Human Resources Management

Gelar Sarjana Indonesia

Dunia pendidikan  tinggi Indonesia memang selalu gonjang ganjing dari dulu dengan berbagai aturan…dan biasa ganti menteri kayanya akan ganti aturan pula. Lihat aja mulai zaman Pak Daoed Joesoef yang memperpanjang masa sekolah sehingga semester tidak  dimulai lagi di bulan Januari, Pak Noegroho Notosusanto yang memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus sehingga mahasiswa tidak boleh demo dan ikut kegiatan politik, Pak Nuh yang baru lengser sangat getol menggerogoti APBN dengan alasan kualitas dosen melalui program sertifikasi sekalipun hasilnya gak banyak dosen yg  bisa menghasikan publikasi internasional berkualitas sehingga saya punya pemikiran ekstrim kenapa program sertifikasi itu dihentikan saja udah…lumayan duitnya buat nombokin BBM sehingga kenaikan bisa ditunda gitu lho. Tapi ada satu kebijakan yg sakti amat dan abadi sampai sekarang yaitu warisan Pak Fuad Hasan yang mengganti titel Drs dan Ir dengan berbagai macam embel embel sehingga hasilnya Indonesia merupakan negara dengan gelar sarjana terbanyak di dunia sebut saja sebagai contoh; sarjana ekonomi, sarjana hukum, sarjana pendidikan, sarjana pertanian, sarjana kehutanan,  sarjana karawitan dll, dan bila disingkat menjadi macam macam  sedangkan di luar negeri hanya  mengenal  beberapa titel sebut aja Bachelor of Art (BA) atau Bachelor of Science (BSc)  tergantung dia  dari ilmu sosial atau pasti alam. Sebut aja si A memiliki gelar kesarjanaan di bidang pendidikan maka dia akan menulis dalam daftar riwayat hidupnya Bachelor of Art in Education…jadi untuk penghematan yang membedakan hanyalah in…tersebut, bandingkan dengan di Indonesia yang harus menyebutkan semua sehingga ada titel Sarjana Agama, Sarjana Teknik (gak tau Sarjana Santet udah ada apa belum yaa…?). Di level master (Ind = magister), sama saja diluar negeri tidak banyak titel yang dipakai. MBA dan MSc adalah gelar yang paling umum. Untuk ilmu ekonomi dan bisnis misalnya;  gelar MBA diberikan kepada mereka yg menyelesaikan  pendidikannya melalui  moda  melengkapi mata  kuliah sebanyak 12 mata kuliah dan penyusunan tesis yang tidak susah susah amat. Sedangkan MSc  diberikan kepada mereka yg   menyelesaikan studinya lewat jalur riset dengan menempuh 2 atau 3 mata kuliah wajib. Bandingkan dengan program MM Indonesia  dari PT papan atas yang harus menempuh 12 mata kuliah + tesis komprehensif yang amat susah demi mendapatkan gelar Magister Manajemen.  Juga yang membedakan disiplin ilmu hanya di tunjukan dengan kata in...jadi MBA in International Business, MSc in Entrepreneurship….kagak seperti di bumi Pancasila gelar Magisternya banyak amiir, sehingga dibuat satu gelar yang bisa mencakup semua yaitu MSi (Magister Sembarang Iso)…makanya jangan heran S2 Akuntansi gelarnya MSi, S2 komputer juga MSi, S2 Administrasi Publik juga MSi..dan silahkan cari sendiri MSi yang lain.

Setelah wisuda

Setelah wisuda

Di level yg lebih tinggi, kalau sebutan Doctor (Dr) di luar negeri adalah sebutan profesional kepada orang yang telah menyelesaikan PhD, tetapi di Indonesia Dr.  adalah gelar bukan sebutan profesional. Nah dengan akan datangnya Asean Economic Community (AEC) di akhir 2015 dimana  semua tenaga kerja ASEAN akan bersaing secara bebas, tidak akan kesulitankah  sarjana sarjana Indonesia nantinya dengan gelar mereka yg mungkin susah dimengerti tersebut? Para sarjana tersebut  mungkin akan minder karena gelar kesarjanaannya yang agak nyeleneh tersebut. Tanya saja  adik adik yg di ITS atau ITB sekarang mereka  akan bangga bergelar Sarjana Teknik atau Ir (Engineer). Di Malaysia saja lulusan beberapa PT diberi  gelar Engineer yg saya percaya akan meningkatkan rasa pede mereka.

Suatu model itu akan diikuti kalau dia memiliki kriteria Respected (Dihormati), Referred (Dirujuk) dan Relevan (Sesuai dgn zaman).  Dengan menggunakan framework tersebut silahkan dianalisa model  gelar sarjana Indonesia tersebut?

Masihkan relevan gelar sarjana yang kita pakai sekarang ini?

Advertisements
Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Leave a comment

Menjadi Komunitas Ilmuwan Global

Baru baru ini (3 Juni 2013) saya mendapat kehormatan menjadi dosen tamu (guest lecturer) pada Program Doktor Ilmu Manajemen  (PDIM) Universitas  Brawijaya Malang, Indonesia yang juga menjadi alma mater saya. Sangat menyenangkan,  betapa tidak 4 tahun yang lalu saya masih duduk sebagai mahasiswa program doktor, tapi hari itu saya menjadi  dosen tamu yang  berbagi ilmu pengetahuan  sebagai seorang ilmuwan global, agak berlebihan mungkin, tapi itulah hidup,  ada saatnya kita manggut manggut tertunduk mengiyakan apa kata orang tetapi ada saatnya  orang dipaksa manggut manggut mendengar apa yang kita katakan.

Mendapat undangan sebagai dosen tamu dari Universitas se kaliber BRAWIJAYA yang merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas merupakan  hal yang tidak mudah karena selama ini universitas hanya mengundang orang orang  dengan kaliber tertentu dari perguruan tinggi asing ternama dari luar negeri sehingga  peluang yang diberikan kepada saya  membuat anda bertanya tanya sehebat apa sih saya?

Saya sih tidak hebat hebat amat, tapi selama saya berkarir di PTN di luar negeri selama tiga tahun  saya telah  mendapatkan beasiswa untuk presentasi  di  Said Business School Oxford University, salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia, mendapatkan grant dari Pemerintah Jerman untuk mempresentasikan penelitian tentang Sustainable Consumption di Asia, mendapatkan best paper  Award di bidang bisnis dan manajemen  dari ABEST 21(salah satu konsorsium pendidikan tinggi papan atas dunia), mendapat kehormatan mempublikasikan artikel  di South East Asian Journal of Management-(Jurnal terbitan Universitas Indonesia dengan akreditasi A) dan juga mendapat kehormatan menjadi salah satu anggota scientific committee  pada international conference yang diselenggarakan oleh University of Nagoya, Japan (http://bit.ly/13nxUP8).

Dengan modal segitu cukuplah syaratnya untuk datang ke Alma Mater dengan embel embel sebagai dosen  tamu.

Pertanyaan yang sering diajukan kepada saya adalah apa yang harus kita buat supaya bisa menjadi seorang global scientist? Pada hemat saya apapun di dunia ini untuk menjadi dikenal kita harus memahami yang namanya TREND. Kalau sekarang trendnya musim layang layang ya kita harus ikut main layang layang, nah kalau main layang layang ngetrend tapi anda main congklak ya jelas gak ada yang ngelirik. Dance with the change…kan itu inti dari semua pelajaran tentang manajemen sekarang ini.

Melihat trend di dunia tentang perguruan tinggi atau universitas, lembaga ini ada tiga kategori: universitas yang berfokus pada RISET, pada PENGAJARAN dan yang TIDAK JELAS riset apa pengajaran?

Dan trend dari universitas universitas terkemuka di dunia adalah mengarah ke Research University!

The world-class scholars come from a variety of public and private universities in various countries;

They tend to read the same scholarly journals and attend the same scholarly conferences;

To be a world-class scholar, you must become a part of the world-wide network of scholars!

Riset berkonotasi publikasi, melakukan riset tanpa publikasi adalah seperti mengadakan konser yang hebat dalam satu ruang besar dengan musik yang mendayu dayu hebat tapi tanpa penonton. Secara pribadi mengadakan konser tanpa penonton memang memberikan kepuasan secara personal tetapi orang lain tidak mendapatkan faedah dari kegiatan ini dan tidak ada nilainya karena tidak ada yang menghargai anda. Jadi anda jangan heran kalau ada teman2 dosen yang sudah pergi ikut program sandwich di luar negeri ataupun sudah menjadi dosen di luar negeri masih belum bisa menjadi ilmuwan global harap maklum karena satu satunya cara untuk menjadi ilmuwan global adalah lewat PUBLIKASI, there is no other way!

South East Asian Journal of Management, Accredited A by Indonesian Government

SELAMAT BERJALAN KE ARAH ILMUWAN GLOBAL REKAN REKAN AKADEMISI. It is not the matter where you are from, but where you are going! Saya dari perguruan tinggi swasta kecil di Indonesia, tapi saya mengarah ke arah ilmuwan global, dan anda juga tentu bisa kalau memiliki sikap mau belajar dengan kerendahan hati.

Dan kalaupun anda belum bisa jadi ilmuwan global dengan fokus riset, bukankah universitas terbagi menjadi tiga kategori, masih ada dua kategori yang masih bisa anda isi. Kita hidup mengikuti jalur hidup masing masing sambil membaca isyarat dari atas untuk melakukan yang terbaik.

Categories: Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Inggris, Spanyol, Eyang Subur, Fathanah dan Kancil

Dalam literatur manajemen David McClelland  sangat terkenal dengan teori motivasinya  yang disebut teori tiga kebutuhan karena menyimpulkan  ada tiga kebutuhan utama  manusia  seperti yang terlihat di gambar berikut:

Three Needs Theory

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa McClelland untuk sampai ke hasil ini menggunakan analisanya terhadap cerita cerita anak anak di Inggris dan Spanyol seperti yang diuraikan dalam bukunya The Achieving Society yang ditulis pada tahun 1961. Kesimpulan beliau cerita yang disampaikan kepada anak anak akan mempengaruhi motivasi mereka dalam menjalani hidup kedepan. Cerita atau dongeng karya sastrawan Inggris biasanya penuh muatan muatan spiritual dan motivasi untuk maju  dari dulu hingga sekarang, lihat saja  sekuel Harry Porter yang difilmkan misalnya, Alice in Wonderland,  Romeo and Juliet,  sebaliknya  dongeng rakyat  Spanyol isinya banyak  cerita cerita yang meninabobokan  dan saking hebatnya masalah tidur ini, kata SIESTA adalah bahasa Spanyol yang diadopsi oleh bangsa bangsa Eropa dan Amerika untuk sebutan keren Tidur Siang. Sekalipun dua negara tersebut merupakan penjajah terkenal  sampai berakhirnya perang dunia ke 2, fakta menunjukan Inggris makin  maju sementara Spanyol makin terpuruk termasuk klub sepakbolanya yang menjadi kebanggaan sekarangpun  berpindah ke Jerman. Era Barcelona dan Real Madrid sepertinya sudah bergeser ke Bundesliga sekarang. Jadi apa yang bisa  dibanggakan Spanyol selain sepakbola sekarang?

Kalau teori Oom  David ini benar bahwa cerita atau dongeng pengantar tidur anak anak menentukan motivasi seorang anak bangsa untuk mencapai prestasi, maka  kita tentu sedih karena cerita pengantar tidur yang paling terkenal di Indonesia adalah Cerita Sang Kancil dengan berbagai lakon.Tokoh si Kancil dengan segala sepak terjangnya tak bisa disangkal sudah menjadi ikon dunia dongeng anak Indonesia. Semua ending biasanya berakhir dengan  kecerdikan  (kelicikan) si Kancil  menjebak lawannya hewan hewan yang lebih besar dan buas.

Celakanya  salah satu cerita yang paling populer adalah cerita Kancil  Mencuri  Ketimun. Coba aja nanya ke penjaga kebun binatang, pernahkah ia memberi makan  kancil ketimun? Yang namanya kancil itu binatang pemalu, dan pendiam. Makanan yang paling disukainya adalah buah-buahan kecil yang berair. Ya, ketimun memang berair. Tapi kancil NGGAK SUKA  makan ketimun. Kalau pun tuh kancil kepepet dan mesti makan ketimun, bisa mokat dia  alias koit bin  death. Tapi itulah, mau ngawur atau tidak cerita Kancil  tetap menjadi favorit anak anak yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Melihat pak Susno Duaji yang melarikan diri sebelum  menyerahkan diri dengan alasan interpretasi beliau tidak ada perintah penahanan dari MK,  Eyang Subur yang beristri melebihi kapasitas tapi masih mencari celah, dan Pak De Fathonah yang sibuk mencari pembenaran kenapa dia memberikan duit dan bonus yang banyak kepada  model majalah hot Vitalia Shesa, apakah dongeng tentang kancil  yang identik dengan cerdik, licik, banyak akal, dll tadi begitu membekas dalam memori mereka ini?

Pujaan Hati Pak De Fathanah

Kalau begitu, maka perlu-lah repositioning cerita Kancil tersebut untuk generasi berikutnya. Anda memang tidak berubah jadi kancil kalau makan daging kancil terus, tapi  dijejali cerita kancil terus terusan sejak kecil akan membuat perilaku anda seperti kancil.  Kalaupun  kancil dipandang sebagai  makhluk kreatif, maka kreatifitas tersebut lebih menjurus kearah yang nyeleneh seperti Pak De Fathanah dan  Eyang Subur yang selalu membawa bawa agama, kemungkinan ini adalah interpretasi Syariah yang diwujudkan sebagai PLAYBOY SYARIAH!  Tapi setidak  tidaknya  baik Pak De Fathanah  maupun Eyang Subur telah menunjukkan bahwa  mereka  hanya perlu dua  kebutuhan yaitu Need for Power (Power karena perlu cewek lebih dari satu)  dan  Need for Achievement (Tua tua masih sukses menggaet cewek cantik).  Dan kalaupun Pak De Fathanah gagal menjadikan Vitalia  Sheisa  menjadi istri atau membuatnya menjadi Vitalnya Sisa  setidak tidaknya beliau sudah melengkapi  Need yang ketiga :

Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat – The Need for Affiliation
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain.  Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain melalui pembeliaan Honda Jazz dan arloji mahal.
Nah, kalau analisa yang terakhir ini mungkin dipengaruhi juga oleh cerita kancil yang saya dengar waktu kecil karena   berusaha mengait ngaitkan sesuatu mencari pembenaran mohon harap maklum. Kancil gitu lho….!
Categories: Human Resources Management | Tags: , , , | Leave a comment

Pola Pikir Berkembang (Growth) dan Tetap (Fixed)

Dunia social media di  Indonesia sudah sedemikian bebasnya dimana   tidak ada rambu-rambu dimana orang boleh mau cuap cuap apa saja, memaki, menghina, menjelek jelekan  yang bersebrangan dengan dia  tanpa memandang siapa sekalipun yang bersangkutan adalah kepala Negara. Tidak ada yang lepas dari kritik, bahkan pak presiden sendiripun yang sekarang memiliki  akun twitter @SBYudhoyono juga menjadi sasaran kritik.

Menariknya  di media   ada selalu dua kubu yang  suka menjelek jelekan keadaan negara dan pemimpin  dengan sangat vulgar   dan  yang selalu   berpikiran positif dengan menunjukkan hal hal baik dari Negara tercinta ini  sehingga  kita kita menjadi bingung  mau ikut yang mana karena kedua pihak memiliki bukti kuat. Dan biasa yang bersebrangan dengan pemerintah bahasanya sangat vulgar dan berani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah  vulgar dan berani mengkritik  pemerintah di  media itu hebat? Kalau zaman Pak Harto yang jadi presiden  anda buat begitu anda memang hebat bro… tapi sekarang ini  semua orang sama beraninya  dengan ente. So apa hebatnya gitu lho? Jadi apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh mereka yang merasa berani ini? Tanpa bermaksud  membandingkan coba kita lihat Pak Amin Rais dan Pak Hatta Rajasa, pintar dan berani yang mana? Saya yakin tanpa berpikir anak kecil aja tahu jawabannya, tapi lihat karirnya moncer yang mana?

Setelah melalui  riset beberapa  dekade,  Carol Dweck,  seorang  professor   psikologi  pada Stanford University menyimpulkan ada dua jenis  pola pikir yang menentukan perilaku seseorang  yang juga bisa  digunakan untuk  melihat prilaku seseorang terhadap kebijakan pemerintah. Menurut beliau :

the key  isn’t ability; it’s whether you look at ability as something inherent that needs to be demonstrated or as something that can be developed.

“kuncinya bukanlah kemampuan, tetapi apakah anda menganggap kemampuan itu sebagai bakat yang harus dipamerkan petentang petenteng kesana kemari atau sesuatu yang bisa dikembangkan.”

Jadi mereka yang  dengan vulgar dan beraninya  mention melalui tweetnya kepada yang bersangkutan sebenarnya hanya ingin pamer bahwa mereka itu berani, mereka memiliki bakat  pembangkang, nyinyir  dan  ingin orang  tau bahwa mereka itu berani..gitu lho. Inilah yang digambarkan oleh   Carol Dweck  sebagai  Fixed Mindset and Growth Mindset.

Dalam mindset tetap (fixed)  orang percaya kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat  bersifat abadi. Mereka menghabiskan waktu untuk mendokumentasikan kecerdasan mereka atau bakat bukannya mengembangkan mereka termasuk dengan cara cara mengkritik pemerintah tadi dengan  ucapan  maupun twit yang pedas dan vulgar.
Dalam mindset berkembang (growth) , orang percaya bahwa kemampuan yang paling dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras-otak dan bakat hanyalah titik awal. Pandangan ini menciptakan cinta belajar dan ketahanan yang sangat penting bagi prestasi luar biasa.

Lebih jauh perbedaan kedua pola pikir ditunjukkan  dalam diagram dibawah ini:

Seperti yang terlihat di diagram diatas, orang dengan fixed mindset bertindak karena keinginan membentuk image supaya terlihat pintar maka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, tidak perlu berusaha maksimum, cuek terhadap kritik dan merasa terancam kalau ada orang lain yang lebih sukses dari dia. Akibatnya potensi mereka tidak bisa berkembang maksimal dan cenderung mandek sebelum mereka mencapai tahapan yang seharusnya. Sebaliknya mereka yang tergolong growth mindset mereka diarahkan oleh keinginan belajar yang sangat kuat sehingga mereka cenderung menantang badai,konsisten dan tidak mudah menyerah, percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan, menghadap kritik dengan sikap positif dan mencerna yang relevan, belajar dan terinspirasi dari kesuksesan orang lain. Akibatnya prestasi jadi jauh lebih tinggi. Nah begitulah kira kira jawaban kenapa Pak Hatta Rajasa bisa melesat jauh dari Pak Amin Rais dan yang terjadi kepada mereka yang merasa berani dengan twit twitnya dan juga mereka yang selalu merespond positif setiap perubahan tersebut. Dikotomi fixed dan growth mindset menjadi garis demarkasi yang jelas.

Dengan framework yang sama ini juga saya bisa mengerti mengapa teman saya Ir. Budiono MM yang sama sama bekerja dengan saya di salah satu Universitas Malaysia, sekalipun belum Doktor tapi bisa lebih terbilang dibandingkan dengan Dr. Senang  Kentoet  yang cuman bisa petentang petenteng gembar gembor telah menerbitkan lima buku di Indonesia karena ybs hanya ingin membentuk image dan meyakinkan orang bahwa dia pintar.

Ingin mengetahui anda tipe yang mana, silahkan klik link ini http://mindsetonline.com/testyourmindset/index.html

 

THE WORLD IS SIMPLY DIVIDED INTO LEARNERS AND NON-LEARNERS!

Categories: Human Resources Management | Tags: , | 2 Comments

Positioning – Merasa Dizalimi?

Merasa  dizalimi   sepertinya sekarang menjadi trend dan mantra  ditanah air untuk  mencari pembenaran atas segala peristiwa yang menimpa seorang individu. Bro Anas merasa dizalimi karena dipecat    dari Ketum Partai Demokrat,  Teten Masduki dan Oneng merasa dizalimi karena  kalah dalam pilkada Jawa Barat, Neneng istri    Muhammad Nazaruddin yang menjadi terdakwa korupsi merasa dizalimi, Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso dizalimi KPU karena  partainya tidak boleh ikut pemilu, Gayus PNS termuda tapi terkaya yang divonis korupsi dizalimi, Komunitas Partai Keadilan Sejahtera merasa dizalimi ketika  partainya diplesetkan sebagai Partai Korupsi Sapi, dan  ketika divonis tiga tahun, terdakwa kasus dugaan suap cek perjalanan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom juga merasa  dizalimi oleh hukum serta  masih banyak  lagi contoh.

Dalam bahasa Indonesia, kata “zalim” berarti  bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil dan kejam. Orang yang terzalimi berarti dia diperlakukan secara keji dan bengis oleh seseorang. Melihat begitu mudahnya seseorang mengaku dirinya dizalimi  pertanyaan mendasar apakah orang tersebut paham akan  makna dari dizalimi tersebut ataukah  publik Indonesia ini begitu bodoh  sehingga   sangat mudah  bersimpati dengan orang yang mengaku “terzalimi”?

Parahnya  orang orang yang bermasalah  memposisikan diri “terzalimi”  sering  menjadikan agama sebagai komoditas karena ujung ujungnya  dia    mengutip sebuah hadist:
 “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”   Emangnya  Tuhan tidak memiliki sifat  sama (maha mendengar)  dan basyar (maha melihat)? Dan adalah suatu kenaifan kalau menganggap masyarakat sekarang bersifat  sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami menaatinya”. Orang sekarang, begitu mendengar anda dizalimi , akan menjawab,
“Sami’na wa seminarna wa risetna idza cocokna wa masuk akal’na wa imanna.
 Kami mendengar, menyeminarkan dan merisetkan. Jika cocok dan masuk akal, baru kami percaya,”
Satu hal yang sangat menarik bila diamati orang orang yang merasa dizalimi ini rata rata dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Saya belum pernah mendengar orang orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit koar koar merasa dizalimi atau mereka yang ditolak di  sekolah sekolah elit sekalipun memiliki kemampuan intelektual tinggi.  Jadi gejala  apa sebenarnya  yang  membuat orang orang yang notabene ini berkecukupan  memposisikan  dirinya (positioning)   DIZALIMI
Pakar marketing Al Ries  mengatakan: in marketing, positioning is the process by which marketers try to create an image or identity in the minds of their target market for its product, brand, or organization.
Kalau merujuk kepada definisi diatas  image yang ingin diciptakan kepada publik adalah  poses mereka memposisikan  diri  tidak bersalah..padahal jelas jelas salah….ini yang namanya ruarrrr biasaa.
Clifford  Geertz  seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang sangat  dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia karena mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan  dalam memahami perilaku sekelompok masyarakat  memperkenalkan istilah  Interpretive Anthropology yang esensinya mengatakan apa yang dilakukan oleh seseorang merupakan symbol atau lambang terhadap sesuatu  maksud.  Antropologi menurut beliau adalah ilmu memahami orang dengan melihat symbol atau sinyal sinyal yang dipancarkan tersebut dan orang orang  yang mengaku dizalimi tersebut  jelas jelas memberikan sinyal bahwa dirinya  tidak bersikap satria dengan berusaha memposisikan dirinya tidak bersalah apalagi   mengaku bersalah. Karena mereka   sadar bahwa masyarakat kita pemaaf maka kloplah sudah   mengaku dizalimi ini  sebagai usaha membersihkan diri supaya tetap dianggap orang baik.
Terinspirasi dari DIZALIMI POSITIONING ini  teman saya seorang dosen yang bekerja di perguruan  tinggi Malaysia sebut saja namanya Doktor Senang Kentoet, sekalipun sudah  punya gaji lebih dari 20 juta sebulan masih saja   ngobyek  mengajar di program MM gurem  di Jawa Timur, dan ketika ketahuan  ikut ikutan memposisikan dirinya dizalimi padahal aturan sudah jelas jelas melarang   ngobyek  di tempat lain.
Jadi dizalimi tuh sudah milik kaum elit dengan berbagai profesi elit  untuk menyembunyikan semangat hedonism yang sangat liar sehingga semua etika dilanggar.
Kini saya baru paham kenapa  seorang peneliti senior dari Universitas di Jepang mengatakan orang Indonesia sangat beruntung padahal di media apalagi yang namanya di Twitter berita macam macam tentang problema bangsa ini. Di Jepang kalau merasa malu banyak yang bunuh diri tidak peduli tua muda bahkan disediakan  gunung khusus sebagai tempat bunuh diri yang bernama Gunung  Aokigahara: Japan’s Haunted Forest of Death, sedangkan  di Indonesia cukup mengaku dizalimi (baca: are you stupid enough to believe what I am saying).
Selamat menjadi bangsa yang beruntung dengan memposisikan diri dizalimi tapi ingat pesan Abraham Lincoln :
You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

TIGA MENGUAK TAKDIR

Tahun 2013  sudah kita jalani dan sebentar lagi hiruk pikuk politik akan membahana  di tahun 2014. Dan seperti biasa  banyak peramal peramal dadakan dengan bungkus  pengamat mulai bergerilya  dengan ramalannya dan kalau salah toh orang juga  mudah lupa. Tanpa bermaksud mengikuti arus menjadi peramal, tulisan ini hanyalah merupakan sumbangan pemikiran yang  karena dipengaruhi oleh gaya  saya sebagai seorang  akademisi    selalu berawal dari melihat fenomena dan kemudian berusaha merumuskan apa yang terjadi di balik fenomena tersebut dan bagaimana  kita seharusnya menyesuaikan langkah kita.  Hidup di era  digital dewasa ini harus menerima kenyataan  bahwa perubahan teknologi dan ekonomi  akan mempengaruhi  sifat sifat dari pekerjaan kita, dan di negara  negara maju, biasanya ekonomi mempengaruhi politik, bukan sebaliknya, jadi  jangan biarkan hiruk pikuk politik  menyita kehidupan kita.  Karena perubahan  dahsyat dibidang teknologi  dan ekonomi tersebut, konsekuensinya  sekarang memiliki  pekerjaan yang  bagus  tidak  menjamin tercapainya karir yang gemilang karena  kemampuan anda tidak lagi ditentukan oleh apa yang anda ketahui. Selamat datang  di era baru dunia kerja dimana  masa depan anda akan ditentukan oleh  sekuat apa sinyal yang anda pancarkan di tengah hiruk pikuk persaingan tenaga kerja di dunia.  Hal ini  sejalan    dengan yang dikatakan oleh Steven Covey pengarang buku   7  Habits of Highly Effective People  tentang habit yang ke 8: Finding your voice and helping others find theirs ; tunjukan jati diri anda dan bantu orang lain menemukan jati diri mereka . Buat diri anda terdengar, sudah lewat masanya seperti iklan Isuzu Panther beberapa tahun yang lalu : Nyaris  Tidak Terdengar  seiring  dengan Isuzu Panther nya sendiri yang semakin tidak terdengar. Supaya “terdengar” atau sinyal yang anda pancarkan ditangkap, menurut  Dr Tomas Chamorro-Premuzic,   seorang Professor of Business Psychology di University College London (UCL), kita harus menguasai 3 (tiga) hal: self-branding, entrepreneurship, dan hyperconnectivity.

Self-branding adalah   menjadi sinyal      ditengah hiruk pikuk  modal insani. Semakin kuat merek anda , semakin kuat sinyal yang dipancarkan.  Di era persaingan yang begitu  keras, self-branding lebih penting daripada apapun bentuk  bakat dikarenakan  pasar sudah  tidak mampu (atau tidak mau) lagi  untuk membedakan antara merek dan bakat. Lihat saja seorang dosen yang memiliki merek sekalipun  tidak berbakat mengajar satu subjek karena bukan keahliannya tetap   masih difavoritkan. Sewaktu saya  masih tinggal di Surabaya  beberapa tahun yang lalu, suatu pameran pendidikan  kalau  penyelenggaranya bukan Jawa Pos biasanya  peminat   dalam hal ini PTS  di Jawa Timur yang mau berpartisipasi  biasanya  sedikit. Jawa Pos yang jelas jelas koran, bukan event organizer  sangat diminati karena tidak lepas dari Merek Jawa Pos tersebut.

Kita semua makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda , tetapi   kalau kita tidak memiliki  merek, individualitas kita sebagai makhluk  Tuhan yang unik tidak  akan terlihat. Menjadi merek berarti menampilkan apa yang membuat Anda istimewa, dengan cara yang berbeda (dikenali), diprediksi (konsisten), dan bermakna (memungkinkan orang lain untuk memahami apa yang Anda lakukan dan mengapa). Inilah sebabnya mengapa Hermawan Kertajaya dan Agnes  Monica  jauh lebih berhasil daripada pesaing mereka yang  lebih berbakat – mereka mengerti bahwa menjadi fenomena pemasaran itu lebih penting daripada menampilkan keterampilan berceramah tentang pemasaran  yang luar biasa atau bakat musik, dan lebih terfokus pada self-branding dibandingkan  yang  rekan-rekan mereka lakukan.

 Entrepreneurship  adalah tentang menciptakan  nilai tambah lebih  kepada masyarakat dengan menghilangkan tahapan  yang tidak perlu:    mengubah masa kini ke masa lalu dengan menciptakan masa depan yang lebih baik. Antri beli tiket kereta api  dan  pesawat di travel agent, ngantri bayar pajak motor dan mobil di SAMSAT , terbang  dgn tiket sangat mahal,  harga laptop mahal   adalah sebagian contoh masa lalu  karena hasil karya karya para entrepreneur.

Kita semua sibuk, tapi satu-satunya aktivitas yang benar-benar penting adalah kegiatan yang memiliki nilai tambah.  Entrepreneurship  adalah perbedaan antara menjadi sibuk dan menjadi sebuah bisnis, dan alasan mengapa beberapa orang  dapat bertahan dalam bisnis.

Perang   bakat dewasa ini  adalah perang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan  insan yang dianggap  sebagai agen perubahan sejati.  Agen  perubahan sulit untuk ditemukan, sulit untuk dikelola, dan sulit untuk dipertahankan. Entrepreneurship  adalah tentang menjadi agen  perubahan. Agen  perubahan bila  diibaratkan  sebagai sinyal sinyal radio  adalah   Suara Surabaya 100 FM yang  sinyalnya sangat kuat memancar  kemana mana  sedangkan  yang lain  hanyalah sinyal krosak krosok yang tidak jelas apa tuh.  Hampir dipastikan di era ini, apapun profesi anda jika Anda tidak membawa pertumbuhan, anda diganti dan   didaur ulang, sama seperti sinyal yang krosak krosok tidak jelas tadi pasti diganti.

Apakah Anda bekerja sendiri atau dipekerjakan oleh orang lain, apakah Anda bekerja di sebuah bisnis besar atau memiliki usaha kecil, kesuksesan karir anda tergantung pada kemampuan anda untuk menawarkan sesuatu yang baru: solusi baru untuk masalah yang ada, layanan baru, produk, dan ide-ide baru dll.  Segala sesuatu yang tidak baru dianggap usang , dan jika anda melakukan hal yang usang  maka anda terjebak di masa lalu. Dalam  era  Entrepreneurship masa depan anda adalah   baru, dan nilai anda tergantung pada kemampuan anda untuk melakukan sesuatu yang berbeda.  Never let your memories be greater than your dreams (Doug Ivester) , Live out of your imagination, not your history (Steven  Covey), Only 2 things generate money:Marketing and Innovation  (Peter Drucker) adalah sekelumit contoh dari pandangan para pakar dibidangnya akan pentingnya sesuatu yang baru.

Hyperconnectivity adalah tentang menjadi sinyal dalam lautan data,  kemudian membuat dan membentuk gelombang pengetahuan sosial. Dalam bahasa yang lebih sederhana bagaimana supaya tweet, facebook dan blog anda dibaca. Banyak orang  yang terkoneksi  secara online, tapi apa yang penting adalah menjadi konektor yang relevan. Hyperconnectivity bukanlah tentang menjadi online 24 jam,  ini tentang mengoptimalkan pengalaman secara  online untuk  dibagi  kepada orang lain. Kalau anda tidak menjadi  seorang hyperconnector  berapa orang  yang tahu anda  memenangkan suatu kompetisi, prestasi apa saja yang anda capai?,   tetapi ketika anda seorang hyperconnector, ribuan orang akan menonton film yang anda sukai dan rekomendasi  anda akan membentuk opini publik. Dalam era informasi  dimana  informasi  yang disampaikan  sudah mencapai tingkatan over  berlebihan, menjadi sumber terpercaya informasi adalah komoditi yang langka .  Hal ini  bisa dikatakan  sebagai  Digital Word-Of-Mouth  terbaru dalam evolusi pemasaran. Hyperconnectors mengarahkan kita ke arah yang benar. Siapa saja dapat meng-upload video di YouTube atau tweet, tetapi hanya sedikit yang bisa mengarahkan kita ke video atau tweet yang ingin kita lihat.

Singkatnya,  di era digital ini, masa depan anda tergantung pada kemampuan anda menguak takdir dengan melakukan 3 hal:  menjadi merek, agen perubahan, dan link ke informasi yang berguna. Menjaga  kepribadian   dan mengelola reputasi   (bagaimana orang lain melihat ) akan mengubah anda menjadi merek yang sukses, menghasilkan  ide-ide kreatif  dan menentang status quo serta cara yang kuno  akan membantu anda menjadi agen perubahan, dan menjembatani kesenjangan antara luasnya  pengetahuan sosial   didunia digital dan apa sebenarnya  yang dibutuhkan  oleh masyarakat  akan membuat  anda menjadi hyperconnector.

Selamat tahun baru 2013, selamat menguak takdir   dan selamat bekerja untuk Indonesia  yang lebih baik!

Categories: Budaya, Ekonomi, Human Resources Management, Marketing | Tags: , , | Leave a comment

The 7th International Conference on Business and Management Research (ICBMR)

Adapted from:  news

The 7th ICBMR jointly organized by University of Economics Ho Chi Minh City and Universitas Indonesia, and supported by ABEST21, was successfully held in Ho Chi Minh, Vietnam, on November 16, 2012. The ICBMR is an annual conference organized by Universitas Indonesia with international partners, in an effort to develop a platform for international collaboration in research. Since 2010, the conference is supported by ABEST21. The 7th ICBMR, which focused on “Transforming Local and Regional Networks into Sustainable Growth”, received 127 applications, but only 61 papers were selected for presentation in the one day conference at University of Economics Ho Chi Minh City. The papers addressed various interesting and critical topics in the areas of finance and banking, capital market, economic development, human resources management, marketing, accounting and governance, strategic and general management and were presented by researchers from countries such as Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, and Japan.

All full papers presented at the conference were evaluated by the organizing committee, track chairs and scientific committee for the ABEST21 Best PaperAwards. In this conference, ABEST21 sponsored two awards for outstanding papers: One in the area of business and management, and one – in economics.The president of ABEST21  Fumio Itoh presented the certificates and monetary awards to the winners during the dinner cruise on Saigon River.

Image

The president of ABEST21 Fumio Itoh  (on black suit) presented   awards to the winners

The winners for theABEST21 Award for the Best Paper in Business and Management are “Repositioning Strategy for Malaysian Companies Internationalization” by   Ismi Rajiani of University Technical Malaysia.

It is interesting to note  here that Dr. Ismi Rajiani is an Indonesian  serving Malaysian  university. He wins for Malaysia, sad for Indonesia! His achievement  in this event attract  Utusan Malaysia  the most  popular  national  newspaper  to cover the news.

Categories: Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Shame Culture (Budaya Malu), Guilt Culture (Budaya Bersalah) or No Culture?

Pada  tahun 1948 Ruth Benedict seorang antroplog  dalam bukunya yang berjudul  The Chrysanthemum and the Sword, memperkenalkan istilah Shame Culture (Budaya Malu) dan Guilt Culture (Budaya Bersalah) yang digunakan sebagai dikotomi pembagian  bagaimana pola pikir Barat  dan Timur.  Barat  di kategorikan sebagai guilt culture dimana  orang merasa  bersalah kalau melakukan sesuatu perbuatan yang salah sekalipun tidak ada yang melihat. Contohnya di Jerman dan negara negara Eropa Barat (kecuali Inggris), kalau anda naik kereta api dan bis dalam kota  tidak ada yang memeriksa apakah anda punya tiket atau tidak, tapi orang orang yang menggunakan moda transport tersebut tetap membeli tiket sesuai dengan tujuannya masing masing karena mereka merasa bersalah (guilt) kalau naik transportasi umum tidak membayar. Sebaliknya suatu bangsa  yang  menganut  shame culture, orang akan terus melakukan sesuatu  perbuatan  yang salah  dan merasa nyaman saja  dan akan merasa malu (shame) kalau ketahuan. Nah tahu kan sekarang alasannya kenapa sampai ada  yang berani sumpah gantung di Monas  segala  demi  tidak mendapat malu karena  dalam konsep shame culture  semuanya ditandai oleh rasa malu dan disini tidak dikenal rasa bersalah. Menurut pandangan ini budaya malu (shame  culture) adalah kebudayaan dimana  kata kata seperti “hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila seseorang melakukan suatu kejahatan, hal ini  tidak dianggap  sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, tetapi boleh disembunyikan demi kepentingan yang lebih besar. Malapetaka  hanyalah terjadi  bilamana kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain sehingga pelaku kehilangan muka. Jadi jangan heran bro..kalau laporan KPK di intervensi, kasus Century masih kabur, KPK dan Polisi  saling berantem semuanya itu dilakukan demi menyelamatkan yang namanya hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  “status”, dan “gengsi.

Image

No  train ticket checking in Germany

Ketika terjadi promosi jabatan untuk sejumlah bekas terpidana korupsi di Provinsi Kepulauan Riau  beberapa pakar berkomentar: “rasa malu di kalangan pejabat publik Indonesia semakin menipis”. Jika dibiarkan, kondisi ini rawan menyuburkan praktik korupsi di pemerintahan. “Kalau punya malu, mereka semestinya tak bekerja lagi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), apalagi kemudian diangkat menjadi pejabat publik,” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia, Salim Said, di Jakarta, Rabu (24/10/2012).Menurut Salim Said, pengangkatan para mantan terpidana korupsi sebagai pejabat itu mencerminkan bahwa orang tak merasa malu lagi untuk bekerja melayani publik meski cacat moral. Orang yang terbukti korup itu berarti telah mengkhianati amanat melayani rakyat.

“Enak saja, mereka sudah korup, diadili dan terbukti korupsi, dijatuhi hukuman, kok malah balik lagi menjadi pejabat. Mereka harus mundur dari jabatannya,” kata Salim.  “Siapa saja yang pernah dihukum karena korupsi tidak boleh lagi diangkat menjadi pejabat publik dalam semua tingkat selamanya,” katanya.

Wajar saja Prof  Salim geram, tapi kalau  Ruth Benedict masih hidup dan sekalipun terdapat pro dan kontra terhadap doktrinnya dikalangan para antropolog,  melihat fakta di mana  orang yang jelas jelas  bersalah (guilt) tapi tetap saja tidak memiliki rasa malu (shame)  mungkin beliau akan menambah satu  lagi tipologi nya  menjadi  No Culture  khusus  kepada   orang orang semacam ini. Diawal awal penelitiannya  Ruth Benedict menggunakan  sampel  Amerika sebagai guilt culture dan Jepang sebagai  shame culture.  Tapi penelitian yang dilakukan oleh Prof. Creighton dari University of British Columbia  Vancouver  membuktikan bahwa orang Jepang ternyata lebih ke guilt culture.  Sifat  kesahihan penelitian ilmu sosial adalah  tentatif: diterima   bila sementara  belum ada teori baru yang menyanggahnya.  Lihat saja  tipologi dimensi Hofstede National Culture yang awalnya cuma ada empat: Power Distance, Uncertainty Avoidance, Masculine  vs Feminine, Collectivism vs Individualism, begitu sampai ke Asia timbul satu dimensi baru yang namanya Long Term Orientation. Melihat fakta fakta yang terjadi di negara tercinta, tidak kah anda merasa malu bila  satu dimensi yang bernama No Culture atau apapun namanya akan  muncul dengan mengambil sampel  Indonesia?

Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | 1 Comment

Target Seratus Ribu Doktor Pada 2015; Terus inyong kudu muni “WOW” kaya kuwek?

Indonesia menargetkan jumlah pemegang gelar doktor mencapai seratus ribu orang pada 2015. Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar Internasional Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA).”Jika Indonesia memiliki doktor yang banyak, inovasi dan ilmu pengetahuan akan maju dengan pesat,” kata Musliar, Minggu (26/8/2012). Sepertinya beliau sangat percaya bahwa kuantitas sangat menentukan. Sebenarnya apa sih uniknya doktor sehingga banyak orang-orang yang kebelet dengan gelar tersebut  sampai sampai tokoh nasional macam Pak Be ye, Pak  Akbar Tanjung  dan   Marissa Haque, konon katanya sampai harus membuat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala supaya dapat gelar tersebut.  Kalau di luar negeri sebutan Doktor  adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang berhasil  menyelesaikan susahnya   program PhD  (Doctor  of Philosopy). Jadi PhD adalah titel  bukan panggilan, sedangkan di Indonesia  PhD diselewengkan jadi Pas Hampir D.O yang  lebih berupa olok olok kepada mereka yang menyelesaikan  Program Doktor  karena dikasihani. Orang awam kalau ditanya jawabnya  Doktor itu ya S3, TERUS YANG MEMBEDAKAN KEAHLIANNYA DENGAN  S2 dan S1 apa..karena kadang kadang ada   ungkapan sinis, pendidikan S3 tapi keahlian  S1..jangan marah bro kalau ente masuk yang gitu karena dilapangan gejala seperti itu ada.  Nah supaya yang  bergelar doktor tidak petentang petenteng dengan gelarnya dan  masyarakat bisa menilai doktor beneran atau doktor humoris causa, marilah kita bersama lihat apa yang dikatakan oleh  Profesor Matthew Might, seorang ahli  ilmu komputer dari the University of Utah makhluk macam apa  sang doktor tersebut.  Karena sulit menggambarkan dengan kata kata beliau menggunakan gambar seperti dibawah ini:

Bayangkan  satu lingkaran yang berisi  pengetahuan semua  umat manusia di muka bumi.

Ketika kita menamatkan sekolah dasar, kita mengetahui sedikit.

Ketika kita menyelesaikan sekolah menengah pertama dan atas, pengetahuan kita bertambah sedikit lagi.

Ketika  kita menyelesaikan  sarjana muda, kita mulai memiliki keahlian khusus.

Gelar master (magister)  mempertajam spesialisasi tersebut.


Membaca  secara intensif jurnal jurnal berkualitas  dalam dan luar negeri (bukan jurnal yang termasuk dalam blacklist ini http://www.tempo.co/read/news/2012/08/30/061426338/Waspadai-Daftar-Jurnal-Hitam-Berikut)  akan membawa anda ke  titik puncak  pengetahuan umat manusia dalam bidang yang menjadi spesialisasi anda.

Ketika anda berada di tataran tersebut anda harus  fokus untuk  mencari  celah yang bisa anda isi.

Pada saat anda berada di tataran ambang batas tersebut, anda harus menghabiskan waktu bertahun tahun untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang akan anda lakukan memberikan sumbangan yang signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Hingga suatu saat ambang batas tersebut berhasil anda lewati.

Dan ketika anda sudah berhasil mengisi ruang sangat kecil tersebut barulah anda layak di sebut Doktor dan ketika kriteria ini terpenuhi dengan senang hati inyong kudu muni “Wow” kaya kuwek.

Jadi, kesimpulannya jangan lupa dari lingkaran besar tersebut ada satu yang menjadi keunikan anda. Meminjam istilah Steven Coveys pencetus kebiasaan ke 8 : Find your voice and inspire others to find theirs (Tunjukan ente siapa dan inspirasikan orang lain untuk menemukan jati diri mereka siapa), pemegang gelar doktor more less seperti itu lah.

Nah saya yakin pak Wamen pingin Doktor beneran yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan bangsa ini. Selamat berjuang putra putra bangsa terbaik, tunjukan bahwa anda layak jadi doktor dan ketika anda mendepatkan gelar tidak di respon: Terus gue harus bilang “WOW” gitu?? Dados kawula kedah matur “WOW” mekaten? D’ailleurs dois-je dire “WOW” ?

Dan kepada kawan kawan yang sudah jadi doktor jangan lupa, di era WEB 3.0, kalau tidak sampai pada tataran standar janganlah berkecil hati kalo dikatakan pendikan S3 tapi keahlian S1 (mohon maaf kalo tulisan ini dijadikan alat sebagai pisau analisa). Dan juga: PhD holders without international publication is like You Tube without music, FB with no friends, Twitter with no followers and Google with no result.

So now you understand  my PhD holder friends, mengapa Pak  Menteri Muh. Nuh  mensyaratkan harga mati  publikasi internasional di jurnal berkualitas, bukan jurnal abal abal untuk persyaratan menjadi guru besar. Contoh Jurnal abal abal seperti African Journal of Agricultural Research (AJAR) yang menampilkan nama Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis dalam salah satu artikel di jurnal dengan judul “Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-Temporal Satellite Imagery” yang dimuat di volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044, yang terbit 24 Juli 2012. Ternyata setelah ditelusuri tulisan itu diambil dari tulisan Arika Brdhikitta dan Thomas J. Overcamp, dengan judul “Estimation of Southeast Asian Rice Paddy Areas with Different Ecosystem from Moderate-Resolution Satellite Imagery”, yang dipadukan dengan tulisan Abdul Karim Makarim dari Central Research Institute for Food Crops yang beralamat di Jalan Merdeka 147, Bogor, dengan judul “Bridging the Rice Yield Gap in Indonesia”.

What a non sense bila seorang penyanyi bisa melewati boundary seorang pakar pertanian!
Tapi itulah Indonesia, sepertinya yang tidak mungkin hanyalah menghidupkan kembali orang mati..tinggal kita yang masih merasa waras dan rasional silahkan melihat dan mengamati dengan kerangka pikir yang jelas.

Categories: high education in Indonesia, Human Resources Management | Tags: , , | Leave a comment

Why Showing Your Face at Work Matters

Why Showing Your Face at Work Matters.

Categories: Human Resources Management | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.