high education in Indonesia

Gelar Sarjana Indonesia

Dunia pendidikan  tinggi Indonesia memang selalu gonjang ganjing dari dulu dengan berbagai aturan…dan biasa ganti menteri kayanya akan ganti aturan pula. Lihat aja mulai zaman Pak Daoed Joesoef yang memperpanjang masa sekolah sehingga semester tidak  dimulai lagi di bulan Januari, Pak Noegroho Notosusanto yang memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus sehingga mahasiswa tidak boleh demo dan ikut kegiatan politik, Pak Nuh yang baru lengser sangat getol menggerogoti APBN dengan alasan kualitas dosen melalui program sertifikasi sekalipun hasilnya gak banyak dosen yg  bisa menghasikan publikasi internasional berkualitas sehingga saya punya pemikiran ekstrim kenapa program sertifikasi itu dihentikan saja udah…lumayan duitnya buat nombokin BBM sehingga kenaikan bisa ditunda gitu lho. Tapi ada satu kebijakan yg sakti amat dan abadi sampai sekarang yaitu warisan Pak Fuad Hasan yang mengganti titel Drs dan Ir dengan berbagai macam embel embel sehingga hasilnya Indonesia merupakan negara dengan gelar sarjana terbanyak di dunia sebut saja sebagai contoh; sarjana ekonomi, sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana pertanian, sarjana kehutanan,  sarjana karawitan dll, dan bila disingkat menjadi macam macam  sedangkan di luar negeri hanya  mengenal  beberapa titel sebut aja Bachelor of Art (BA) atau Bachelor of Science (BSc)  tergantung dia  dari ilmu sosial atau pasti alam. Sebut aja si A memiliki gelar kesarjanaan di bidang pendidikan maka dia akan menulis dalam daftar riwayat hidupnya Bachelor of Art in Education…jadi untuk penghematan yang membedakan hanyalah in…tersebut, bandingkan dengan di Indonesia yang harus menyebutkan semua sehingga ada titel Sarjana Agama, Sarjana Teknik (gak tau Sarjana Santet udah ada apa belum yaa…?). Di level master (Ind = magister), sama saja diluar negeri tidak banyak titel yang dipakai. MBA dan MSc adalah gelar yang paling umum. Untuk ilmu ekonomi dan bisnis misalnya;  gelar MBA diberikan kepada mereka yg menyelesaikan  pendidikannya melalui  moda  melengkapi mata  kuliah sebanyak 12 mata kuliah dan penyusunan tesis yang tidak susah susah amat. Sedangkan MSc  diberikan kepada mereka yg   menyelesaikan studinya lewat jalur riset dengan menempuh 2 atau 3 mata kuliah wajib. Bandingkan dengan program MM Indonesia  dari PT papan atas yang harus menempuh 12 mata kuliah + tesis komprehensif yang amat susah demi mendapatkan gelar Magister Manajemen.  Juga yang membedakan disiplin ilmu hanya di tunjukan dengan kata in...jadi MBA in International Business, MSc in Entrepreneurship….kagak seperti di bumi Pancasila gelar Magisternya banyak amiir, sehingga dibuat satu gelar yang bisa mencakup semua yaitu MSi (Magister Sembarang Iso)…makanya jangan heran S2 Akuntansi gelarnya MSi, S2 komputer juga MSi, S2 Administrasi Publik juga MSi..dan silahkan cari sendiri MSi yang lain.

Setelah wisuda

Setelah wisuda

Di level yg lebih tinggi, kalau sebutan Doctor (Dr) di luar negeri adalah sebutan profesional kepada orang yang telah menyelesaikan PhD, tetapi di Indonesia Dr.  adalah gelar bukan sebutan profesional. Nah dengan akan datangnya Asean Economic Community (AEC) di akhir 2015 dimana  semua tenaga kerja ASEAN akan bersaing secara bebas, tidak akan kesulitankah  sarjana sarjana Indonesia nantinya dengan gelar mereka yg mungkin susah dimengerti tersebut? Para sarjana tersebut  mungkin akan minder karena gelar kesarjanaannya yang agak nyeleneh tersebut. Tanya saja  adik adik yg di ITS atau ITB sekarang mereka  akan bangga bergelar Sarjana Teknik atau Ir (Engineer). Di Malaysia saja lulusan beberapa PT diberi  gelar Engineer yg saya percaya akan meningkatkan rasa pede mereka.

Suatu model itu akan diikuti kalau dia memiliki kriteria Respected (Dihormati), Referred (Dirujuk) dan Relevan (Sesuai dgn zaman).  Dengan menggunakan framework tersebut silahkan dianalisa model  gelar sarjana Indonesia tersebut?

Masihkan relevan gelar sarjana yang kita pakai sekarang ini?

Advertisements
Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Leave a comment

Target Seratus Ribu Doktor Pada 2015; Terus inyong kudu muni “WOW” kaya kuwek?

Indonesia menargetkan jumlah pemegang gelar doktor mencapai seratus ribu orang pada 2015. Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar Internasional Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA).”Jika Indonesia memiliki doktor yang banyak, inovasi dan ilmu pengetahuan akan maju dengan pesat,” kata Musliar, Minggu (26/8/2012). Sepertinya beliau sangat percaya bahwa kuantitas sangat menentukan. Sebenarnya apa sih uniknya doktor sehingga banyak orang-orang yang kebelet dengan gelar tersebut  sampai sampai tokoh nasional macam Pak Be ye, Pak  Akbar Tanjung  dan   Marissa Haque, konon katanya sampai harus membuat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala supaya dapat gelar tersebut.  Kalau di luar negeri sebutan Doktor  adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang berhasil  menyelesaikan susahnya   program PhD  (Doctor  of Philosopy). Jadi PhD adalah titel  bukan panggilan, sedangkan di Indonesia  PhD diselewengkan jadi Pas Hampir D.O yang  lebih berupa olok olok kepada mereka yang menyelesaikan  Program Doktor  karena dikasihani. Orang awam kalau ditanya jawabnya  Doktor itu ya S3, TERUS YANG MEMBEDAKAN KEAHLIANNYA DENGAN  S2 dan S1 apa..karena kadang kadang ada   ungkapan sinis, pendidikan S3 tapi keahlian  S1..jangan marah bro kalau ente masuk yang gitu karena dilapangan gejala seperti itu ada.  Nah supaya yang  bergelar doktor tidak petentang petenteng dengan gelarnya dan  masyarakat bisa menilai doktor beneran atau doktor humoris causa, marilah kita bersama lihat apa yang dikatakan oleh  Profesor Matthew Might, seorang ahli  ilmu komputer dari the University of Utah makhluk macam apa  sang doktor tersebut.  Karena sulit menggambarkan dengan kata kata beliau menggunakan gambar seperti dibawah ini:

Bayangkan  satu lingkaran yang berisi  pengetahuan semua  umat manusia di muka bumi.

Ketika kita menamatkan sekolah dasar, kita mengetahui sedikit.

Ketika kita menyelesaikan sekolah menengah pertama dan atas, pengetahuan kita bertambah sedikit lagi.

Ketika  kita menyelesaikan  sarjana muda, kita mulai memiliki keahlian khusus.

Gelar master (magister)  mempertajam spesialisasi tersebut.


Membaca  secara intensif jurnal jurnal berkualitas  dalam dan luar negeri (bukan jurnal yang termasuk dalam blacklist ini http://www.tempo.co/read/news/2012/08/30/061426338/Waspadai-Daftar-Jurnal-Hitam-Berikut)  akan membawa anda ke  titik puncak  pengetahuan umat manusia dalam bidang yang menjadi spesialisasi anda.

Ketika anda berada di tataran tersebut anda harus  fokus untuk  mencari  celah yang bisa anda isi.

Pada saat anda berada di tataran ambang batas tersebut, anda harus menghabiskan waktu bertahun tahun untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang akan anda lakukan memberikan sumbangan yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Hingga suatu saat ambang batas tersebut berhasil anda lewati.

Dan ketika anda sudah berhasil mengisi ruang sangat kecil tersebut barulah anda layak di sebut Doktor dan ketika kriteria ini terpenuhi dengan senang hati inyong kudu muni “Wow” kaya kuwek.

Jadi, kesimpulannya jangan lupa dari lingkaran besar tersebut ada satu yang menjadi keunikan anda. Meminjam istilah Steven Coveys pencetus kebiasaan ke 8 : Find your voice and inspire others to find theirs (Tunjukan ente siapa dan inspirasikan orang lain untuk menemukan jati diri mereka siapa), pemegang gelar doktor more less seperti itu lah.

Nah saya yakin pak Wamen pingin Doktor beneran yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan bangsa ini. Selamat berjuang putra putra bangsa terbaik, tunjukan bahwa anda layak jadi doktor dan ketika anda mendepatkan gelar tidak di respon: Terus gue harus bilang “WOW” gitu?? Dados kawula kedah matur “WOW” mekaten? D’ailleurs dois-je dire “WOW” ?

Dan kepada kawan kawan yang sudah jadi doktor jangan lupa, di era WEB 3.0, kalau tidak sampai pada tataran standar janganlah berkecil hati kalo dikatakan pendikan S3 tapi keahlian S1 (mohon maaf kalo tulisan ini dijadikan alat sebagai pisau analisa). Dan juga: PhD holders without international publication is like You Tube without music, FB with no friends, Twitter with no followers and Google with no result.

So now you understand  my PhD holder friends, mengapa Pak  Menteri Muh. Nuh  mensyaratkan harga mati  publikasi internasional di jurnal berkualitas, bukan jurnal abal abal untuk persyaratan menjadi guru besar. Contoh Jurnal abal abal seperti African Journal of Agricultural Research (AJAR) yang menampilkan nama Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis dalam salah satu artikel di jurnal dengan judul “Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-Temporal Satellite Imagery” yang dimuat di volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044, yang terbit 24 Juli 2012. Ternyata setelah ditelusuri tulisan itu diambil dari tulisan Arika Brdhikitta dan Thomas J. Overcamp, dengan judul “Estimation of Southeast Asian Rice Paddy Areas with Different Ecosystem from Moderate-Resolution Satellite Imagery”, yang dipadukan dengan tulisan Abdul Karim Makarim dari Central Research Institute for Food Crops yang beralamat di Jalan Merdeka 147, Bogor, dengan judul “Bridging the Rice Yield Gap in Indonesia”.

What a non sense bila seorang penyanyi bisa melewati boundary seorang pakar pertanian!
Tapi itulah Indonesia, sepertinya yang tidak mungkin hanyalah menghidupkan kembali orang mati..tinggal kita yang masih merasa waras dan rasional silahkan melihat dan mengamati dengan kerangka pikir yang jelas.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

7 (tujuh) PTN Indonesia Masuk Universitas Top Dunia versi Quacquarelli Symonds (QS)

Tidak mau kalah dengan olah raga tinju  yang paling banyak induk organisasi dunianya dan mengeluarkan peringkat petinju dunia berdasarkankan versinya sendiri sendiri,  Quacquarelli Symonds (QS) yang merupakan sempalan  dari   The Times Higher Education,  mengeluarkan peringkat universitas dunia termasuk perguruan tinggi di  Indonesia. Penilaian didasarkan pada enam parameter pemeringkatan yang dinilai QS World University Ranking, yaitu reputasi akademik, reputasi institusi, rasio mahasiswa dan dosen, sitasi per fakultas, staf internasional, dan mahasiswa internasional. Dengan kriteria  seperti ini Universitas Indonesia yang sangat agresif dalam melakukan kerjasama internasional dalam melaksanakan joint conference  dengan perguruan tinggi asing terkenal  setiap tahun menimpati urutan teratas. Pada tahun  2009  UI mengadakan joint conference dengan University of Adeilade, 2010 (lupa karena  saya tidak ikut), 2011   dengan Ateneo de  Manila yang dianggap Harvard-nya ASEAN, dan  bulan November 2012 ini dengan Ho Chi Minh Faculty of Economics Vietnam.

Image

Joint Conference Certificate  between  University of Indonesia and Ateneo Manila

Selanjutnya yang masuk dalam peringkat adalah   Universitas Gadjah Mada , Institut Teknologi Bandung  , Universitas Airlangga  , Institut Pertanian Bogor  , Universitas Diponegoro  dan tidak ketinggalan  Universitas Brawijaya tempat saya pernah melewatkan waktu waktu susah sebelum hengkang ke luar negeri.

Jika   QS Asian Ranking University 2012 dijadikan  standard, ada sembilan PTN dan satu PTS yang masuk daftar PT terbaik di Asia. Selain PTN yang masuk dalam daftar top dunia, perguruan tinggi Indonesia yang diakui di Asia yakni Universitas Padjadjaran, Universitas Udayana, dan  sangat mengejutkan masuknya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengalahkan PTS PTS terkenal di kota ini seperti UK Petra, Universitas Surabaya, dan Universitas Pelita Harapan.

Karena badan pemeringkat memiliki  kriteria masing masing, perguruan tinggi yang belum masuk peringkat dunia  tidak perlu berkecil hati dan mencak mencak, dan buat UI terlepas dari kisruhnya krisis  rebut rebutan jadi bos PTN besar ini, sekarang sudah saatnya  untuk menarik PTN PTN lain bekerja sama agar peringkat dunianya juga ikut naik, jangan lupa Universitas Indonesia punya kewajiban moral untuk  mengangkat Perguruan Tinggi  Negeri di Indonesia.

Selamat berjuang para akademisi  Indonesia  untuk memperbaiki peringkat ditataran global tidak peduli mau versi apa saja.

Categories: high education in Indonesia, Indonesiana | Tags: , | Leave a comment

Indonesian Universities the Weak Link in Booming Economy

Indonesia’s creaking university system is failing to keep pace with its booming economy, struggling to produce graduates equipped for modern working life in the Southeast Asian nation.

Investors have flocked to the fast-modernizing country of 240 million people, attracted by its huge domestic market, rich natural resources and relatively low labor costs.

But badly resourced universities mean quality graduates are a rare commodity in Indonesia, where companies find it difficult to recruit people who can think critically and make a smooth transition into employment.

“University graduates often lack the necessary skills employers need,” the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) said in a recent report on education.

The report observed gaps in “thinking, technical and behavioral skills,” based on a World Bank survey of employers, which found 20 to 25 percent of graduates needed retraining on the job.

Indonesian universities are “lagging behind” those of other nations and lack global competitiveness, the OECD report said, in contrast to nations such as India that produce doctors, engineers and scientists whose skills are in demand worldwide.

None of Indonesia’s 92 public universities or around 3,000 private colleges appeared among the world’s top 400 tertiary institutions in the latest Times Higher Education rankings, seen as one of the world’s most authoritative sources of higher education information.

This is despite the fact that Indonesia is often placed on the same rung of development as BRICS nations — Brazil, Russia, India, China and South Africa — all of which made the list.

Headhunter Lina Marianti, who works for JAC Recruitment in Jakarta, said foreign employers reject more than half the graduates she recommends for corporate positions.

“We provide the best graduates, but even our best are unable to meet employers’ expectations,” Marianti told AFP.

“They complain that local graduates are not able to apply theory to practice. They lack analytical and leadership skills, and they have poor command of English and product knowledge.”

‘Many expect to be spoon-fed’

Rina, a human resources manager for a foreign-based chemicals company, said that many students graduate in Indonesia without a positive work ethic.

“It’s hard to believe some of these young professionals are graduates. They send blank emails with no cover letters to apply for jobs, don’t turn up for interviews and resign via text message,” said Rina, who like many Indonesians goes by one name.

“Many expect to be spoon-fed. They constantly need to be told what to do on the job.”

Many affluent Indonesians circumvent the problems by going abroad to study and some win coveted scholarships, with more than 32,000 enrolled in overseas universities and colleges in 2009, according to UNESCO’s most recent figures.

High-ranking officials and successful businesspeople often have at least one degree from a foreign university on their CVs, with Australia, the United States, Germany and the Netherlands among the top destinations.

Indonesian International Education Consultants Association chairman Sumarjono Suwito said Indonesia was going in the right direction, but suffered in comparison with its Asian rivals.

“Countries like China, India, Singapore, Malaysia and most recently Thailand have focused on education or have allocated ample funds to it,” he said.

“In the last five years, Indonesia has been doing a lot of catching up, but progress is still slow.”

The education sector is also hobbled by the corruption that is rife at all levels in the country.

Funds are siphoned off, poorly maintained school buildings collapse with sometimes fatal consequences and there is a widespread culture of cheating by school students just to get into tertiary education.

The frustrations are felt by students in the system, who complain their universities’ facilities and lecturers are under par.

“Some of my lecturers postpone lessons and just don’t turn up without letting anyone know,” said University of Indonesia health administration student Lentari Pancar Wengi, 19.

Wiyogo Prio Wicaksono, 21, a third-year chemistry student at the same university, in Jakarta, said he devotes time to extra-curricular activities after lessons to develop non-academic skills and network with industry players.

“My friends who keep their jobs are often those who got mediocre results at university, but they know the who’s who of the industry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Categories: high education in Indonesia | Leave a comment

10 Kampus Terbaik di Indonesia versi Generasi Facebook and Twitter

Webometrics melakukan pemeringkatan kampus di dunia berdasarkan parameter digital. Misalnya, volume konten global yang terindeks di Google, dan lainnya.
Dari Indonesia, jumlah perguruan tinggi yang masuk pemeringkatan ini adalah 361 untuk edisi Juli 2012. Sebelumnya, di Januari 2012, hanya 352 perguruan tinggi.

Universitas Gajah Mada

Berikut adalah 10 besar perguruan tinggi asal Indonesia yang meraih skor terbaik di Webometrics:

  • Universitas Gadjah Mada (Peringkat Dunia: 379; Peringkat ASEAN: 9)
  • Universitas Indonesia (507; 15 )
  • Institut Teknologi Bandung (568; 18)
  • Institut Teknologi Sepuluh November (582; 19)
  • Universitas Pendidikan Indonesia (630; 22)
  • Universitas Gunadarma (740; 24)
  • Institut Pertanian Bogor (764; 25)
  • Universitas Brawijaya (837; 29)
  • Universitas Sebelas Maret (883; 30)
  • Universitas Diponegoro (948; 32)

Dari 10 perguruan tinggi peringkat tertinggi di Indonesia itu, hanya Universitas Gunadarma yang merupakan perguruan tinggi swasta. Lainnya adalah kampus negeri yang cukup ternama.

Berikut adalah kriteria yang digunakan Webometrics dalam melakukan pemeringkatannya:

  • PRESENCE (Bobot: 20%), yaitu volume konten global yang terindeks Google
  • IMPACT (50%), yaitu kualitas konten yang diukur dengan tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibility-nya menggunakan dua mesin pencari yaitu Majestic SEO dan Ahrefs.
  • OPENNESS (15%), yaitu jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar
  • EXCELLENCE (15%), yaitu karya akademik yang dipublikasikan di jurnal international yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago.

Sebagai perbandingan, peringkat sepuluh besar dunia adalah:

  • Harvard University
  • Massachusetts Institute of Technology
  • Stanford University
  • University of California Berkeley
  • Cornell University
  • University of Minnesota
  • University of Pennsylvania
  • University of Wisconsin Madison
  • University of Illinois Urbana Champaign
  • Michigan State University

Sumber: 

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

The Time Has Changes: Time to be proud of your achievement not where you graduated from

This is the scenery when I attended the job interview for senior lecturer where small group of smart individuals were  asked to describe their professional achievements. One candidate explained: “I studied economics at University of Indonesia , worked at Bakri’s group for two years, then Ciputra Group. After finishing my ITB Master of Management , I took a banking job at Bank Central Asia.  When this candidate sat down, the others followed in much the same pattern, proudly rattling off their personal laundry lists of the prestigious companies they’d worked for and the top-tier universities they’d attended. Being one of candidates who notably graduated from the mediocre university, I feel my opportunity to get this job is so tiny but to my surprise, I make it happen. So what’s wrong with those guys from prominent companies and top-tiers university?

Traditionally, according to Daniel Gulati, the co-author of Passion & Purpose: Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders associating yourself with a prestigious brand did wonders for your career because of the signalling effect. Employees could credibly convey information about themselves by gaining experience at certain companies and acquiring academic credentials. If you got into Bakri’s Group, you might be a good negotiator with government proved with the unsettled Lapindo’s   volcano mud in East Java. If University of Indonesia admitted you, you’re a high-potential scientist. If you are from English Department of  Lambung Mangkurat University, you might perform well in other  jobs beside  English teachers.  But a core assumption of job-market signalling theory is   between employers and prospective employees. In other words, employers have to rely on imperfect signals as ways to glean information about potential hires. In today’s world, this assumption no longer holds.
Ironically, proudly flaunting your affiliations — company, university, or club — will only make you more of a commodity: another banker, another prominent graduate, another know-it-all scientist. Instead of just resume-gardening, distinguishing yourself through real, tangible accomplishments shows the world what you’ve actually done while de-emphasizing who accepted you into their organization. The latter is a superficial vanity device designed to boost confidence; the former is a validated, objective measure of your skills and experience.

Here’s why prestige matters less than ever in Indonesia.

Graduate from Oxford is not  a guarantee

1. Prestigious companies have suffered. The Financial Crisis tainted the reputations of some of the Indonesia largest corporations — from big banks to blue chips like Astra , Telkom and other recent corporate scandals like Bank Century have only fueled existing doubts. Signalling loses relevance to the extent that these organizations no longer confer credibility onto the individuals that join them.

2. Social media pierces the corporate veil. As the adoption of Twitter, LinkedIn, and Facebook continues to grow, we’re able to effectively separate the individual from the organization. Consumer internet platforms like these allow people to publish their output independent of their organizations, giving everyone a direct lens into an individual’s abilities and passions. This improves the underlying quality of information available, further reducing the need to signal the “old” way.

Indonesia ‘s largest companies and most prestigious universities deserve much respect. But being hired or admitted to these institutions is an opportunity to accomplish things, not the accomplishment itself. Therefore, a prudent strategy favors accumulating real accomplishments — revenues earned, clients transformed, or lives changed — in spite of any affiliations you may have.

As traditional notions of prestige are fast losing relevancy, we should all focus more on creating real value. If you’re lucky enough to have attended a great college or worked for a top company, you have an obligation to turn these affiliations into accomplishments. If you’re not one of the privileged few, you’re no longer at a disadvantage. Stand tall, because it’s mastering the process of consistently delivering results that will truly distinguish you in the end.

And this is that I have done so far  though I never worked in big companies, not graduated from top-tier university but remain stand still in the midst of fierce competition.

Have a nice day  and keep on working for a  better Indonesia!

Categories: Ekonomi, high education in Indonesia, Human Resources Management, Indonesiana, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Ternyata “EMPATI” merupakan hal paling berharga di ajarkan di Harvard Business School

Laporan dari  Malaysia Insider  mengatakan sejak 2 tahun terakhir, menunjukkan kesemua permohonan-permohonan pelajar  Malaysia untuk masuk ke universiti paling bergengsi  di dunia,  Harvard University ditolak karena dilihat tidak layak dari segi kualitas dan kemampuan  untuk bersaing.

Universiti Harvard Malaysia Sudah 2 Tahun, Tiada Pelajar Malaysia Diterima Masuk Ke Universiti Harvard? Apa Sebabnya?

Sedangkan untuk mahasiswa Indonesia  saya tidak memiliki datanya, Seorang blogger  Indonesia yang diterima  di Harvard menceritakan  nikmat dan anugrah yang ia dapatkan setelah ia menjadi  mahasiswa paling ngetop tersebut, tetapi tidak berbagi  cerita apa sih yang dipelajari disitu?  Bagi saya apa yang membedakan suatu perguruan tinggi sama seperti restaurant adalah menu yang  menjadi andalan di restoran tersebut. Sebut saja Universitas Ciputra  yang ada di Surabaya milik pak Ci yang mengatakan di universitas ini mereka akan diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang entrepreneur.  Jadi menurut hemat saya orang beramai ramai berkompetisi dari seluruh dunia untuk  mendapatkan  tempat di HBS adalah menu atau apa yang diajarkan di sekolah tersebut.  Suatu perguruan tinggi boleh saja memiliki fasilitas yang teramat canggih dan profesor  profesor dengan tingkat kecanggihan pengetahuan luar biasa, toh pada akhirnya nanti semua akan  terwujud dalam bentuk apa yang diajarkan pada proses belajar mengajar.  James Allworth dalam   HBR Blog Network  edisi  May 15, 2012 mengatakan:  Empathy: The Most Valuable Thing They Teach at HBS. 

Beliau yang merupakan  pengarang buku  How Will You Measure Your Life   sedikit menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

“These probably aren’t words that you were expecting to see in the same sentence — Harvard Business School and empathy. But as I reflect back on my time as a student there, I’ve begun to realize that more than anything else, this is one of the the most valuable things that the school teaches.

It starts on day one. You’re put into a “section” with 90 incredibly smart folks, people with whom you quickly become good friends. Then the moment arrives when you step into class, prepared for a case discussion with what you’re sure is the right answer — but just before you’re able to stick your hand up and get in on the discussion, a good friend — someone who you deeply respect and admire — jumps in to the conversation with an opinion that’s exactly the opposite of yours. And it begins to dawn on you…that what they’ve expressed is right.”

So what now,…perlukah kita berjuang  mati matian ke sekolah elite tersebut kalau hanya  untuk belajar empathy?

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , | Leave a comment

RI needs more PhD graduates in sciences: Kadin

This article is from The Jakarta Post, Jakarta | Sat, 06/23/2012 .
I totally agree with this article. In term of technology Malaysia has Proton already. But Indonesia is only recognized from Djarum, Gudang Garam, Indomie and Dangdut.
Indonesia must improve its competitiveness by producing more PhD graduates in natural and technology sciences, said Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) vice chairman Peter F. Gontha on Friday.
Indonesia, with a population of 250 million people, has 30,000 doctorate graduates, with about 80 percent studying social sciences.
India and China had more PhD graduates, with most studying natural science and technology, Peter said.
“Let us take a look at China, with a population of 1.3 billion people, and India, with 1.1 billion people. They have 800,000 and 650,000 of PhD graduates respectively; 60 percent of which are science and technology majors,” he said during a discussion panel in Wharton Global Alumni Forum in Jakarta.
As a result, he said, Indonesia does not have any major technological brands, while other Asian countries, which have been intensifying their doctorate degree programs, are building technology brands by utilizing PhD graduates in companies’ research and development departments.
“What we have are Gudang Garam, Djarum and Indomie. Other than that, we have nothing,” he said, citing Indonesia’s major cigarettes and instant noodle producers.
Gontha suggested that if the nation did not produce 10,000 PhD graduates a year over the next 10 years, it would not be able to compete with fast-moving global competition.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management, Strategi | Tags: , | Leave a comment

Oxford itu nama kota bro…bukan nama universitas

pada edisi  1 Juni  2012  memberitakan Universitas Oxford, Inggris, mengundang dosen, peneliti, dan mahasiswa Indonesia untuk belajar dan melakukan penelitian di Inggris. Suatu berita  yang menggembirakan tentunya ..siapa sih yang belum pernah mendengar nama Oxford paling nggak Kamus  Oxford menjadi rujukan  kita termasuk saya waktu masih jadi mahasiswa jurusan bahasa  Inggris  dulu. Yang mau masuk siap siaplah dengan pertanyaan nyeleneh ketika di wawancara  yang menjadi ciri khas  universitas ini. Pertanyaan itu misalnya: mengapa singa memiliki surai atau mengapa buah stroberi berwarna merah? Pelamar jurusan ilmu biologi,  salah satunya, mereka akan ditanya seberapa penting kepunahan harimau. Sementara calon mahasiswa hukum diminta menilai kebenaran dari UU yang mengancam hukuman mati untuk parkir ilegal. Untuk calon mahasiswa ilmu material akan diminta menghitung suhu yang dibutuhkan sebuah balon udara untuk mengangkat seekor gajah. Untuk jurusan statistik di tanya kenapa orang Indonesia masih suka menggunakan analisa regresi berganda padahal sudah dikembangkan alat model baru yg namanya structural equation model? Kalo ini saya bisa kasih bocoran jawaban; karena dia di Indonesia kalau di India maka digunakan analis regresi ber Gandhi…he…he. Sudah siap untuk jawaban pertanyaan nyeleneh tersebut?

Kembali ke Lap Top.. sorry.. Kompas, berita tersebut di beri ilustrasi   gambar di bawah ini, dan di bawah gambar tersebut di tulis :

“Universitas Oxford, salah satu dari 10 universitas tertua di dunia”

Dengan  gaya penyajian tersebut yang baca haqqul yaqin menyimpulkan  itu adalah  gambar  bangunan suatu  universitas dengan nama  Oxford University. Padahal yang benar itu adalah gambar  salah satu gedung Christ Church College  yang berada  di kota Oxford, United Kingdom.  Penggemar film Harry Porter 1 tentu ingat  ada  adegan kejar kejaran  main bola  sambil naik sapu,,nah di situlah  film di buat di   lapangan  salah satu perguruan tinggi yang namanya Christ Church.  Karena dijadikan lokasi pembuatan film Harry Porter, masuk ke dalam universitas ini harus membayar  kalau di kurs kan ke rupiah hampir 150 ribu.  Jadi sama seperti Bak Pia Jogja, Pecel Madiun, Nasi Padang, Soto Banjar, Tahu Kediri semua universitas  yang terdapat di kota Oxford yang berjarak kurang lebih 200 km dari London ini  di sebut Oxford University meliputi lebih dari 40 universitas. Itulah hebatnya Oxford karena nama kota tersebut telah menjadi brand yang sangat kuat untuk suatu pendidikan yang berkualitas. Cukup sebut saja nama Oxford, maka jaminannya adalah suatu sistem pendidikan yang  ketat dan bermartabat. Semua  bak pia  yang  ada di  Jogja disebut bak pia  Jogja cuman yang membedakannya adalah  mereknya yang di kasih lebel  angka  1 sampai dengan   sejuta, makanya ada  bakpia pathuk 23, 24, 100 dst nya. Cuma masih disayangkan rasanya tidak standard karena produk produk yang dihasilkan sering nebeng popularitas dari kota asal  tempat  produk tersebut. Di kota kota Jawa Timur misalnya, semua  pecel di kasih lebel pecel Madiun sekalipun yang bikin  orang Madura. Nah ketika yang pernah nyicip bagaimana rasanya pecel  Madiun asli, kemudian nyoba pecel yang cuman lebelnya aja pecel Madiun maka setelah makan bukan ucapan Alhamdulilah mensyukuri nikmat Tuhan, yang lebih sering terjadi adalah sumpah serapah. Di Indonesia kalau kita menyebut Universitas Indonesia  maka hanya  ada satu universitas, begitu juga dengan  Universiti Malaysia, University of Phillipines yang menunjukan bahwa universitas tersebut merupakan yang paling top di negara tersebut.  Tapi  di Oxford, yang namanya  Oxford University adalah deretan perguruan  perguruan tinggi di kota Oxford. Produk tabungan BRI yang bernama SIMPEDES sering di plesetkan sebagai Simpanan Di Pedesaan. Dengan analogi ini Oxford University terjemahan bahasa Indonesianya adalah Universitas Di Oxford. Universitas universitas tersebut  antara lain   yang tertua  University CollegeBalliol, dan  Merton yang didirikan  antara tahun 1249 dan 1264, seumur   Majapahit. Christ Church  merupakan  college  paling ngetop di Oxford.  13 orang Perdana Menteri Inggris   adalah lulusan universitas ini. Daftar keseluruhan  university of Oxford  bisa dilihat disini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Colleges_of_the_University_of_Oxford#List_of_colleges

Christ Church, Landmark Oxford , Universitas Paling Top  

Disamping memiliki  perguruan  tinggi seusia  Ken Arok, Ken  Dedes maupun   Ken Norton, Oxford  juga memiliki perguruan tinggi   yang relatif baru   : Saïd Business School, University of Oxford. Tetapi sekalipun baru, kiprahnya tidak main main.  Universitas ini mendapat ranking  18 di dunia menurut  eduniversal rankings  2011. Pada tahun  2010, Forbes memberikan  ranking  1   sebagai universitas di luar Amerika   yang memiliki program MBA terbaik. Financial Times Global MBA Rankings 2012 memberikan  peringkat 16 di dunia  and ke 2 di Inggris setelah London Business School.

Mungkin yang menjadi  pertanyaan kok  nama universitas ini   berbau Timur Tengah atau seperti nama Hotel Sahid  yang di miliki keluarga Sahid di Indonesia sedangkan nama nama perguruan tinggi di Oxford banyak diambil dari  Injil seperti Jesus CollegeSt Anne’s CollegeLady Margaret HallSt Hugh’s CollegeSt John’s CollegeSt Peter’s College dll. Ternyata  universitas ini  bisa berdiri atas sumbangan Wafic Saïd  seorang makelar senjata keturunan Arab-Syria yang menyumbang sebesar   £23 juta. Bila  1 £ =  Rp. 15.000, silahkan hitung sendiri  berapa sumbangan milyarder arab ini, dan sebagai  imbalannya universitas  ini dinamakan seperti itu  untuk  mengenang jasa  Abi Saïd. Sebagai pelengkap di universitas itu juga  patung separo badan beliau mejeng.

A bust of Wafic Saïd in Saïd Business School, Oxford.

 Nah daripada kita meributkan masalah klaim budaya dengan Malaysia  padahal berbagai macam bukti dan arsip menyatakan bahwa budaya tersebut adalah budaya dari Indonesia, kenapa kita  tidak memperbaiki sistem  pendidikan dan pengarsipan  di negara kita termasuk  mendata semua budaya-budaya lokal yang ada ditengah masyarakat, dan mendaftarkannya sebagai warisan budaya nasional serta didaftarkan juga dibawah UNESCO.Jika Indonesia sudah mendaftarkan kebudayaannya ke UNESCO, maka negara lain yang ingin menampilkan budaya Indonesia di publik harus meminta izin ke pemerintah sehingga masyarakat Indonesia tak perlu repot-repot berpolemik dan melarang penggunaan budaya lokalnya oleh negara lain.

Kalau semua tertata baik, siapa tahu Tan Sri Tony Fernandez  boss-nya Air Asia  tertarik menyumbangkan dana untuk membuat sekolah di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Abi Said. Kualitas akan datang kalau kita memiliki uang untuk memperbaiki fasilitas. Who Knows?

Categories: high education in Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

Bangsa Mana di Dunia Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan hiruk pikuk-nya Euro 2012 yang membuat  saudara bangsa  se tanah air doyan begadang. Kalaupun masih demam  para pahlawan Euro saya hanya nitip pesan;  coba diusulkan supaya kita  memberikan  penghargaan kepada Mario Gomez dan Ronaldo yang telah berhasil membuat cucu cucu  penjajah  pulang kampung.

Paul Kennedy’s  dalam karyanya  Rise and Fall of the Great Powers  mengungkapkan  bagaimana  keunggulan  teknologi dan ekonomi   telah  menjadi keunggulan  strategis suatu bangsa tetapi   kegagalan untuk  mempertahankan keunggulan ini  akan mempercepat kemunduran suatu bangsa.  Sebelum perang dunia ke dua kita  menyaksikan betapa  tangguhnya kekuatan Inggris yang menguasai hampir seluruh dunia, tetapi  penyebaran teknologi industri secara bertahap membuat  Inggris menjadi lemah  dan muncul  Amerika Serikat dengan teknologinya.  Disisi lain Barat mengalahkan Uni Soviet tidak melalui peperangan tetapi dengan mempertahankan sistem ekonomi yang unggul dengan standar teknologi yang lebih tinggi. Kebangkitan Cina  di akhir abad ke-20  boleh dikatakan  masih merupakan  kelanjutan   dari Revolusi Industri yang  belum selesai.  Awal abad 21 adalah  saat geoteknologi menjadi lebih penting dari  penentu keunggulan  tradisional sebelumnya seperti geopolitik dan geoekonomi. Cina menjadi  negara adidaya saat ini bukan  karena memiliki dua kali lebih banyak senjata nuklir seperti   dua dekade lalu, tetapi karena telah mendominasi manufaktur melalui tenaga kerja, kecerdikan dan spionase  dan sekarang mereka berinvestasi pada  perangkat keras militer dan teknologi canggih lainnya. Malaysia dan Singapore mengungguli  Indonesia  dalam hal Human Development Index  bukan karena mereka memiliki  lebih banyak orang orang pintar di bandingkan Indonesia.   Apakah ini berarti Cina akan berhasil dalam meraih dominasi Geoteknologi? Begitu juga halnya  dalam kasus kita dengan negara jiran kita.  Itu semua tergantung pada   Technik.  Sekalipun diterjemahkan  sebagai technique,  Bahasa Inggris tidak memiliki padanan yang  setara untuk kata dari bahasa  Jerman ini karena kata tersebut tidak merujuk   hanya  kepada teknologi itu  sendiri, tetapi juga kepada  keterampilan dan proses  di sekitarnya . Technik menyatukan dimensi ilmiah dan dimensi mekanik  dengan berfokus kepada  efeknya terhadap  manusia dan masyarakat  sehingga  hasil akhirnya nanti merupakan suatu  peradaban.

                                      University of Hamburg, Pusat Technik Jerman

Technik adalah tentang kemampuan beradaptasi: kemampuan untuk memanfaatkan teknologi baru  untuk memperbaiki keadaan kita. Dalam dunia dengan  bentuk politik beragam – demokrasi, monarki, negara otoriter, negara Islam, negara Pancasila  -yang semakin membedakan masyarakat   bukan lagi tipe rezim   atau pendapatan per kapita , namun kapasitas masyarakat  untuk memanfaatkan teknologi. Masyarakat yang terus menerus meng-upgrade  Technik-nya  akan semakin berkembang. Ketika standar hidup yang terus-menerus terancam oleh perubahan teknologi,  Technik menjadi faktor dalam mengevaluasi stabilitas sosial? Perbedaan yang menyolok antara Human Development Index dan  pendapatan per kapita   mengisyaratkan pentingnya satu metrik ukuran yang lebih netral   demi kemajuan suatu bangsa.  HDI  merupakan  suatu ukuran  prestasikeseluruhan suatu negara menurut tiga dimensi Pembangunan Manusia, yaitu:

  • Panjangnya usia – diukur berdasarkan angka harapan hidup saat lahir
  • Pengetahuan – diukur berdasarkan angka melek huruf orang dewasa dan gabungan partisipasi sekolah di tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi (dengan pembobotan yang sama pada kedua indikator)
  • Standar hidup layak – diukur oleh pendapatan riil per kapita.  Untuk tahun 2011 Indonesia  masuk dalam kategori  Medium Human Development (124 dari 187). Negara  negara  Petro Dollar  seperti Saudi  Arabia   dan Kuwait ternyata  HDI-nya tidak tinggi , sementara China  meningkat dengan cepat sekalipun  pendapatan  per kapita masih sedang (peringkat 13). Selengkapnya bisa di lihat di  http://hdr.undp.org/en/statistics/ Di era  sekarang ini,   kriteria  lain untuk menilai suatu negara  juga harus diperhatikan seperti ,  Network Readiness Index yang menilai kualitas akses individu, peraturan pemerintah, dan investasi bisnis dengan menggunkan  lebih dari 50 indikator. Tidak mengherankan, Swedia, Singapura dan Finlandia berada di atas, tapi menarik, teknokrat  Cina mempunyai  skor yang lebih tinggi daripada demokrat India, dan India  memiliki  skor lebih tinggi dari Italia. Technik yang baik memerlukan kombinasi berbagai elemen supaya  menghasilkan  Indeks  pembangunan manusia yang tinggi, pertumbuhan ekonomi,  partisipasi aktif dalam  politik, dan kesiapan teknologi.
    Kembali ke pertanyaan diatas Bangsa  Mana-kah  di Dunia ini  Yang Memiliki ” TECHNIK” Terbaik?

    Amerika Serikat boleh dikatakan sebagai  tempat darimana  datangnya  beberapa pelopor utama   inovasi  “Technik”  yang membantu kita  beradaptasi dengan masa depan. Sebagian besar dunia  adidaya silikon  adalah produk  Amerika seperti: IBM, Google, Cisco, Apple, Microsoft dan banyak lagi.  Produk produk  dari perusahaan-perusahaan tersebut meletakkan  dasar   inovasi untuk  pengguna yang beragam di seluruh dunia yang tidak bisa ditandingi oleh  Eropa apalagi Asia.Tapi  keunggulan  Amerika sebagi first mover   sekarang sedang mengalami kemerosotan seiring  dengan Produk  Domestik Bruto nya yang menurun,  dana untuk Riset dan pengembangan  jatuh menjadi sekitar 20 persen, dan karena tidak cukupnya   dana tersebut yang dikhususkan untuk inisiatif komersialisasi, Amerika Serikat kadang-kadang harus membeli barang yang  ditemukan satu dekade yang lalu dari pesaing luar negeri. Sains dan teknik telah menjadi menciptakan jurang  antara mahasiswa Amerika dan pembuat kebijakan.

Mengingat pesatnya  proporsi kepemimpinan Asia dengan latar belakang ilmu pengetahuan, teknik dan matematika, dan pertumbuhan yang dipicu ekspor negara dalam  menciptakan surplus yang cukup besar, tidak mengherankan bila Jepang, kemudian Korea dan Cina, telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur untuk mengejar ketinggalan dengan AS  – dan berpotensi melampaui – Barat. Jepang telah memiliki tiga kota tercepat di dunia  berdasarkan kecepatan koneksi internet, Singapura telah meluncurkan zona Biopolis dan Fusionopolis untuk menciptakan keunggulan di bidang ilmu pengetahuan alam , anak Korea belajar bahasa Inggris dari robot dan menjadi mahir dalam pemrograman sejak dini. Dan jangan lupa,  Indonesia  telah menjadi  negara dengan pengguna Facebook terbanyak menunjukkan tingkat melek Teknologi Informasi  yang cukup bagus.

Meskipun produk produk silicon valley Asia   masih belum secanggih made in America, mereka dengan cepat belajar dan menempatkan posisinya di pasar. Bukankah Nokia yang begitu digjaya  terkapar karena Samsung dan HTC yang notabene made in Asia.  Dalam ekonomi yang berkembang pesat di seluruh dunia, perusahaan  kecil tetapi berkembang   inovatif dengan jiwa  entrepreneur yang tinggi adalah pencipta lowongan pekerjaan  dan pendorong  pertumbuhan pendapatan. Dalam dekade ke depan, tidak hanya  kesenjangan jarak  antara penemuan baru (invention) dan inovasi (innovation) menjadi  sempit, tetapi aliran kedua duanya  akan semakin mempersempit jarak  antara Timur dan Barat.

Bagaimana  peran  universitas sebagai tempat berkembangnya   ilmu dan teknologi?

Perguruan tinggi   harus memperkuat peran mereka dalam meningkatkan Technik.  Para ilmuwan dan insinyur dari   universitas teknik seperti ITB atau ITS di Indonesia  sudah memainkan peran penting. Tapi sekolah bisnis   harus berbuat lebih banyak . Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah bisnis telah disalahkan karena berada di  lini belakang  dalam mengajarkan keterampilan manajemen dunia nyata seperti kepemimpinan, etika, dan  menganalisa risiko politik. Technik  termasuk dalam daftar itu juga. Studi kasus mengenai  adaptasi perusahaan terhadap teknologi -harus ditampilkan  jauh lebih menonjol.  Ketika technologi menjadikan ukuran bisnis  apakah menjadi besar atau kecil, kita  harus membandingkan diri   atas dasar Technik di atas segalanya. Tidak  ada persiapan yang lebih baik  selain mempersiapkan  diri pada  era yang muncul dari persaingan Geoteknologi.

Karena itu kita patut mengapresiasi  yang dilakukan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang bekerjasama dengan Lund University, Swedia, untuk membangun science park di area kampus UMN, Serpong.  Dan juga pendirian  Surya University   di Gading Serpong, Tangerang yang menurut  Yohanes Surya pendirinya  di Jakarta, (12/6/2012), universitas ini dibuat untuk mendukung lahirnya teknologi terdepan di Indonesia, termasuk juga lewat technopreneur. Untuk itu, Prof Yo, demikian Yohanes sering disapa, menggandeng para doktor Indonesia di luar negeri untuk menjadi pengajar.

Di kampus ini juga dikembangkan laboratorium yang nantinya dapat mendukung terciptanya teknologi-teknologi terbaru karya ilmuwan Indonesia.  .”Saya kembangkan inovasi dalam jurusan-jurusan untuk mendukung lahirnya technopreneur di Indonesia,” ujar beliau.

Semoga  hal yang dilakukan oleh putra putra bangsa ini  dengan niat  memperbaiki Technik bangsa kita  bukan cuma naluri bisnis yang sedang membaca ke arah mana angin sedang bertiup. 

Selamat bekerja untuk   kehidupan yang lebih baik saudara sebangsa dan setanah air.

Diadopsi dari : http://blogs.hbr.org/cs/2012/06/which_nation_has_the_best_tech.html

Categories: high education in Indonesia, Strategi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.