Budaya

Executhief, Legislathief and Executhief

Pada tahun 1968 , Gunnar Myrdal seorang peraih nobel berkebangsaan Swedia  menulis buku  yg berjudul Asian drama: an inquiry into the poverty of nations  berdasarkan analisa  beliau terhadap India  dan kemudian diteruskan ke  Indonesia. Beliau  memberi judul bukunya drama  sebagai bentuk kepesimisan  melihat kepura puraan yang terjadi   di negara negara Asia  dalam penyelengaraan tatanegara yang bermartabat dan terhormat. Satu istilah yang dilontarkan adalah  Soft State  (negara lemah) untuk  menunjukkan perbedaan Asia dan negara negara barat dalam penyelenggaraan tata negara. Diantara ciri ciri  negara lemah adalah:

  1. Golongan penguasa  tidak menghormati dan  mentaati  undang-undang, malah menggunakan  kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar besarnya demi kepentingan sendiri.
  2. Semuanya diperdagangkan , di Indonesia  mulai dari sapi sampai keadilan.
  3. Peraturan sengaja dilanggar untuk memperkaya golongan berkuasa dan berpangkat
  4. Meluluskan undang-undang tetapi non sense dalam pelaksanaannya
  5. Pembayaran pajak dipermainkan dan kalau bisa tidak perlu dibayar
  6. Semua ngomong kalau dapat  jabatan : ini  amanah, tapi dalam prakteknya amanah untuk memperkaya diri
  7. “Budi politik”   ditabur atau dijual kepada  siapa yang bisa  mendukung menjadi kepala daerah, anggota DPR, lurah, dll.


Singkatnya, ciri utama negara lemah (soft state)  ialah merajalelanya  korupsi, kerakusan, keangkuhan dan penyalahgunaan  kekuasaan di  kalangan eksekutif (kepala daerah,  bupati, gubernur, menteri dan semua penjalan kebijakan), merebak   ke kalangan  legislatif (DPR) , dan  akhirnya tidak mau kalah berpartisipasi juga  kalangan yudikatif (hakim, jaksa).

Tangkapan besar  terbaru  KPK  yg melibatkan  eksekutif, legislatif  dan yudikatif :  menunjukkan pembuktian apa yang dikatakan oleh Mbah Gunnar Myrdal sejak puluhan tahun  yang lalu  masih tetap dipertahankan sampai sekarang ini.

Pada  tahun 1748 Montesquieu menerbitkan bukunya yang mashur  L’esprit des lois (The Spirit of the Laws), yang mengandung teorinya tentang ‘Trias Politica’. Menurut Montesquieu, maka kekuasaan dalam negara itu seyogyanya dibagi menjadi tiga kekuasaan, yaitu kekuasaan membuat undang-undang atau ‘legislatif’, kekuasaan menjalankan undang-undang atau ‘eksekutif’, dan kekuasaan mengadili undang-undang atau ‘yudicatif’. Ketiga kekuasaan itu perlu sekali dipisah-pisahkan, yaitu diberi kedaulatan sendiri-sendiri dalam lapangannya supaya dengan demikian ada ketegasan dalam negara dan tercapai kebebasan yang sebaiknya bagi tiap-tiap warga negara.

Nah kalau Montesquieu masih hidup  mungkin beliau akan miris  melihat Trias Politica-nya di Indonesia  menjadi ExecuThief, LegislaThief  dan YudicaThief tetapi Mbah Myrdal makin sumringah karena teori beliau  kekal dan abadi. Dan kalau beliau masih hidup dan meneruskan observasinya tentang  Indonesia mungkin akan ditambah satu  lagi kriteria soft state: percaya dengan  tahyul termasuk dukun dukun politik sehingga iklan iklan perdukunan yang bisa menjadikan orang kepala daerah banyak di temui. Nih contohnya satu:

Garansi insya Allah jadi, dukun politik ngaku keturunan nabi

Anda boleh saja berkomentar miring tentang Doktor (katanya) keblinger satu ini, tapi   saya yakin ada saja yang percaya, karena di  soft state kaya di Indonesia   sepertinya  menghidupkan  orang mati saja yang nggak bisa.

Prof. Rhenald Kasali boleh saja cuap cuap terus dengan teori beliau tentang perubahan dan mendapat pengakuan sebagai pakar  change management dan sejenisnya, tetapi yang namanya  perubahan itu harus dimulai dari orang  yang berada di atas. Tanpa perubahan dari orang orang yang diatas  Drama yang dikatakan oleh Gunnar Myrdall akan terus berlanjut, entah sampai kapan?

Advertisements
Categories: Budaya, Indonesiana, Politik | Leave a comment

Positioning – Merasa Dizalimi?

Merasa  dizalimi   sepertinya sekarang menjadi trend dan mantra  ditanah air untuk  mencari pembenaran atas segala peristiwa yang menimpa seorang individu. Bro Anas merasa dizalimi karena dipecat    dari Ketum Partai Demokrat,  Teten Masduki dan Oneng merasa dizalimi karena  kalah dalam pilkada Jawa Barat, Neneng istri    Muhammad Nazaruddin yang menjadi terdakwa korupsi merasa dizalimi, Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso dizalimi KPU karena  partainya tidak boleh ikut pemilu, Gayus PNS termuda tapi terkaya yang divonis korupsi dizalimi, Komunitas Partai Keadilan Sejahtera merasa dizalimi ketika  partainya diplesetkan sebagai Partai Korupsi Sapi, dan  ketika divonis tiga tahun, terdakwa kasus dugaan suap cek perjalanan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom juga merasa  dizalimi oleh hukum serta  masih banyak  lagi contoh.

Dalam bahasa Indonesia, kata “zalim” berarti  bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil dan kejam. Orang yang terzalimi berarti dia diperlakukan secara keji dan bengis oleh seseorang. Melihat begitu mudahnya seseorang mengaku dirinya dizalimi  pertanyaan mendasar apakah orang tersebut paham akan  makna dari dizalimi tersebut ataukah  publik Indonesia ini begitu bodoh  sehingga   sangat mudah  bersimpati dengan orang yang mengaku “terzalimi”?

Parahnya  orang orang yang bermasalah  memposisikan diri “terzalimi”  sering  menjadikan agama sebagai komoditas karena ujung ujungnya  dia    mengutip sebuah hadist:
 “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”   Emangnya  Tuhan tidak memiliki sifat  sama (maha mendengar)  dan basyar (maha melihat)? Dan adalah suatu kenaifan kalau menganggap masyarakat sekarang bersifat  sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami menaatinya”. Orang sekarang, begitu mendengar anda dizalimi , akan menjawab,
“Sami’na wa seminarna wa risetna idza cocokna wa masuk akal’na wa imanna.
 Kami mendengar, menyeminarkan dan merisetkan. Jika cocok dan masuk akal, baru kami percaya,”
Satu hal yang sangat menarik bila diamati orang orang yang merasa dizalimi ini rata rata dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Saya belum pernah mendengar orang orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit koar koar merasa dizalimi atau mereka yang ditolak di  sekolah sekolah elit sekalipun memiliki kemampuan intelektual tinggi.  Jadi gejala  apa sebenarnya  yang  membuat orang orang yang notabene ini berkecukupan  memposisikan  dirinya (positioning)   DIZALIMI
Pakar marketing Al Ries  mengatakan: in marketing, positioning is the process by which marketers try to create an image or identity in the minds of their target market for its product, brand, or organization.
Kalau merujuk kepada definisi diatas  image yang ingin diciptakan kepada publik adalah  poses mereka memposisikan  diri  tidak bersalah..padahal jelas jelas salah….ini yang namanya ruarrrr biasaa.
Clifford  Geertz  seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang sangat  dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia karena mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan  dalam memahami perilaku sekelompok masyarakat  memperkenalkan istilah  Interpretive Anthropology yang esensinya mengatakan apa yang dilakukan oleh seseorang merupakan symbol atau lambang terhadap sesuatu  maksud.  Antropologi menurut beliau adalah ilmu memahami orang dengan melihat symbol atau sinyal sinyal yang dipancarkan tersebut dan orang orang  yang mengaku dizalimi tersebut  jelas jelas memberikan sinyal bahwa dirinya  tidak bersikap satria dengan berusaha memposisikan dirinya tidak bersalah apalagi   mengaku bersalah. Karena mereka   sadar bahwa masyarakat kita pemaaf maka kloplah sudah   mengaku dizalimi ini  sebagai usaha membersihkan diri supaya tetap dianggap orang baik.
Terinspirasi dari DIZALIMI POSITIONING ini  teman saya seorang dosen yang bekerja di perguruan  tinggi Malaysia sebut saja namanya Doktor Senang Kentoet, sekalipun sudah  punya gaji lebih dari 20 juta sebulan masih saja   ngobyek  mengajar di program MM gurem  di Jawa Timur, dan ketika ketahuan  ikut ikutan memposisikan dirinya dizalimi padahal aturan sudah jelas jelas melarang   ngobyek  di tempat lain.
Jadi dizalimi tuh sudah milik kaum elit dengan berbagai profesi elit  untuk menyembunyikan semangat hedonism yang sangat liar sehingga semua etika dilanggar.
Kini saya baru paham kenapa  seorang peneliti senior dari Universitas di Jepang mengatakan orang Indonesia sangat beruntung padahal di media apalagi yang namanya di Twitter berita macam macam tentang problema bangsa ini. Di Jepang kalau merasa malu banyak yang bunuh diri tidak peduli tua muda bahkan disediakan  gunung khusus sebagai tempat bunuh diri yang bernama Gunung  Aokigahara: Japan’s Haunted Forest of Death, sedangkan  di Indonesia cukup mengaku dizalimi (baca: are you stupid enough to believe what I am saying).
Selamat menjadi bangsa yang beruntung dengan memposisikan diri dizalimi tapi ingat pesan Abraham Lincoln :
You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Bangsa Berbudaya Konteks Tinggi

Pada tahun 1976, antrophologist Edward T. Hall dalam bukunya  Beyond Culture  memperkenalkan istilah high context culture (budaya konteks tinggi)  dan low context culture   (budaya konteks rendah) sebagai dikotomi pembagian cara cara berkomunikasi bangsa bangsa di dunia.  Menurut beliau, dalam suatu bangsa yang menganut high content culture : many things are left unsaid, letting the culture explain (tersirat) while in a lower context culture, the communicator needs to be much more explicit (tersurat). Dalam budaya konteks tinggi, umumnya orang berbicara tersamar karena kekhawatiran menyinggung perasaan orang atau untuk menjaga sopan-santun berbicara sedangkan dalam komunikasi konteks rendah, orang cenderung berbicara lugas dan apa adanya. Dan dimanakah kita   orang Indonesia? Kita  harus bangga karena kita  dikategorikan  dalam  konteks tinggi karena tidak  to the point. 

Menurut Prof. Tjipta Lesmana seorang gubes Ilmu Politik, dari segi konteks komunikasi, Soekarno, Habibie, dan Gus Dur tergolong rendah. Sebaliknya, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tergolong tinggi (high context). Dari perspektif komunikasi politik, SBY mirip Soeharto. Namun konteks komunikasi SBY rata-rata lebih tinggi daripada Soeharto. Konteks komunikasi sangat tinggi dalam menyikapi kemelut di tubuh PD   inilah yang kemudian melahirkan  berbagai  interpretasi mengenai nasib sang ketua umum ketika  beliau menyatakan tanggung jawab Fraksi, DPP, DPD, hingga DPC dialihkan dari ketua umum ke dirinya selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Keputusan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat   mengambil alih kewenangan ketua umum adalah final. Dengan adanya keputusan ini, Anas tidak berhak melakukan kegiatan apa pun dengan membawa atribut sebagai ketua umum.

Negara dalam Kategori Berbudaya Konteks Tinggi dan Rendah

“Ya keputusan itu artinya semua kewenangan partai yang dimiliki ketua umum jadi ke Pak SBY, termasuk yang simbolik dan pelantikan. Jadi Anas memang tidak lagi menjalani tugasnya sebagai ketua umum,” ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, Senin (11/2/2013), di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sementara yang masih pro kepada sang ketum : “Bahwa ditempuh dengan langkah apapun, Anas masih merasa tetap Ketua Umum yang sah Partai Demokrat,” kata Erlangga di depan rumah Anas, Jakarta, Senin (11/2/2013). Dia pun menambahkan KAHMI mengamini segala pernyataan Anas tersebut.

Tanpa bermaksud memihak kepada siapapun, yang membedakan pola pikir satu bangsa dengan bangsa yang lain adalah BUDAYA.

Geert Hofstede  mendefiniskan budaya “the collective programming of the mind distinguishing the members of one group or category of people from another”. The “category” can refer to nations, regions within or across nations, ethnicities, religions, occupations, organizations, or the genders.

Definisi  yang lebih sederhana adalah  ‘the unwritten rules of the social game’. Peraturan tidak tertulis yang menjadi norma sosial. Lebih jauh Ries dalam buku terbarunya Repositioning (2010) mengatakan Culture is the way we do things here- inilah cara kami! dan cara kami seperti yang dikatakan oleh Hall dalam High Content Culture tadi adalah tidak to the point .   Menurut Teori Konteks dari Profesor Edward T. Hall, pesan komunikasi selalu mengandung konteks tertentu yang bersifat situasional, relasional, politik, ekonomi, dan budaya.  Sekalipun yang paling sulit dipahami adalah konteks budaya seperti  misalnya, Pak Harto yang terkenal dengan sebutan the smiling general  ketika melemparkan senyum, apa artinya,  dalam kasus bro Anas, pemahaman akan budaya Jawa sudah cukup untuk membaca isyarat yang diberikan oleh Pak Be Ye. Dalam konteks pidato SBY , pernyataan yang disampaikan ke publik adalah komunikasi simbolik ala Jawa yang sangat high  Javanese content culture.  Dan bro  Anas yang merupakan orang  Jawa tentu paham apa maksudnya! Boleh saja bro Anas menerjemahkannya  dengan konteks hubungan  bapak –  anak  dimana  sang  bapak sedang marah kepada anaknya, tetapi publik mungkin melihatnya  dari konteks hubungan industri dimana  pemilik saham memutuskan untuk mengambil alih tugas direktur utama, dan kalau menggunakan konteks ini…silahkan terjemahkan sendiri karena itulah uniknya  menjadi bangsa yang berbudaya konteks tinggi, semua perlu kejelian untuk menginterpretasi. Bukankah  Frederick Nietzsche  seorang filosop  Jerman mengatakan : tidak ada yang namanya realita hanya interpretasi. 

Selamat  menginterpretasi mas mas bro semua!

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: , , , , | Leave a comment

Presiden Korupsi Sapi

Berita yang paling  mengejutkan dalam minggu ini dan berhasil mengalahkan  tertangkapnya RA dalam pesta  narkoba dan bangkrutnya  Batavia Air adalah ditangkapnya Presiden PKS atas tuduhan korupsi pengadaan impor daging sapi. Sontak masyarakat Indonesia  yang kreatif langsung mengaitkan dengan naiknya harga daging sapi di pasaran akhir akhir ini dengan memberi cap PKS sebagai Partai Korupsi Sapi…nah nyaho elu…karena yang dikorup tidak keren. Bandingkan dengan politisi politisi lain  yang diembat adalah bank, proyek proyek triliunan bahkan pengadaan kitab suci. Masalahnya menjadi menarik karena boss besar partai yang ditangkap ini berbasis agama, dikenal sesama kolega sebagai orang yang sangat alim dan selama ini dikenal sebagai partai paling bersih yang mana tidak satu pun kadernya yang ketangkap (belum ketahuan kali ya)  karena korupsi tetapi sekali ketangkap langsung bos besarnya. Dalam sistem yang menggunakan quality is better than quantity  penangkapan boss besar langsung melejitkan citra partai tersebut  ke tingkat  paling atas   sama seperti penentuan perolehan medali dalam olimpiade London. Perolehan 1000 medali perunggu satu negara akan langsung melorot peringkatnya  terhapus begitu  saja ketika  ada satu negara yang berhasil memboyong medali  emas….nah kira kira begitulah yang terjadi  dengan partai ini sekarang  -suka atau tidak suka, rela atau tidak, tapi saat ini harus nrimo ing pandum di vonis sebagai  Partai Korupsi Sapi.

PKS?

Karena yang terlibat adalah big boss tentunya para pengikut yang jutaan baik di level grass root sampai yang  menduduki jabatan di lembaga tinggi dan tertinggi negara tentu saja berusaha membela  bossnya.  Harap maklum saja dalam suatu negara yang menganut Shame  Culture : semuanya ditandai oleh rasa malu dan disini tidak dikenal rasa bersalah. Menurut pandangan ini budaya malu (shame  culture) adalah kebudayaan dimana  kata kata seperti “hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  ”status”, dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila seseorang melakukan suatu kejahatan, hal ini  tidak dianggap  sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, tetapi boleh disembunyikan demi kepentingan yang lebih besar. Malapetaka  hanyalah terjadi  bilamana kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain sehingga pelaku kehilangan muka, dan ketika diketahui-pun seperti yang terjadi sekarang ini masih tetap dibela. Gejala apa lagi ini? Kita memang terkenal sebagai bangsa yang kreatif dalam mencari PEMBENARAN bukan KEBENARAN. Dalam  Teologi  dikenal istilah  Apologetics (from Greek ἀπολογία, “speaking in defense”) – the discipline of defending a position (often religious) through the systematic use of information biasanya digunakan untuk membela  sang Imam. Apologetic politik adalah usaha untuk membela  big boss yang menjadi petinggi partai dengan menunjukkan kebaikan dan prestasi prestasi ybs untuk menggiring opini publik bahwa hal  tersebut tidak mungkin dilakukan oleh sang Imam yang sangat religius , alim serta  sangat fasih mengutip ayat ayat dari kitab suci. Sepertinya  para petinggi partai ini sangat paham akan psikologi masa yang masih sangat menjunjung nilai  nilai tinggi keagamaan, sehingga dilaunchingkan program pertama adalah ajakan Tobat Nasional, entah siapa yang diajak. Jadi tolong diingat yang terjadi adalah bukan penyuapan, tapi percobaan penyuapan, bukan  Partai Korupsi Sapi tapi Presiden-Nya Korupsi Sapi! Ngoten mas mas bro.

Kalau sang presiden memang terbukti, maka terbukalah mata dunia lebar lebar inilah jagad politik Indonesia dengan realitanya : parpol dan korupsi adalah dua sisi mata uang. Kalau anda ke Palembang, belum afdol kalau nggak nyicipin empek empek Palembang, kalau ke Singapore belum sah sebelum ada foto mejeng di patung Merlion, ke London tidak ada greget kalau tidak mejeng di Big Ben, nah gitu juga dengan Parpol, kayanya belum  lengkap kalau tidak korup. Dengan tidak bermaksud tendensius, realita sosial yang ada di masyarakat kalau kita melihat  anak nakal, bengal, bandel, ndablek, tolol, etc, pertanyaan basic selalu : anak siapa? Kalau sudah gini…kayanya  mendingan pindah partai aja lah mas mas bro demi menyelamatkan periuk nasi.

Selamat mencari partai baru saudara saudara sebangsa dan setanah air, bila pilihan kita masih salah dengan partai yang pernah kita harapkan ini, jangan lupa  kita masih berdo’a paling sedikit menyebut : tunjukilah aku jalan yang lurus (termasuk memilih partai yg didukung) 17 x dalam sehari.  Tidak perlu meratap ketika apa yang dipuja puja selama ini ternyata sami mawon. Setidak tidaknya  kita  terhindar dari golongan yang  meminta jalan yg lurus tapi dalam praktek kehidupan menerapkan STMJ : Sholat Terus Maksiat Juga!

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: , , , | Leave a comment

TIGA MENGUAK TAKDIR

Tahun 2013  sudah kita jalani dan sebentar lagi hiruk pikuk politik akan membahana  di tahun 2014. Dan seperti biasa  banyak peramal peramal dadakan dengan bungkus  pengamat mulai bergerilya  dengan ramalannya dan kalau salah toh orang juga  mudah lupa. Tanpa bermaksud mengikuti arus menjadi peramal, tulisan ini hanyalah merupakan sumbangan pemikiran yang  karena dipengaruhi oleh gaya  saya sebagai seorang  akademisi    selalu berawal dari melihat fenomena dan kemudian berusaha merumuskan apa yang terjadi di balik fenomena tersebut dan bagaimana  kita seharusnya menyesuaikan langkah kita.  Hidup di era  digital dewasa ini harus menerima kenyataan  bahwa perubahan teknologi dan ekonomi  akan mempengaruhi  sifat sifat dari pekerjaan kita, dan di negara  negara maju, biasanya ekonomi mempengaruhi politik, bukan sebaliknya, jadi  jangan biarkan hiruk pikuk politik  menyita kehidupan kita.  Karena perubahan  dahsyat dibidang teknologi  dan ekonomi tersebut, konsekuensinya  sekarang memiliki  pekerjaan yang  bagus  tidak  menjamin tercapainya karir yang gemilang karena  kemampuan anda tidak lagi ditentukan oleh apa yang anda ketahui. Selamat datang  di era baru dunia kerja dimana  masa depan anda akan ditentukan oleh  sekuat apa sinyal yang anda pancarkan di tengah hiruk pikuk persaingan tenaga kerja di dunia.  Hal ini  sejalan    dengan yang dikatakan oleh Steven Covey pengarang buku   7  Habits of Highly Effective People  tentang habit yang ke 8: Finding your voice and helping others find theirs ; tunjukan jati diri anda dan bantu orang lain menemukan jati diri mereka . Buat diri anda terdengar, sudah lewat masanya seperti iklan Isuzu Panther beberapa tahun yang lalu : Nyaris  Tidak Terdengar  seiring  dengan Isuzu Panther nya sendiri yang semakin tidak terdengar. Supaya “terdengar” atau sinyal yang anda pancarkan ditangkap, menurut  Dr Tomas Chamorro-Premuzic,   seorang Professor of Business Psychology di University College London (UCL), kita harus menguasai 3 (tiga) hal: self-branding, entrepreneurship, dan hyperconnectivity.

Self-branding adalah   menjadi sinyal      ditengah hiruk pikuk  modal insani. Semakin kuat merek anda , semakin kuat sinyal yang dipancarkan.  Di era persaingan yang begitu  keras, self-branding lebih penting daripada apapun bentuk  bakat dikarenakan  pasar sudah  tidak mampu (atau tidak mau) lagi  untuk membedakan antara merek dan bakat. Lihat saja seorang dosen yang memiliki merek sekalipun  tidak berbakat mengajar satu subjek karena bukan keahliannya tetap   masih difavoritkan. Sewaktu saya  masih tinggal di Surabaya  beberapa tahun yang lalu, suatu pameran pendidikan  kalau  penyelenggaranya bukan Jawa Pos biasanya  peminat   dalam hal ini PTS  di Jawa Timur yang mau berpartisipasi  biasanya  sedikit. Jawa Pos yang jelas jelas koran, bukan event organizer  sangat diminati karena tidak lepas dari Merek Jawa Pos tersebut.

Kita semua makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda , tetapi   kalau kita tidak memiliki  merek, individualitas kita sebagai makhluk  Tuhan yang unik tidak  akan terlihat. Menjadi merek berarti menampilkan apa yang membuat Anda istimewa, dengan cara yang berbeda (dikenali), diprediksi (konsisten), dan bermakna (memungkinkan orang lain untuk memahami apa yang Anda lakukan dan mengapa). Inilah sebabnya mengapa Hermawan Kertajaya dan Agnes  Monica  jauh lebih berhasil daripada pesaing mereka yang  lebih berbakat – mereka mengerti bahwa menjadi fenomena pemasaran itu lebih penting daripada menampilkan keterampilan berceramah tentang pemasaran  yang luar biasa atau bakat musik, dan lebih terfokus pada self-branding dibandingkan  yang  rekan-rekan mereka lakukan.

 Entrepreneurship  adalah tentang menciptakan  nilai tambah lebih  kepada masyarakat dengan menghilangkan tahapan  yang tidak perlu:    mengubah masa kini ke masa lalu dengan menciptakan masa depan yang lebih baik. Antri beli tiket kereta api  dan  pesawat di travel agent, ngantri bayar pajak motor dan mobil di SAMSAT , terbang  dgn tiket sangat mahal,  harga laptop mahal   adalah sebagian contoh masa lalu  karena hasil karya karya para entrepreneur.

Kita semua sibuk, tapi satu-satunya aktivitas yang benar-benar penting adalah kegiatan yang memiliki nilai tambah.  Entrepreneurship  adalah perbedaan antara menjadi sibuk dan menjadi sebuah bisnis, dan alasan mengapa beberapa orang  dapat bertahan dalam bisnis.

Perang   bakat dewasa ini  adalah perang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan  insan yang dianggap  sebagai agen perubahan sejati.  Agen  perubahan sulit untuk ditemukan, sulit untuk dikelola, dan sulit untuk dipertahankan. Entrepreneurship  adalah tentang menjadi agen  perubahan. Agen  perubahan bila  diibaratkan  sebagai sinyal sinyal radio  adalah   Suara Surabaya 100 FM yang  sinyalnya sangat kuat memancar  kemana mana  sedangkan  yang lain  hanyalah sinyal krosak krosok yang tidak jelas apa tuh.  Hampir dipastikan di era ini, apapun profesi anda jika Anda tidak membawa pertumbuhan, anda diganti dan   didaur ulang, sama seperti sinyal yang krosak krosok tidak jelas tadi pasti diganti.

Apakah Anda bekerja sendiri atau dipekerjakan oleh orang lain, apakah Anda bekerja di sebuah bisnis besar atau memiliki usaha kecil, kesuksesan karir anda tergantung pada kemampuan anda untuk menawarkan sesuatu yang baru: solusi baru untuk masalah yang ada, layanan baru, produk, dan ide-ide baru dll.  Segala sesuatu yang tidak baru dianggap usang , dan jika anda melakukan hal yang usang  maka anda terjebak di masa lalu. Dalam  era  Entrepreneurship masa depan anda adalah   baru, dan nilai anda tergantung pada kemampuan anda untuk melakukan sesuatu yang berbeda.  Never let your memories be greater than your dreams (Doug Ivester) , Live out of your imagination, not your history (Steven  Covey), Only 2 things generate money:Marketing and Innovation  (Peter Drucker) adalah sekelumit contoh dari pandangan para pakar dibidangnya akan pentingnya sesuatu yang baru.

Hyperconnectivity adalah tentang menjadi sinyal dalam lautan data,  kemudian membuat dan membentuk gelombang pengetahuan sosial. Dalam bahasa yang lebih sederhana bagaimana supaya tweet, facebook dan blog anda dibaca. Banyak orang  yang terkoneksi  secara online, tapi apa yang penting adalah menjadi konektor yang relevan. Hyperconnectivity bukanlah tentang menjadi online 24 jam,  ini tentang mengoptimalkan pengalaman secara  online untuk  dibagi  kepada orang lain. Kalau anda tidak menjadi  seorang hyperconnector  berapa orang  yang tahu anda  memenangkan suatu kompetisi, prestasi apa saja yang anda capai?,   tetapi ketika anda seorang hyperconnector, ribuan orang akan menonton film yang anda sukai dan rekomendasi  anda akan membentuk opini publik. Dalam era informasi  dimana  informasi  yang disampaikan  sudah mencapai tingkatan over  berlebihan, menjadi sumber terpercaya informasi adalah komoditi yang langka .  Hal ini  bisa dikatakan  sebagai  Digital Word-Of-Mouth  terbaru dalam evolusi pemasaran. Hyperconnectors mengarahkan kita ke arah yang benar. Siapa saja dapat meng-upload video di YouTube atau tweet, tetapi hanya sedikit yang bisa mengarahkan kita ke video atau tweet yang ingin kita lihat.

Singkatnya,  di era digital ini, masa depan anda tergantung pada kemampuan anda menguak takdir dengan melakukan 3 hal:  menjadi merek, agen perubahan, dan link ke informasi yang berguna. Menjaga  kepribadian   dan mengelola reputasi   (bagaimana orang lain melihat ) akan mengubah anda menjadi merek yang sukses, menghasilkan  ide-ide kreatif  dan menentang status quo serta cara yang kuno  akan membantu anda menjadi agen perubahan, dan menjembatani kesenjangan antara luasnya  pengetahuan sosial   didunia digital dan apa sebenarnya  yang dibutuhkan  oleh masyarakat  akan membuat  anda menjadi hyperconnector.

Selamat tahun baru 2013, selamat menguak takdir   dan selamat bekerja untuk Indonesia  yang lebih baik!

Categories: Budaya, Ekonomi, Human Resources Management, Marketing | Tags: , , | Leave a comment

Menjual Pariwisata: dengan Vietnam saja kita kalah?

Menyebut nama  Vietnam, apa  yang ada  di benak anda, perang, Vietcong, gerilyawan, beras,  atau  varian sipilisnya yang  sangat dahsyat terkenal  dengan sebutan Vietnam Rose? Secara  mengejutkan diam diam negara yang pernah hancur lebur dikoyak perang tersebut  dengan  segala  keterbatasannya  berhasil mendatangkan  wisatawan  sampai sepuluh juta orang. Bandingkan dengan Indonesia  dengan berbagai  pesona budaya dan keindahan alam termasuk peninggalan bersejarah masih belum mampu mencapai angka tersebut. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata,  ketinggalan Vietnam dengan Indonesia  sudah  terlihat sejak pesawat mendarat.  Kalau di Indonesia  pesawat yang  merapat ke  bandara cukup di pandu oleh  petugas air traffic controller tetapi di  bandara international Tan Son Nhat  Ho Chi Minh  pesawat   dipandu oleh mobil, yah semacam polisi cepek lah kalau di jalan raya Indonesia..anda jangan ketawa dan melecehkan karena memang begitu. Tapi setidak tidaknya radar di bandara ini belum pernah ngadat  seperti di bandara international Soetta beberapa hari yang lalu.

Image

Pesawat Lion Air  Indonesia  dipandu mobil di Tan Son Nhat Airport   Ho Chi Minh

Keterbatasan  lain  juga terlihat di fasilitas yang dimiliki oleh perguruan tinggi paling ngetop di Vietnam, University of Economics  Ho Chi Minh City. Untuk  perguruan  tinggi  papan atas ini  bangku   kuliah yang digunakan    lebih jelek  dari  fasilitas  kursi untuk SD INPRES  di wilayah pedalaman Indonesia; hanya bangku panjang seperti di warung warung kopi pinggir jalan PANTURA.

Image

Kursi panjang untuk 5 0rang, ngebayangin nggak rasanya kuliah disini

Keterbatasan  tidak mereka jadikan alasan untuk menarik wisatawan. Vietnam bisa disebut sebagai salah satu negara yang amat cerdas menjadikan wisata sebagai industri penghasil devisa. Negara yang pernah tercabik-cabik karena perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat ini jeli melihat peluang mengail wisatawan asing. Terowongan  tempat persembunyian di kemas  diolah seperti suasana zaman perang  lengkap dengan lapangan tembak   untuk menggunakan  AK 47 asli sehingga menjadi serasa di dunia perang beneran, rongsokan mesin mesin perang Amerika yang tertinggal dijadikan  museum. Tapi satu hal yang jangan sekali kali dicoba yaitu naik becak dan ojek di Vietnam karena semuanya rata rata penipu, begitu anda naik siap siaplah untuk diperas dengan harga yang jauh melebihi untuk  ongkos naik taksi.

Sebetulnya, dibanding Vietnam, Indonesia memiliki jauh lebih banyak obyek wisata yang fantastis, dan benar-benar kelas dunia ditambah dengan tukang becak dan ojeknya yang  jujur . Akan tetapi wisatawan asing yang datang tidak sampai sepuluh juta orang. Jauh di bawah Singapura, sebuah negara dengan luas hampir sama luas wilayah DKI Jakarta. Ada apa ini?

Kita perlu belajar banyak dari negara lain, kalau perlu dari Vietnam yang jauh ketinggalan, tidak perlu lah studi banding sampai ke Eropa sono.

Categories: Budaya, Ekonomi | Tags: , | Leave a comment

Rhoma Irama Ratu (Raja Dangdut) Adil

Hingar bingarnya tentang  mimpi bangsa ini akan seorang pemimpin  yang  diimpikan sebagai  Ratu Adil  membuat banyaknya  yang  memajukan atau mencalonkan dirinya menjadi pemimpin termasuk  Bang Haji. Kalau dulu kawan kawan saya menanyakan siapa Rhoma Irama  saya menjawab Raja Dangdut, tetapi sekarang no way laa bro, saya akan jawab Capres 2014. Apa  sebenarnya  yang terjadi  sehingga  Bang Haji-pun dilirik  sebagai  Capres. Mimpi kita untuk perbaikan Indonesia tanpa sadar telah menguras nalar seluruh anak bangsa. Pemimpin yang dirindukan tak datang-datang. Yang sudah tua  dikatakan sunset generation, yang  masih muda, masih belum saatnya.  Kita sempat  bermimpi tentang  ”Ratu Adil”  ketika almarhum Gus Dur menjadi presiden, diteruskan  di zaman Bu Megawati, tapi  sepertinya   harapan tinggal harapan, Pemimpin yang didambakan tak kunjung datang, masalah yang mendera tidak juga bisa terpecahkan. Kita lalu mengutuk keadaan dengan menyandarkan harapan pada cerita tentang orang-orang hebat  lalu ada yg melirik Raja (Dangdut) Adil sekarang.Salahkah ini ?

Sang Capres 2014

Dalam cerita  Alice’s Adventures in Wonderland  cerita fiksi yang ditulis oleh penulis dari InggrisLewis Carroll, salah satu  sastra Inggris klasik yang bercerita tentang anak perempuan yang tersesat di dunia ajaib yang dipenuhi banyak mahluk aneh , ketika bertemu  kelinci  yang menanyakan ” mau kemana  kamu pergi ” Alice menjawab tidak tahu, dan  selanjutnya kelinci mengatakan ” tidak masalah kamu mau ikut jalan yang mana, semua jalan adalah benar kalau kamu tidak tahu tujuanmu.

Apa yang terjadi dengan bangsa ini mungkin seperti  cerita Alice dan kelinci tersebut.Kehebohan kita mencari pemimpin adalah cermin kegaduhan politik yang gagal mengartikulasikan  republik ini mau di bawa kemana  seperti impian  para pendiri bangsa ini  menjadi realitas. Tujuan negara  hanya terukir dengan indah dalam pembukaan UUD 1945 : untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, sepertinya tidak dipahami, Jadi sah sah saja  kalau Bang Haji atau siapapun mau jadi presiden, ya tapi  monggo dipahami dulu  tujuan  negara ini mau apa..dan apa yang sudah  dimiliki untuk merealisasikan   tujuan tersebut dengan negara yang masalahnya begitu kompleks ini.

Steven Robbins  seorang pakar perilaku organisasi  mengatakan kalau mau jadi pemimpin  ada 3 hal yang menjadikan seorang pemimpin: Motivasi, Kemampuan Intelektual  dan Kesempatan. Pada  era orde baru, yang punya motivasi dan intelektual tidak bisa jadi presiden karena  kesempatan  tidak pernah diberikan karena syarat untuk jadi presiden sudah ditentukan : berpengalaman sebagai presiden. Di era  reformasi  kesempatan terbuka  selebar lebarnya, sehingga  banyaklah  calon calon yang mengandalkan motivasi saja, dan celakanya  masyarakat yang menjadi lumbung suara pemilih melupakan  faktor  intelektual tersebut karena masih percaya  dengan dongeng dongeng tentang ratu adil tersebut.

Mulailah dengan belajar dari sejarah dengan mengenali nilai-nilai keutamaan dan semangat dari sosok orang orang terkenal baik dalam dan luar negeri. Mereka juga adalah manusia, sama seperti kita. Bedanya, mereka adalah orang-orang yang sudah cukup dan sudah selesai dengan dirinya, dan sanggup melampaui rata-rata keutamaan unggul yang dimiliki orang pada umumnya untuk mengabdi kemanusiaan.Dan  bila  bung Haji sudah sampai ke taraf ini dimata pengikutnya (bukan mencipta lagu dangdut lho), silahkan  maju.. dan yang lain lain yg sudah memenuhi kriteria tidak peduli mereka  sunset generation atau  anak anak muda silahkan  berkompetisi di 2014!

Mengenai  dikotomi  tua muda  ingat saja   Benjamin Franklin  negarawan terkenal asal  Amerika  yang mengatakan ” Two people you cannot trust – an old barber and a young doctor.” Silahkan anda mau   negara ini dikelola oleh   dokter muda yang tidak berpengalaman mendiagnosa penyakit atau dicukur oleh   tukang cukur tua  yang cuman ngerti model potongan rambut tentara atau polisi saja?

Soal pendidikan, tidak perlu diambil sebagai standar intelektualitas, bukankah Obama  hanya perlu sekolah sampai kelas 3 SD di Indonesia tetapi beliau bisa  menjadi presiden USA, sedangkan Pak Amien Rais yang sekolah S3  di Amerika   gak bisa tuh jadi presiden Indonesia!

Maka  ketika melihat  neneknya masih berambisi, seorang cucu-pun berkomentar: Oma, mengelola negara itu tidak sama seperti mengelola grup dangdut! Dan satu hal lagi siapapun  yang memimpin pasti sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya. Kalau bang Haji Rhoma terpilih jadi presiden, besar kemungkinan  beliau susah  berada di istana  karena  setelah sukses  dengan serial  Rhoma Irama Berkelana I, II,   i serial III,IV dan selanjutnya.

Selamat berkompetisi  di 2014, mas mas bro.

Categories: Budaya, Famous People, Indonesiana | Tags: , | 1 Comment

Shame Culture (Budaya Malu), Guilt Culture (Budaya Bersalah) or No Culture?

Pada  tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog  dalam bukunya yang berjudul  The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture (Budaya Malu) dan Guilt Culture (Budaya Bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian  bagaimana pola pikir Barat  dan Timur.  Barat  di kategorikan sebagai guilt culture dimana  orang merasa  bersalah kalau melakukan sesuatu perbuatan yang salah sekalipun tidak ada yang melihat. Contohnya di Jerman dan negara negara Eropa Barat (kecuali Inggris), kalau anda naik kereta api dan bis dalam kota  tidak ada yang memeriksa apakah anda punya tiket atau tidak, tapi orang orang yang menggunakan moda transport tersebut tetap membeli tiket sesuai dengan tujuannya masing masing karena mereka merasa bersalah (guilt) kalau naik transportasi umum tidak membayar. Sebaliknya suatu bangsa  yang  menganut  shame culture, orang akan terus melakukan sesuatu  perbuatan  yang salah  dan merasa nyaman saja  dan akan merasa malu (shame) kalau ketahuan. Nah tahu kan sekarang alasannya kenapa sampai ada  yang berani sumpah gantung di Monas  segala  demi  tidak mendapat malu karena  dalam konsep shame culture  semuanya ditandai oleh rasa malu dan disini tidak dikenal rasa bersalah. Menurut pandangan ini budaya malu (shame  culture) adalah kebudayaan dimana  kata kata seperti “hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila seseorang melakukan suatu kejahatan, hal ini  tidak dianggap  sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, tetapi boleh disembunyikan demi kepentingan yang lebih besar. Malapetaka  hanyalah terjadi  bilamana kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain sehingga pelaku kehilangan muka. Jadi jangan heran bro..kalau laporan KPK di intervensi, kasus Century masih kabur, KPK dan Polisi  saling berantem semuanya itu dilakukan demi menyelamatkan yang namanya hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi.

Image

No  train ticket checking in Germany

Ketika terjadi promosi jabatan untuk sejumlah bekas terpidana korupsi di Provinsi Kepulauan Riau  beberapa pakar berkomentar: “rasa malu di kalangan pejabat publik Indonesia semakin menipis”. Jika dibiarkan, kondisi ini rawan menyuburkan praktik korupsi di pemerintahan. “Kalau punya malu, mereka semestinya tak bekerja lagi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), apalagi kemudian diangkat menjadi pejabat publik,” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia, Salim Said, di Jakarta, Rabu (24/10/2012).Menurut Salim Said, pengangkatan para mantan terpidana korupsi sebagai pejabat itu mencerminkan bahwa orang tak merasa malu lagi untuk bekerja melayani publik meski cacat moral. Orang yang terbukti korup itu berarti telah mengkhianati amanat melayani rakyat.

“Enak saja, mereka sudah korup, diadili dan terbukti korupsi, dijatuhi hukuman, kok malah balik lagi menjadi pejabat. Mereka harus mundur dari jabatannya,” kata Salim.  “Siapa saja yang pernah dihukum karena korupsi tidak boleh lagi diangkat menjadi pejabat publik dalam semua tingkat selamanya,” katanya.

Wajar saja Prof  Salim geram, tapi kalau  Ruth Benedict masih hidup dan sekalipun terdapat pro dan kontra terhadap doktrinnya dikalangan para antropolog,  melihat fakta di mana  orang yang jelas jelas  bersalah (guilt) tapi tetap saja tidak memiliki rasa malu (shame)  mungkin beliau akan menambah satu  lagi tipologi nya  menjadi  No Culture  khusus  kepada   orang orang semacam ini. Diawal awal penelitiannya  Ruth Benedict menggunakan  sampel  Amerika sebagai guilt culture dan Jepang sebagai  shame culture.  Tapi penelitian yang dilakukan oleh Prof. Creighton dari University of British Columbia  Vancouver  membuktikan bahwa orang Jepang ternyata lebih ke guilt culture.  Sifat  kesahihan penelitian ilmu sosial adalah  tentatif: diterima   bila sementara  belum ada teori baru yang menyanggahnya.  Lihat saja  tipologi dimensi Hofstede National Culture yang awalnya cuma ada empat: Power Distance, Uncertainty Avoidance, Masculine  vs Feminine, Collectivism vs Individualism, begitu sampai ke Asia timbul satu dimensi baru yang namanya Long Term Orientation. Melihat fakta fakta yang terjadi di negara tercinta, tidak kah anda merasa malu bila  satu dimensi yang bernama No Culture atau apapun namanya akan  muncul dengan mengambil sampel  Indonesia?

Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | 1 Comment

Bahasa Negara Jiran.

Sekalipun  Bahasa Indonesia  dan   Bahasa  Melayu (Malaysia) merupakan bahasa  serumpun, beberapa  kosa kata  bisa (Melayu = boleh)  menyebabkan salah pengertian. Beberapa    orang teman Indonesia  yang mengadakan  kunjungan ke  markas besar (Melayu = Ibu Pejabat) suatu perguruan tinggi  sering  begitu  kunjungannya selesai yang buru buru dilakukan adalah mencari tempat  untuk pipis karena saking kebeletnya.  Usut punya usut ternyata mereka  sekalipun ke toilet (Melayu = tandas ) tidak berani  pipis karena ada tulisan KAKI TANGAN SAHAJA. Nah sekalipun ke  toilet  mereka tidak berani pipis cuman nyuci kaki dan tangan doang..nah nyaho kan, padahal kaki tangan itu maksudnya adalah  staff. Di Malaysia kalau  menggunakan kata kamar kecil untuk   membuang air kecil akan  dibetulkan dengan , ”gi tandas ke?” Tentu saja orang Indonesia merasa tidak nyaman   dengan  kata tersebut karena   agak aneh  akibat pengaruh kalimat ini: Saya makan  ubi rebus  ini hingga licin tandas –  yang bisa berkonotasi   malu seleranya masih makan  telo sambit ngumpet di toilet.


Yang sudah sering bepergian ke wilayah wilayah Malaysia atau tinggal  akan melihat dan merasakan   bahwa  bahasa Melayu tidak baku dalam penggunaannya sehingga mulai dari Johor, Negeri Sembilan, Selangor sampai di ujung Semenanjung Malaysia yakni Kelantan bahasa Melayu yang digunakan jauh berbeda penggunaannya. Sekalipun saya tinggal di Malaysia cukup lama, sampai sekarang saya tidak akan pernah paham  bahasa Kelantan (sering dipelesetkan jadi Kelate). Ditambah lagi dengan gaya anak mudanya yang mencampur baurkan bahasanya dengan bahasa Inggris. Bahasa Melayu diucapkan dengan medok oleh etnis China dan menggoyang-goyangkan kepala gaya nehi nehi oleh etnis India.Anak-anak muda lebih suka berbahasa Caca Merba (campur baur dengan bahasa prokem, bahasa etnis dan bahasa Inggris) hal ini tercermin dari drama-drama dan film-film yang mereka buat.
I nak letak kete(kereta) dekat townhouse sana” “ you pigi sana lah , tak payah bising-bising…”  You nak makan Tahu dengan I ke?  KALAU YANG INI PASTI NGGAK ADA YANG MAU, karena Tahu tu dengan u, kalo dengan I jadi Tahi ..gitu lho ,   dan sebagainya. Itu gaya bahasa yang seringkali terdengar. Orang Malaysia memang menggunakan istilah Inggris untuk berbahasa. Bagaimanapun mereka merupakan commonwealth Inggris. Contohnya dalam mengeja huruf: e bi si di ie ef ji dan seterusnya.  Orang Indonesia  sering   tampak kurang suka ketika lulusan Malaysia  ditanya : “Dimana ambil PhD?”, dan dijawab, “Yu ke em” maksudnya adalah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bukan maksudnya kebarat baratan tapi ya spellingnya memang seperti itu bukan  “U ka em”. sebut saja U ka em, U em, U tem jamin tidak ada yang tahu karena di Malaysia  dilafalkan  Yu ke em,Yu em,  Yu tem .
Kalau bahasa Indonesia mempunyai aturan bagaimana kaidah penulisan serapan dari unsur bahasa Inggris, misalnya yang berakhiran “ion” menjadi si, misalnya administration > administrasi, illustration > illustrasi, television > televisi, sebaliknya Bahasa Melayu cenderung menyerap bahasa Inggris dengan bebas dan dicampur dengan percakapan Bahasa Melayu sehari hari. Jadi bahasa Inggris dimelayukan seperti: bas untuk bus, epal untuk apple, stesen untuk station, berus untuk brush, selipar untuk slipper, kek untuk cake, lesen untuk licence, bek untuk bag, tayar untuk tire, wayar untuk wire, vasu untuk vase, ais untuk ice, saman untuk summon, lokap untuk lock up, polis untuk police, polisi untuk policy, dan lain sebagainya. Jangan heran jika makcik-makcik dan abang-abang di pasar-pasar dengan lancar berbicara,”Tak sure lah” atau “So, cam mane nak ape lagi?”.
Disamping itu penggunaan kata “sedap” yang digunakan untuk menyatakan tentang rasa yang menyenangkan di semua lini, sementara dalam bahasa Indonesia kata tersebut hanya untuk menyatakan rasa makanan. Jadi jangan heran kalau suara Rosa penyanyi yang saat ini ngetop di Malaysia dikatakan: :suara Rosa sedap, yang baru datang dari Bandung (tempat favorit orang Malaysia) akan ditanya: Bandung sedap?

Ketika saya baru baru bertugas di salah satu universiti (Ind: Universitas), seorang professor yang bertemu saya di ruang mensyuarat (Ind: rapat) bertanya” Awak duduk kat mane?” Saya dengan wajah polos menjawab,”Duduk dimana-mana saja”, dan Profesor itu segera memperlihatkan mimik wajah kurang suka pada saya. Mengapa beliau tidak suka, belakangan saya baru tahu arti kata “duduk” yang berarti “tempat tinggal”. Ia menanyakan dimana rumah saya , dan ia menganggap saya tidak menjaga maruah (Ind: martabat) universiti karena sebagai pensyarah (IND: dosen) suka tinggal dimana-mana tidak punya rumah tetap, sementara saya mengira ia bertanya soal tempat duduk di ruang rapat.

Kawan saya Dr. Martinus yang bertugas lebih awal dari saya juga mengalami salah paham soal bahasa ini. Beliau mendapat telpon dari kawan Malaysianya,”Dr, saye jemput ye pukul 8 dekat rumah ada majlis hari jadi (IND = hari ulang tahun) saye”. Dr. Martinus betul-betul menunggu dijemput pada pukul 8 malam itu.
Sayangnya “menjemput” artinya adalah mengundang, sehingga Dr. Martinus memang harus gigit jari dan nyumpah nyumpah karena semalaman kawannya tak muncul juga untuk membawanya ke acara hari ulang tahun.

Di kampus kampus sering tertulis poster:

Semua dijemput hadir ke Seminar Motivasi, pakar Motivasi Ternama. Masuk adalah percuma.

Di Malaysia, percuma bermakna ‘gratis’ atau ‘tidak membayar apapun’ sudah lama tidak kita gunakan . Kata ‘percuma’ sekarang karena perkembangan bahasa menjadi bermakna ‘sia-sia’ atau ‘tiada gunanya’. Kalau dalam hal ini penggunaan kata gratis Indonesia sama dengan kata gratis dalam bahasa Belanda dan Jerman.

Ketika saya posting beberapa gambar sedang bepergian di FB saya, maka komen yang ada adalah : “Seronoknya makan angin ” artinya: “Asyik ya jalan-jalan ”.

Kata lain yang perlu diperhatikan adalah kata “beta” yang masuk dalam kategori bahasa melayu tinggi dan hanya raja yang boleh menggunakannya untuk menunjukan “saya”, sementara di Indonesia adakah yang mau (di Pulau Jawa utamanya) membahasakan “saya” dengan “beta”?

Doktor doktor Indonesia yang mbalelo  mengajar di Malaysia biasanya adalah segelintir putra putra terbaik  dan biasanya memiliki  kemampuan diatas rata rata  sehingga sering mendapat pujian  dari mahasiswanya dengan  mengatakan:  “seronoknya belajar dengan Dr. A kerana beliau memiliki  KELAINAN”  maksudnya ; belajar dengan Dr. A sangat menyenangkan karena  beliau memiliki kelebihan.  Seorang mahasiswa  kalau di Indonesia  berani mengatakan dosennya memiliki kelainan, bisa  bayangkan deh apa yang bakalan terjadi?  Sebaliknya,  di Malaysia  para dosen (pensyarah) akan sangat bangga kalau dikatakan memiliki kelainan.

Sekalipun serumpun, masih banyak kosa kata yang perlu diperhatikan untuk menghindari misunderstanding. Dan kalau anda menemui kata kata seperti ini, janganlah coba untuk mengerti karena saya pun tidak paham.

“Hang mai la sini sat. Aku nak ajak hang pi nat sat.”
(Perlis, Kedah, Pulai Pinang)

“Teman suke ghomah tepi pante”. (Perak)

“Mu nok gi make mano?” (Kelantan)

Adapted from:  Kompas.com   Cita Rasa Bahasa Melayu di Malaysia

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: | 1 Comment

Lebaran ikut MU, NU atau Bayern Munchen?

Selamat datang Idul  Fitri, Selamat berjibaku mendapatkan tiket pulang mudik, selamat bermacet  ria dan  selamat datang pula ”kehebohan” yang selalu menjadi agenda utama di Tanah Air terkait dengan masih terjadinya perbedaan penetapan  lebaran  antara Muhammadiyah (MU)  dan Nahdathul   Ulama (NU). Penggemar bola yang akrab menganggap MU sebagai Manchester United, secara guyon mengatakan ikut Bayern Munchen atau Arsenal aja dah hari  ini (6 Agustus 2013)..he..he..he.

Terlepas dari ikut MU,NU atau Bayern Munchen, yang tampak pada bulan ini biasanya ”kesalehan” menjadi tampak mengalami lonjakan. ”Tuhan” kita temukan di mana-mana termasuk televisi yang berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sebagai media religius sekalipun banyak diisi oleh pelawak pelawak konyol.  Di bandara kita menyaksikan gelombang rombongan jemaah umrah yang tak pernah putus. Jika gejala ini mengindikasikan peningkatan kesadaran identitas keagamaan, juga sekaligus pertanda meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat yang mampu membiayai perjalanan keagamaan yang mahal demi status. Semua ini merupakan kesadaran beragama atau saudara saudara kita hanya merupakan korban dari budaya populer yang dibungkus dalam ritual Islam karena gejala peningkatan keagamaan yang terus meningkat itu jika dikaitkan dengan realitas lain dalam masyarakat Indonesia pada berbagai bidang kehidupan, dengan segera terlihat adanya kesenjangan mencolok. Di satu pihak ada semangat keagamaan yang terus meningkat, tetapi pada saat yang sama berbagai bentuk perbuatan keji dan mungkar terus mewabah di mana-mana. Dan, ini membawa orang pada pandangan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan semangat keagamaan dan kehidupan sosial. Bisa jadi muara semua itu karena sikap keberagamaan kita sudah tersandera oleh ”budaya populer”. Semuanya menjadi serba instan, dangkal, dan nyaris hilang sisi penghayatan dan kedalaman dari pengalaman keberagamaan itu.Dalam konsep budaya populer, yang dinomorsatukan adalah ”pencitraan”, ”pendangkalan”, ”kesan”, dan potret artifisial lainnya. Karena itu jangan kaget kalau di bulan puasa seperti ini kita menyaksikan para pelaku korupsi mencoba melakukan cuci dosa, misalnya dengan naik haji atau pergi umrah; mengirim anak-anak ke sekolah Islam, madrasah, atau pesantren; memberikan sumbangan, infak, dan sedekah ke masjid atau lembaga pendidikan Islam; dan lebih telanjang lagi dengan memakai jilbab atau bahkan cadar ketika diusut KPK atau kejaksaan dan di pengadilan. Publik secara tiba-tiba dihadapkan dengan kesan, para pelaku yang berjilbab dan bercadar itu adalah orang-orang yang menjalankan perintah agama dan karena itu ’tidak mungkin korupsi’.
Karena budaya populer telah mengisi domain religiositas, menjadi mudah dipahami kalau animo haji tidak pernah sebanding lurus dengan terciptanya masyarakat yang naik tarap hidupnya. Menjamurnya rumah ibadah tidak kemudian otomatis membuka cakrawala tersemainya sikap inklusif dan toleran bagi pemeluk agama.

Mudik Bro

Puasa yang telah sekian tahun kita lakukan tidak menjadi garansi bagi terwujudnya ruang publik yang bebas dari sikap tamak dan rakus. Bahkan, kitab suci yang notabene diturunkan di bulan Ramadhan pun tidak luput dari korupsi.
Puasa Bunda Maryam melahirkan bayi penebar damai: Isa. Puasa yang dilakukan Musa berdampak rontoknya kekuasaan tiranik Firaun. Puasa yang diteladankan Sidarta Gautama tidak hanya membuat beliau menanggalkan gelanggang politik tengik yang penuh intrik, juga kuasa kembali ke arena kekuasaan dengan akal budi yang tercerahkan. Puasa yang dilakukan Socrates dan santrinya, Plato, dapat mencapai kematangan nalar atau Hipokrates yang memberikan resep kepada pasiennya agar sering berpuasa. Termasuk Pythagoras, yang ternyata Rumus Pythagoras-nya konon diperoleh setelah sebelumnya berpuasa.
Tahun lalu, terinspirasi dari tokoh tokoh diatas, bos koperasi langit biru yang ngembat miliaran duit nasabah ditempat persembunyiannya pun tetap aktif berpuasa tentunya dengan pamrih dilupakan nasabah dan tidak ditangkap polisi. Ironisnya, malah ketangkap ketika mau buka puasa…nah nyaho lu, puasa kok di buat main main. Kalau sudah begini kita mohon maklum kenapa  KPK tak mau memeriksa dan menahan  Bro Anas ketika masih puasa.

Puasa itu pula yang dilakukan Muhammad SAW sehingga dia bukan hanya terampil mengelola kesabaran (puasa setengah dari sabar). Akan tetapi, juga kesabaran yang telah dirawat dan diruwatnya melalui puasa telah membuatnya menjadi pribadi yang bisa berempati kepada sahabat dan juga terhadap mereka yang berlainan haluan keyakinannya.

Jadi kalau puasa hanya merupakan budaya populer, kita sepatutnya tidak perlu risau  dan memperdebatkan  apakah   ikut MU, NU atau Bayern Munchen ketika lebaran nanti.

Adapted  from : Puasa Kebangsaan  ASEP SALAHUDIN       

Categories: Budaya | Tags: | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.