   mengaku dizalimi ini  sebagai usaha membersihkan diri supaya tetap dianggap orang baik.
Terinspirasi dari DIZALIMI POSITIONING ini  teman saya seorang dosen yang bekerja di perguruan  tinggi Malaysia sebut saja namanya Doktor Senang Kentoet, sekalipun sudah  punya gaji lebih dari 20 juta sebulan masih saja   ngobyek  mengajar di program MM gurem  di Jawa Timur, dan ketika ketahuan  ikut ikutan memposisikan dirinya dizalimi padahal aturan sudah jelas jelas melarang   ngobyek  di tempat lain.
Jadi dizalimi tuh sudah milik kaum elit dengan berbagai profesi elit  untuk menyembunyikan semangat hedonism yang sangat liar sehingga semua etika dilanggar.
Kini saya baru paham kenapa  seorang peneliti senior dari Universitas di Jepang mengatakan orang Indonesia sangat beruntung padahal di media apalagi yang namanya di Twitter berita macam macam tentang problema bangsa ini. Di Jepang kalau merasa malu banyak yang bunuh diri tidak peduli tua muda bahkan disediakan  gunung khusus sebagai tempat bunuh diri yang bernama Gunung  Aokigahara: Japan’s Haunted Forest of Death, sedangkan  di Indonesia cukup mengaku dizalimi (baca: are you stupid enough to believe what I am saying).
Selamat menjadi bangsa yang beruntung dengan memposisikan diri dizalimi tapi ingat pesan Abraham Lincoln :
You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.