Politik

Executhief, Legislathief and Executhief

Pada tahun 1968 , Gunnar Myrdal seorang peraih nobel berkebangsaan Swedia  menulis buku  yg berjudul Asian drama: an inquiry into the poverty of nations  berdasarkan analisa  beliau terhadap India  dan kemudian diteruskan ke  Indonesia. Beliau  memberi judul bukunya drama  sebagai bentuk kepesimisan  melihat kepura puraan yang terjadi   di negara negara Asia  dalam penyelengaraan tatanegara yang bermartabat dan terhormat. Satu istilah yang dilontarkan adalah  Soft State  (negara lemah) untuk  menunjukkan perbedaan Asia dan negara negara barat dalam penyelenggaraan tata negara. Diantara ciri ciri  negara lemah adalah:

  1. Golongan penguasa  tidak menghormati dan  mentaati  undang-undang, malah menggunakan  kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar besarnya demi kepentingan sendiri.
  2. Semuanya diperdagangkan , di Indonesia  mulai dari sapi sampai keadilan.
  3. Peraturan sengaja dilanggar untuk memperkaya golongan berkuasa dan berpangkat
  4. Meluluskan undang-undang tetapi non sense dalam pelaksanaannya
  5. Pembayaran pajak dipermainkan dan kalau bisa tidak perlu dibayar
  6. Semua ngomong kalau dapat  jabatan : ini  amanah, tapi dalam prakteknya amanah untuk memperkaya diri
  7. “Budi politik”   ditabur atau dijual kepada  siapa yang bisa  mendukung menjadi kepala daerah, anggota DPR, lurah, dll.


Singkatnya, ciri utama negara lemah (soft state)  ialah merajalelanya  korupsi, kerakusan, keangkuhan dan penyalahgunaan  kekuasaan di  kalangan eksekutif (kepala daerah,  bupati, gubernur, menteri dan semua penjalan kebijakan), merebak   ke kalangan  legislatif (DPR) , dan  akhirnya tidak mau kalah berpartisipasi juga  kalangan yudikatif (hakim, jaksa).

Tangkapan besar  terbaru  KPK  yg melibatkan  eksekutif, legislatif  dan yudikatif :  menunjukkan pembuktian apa yang dikatakan oleh Mbah Gunnar Myrdal sejak puluhan tahun  yang lalu  masih tetap dipertahankan sampai sekarang ini.

Pada  tahun 1748 Montesquieu menerbitkan bukunya yang mashur  L’esprit des lois (The Spirit of the Laws), yang mengandung teorinya tentang ‘Trias Politica’. Menurut Montesquieu, maka kekuasaan dalam negara itu seyogyanya dibagi menjadi tiga kekuasaan, yaitu kekuasaan membuat undang-undang atau ‘legislatif’, kekuasaan menjalankan undang-undang atau ‘eksekutif’, dan kekuasaan mengadili undang-undang atau ‘yudicatif’. Ketiga kekuasaan itu perlu sekali dipisah-pisahkan, yaitu diberi kedaulatan sendiri-sendiri dalam lapangannya supaya dengan demikian ada ketegasan dalam negara dan tercapai kebebasan yang sebaiknya bagi tiap-tiap warga negara.

Nah kalau Montesquieu masih hidup  mungkin beliau akan miris  melihat Trias Politica-nya di Indonesia  menjadi ExecuThief, LegislaThief  dan YudicaThief tetapi Mbah Myrdal makin sumringah karena teori beliau  kekal dan abadi. Dan kalau beliau masih hidup dan meneruskan observasinya tentang  Indonesia mungkin akan ditambah satu  lagi kriteria soft state: percaya dengan  tahyul termasuk dukun dukun politik sehingga iklan iklan perdukunan yang bisa menjadikan orang kepala daerah banyak di temui. Nih contohnya satu:

Garansi insya Allah jadi, dukun politik ngaku keturunan nabi

Anda boleh saja berkomentar miring tentang Doktor (katanya) keblinger satu ini, tapi   saya yakin ada saja yang percaya, karena di  soft state kaya di Indonesia   sepertinya  menghidupkan  orang mati saja yang nggak bisa.

Prof. Rhenald Kasali boleh saja cuap cuap terus dengan teori beliau tentang perubahan dan mendapat pengakuan sebagai pakar  change management dan sejenisnya, tetapi yang namanya  perubahan itu harus dimulai dari orang  yang berada di atas. Tanpa perubahan dari orang orang yang diatas  Drama yang dikatakan oleh Gunnar Myrdall akan terus berlanjut, entah sampai kapan?

Advertisements
Categories: Budaya, Indonesiana, Politik | Leave a comment

Masih Relevankah Politik Dinasti?

Konsep manajemen  right  man on the right place sepertinya tidak berlaku di jagad politik Indonesia. Pertanyaan mendasar dari para  konstituen  bukannya  apa yang bisa dibuat oleh orang  ini, tetapi orang ini  anak, adik, ipar, istri, suami  atau cucu siapa.  Lihat saja dalam pemilihan beberapa kepala daerah dimana  incumbent tidak boleh menjabat melebihi dua periode, pemenang selanjutnya  adalah keluarga dari yang bersangkutan. Jadi yang namanya meritokrasi : bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan  seperti-nya hanyalah dambaan yang semakin jauh  melayang  seperti cita cita reformasi dulu.  Dalam karya Michael  Young (1958)   meritokrasi dalam pemerintahan  adalah  dimana penunjukan dan tanggung jawab diberikan secara objektif  kepada seorang individu berdasarkan  apa yang melekat pada diri mereka  seperti; kecerdasan,  kredensial  dan pendidikan  setelah melalui evaluasi dan verifikasi tanpa mempertanyakan dia  dari dinasti mana?

Sangat ironis dulu kita teriak teriak  dengan yang namanya  kolusi dan nepotisme. Tetapi politik dinasti yang biasanya bertujuan  untuk  melanggengkan akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi di tangan satu keluarga atau klan tertentu semakin menjadi jadi termasuk isu hangat yang ingin menjadikan  Bu Ani dan  Jenderal  Pramono Edhi Wibowo menjadi Ketum Partai Demokrat.

Politik dinasti merupakan fenomena global. Tak hanya di Indonesia, dinasti politik juga tumbuh dan berkembang di dunia. Dinasti politik Kennedy dan Bush di Amerika Serikat, keluarga Aquino, Arroyo, dan Conjuangco di Filipina, Gandhi di India, dan Bhutto di Pakistan adalah beberapa contohnya. Meski demikian, kekuasaan trah politik tersebut tidak kekal.

Dinasti Kennedy, misalnya. Selama lebih dari 64 tahun, nama Kennedy terus berkibar di jagat politik AS. Mendiang John F Kennedy, sebelum terpilih sebagai presiden pada 1960, telah mengabdikan dirinya di senat dan parlemen sejak 1947. Adiknya, Robert Kennedy, yang tewas ditembak pada 1968 adalah mantan jaksa agung 1961-1964. Edward Kennedy menjadi senator dari Negara Bagian Massachusetts 1962-2009.

Kematian Senator Edward Kennedy pada 2009 dinilai banyak pihak menandai berakhirnya penguasaan trah Kennedy di level tinggi kekuasaan politik. Sejumlah skandal dan tragedi melingkupi keluarga terpandang tersebut. Terakhir, Patrick Kennedy, anak Edward Kennedy, harus mundur dari senat pada 2010 karena masalah alkohol dan obat bius. Saat ini, Joseph P Kennedy III, cucu Robert Kennedy, sedang berupaya merebut kembali kejayaan nama Kennedy melalui pemilihan kongres di Negara Bagian Massachusetts.

Dinasti politik Gandhi memiliki kisah berbeda. Selama 65 tahun kemerdekaan India, dinasti Gandhi mendominasi politik. Jawaharlal Nehru; putrinya, Indira Gandhi; dan cucunya, Rajiv Gandhi; berhasil terpilih sebagai Perdana Menteri India. Indira dan Rajiv mengalami nasib naas tewas ditembak saat berkuasa. Saat ini, Partai Kongres yang dibesarkan trah Gandhi dipimpin Sonia Gandhi, janda mendiang Rajiv Gandhi.

Namun, generasi keempat Gandhi tak lagi ”laku” dijual. Rahul Gandhi, putra Rajiv yang digadang-gadang menggantikan Sonia, tak mampu memenangi hati rakyat. Pada Maret 2012, Partai Kongres mengalami kekalahan memalukan di Negara Bagian Uttar Pradesh. Dari 403 kursi parlemen yang diperebutkan, Kongres hanya mendapat 28 kursi. Bahkan, Kongres hanya menduduki peringkat keempat dalam pemilu di Uttar Pradesh yang berpenduduk 200 juta jiwa. Yang menyakitkan adalah kekalahan itu terjadi di negara bagian tempat Kongres pertama kali muncul sebagai sinar baru kemerdekaan India.

Sejumlah pengamat demokrasi barat  menilai, dalam era egalitarian ini, nama besar keluarga tak bisa lagi dipakai untuk mendapat jabatan publik.

Bagaimana  dengan di Indonesia. Rakyat Indonesia terkenal pemaaf. Contoh Widya Kandi Susanti masih bisa terpilih menjadi Bupati Kendal, Jawa Tengah, setelah suaminya, Hendy Boedoro, ”berhenti” sebagai Bupati Kendal karena terlibat korupsi. Belajar dari kasus  India yang bisa bertahan sampai generasi keempat, dan kasus kasus perusahaan keluarga yang bisa bertahan  sampai generasi ketiga, sepertinya begitu pula yang terjadi di jagad politik Indonesia sekarang, jadi masih ada waktu buat Puan Maharani.  Memang tidak ada  larangan anggota  keluarga untuk maju ke pilkada karena itu adalah hak politik warga negara. Tetapi suatu keputusan seorang profesional  untuk menjadi pemimpin adalah keputusan yang  tidak melanggar hukum dan etika. Memang tidak melanggar hukum, tapi etiskah? Berharap  dari partai politik  untuk  mencegah politik dinasti dengan cara mengedepankan etika dalam penentuan calon kepala daerah, nanti dulu. Karena itu  mungkin ada baiknya  pengantar etika yang merupakan  cabang dari filsafat moral diajarkan atau diwajibkan disekolah sekolah sejak SMP.

Semoga saja pemecatan Lili Wahid dari DPR didukung oleh semangat meritokrasi bukan berusaha menghapuskan dinasti Wahid dari politik Indonesia dan bukan usaha untuk mempertahankan keberadaan dinasti tertentu saja di jagad politik Indonesia.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik!

Diadaptasi dari:  

Categories: Politik | Tags: , , | 1 Comment

Kalah Juga Indah Bro!

Sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan, karena yang menang selalu didengarkan termasuk ketika dia mengatakan ada ayam yang bisa menyanyikan lagu “Iwak Peyek”. Beda dengan orang yang gagal ; tidak ada yang mau mendengarkan karena kultur kita sudah terbiasa untuk melihat siapa yang mengatakan , bukan apa yang dikatakan.
Sekolah sebagai tempat di mana masa depan disiapkan rupanya ikut-ikutan. Melalui program serba juara yang direfleksikan dalam program akselerasi, program bertarif internasional , dll sekolah ikut memperkuat keyakinan bahwa ‘kalah itu musibah’. Sepak bola apalagi, jadi semua harus dilakukan demi kemenangan, laser, petasan, paranormal dll.
Pada International Conference on Business Management and Research yang baru baru ini diikuti oleh penulis, semua peserta yang notabene adalah para doktor dan professor dari universitas terkemuka di dunia, semuanya ingin menang dan ide idenya harus di ikuti. Itulah para dosen, makanya jangan heran kalau sampai sekarang satu satunya organisasi profesi yg tidak memiliki wadah adalah para dosen karena mau menang terus menginginkan idenya diakomodir.
Tempat kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semuanya mau pangkatnya naik. Tidak ada yang mau turun termasuk dunia politik yang diwarnai oleh perseteruan polisi lawan KPK. Dulu pak presiden kita ada yg menyebut namanya Susi….Lho, kemudian Pak JK dipanggil KOLO yg dalam mistis Jawa identik dengan pembawa bencana, dan Pak Amin pernah di panggil Amin Ra Iso. Semua hal tersebut terjadi karena tokoh ybs dianggap kalah. Dan yang terbaru ketika Dr. Foke yang lulusan luar negeri tapi minim prestasi harus tersungkur ketika berhadapan dengan Jokowi yang wong ndeso tapi prestasinya diakui oleh dunia. Bermacam alasan dan analisa penuh dengan versinya masing masing baik yang pakar politik beneran maupun pakar politik dadakan.

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Ia pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Namun seberapa besar pun energi maupun semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya. Karena itu dalam menanggapi kekalahan ada baiknya kita merenungkan kata resi manajemen Indonesia Gede Prama yang mengatakan :

“Membawa tropi sebagai simbol kemenangan itu indah. Dihormati karena menang juga indah. Tapi tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang pandangannya mendalam yang bisa melakukannya. Ibarat gunung, pemenang-pemenang itu serupa dengan batu-batu di puncak gunung. Mereka tidak bisa duduk di puncak gunung bila tidak ada batu-batu di dasar dan lereng gunung (baca: pihak yang kalah).”

Dan kita telah melihat bahwa bang Foke dengan jiwa besar telah menunjukkan hal ini dengan mengucapkan secara simpatik ucapan selamat kepada Jokowi dan siap untuk bekerja sama untuk membangun ibukota.

Sebenarnya kekalahan lebih memulyakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan seperti pisau tajam yang sedang melukai bambu yang akan jadi seruling yang mewakili keindahan.

Kesabaran, kerendahatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Ia yang sudah membuka pintu ini, akan berbisik: kalah juga indah!. Semua datang dan pergi (kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan), yang paling penting adalah bagaimana mengukir makna dari sana.
Jarang terjadi ada manusia yang mengukir makna mendalam ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah sekali membuat manusia tergelincir ke dalam kemabukan dan lupa diri.
Sebuah gelas yang berisi air, dimasukkan sesendok garam ke dalamnya dan diaduk, tentu setelah dicicipi ternyata asin rasanya. Beda ketika kolam luas disi dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air, rasa air tidak lagi asin.

Inilah yang terjadi dengan batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Tatkala batinnya luas tidak terbatas, tidak ada satu pun hal yang bisa membuat kehidupan jadi mudah asin rasanya.

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Persis ketika jam menunjukkan sekitar jam enam pagi, waktunya matahari terbit. Bila jam enam sore putaran waktu matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam, tidak saja akan menjadi korban canda tetapi juga korban karena kecewa. Seperti Amerika Serikat  yang sampai putarannya dipimpin oleh orang kulit hitam, Jakarta-pun sudah saatnya  sampai pada putaran dipimpin oleh orang dari Luar Jakarta.

Dan ketika bang Foke sudah menunjukkan bagaimana menyikapi kekalahan, tidak perlu lah ada dikalangan pendukung setia yang sampai bersabda bahwa Ibukota dipimpin oleh non muslim suatu kemunduran. Singapore dan Malaysia hanya dipisahkan oleh sebuah sungai, tetapi terlihat kemajuan yang sangat kontras antara kedua negara yang notabene satu negara di pimpin oleh non muslim dan satu adalah negara muslim.

Marilah kita dukung semua upaya untuk membuat ibukota negara kita menjadi lebih manusiawi!

Categories: Indonesiana, Politik | Tags: , | Leave a comment

The Innocence of Muslim: Lumpur Kering Yang Hilang Dijentik.

Akhir akhir ini  kita menyaksikan gelombang protes yang sangat keras   terhadap sebuah film pendek yang berjudul  “The Innocence of Muslim”.  The  Innocence  of Muslim    menurut Sky News   adalah sebuah film “anti-Islam” dan “dirancang untuk membuat marah umat Muslim” Menurut kantor berita Reuters, trailer film ini menggambarkan  Nabi Muhammad sebagai orang yang “bodoh, hidung belang, dan penipu agama”.NBC News juga menulis bahwa dalam film ini, Muhammad digambarkan sebagai seorang “casanova, homoseksual, dan pelaku pelecehan anak”.

Karya amatiran Sam Basile  ini dibuka dengan Muslim Mesir yang sedang membakar rumah-rumah umat Kristen Mesir, sementara pasukan keamanan Mesir hanya berdiri menyaksikan. Adegan berikutnya kembali ke zaman Nabi Muhammad. Istrinya, Khadijah, ditunjuk untuk membuat Al-Quran berdasarkan ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.Pengikut Nabi Muhammad digambarkan sebagai “pembunuh biadab yang haus kekayaan dan bertekad membunuh semua perempuan dan anak-anak”. Dalam salah satu kutipan di trailer, Nabi Muhammad disebut sebagai seekor keledai. Majalah Time menulis bahwa film ini juga menggambarkan bahwa Nabi Muhammad memiliki sisi “homoerotis.”

Dengan penggambaran semacam itu tidak mengherankan  bila  film ini menuai protes hampir diseluruh dunia, khususnya negara mayoritas berpenduduk muslim. Sebenarnya pada awal mulanya  film ini  tidak  laku dan hampir tidak mendapat viewer   di You Tube sekalipun. Semuanya berubah dan menjadi promosi  bagi film tersebut ketika Al Nash TV Mesir menyiarkan  secuil potongan film tersebut.

 

Pengunjuk rasa dari Forum Umat Islam (FUI) bentrok dengan aparat kepolisian di depan Kedubes Amerika Serikat Jakarta Pusat, Senin (17/9/2012).

Media memang telah menjadi lebih kuat daripada jenis senjata perusak manapun yang belum pernah  seorangpun  membayangkan. Seorang  idiot bernama Sam Basile  yang hampir tidak memiliki  pengetahuan ,etika dan profesionalme     berhasil menghasilkan sebuah film amatiran  bodoh menggelikan tentang Islam, menaruhnya di internet.  Hasilnya : Satu duta besar  tewas, ratusan terluka, ribuan orang lain terancam mati, dan protes  makin meningkat di  Timur Tengah, Malaysia, Indonesia dan seantero dunia. Sebuah film konyol dengan kualitas yang layak untuk mati perlahan dan damai di sudut berlumut internet tiba-tiba menyebabkan gelombang kerusuhan di seluruh dunia.  Jika anda  sudi meluangkan waktu  selama  14 menit   untuk  ,menonton   “The Innocence of Muslim”  maka hal ini hanya akan akan membantu untuk mengkonfirmasi inti dan pesan  : film ini dibuat untuk memicu agresi Muslim menjadi kekerasan, tepatnya apa yang kita saksikan saat ini. Produser Sam Bacile telah mencapai tujuannya  untuk membuat kaum Muslimin jatuh ke perangkapnya. Sekarang seluruh dunia sedang duduk di depan TV, berpikir dan bergumam sendiri: “Oh dear! Ini benar! Islam memang kekerasan “.

Inti dari konflik tidak lain dari ketidakcocokan klasik dalam pemahaman budaya. Dalam budaya  Barat,  dengan  tegas diputuskan bahwa kebebasan berbicara tidak bisa dikorbankan, tidak peduli  dengan isi tulisan yang sangat menghina sekalipun.  Sedangkan bagi kebanyakan  umat beragama lain, kebebasan berbicara tidak berarti kebebasan orang lain menyinggung agama orang lain. Juga di sini letak perbatasan yang berbahaya, sejauh mana sesuatu yang dapat dilihat sebagai penghinaan?

Selanjutnya,   adalah suatu kenaifan mendengar pengunjuk rasa menuntut pemerintah Barat untuk melarang   media yang memuat penghinaan dan penistaan tentang agama. Halo kawan kawan:  Ini adalah 2012,   era dimana seorang anak berusia 5 tahun praktis dapat bermain dengan notebook  orang tuanya   dan menyebarkan ke  seluruh dunia suatu rahasia  yang orang tuanya  rela mati demi   menyimpan rahasia tersebut. Dengan teknologi saat ini, kontrol mutlak menjadi tidak  mungkin.

Terakhir, marilah kita  melihat konsep  controlling (“mengendalikan”). Para demonstran  harus mengerti bahwa  pemerintah di beberapa negara-negara Barat tidak bertindak, dan tidak mungkin bertindak seperti orang tua. Mereka mengeluarkan  undang undang  berdasarkan proses demokrasi yang begitu ketat, persis seperti sistem demokrasi yang banyak rakyat Indonesia tuntut  di era reformasi dengan segala macam pengorbanannya sehingga tercapai demokrasi seperti sekarang ini.

So, responding to an idiot just make us  another idiot!  Jadi anggap saja film ini percikan lumpur, jangan dipegang selama ia  basah, besok ia takkan lebih dari debu kering yang hilang dijentik. Kalau film ini karya sineas terklenal macam Steven Spielberg yang menghasilkan  film seperti  Jurassic Park dan  Saving Private Ryan, okelah kita merespon habis habisan karena ada unsur kesengajaan profesional disitu. Sam Basile  yang nama aslinya adalah  Nakoula Basseley Nakoula   hanyalah  seorang yang pernah masuk penjara karena penggelapan dan kasus obat terlarang, kemudian mencari makan  dengan membuat film esek esek kelas murahan. Layakkah kita bereaksi  berlebihan terhadap seorang idiot seperti Sam Basile?

Categories: Politik | Tags: , | Leave a comment

Selamat Datang Akademisi, Pengusaha dan Tentara di Pentas 2014

Pemilu 2014 sudah menjelang dan tentunya disamping mengaku sebagai partai yang paling reformis dan  paling siap menyejahterakan rakyat Indonesia,   semua partai politik sudah siap dengan jagoan jagoannya masing masing untuk menarik simpati rakyat supaya memilih  partai yang bersangkutan. Sekalipun Partai politik tidak memiliki kemampuan mengerahkan dan mewakili kepentingan warga negara maupun menghubungkan warga negara dengan pemerintah, kata peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lili Romli (Kompas, 14/9?2012), ambisi  menjadi  politisi  kayanya semakin membuncah saja, kayanya sudah menjadi  lifestyle kalau  belum jadi poltisi hidup belum lengkap dan ini dibaca oleh parpol parpol sebagai suatu simbiosis mutualisme organisasi: individu perlu wadah (parpol) dan parpol perlu individu sebagai magnet mendapatkan suara. Persoalannya sekarang kira kira  makhluk  seperti apa yang sangat diminati oleh parpol? Kalau dulu para aktivis  yang kerap menentang kebijakan pemerintah  dan para artis baik penyanyi maupun pelawak banyak mendominasi kader kader partai, tampaknya dalam pemilu 2014 hal ini masih berlanjut. Lihat saja  Partai Golkar menawarkan tiga musisi terkenal yakni Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Syahrini untuk menjadi calon anggota legislatif dari Partai Golkar di Pemilu 2014. Tawaran itu disampaikan Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso yang  menyebut kondisi parlemen periode 2009-2014 menjadi berwarna setelah 18 artis menjadi anggota Dewan. Sebagian dari mereka, kata Wakil Ketua DPR itu, tak hanya sekadar terkenal, namun juga berkualitas..gak taulah kualitas macam apa bro?? Karena tujuan akhir dari politik adalah menjadi penguasa negara maka  semua  cara dianggap halal untuk mencapai tujuan jadi sah sah saja apa yang dilakukan oleh punggawa parpol termasuk mengutip ayat ayat seperti : Pilihlah yang berkumis (HR. Rasuna Said) dan semua ilmu dan jurus akan dikerahkan demi tujuan tersebut.

Penganut mazhab Hermawan  Kertajaya    tentu sangat  paham bahwa marketing sangat ditentukan oleh yang namanya momentum. Momentum kurang lebih  sama dengan musim, jadi kalau musih hujan ya  kita jangan jualan es, tapi yang hangat hangat saja.  Karena politik adalah momen lima tahun sekali maka banyak orang  beramai ramai mempertaruhkan investasi sosial dan politiknya di meja judi politik. Ini yang dikatakan  oleh Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Politik UI  sebagai Politisi Musiman. Ada yang membangun partai politik, ada pula yang sekadar indekos di partai politik. Komoditas politik yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari integritas, nasionalisme sampai ekonomi kerakyatan.

Dan sepertinya dengan menggunakan teori momentum  politisi musiman yang paling menarik bagi partai politik adalah  akademisi, pengusaha, dan tentara. Logikanya sederhana: partai membutuhkan pikiran dari akademisi, logistik dari pengusaha, dan keamanan dari tentara. Karena politisi musiman biasanya  bermodalkan dua hal: logistik dan jaringan sosial,  maka,  tugas parpol adalah membuat  program percepatan politik untuk mengubah mereka yang tadinya mengajar ekonomi pembangunan jadi politisi yang pintar memutar statistik. Pengusaha yang biasa berpikir laba diubah secara paksa jadi pekerja sosial yang berempati. Tentara pun mau tak mau harus diajari demokrasi .Akademisi yang punya ribuan teori di kepalanya,mendadak    mampu berbicara dengan ibu-ibu rumah tangga dengan teori ekonomi makro yang disederhanakan.

Sah sah saja sebagai warga negara  ketiga  golongan tersebut menjadi politisi musiman.  Tetapi selanjutnya kata Bung  Donny politik membutuhkan konsistensi dalam tindakan, ucapan, dan pikiran. Politik adalah seni keabadian. Untuk itu dia membutuhkan kesetiaan. Politisi musiman, sayangnya, hanya ikut rombongan orang yang berbondong-bondong memasuki lapangan politik. Dia, seperti orang kebanyakan, berpikir, ”Ah, siapa tahu kali ini berhasil.” Ketika politik tidak seperti yang dijanjikan dia pun melengos dan berkata, ”Ah, memang politik itu bukan jalan hidupku.” Dia tidak tahu bahwa politik bukan sesuatu yang dapat dinyalakan lalu dimatikan kembali. Politik adalah sesuatu yang wajib ditekuni secara serius. Politik meminta komitmen penuh apa pun yang terjadi. Begitu orang bersumpah menjadi politisi, dia mengikatkan diri pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, seumur hidup. Musim politik boleh datang dan pergi, tetapi politisi tidak pernah mati. Politik adalah keabadian kecuali buat mereka, para politisi dadakan.

Kita pernah terlalu berharap terhadap politisi politisi  muda  yang notabene memulai karirnya sebagai politisi musiman, dan kalau mereka tetap memilih sebagai politisi   sepanjang hayat sebelum dipecat oleh partainya, maka perlulah kita apresiasi  karena politik adalah abadi.

Kepada teman teman akademisi yang terpilih nantinya  semoga dapat memelihara keabadian tersebut.

Categories: Politik | Tags: , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.