Pola Pikir Berkembang (Growth) dan Tetap (Fixed)

Dunia social media di  Indonesia sudah sedemikian bebasnya dimana   tidak ada rambu-rambu dimana orang boleh mau cuap cuap apa saja, memaki, menghina, menjelek jelekan  yang bersebrangan dengan dia  tanpa memandang siapa sekalipun yang bersangkutan adalah kepala Negara. Tidak ada yang lepas dari kritik, bahkan pak presiden sendiripun yang sekarang memiliki  akun twitter @SBYudhoyono juga menjadi sasaran kritik.

Menariknya  di media   ada selalu dua kubu yang  suka menjelek jelekan keadaan negara dan pemimpin  dengan sangat vulgar   dan  yang selalu   berpikiran positif dengan menunjukkan hal hal baik dari Negara tercinta ini  sehingga  kita kita menjadi bingung  mau ikut yang mana karena kedua pihak memiliki bukti kuat. Dan biasa yang bersebrangan dengan pemerintah bahasanya sangat vulgar dan berani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah  vulgar dan berani mengkritik  pemerintah di  media itu hebat? Kalau zaman Pak Harto yang jadi presiden  anda buat begitu anda memang hebat bro… tapi sekarang ini  semua orang sama beraninya  dengan ente. So apa hebatnya gitu lho? Jadi apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh mereka yang merasa berani ini? Tanpa bermaksud  membandingkan coba kita lihat Pak Amin Rais dan Pak Hatta Rajasa, pintar dan berani yang mana? Saya yakin tanpa berpikir anak kecil aja tahu jawabannya, tapi lihat karirnya moncer yang mana?

Setelah melalui  riset beberapa  dekade,  Carol Dweck,  seorang  professor   psikologi  pada Stanford University menyimpulkan ada dua jenis  pola pikir yang menentukan perilaku seseorang  yang juga bisa  digunakan untuk  melihat prilaku seseorang terhadap kebijakan pemerintah. Menurut beliau :

the key  isn’t ability; it’s whether you look at ability as something inherent that needs to be demonstrated or as something that can be developed.

“kuncinya bukanlah kemampuan, tetapi apakah anda menganggap kemampuan itu sebagai bakat yang harus dipamerkan petentang petenteng kesana kemari atau sesuatu yang bisa dikembangkan.”

Jadi mereka yang  dengan vulgar dan beraninya  mention melalui tweetnya kepada yang bersangkutan sebenarnya hanya ingin pamer bahwa mereka itu berani, mereka memiliki bakat  pembangkang, nyinyir  dan  ingin orang  tau bahwa mereka itu berani..gitu lho. Inilah yang digambarkan oleh   Carol Dweck  sebagai  Fixed Mindset and Growth Mindset.

Dalam mindset tetap (fixed)  orang percaya kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat  bersifat abadi. Mereka menghabiskan waktu untuk mendokumentasikan kecerdasan mereka atau bakat bukannya mengembangkan mereka termasuk dengan cara cara mengkritik pemerintah tadi dengan  ucapan  maupun twit yang pedas dan vulgar.
Dalam mindset berkembang (growth) , orang percaya bahwa kemampuan yang paling dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras-otak dan bakat hanyalah titik awal. Pandangan ini menciptakan cinta belajar dan ketahanan yang sangat penting bagi prestasi luar biasa.

Lebih jauh perbedaan kedua pola pikir ditunjukkan  dalam diagram dibawah ini:

Seperti yang terlihat di diagram diatas, orang dengan fixed mindset bertindak karena keinginan membentuk image supaya terlihat pintar maka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, tidak perlu berusaha maksimum, cuek terhadap kritik dan merasa terancam kalau ada orang lain yang lebih sukses dari dia. Akibatnya potensi mereka tidak bisa berkembang maksimal dan cenderung mandek sebelum mereka mencapai tahapan yang seharusnya. Sebaliknya mereka yang tergolong growth mindset mereka diarahkan oleh keinginan belajar yang sangat kuat sehingga mereka cenderung menantang badai,konsisten dan tidak mudah menyerah, percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, menghadap kritik dengan sikap positif dan mencerna yang relevan, belajar dan terinspirasi dari kesuksesan orang lain. Akibatnya prestasi jadi jauh lebih tinggi. Nah begitulah kira kira jawaban kenapa Pak Hatta Rajasa bisa melesat jauh dari Pak Amin Rais dan yang terjadi kepada mereka yang merasa berani dengan twit twitnya dan juga mereka yang selalu merespond positif setiap perubahan tersebut. Dikotomi fixed dan growth mindset menjadi garis demarkasi yang jelas.

Dengan framework yang sama ini juga saya bisa mengerti mengapa teman saya Ir. Budiono MM yang sama sama bekerja dengan saya di salah satu Universitas Malaysia, sekalipun belum Doktor tapi bisa lebih terbilang dibandingkan dengan Dr. Senang  Kentoet  yang cuman bisa petentang petenteng gembar gembor telah menerbitkan lima buku di Indonesia karena ybs hanya ingin membentuk image dan meyakinkan orang bahwa dia pintar.

Ingin mengetahui anda tipe yang mana, silahkan klik link ini http://mindsetonline.com/testyourmindset/index.html

 

THE WORLD IS SIMPLY DIVIDED INTO LEARNERS AND NON-LEARNERS!

Categories: Human Resources Management | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: