Positioning – Merasa Dizalimi?

Merasa  dizalimi   sepertinya sekarang menjadi trend dan mantra  ditanah air untuk  mencari pembenaran atas segala peristiwa yang menimpa seorang individu. Bro Anas merasa dizalimi karena dipecat    dari Ketum Partai Demokrat,  Teten Masduki dan Oneng merasa dizalimi karena  kalah dalam pilkada Jawa Barat, Neneng istri    Muhammad Nazaruddin yang menjadi terdakwa korupsi merasa dizalimi, Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso dizalimi KPU karena  partainya tidak boleh ikut pemilu, Gayus PNS termuda tapi terkaya yang divonis korupsi dizalimi, Komunitas Partai Keadilan Sejahtera merasa dizalimi ketika  partainya diplesetkan sebagai Partai Korupsi Sapi, dan  ketika divonis tiga tahun, terdakwa kasus dugaan suap cek perjalanan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom juga merasa  dizalimi oleh hukum serta  masih banyak  lagi contoh.

Dalam bahasa Indonesia, kata “zalim” berarti  bengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil dan kejam. Orang yang terzalimi berarti dia diperlakukan secara keji dan bengis oleh seseorang. Melihat begitu mudahnya seseorang mengaku dirinya dizalimi  pertanyaan mendasar apakah orang tersebut paham akan  makna dari dizalimi tersebut ataukah  publik Indonesia ini begitu bodoh  sehingga   sangat mudah  bersimpati dengan orang yang mengaku “terzalimi”?

Parahnya  orang orang yang bermasalah  memposisikan diri “terzalimi”  sering  menjadikan agama sebagai komoditas karena ujung ujungnya  dia    mengutip sebuah hadist:
 “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”   Emangnya  Tuhan tidak memiliki sifat  sama (maha mendengar)  dan basyar (maha melihat)? Dan adalah suatu kenaifan kalau menganggap masyarakat sekarang bersifat  sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami menaatinya”. Orang sekarang, begitu mendengar anda dizalimi , akan menjawab,
“Sami’na wa seminarna wa risetna idza cocokna wa masuk akal’na wa imanna.
 Kami mendengar, menyeminarkan dan merisetkan. Jika cocok dan masuk akal, baru kami percaya,”
Satu hal yang sangat menarik bila diamati orang orang yang merasa dizalimi ini rata rata dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Saya belum pernah mendengar orang orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit koar koar merasa dizalimi atau mereka yang ditolak di  sekolah sekolah elit sekalipun memiliki kemampuan intelektual tinggi.  Jadi gejala  apa sebenarnya  yang  membuat orang orang yang notabene ini berkecukupan  memposisikan  dirinya (positioning)   DIZALIMI
Pakar marketing Al Ries  mengatakan: in marketing, positioning is the process by which marketers try to create an image or identity in the minds of their target market for its product, brand, or organization.
Kalau merujuk kepada definisi diatas  image yang ingin diciptakan kepada publik adalah  poses mereka memposisikan  diri  tidak bersalah..padahal jelas jelas salah….ini yang namanya ruarrrr biasaa.
Clifford  Geertz  seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang sangat  dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia karena mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan  dalam memahami perilaku sekelompok masyarakat  memperkenalkan istilah  Interpretive Anthropology yang esensinya mengatakan apa yang dilakukan oleh seseorang merupakan symbol atau lambang terhadap sesuatu  maksud.  Antropologi menurut beliau adalah ilmu memahami orang dengan melihat symbol atau sinyal sinyal yang dipancarkan tersebut dan orang orang  yang mengaku dizalimi tersebut  jelas jelas memberikan sinyal bahwa dirinya  tidak bersikap satria dengan berusaha memposisikan dirinya tidak bersalah apalagi   mengaku bersalah. Karena mereka   sadar bahwa masyarakat kita pemaaf maka kloplah sudah   mengaku dizalimi ini  sebagai usaha membersihkan diri supaya tetap dianggap orang baik.
Terinspirasi dari DIZALIMI POSITIONING ini  teman saya seorang dosen yang bekerja di perguruan  tinggi Malaysia sebut saja namanya Doktor Senang Kentoet, sekalipun sudah  punya gaji lebih dari 20 juta sebulan masih saja   ngobyek  mengajar di program MM gurem  di Jawa Timur, dan ketika ketahuan  ikut ikutan memposisikan dirinya dizalimi padahal aturan sudah jelas jelas melarang   ngobyek  di tempat lain.
Jadi dizalimi tuh sudah milik kaum elit dengan berbagai profesi elit  untuk menyembunyikan semangat hedonism yang sangat liar sehingga semua etika dilanggar.
Kini saya baru paham kenapa  seorang peneliti senior dari Universitas di Jepang mengatakan orang Indonesia sangat beruntung padahal di media apalagi yang namanya di Twitter berita macam macam tentang problema bangsa ini. Di Jepang kalau merasa malu banyak yang bunuh diri tidak peduli tua muda bahkan disediakan  gunung khusus sebagai tempat bunuh diri yang bernama Gunung  Aokigahara: Japan’s Haunted Forest of Death, sedangkan  di Indonesia cukup mengaku dizalimi (baca: are you stupid enough to believe what I am saying).
Selamat menjadi bangsa yang beruntung dengan memposisikan diri dizalimi tapi ingat pesan Abraham Lincoln :
You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Advertisements
Categories: Budaya, Human Resources Management, Indonesiana | Tags: , , | Leave a comment

Masih Relevankah Politik Dinasti?

Konsep manajemen  right  man on the right place sepertinya tidak berlaku di jagad politik Indonesia. Pertanyaan mendasar dari para  konstituen  bukannya  apa yang bisa dibuat oleh orang  ini, tetapi orang ini  anak, adik, ipar, istri, suami  atau cucu siapa.  Lihat saja dalam pemilihan beberapa kepala daerah dimana  incumbent tidak boleh menjabat melebihi dua periode, pemenang selanjutnya  adalah keluarga dari yang bersangkutan. Jadi yang namanya meritokrasi : bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan  seperti-nya hanyalah dambaan yang semakin jauh  melayang  seperti cita cita reformasi dulu.  Dalam karya Michael  Young (1958)   meritokrasi dalam pemerintahan  adalah  dimana penunjukan dan tanggung jawab diberikan secara objektif  kepada seorang individu berdasarkan  apa yang melekat pada diri mereka  seperti; kecerdasan,  kredensial  dan pendidikan  setelah melalui evaluasi dan verifikasi tanpa mempertanyakan dia  dari dinasti mana?

Sangat ironis dulu kita teriak teriak  dengan yang namanya  kolusi dan nepotisme. Tetapi politik dinasti yang biasanya bertujuan  untuk  melanggengkan akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi di tangan satu keluarga atau klan tertentu semakin menjadi jadi termasuk isu hangat yang ingin menjadikan  Bu Ani dan  Jenderal  Pramono Edhi Wibowo menjadi Ketum Partai Demokrat.

Politik dinasti merupakan fenomena global. Tak hanya di Indonesia, dinasti politik juga tumbuh dan berkembang di dunia. Dinasti politik Kennedy dan Bush di Amerika Serikat, keluarga Aquino, Arroyo, dan Conjuangco di Filipina, Gandhi di India, dan Bhutto di Pakistan adalah beberapa contohnya. Meski demikian, kekuasaan trah politik tersebut tidak kekal.

Dinasti Kennedy, misalnya. Selama lebih dari 64 tahun, nama Kennedy terus berkibar di jagat politik AS. Mendiang John F Kennedy, sebelum terpilih sebagai presiden pada 1960, telah mengabdikan dirinya di senat dan parlemen sejak 1947. Adiknya, Robert Kennedy, yang tewas ditembak pada 1968 adalah mantan jaksa agung 1961-1964. Edward Kennedy menjadi senator dari Negara Bagian Massachusetts 1962-2009.

Kematian Senator Edward Kennedy pada 2009 dinilai banyak pihak menandai berakhirnya penguasaan trah Kennedy di level tinggi kekuasaan politik. Sejumlah skandal dan tragedi melingkupi keluarga terpandang tersebut. Terakhir, Patrick Kennedy, anak Edward Kennedy, harus mundur dari senat pada 2010 karena masalah alkohol dan obat bius. Saat ini, Joseph P Kennedy III, cucu Robert Kennedy, sedang berupaya merebut kembali kejayaan nama Kennedy melalui pemilihan kongres di Negara Bagian Massachusetts.

Dinasti politik Gandhi memiliki kisah berbeda. Selama 65 tahun kemerdekaan India, dinasti Gandhi mendominasi politik. Jawaharlal Nehru; putrinya, Indira Gandhi; dan cucunya, Rajiv Gandhi; berhasil terpilih sebagai Perdana Menteri India. Indira dan Rajiv mengalami nasib naas tewas ditembak saat berkuasa. Saat ini, Partai Kongres yang dibesarkan trah Gandhi dipimpin Sonia Gandhi, janda mendiang Rajiv Gandhi.

Namun, generasi keempat Gandhi tak lagi ”laku” dijual. Rahul Gandhi, putra Rajiv yang digadang-gadang menggantikan Sonia, tak mampu memenangi hati rakyat. Pada Maret 2012, Partai Kongres mengalami kekalahan memalukan di Negara Bagian Uttar Pradesh. Dari 403 kursi parlemen yang diperebutkan, Kongres hanya mendapat 28 kursi. Bahkan, Kongres hanya menduduki peringkat keempat dalam pemilu di Uttar Pradesh yang berpenduduk 200 juta jiwa. Yang menyakitkan adalah kekalahan itu terjadi di negara bagian tempat Kongres pertama kali muncul sebagai sinar baru kemerdekaan India.

Sejumlah pengamat demokrasi barat  menilai, dalam era egalitarian ini, nama besar keluarga tak bisa lagi dipakai untuk mendapat jabatan publik.

Bagaimana  dengan di Indonesia. Rakyat Indonesia terkenal pemaaf. Contoh Widya Kandi Susanti masih bisa terpilih menjadi Bupati Kendal, Jawa Tengah, setelah suaminya, Hendy Boedoro, ”berhenti” sebagai Bupati Kendal karena terlibat korupsi. Belajar dari kasus  India yang bisa bertahan sampai generasi keempat, dan kasus kasus perusahaan keluarga yang bisa bertahan  sampai generasi ketiga, sepertinya begitu pula yang terjadi di jagad politik Indonesia sekarang, jadi masih ada waktu buat Puan Maharani.  Memang tidak ada  larangan anggota  keluarga untuk maju ke pilkada karena itu adalah hak politik warga negara. Tetapi suatu keputusan seorang profesional  untuk menjadi pemimpin adalah keputusan yang  tidak melanggar hukum dan etika. Memang tidak melanggar hukum, tapi etiskah? Berharap  dari partai politik  untuk  mencegah politik dinasti dengan cara mengedepankan etika dalam penentuan calon kepala daerah, nanti dulu. Karena itu  mungkin ada baiknya  pengantar etika yang merupakan  cabang dari filsafat moral diajarkan atau diwajibkan disekolah sekolah sejak SMP.

Semoga saja pemecatan Lili Wahid dari DPR didukung oleh semangat meritokrasi bukan berusaha menghapuskan dinasti Wahid dari politik Indonesia dan bukan usaha untuk mempertahankan keberadaan dinasti tertentu saja di jagad politik Indonesia.

Selamat bekerja untuk Indonesia yang lebih baik!

Diadaptasi dari:  

Categories: Politik | Tags: , , | 1 Comment

Creating Brand Engagement on Facebook

If you like using Facebook as promotion media, the question is  “does your   content create   engagement in the form of  being liked, commented or shared by readers?  Based  on more than 1,000 wall posts from 98 global brands, Malhotra et.al (2012)  identify  eight ways    how different wall-post attributes impact the number of “likes,” comments and “shares” a post receives.

1. Express yourself through photos. Every picture tells a story. A photo is personal, and it can communicate quickly and easily. It also requires more thought and effort to take and include a photo in addition to text.

2. Be topical. Keep up with the times. Messages considered topical are those referring to holidays, festivals, important events, etc.

3. Don’t hesitate to be in your face. Promote the brand and its products. When consumers visit the brand’s wall, promotional messages are expected. Consumers visit the walls of brands they identify with and want to engage with.

4. Share the validation. Take a bow. Everyone wants to align themselves with a winner. By sharing success stories, achievements, awards and praise through wall posts, consumers can signal approval while also basking in the glory of a brand they identify with. By “liking” the post, fans indicate to their personal network their alignment with a successful brand. They are expressing their own positive self-identity through the brand’s achievements.

5. Educate the fans. Create informational value. Brands that generated or passed along information through wall posts also garnered a high number of “likes,” especially information designed for fans’ enrichment and education. This education could include informing fans about the history of the brand or the ways in which the company operates or produces products. When fans “like” these posts, they are in turn creating educational content for their personal networks.

6. Humanize the brand. Inject emotions. The salience of brand communication using social media is the “social” part. Fans like messages that paint the brand as a living object and express human emotions. Brand managers should view Facebook as a personal communication platform rather than a broadcast medium. Sharing posts that contain emotions helps fans convey their own emotions to their network of friends.

7. Humor is the best social medicine. Laugh and everyone laughs with you. People like to laugh. Funny things are appreciated. Being funny is an art, and not everyone can be funny. In terms of sheer numbers, most posts are not funny, especially brand posts. So the posts that generate a chuckle receive a significant boost in the number of “likes.”  Posting funny pictures  is one of the most common ways to present humor. Art and copy can often be combined to send a humorous message.

8. Ask to be “liked.” Ask and you shall receive. It’s as simple as it sounds. We found that if you directly ask to be “liked” on Facebook, you tend to receive more “likes.” Granted, this should be done in a polite way. Additionally, this should not be overdone, which could lead to diminishing returns or something worse, such as a consumer backlash.

What Prevents Wall Messages From Being “Liked”

1. Brevity Is Better The longer the wall posts, the less likely they are to be “liked.” Brevity is strongly correlated with the number of “likes” a post garners. We advise brand managers to convey their messages in the briefest manner possible.

2. Event-Related Messages: coming soon to an area not near you. Sharing event information via wall posts can significantly lower the number of “likes.” Many fans did not even “like” messages related to online events, which are geographically neutral. It appears that Facebook is a medium in which to organize and coalesce around information in the here and now, rather than at some later time and other place. Event pictures or descriptions were also not well “liked.”

3. Social Cause Affiliation Don’t assume consumers care about the same causes you do. On average, posts regarding social causes also did not generate many “likes.” In fact, these posts were not well “liked” at all. Brand managers should not assume consumers will care about the same causes as the brand. These messages may come across as pushy and preachy.

4. Enter Our Contests They can see through your brand promotional strategies. Contests are a popular sales promotion technique, but our research showed that wall posts announcing contests were less likely to be “liked.” Given the informative content (contest availability and participation instructions), these messages may be read and acted upon but do not result in many “likes.”

5. Deal (or No Deal) We’ll take no deal, please. Wall posts offering deals were less likely to be “liked.” In fact, deal-related posts, on average, got the least “likes” of all the attributes we measured. These wall posts from brands could be electronic coupon codes, complementary offers or time-sensitive discounts. While fans might want to avail themselves of these deals, they see no need to express appreciation through the click of a “like” button.

Let’s try!

Source   Winter 2012.

Categories: Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

Bangsa Berbudaya Konteks Tinggi

Pada tahun 1976, antrophologist Edward T. Hall dalam bukunya  Beyond Culture  memperkenalkan istilah high context culture (budaya konteks tinggi)  dan low context culture   (budaya konteks rendah) sebagai dikotomi pembagian cara cara berkomunikasi bangsa bangsa di dunia.  Menurut beliau, dalam suatu bangsa yang menganut high content culture : many things are left unsaid, letting the culture explain (tersirat) while in a lower context culture, the communicator needs to be much more explicit (tersurat). Dalam budaya konteks tinggi, umumnya orang berbicara tersamar karena kekhawatiran menyinggung perasaan orang atau untuk menjaga sopan-santun berbicara sedangkan dalam komunikasi konteks rendah, orang cenderung berbicara lugas dan apa adanya. Dan dimanakah kita   orang Indonesia? Kita  harus bangga karena kita  dikategorikan  dalam  konteks tinggi karena tidak  to the point. 

Menurut Prof. Tjipta Lesmana seorang gubes Ilmu Politik, dari segi konteks komunikasi, Soekarno, Habibie, dan Gus Dur tergolong rendah. Sebaliknya, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tergolong tinggi (high context). Dari perspektif komunikasi politik, SBY mirip Soeharto. Namun konteks komunikasi SBY rata-rata lebih tinggi daripada Soeharto. Konteks komunikasi sangat tinggi dalam menyikapi kemelut di tubuh PD   inilah yang kemudian melahirkan  berbagai  interpretasi mengenai nasib sang ketua umum ketika  beliau menyatakan tanggung jawab Fraksi, DPP, DPD, hingga DPC dialihkan dari ketua umum ke dirinya selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Keputusan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat   mengambil alih kewenangan ketua umum adalah final. Dengan adanya keputusan ini, Anas tidak berhak melakukan kegiatan apa pun dengan membawa atribut sebagai ketua umum.

Negara dalam Kategori Berbudaya Konteks Tinggi dan Rendah

“Ya keputusan itu artinya semua kewenangan partai yang dimiliki ketua umum jadi ke Pak SBY, termasuk yang simbolik dan pelantikan. Jadi Anas memang tidak lagi menjalani tugasnya sebagai ketua umum,” ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, Senin (11/2/2013), di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sementara yang masih pro kepada sang ketum : “Bahwa ditempuh dengan langkah apapun, Anas masih merasa tetap Ketua Umum yang sah Partai Demokrat,” kata Erlangga di depan rumah Anas, Jakarta, Senin (11/2/2013). Dia pun menambahkan KAHMI mengamini segala pernyataan Anas tersebut.

Tanpa bermaksud memihak kepada siapapun, yang membedakan pola pikir satu bangsa dengan bangsa yang lain adalah BUDAYA.

Geert Hofstede  mendefiniskan budaya “the collective programming of the mind distinguishing the members of one group or category of people from another”. The “category” can refer to nations, regions within or across nations, ethnicities, religions, occupations, organizations, or the genders.

Definisi  yang lebih sederhana adalah  ‘the unwritten rules of the social game’. Peraturan tidak tertulis yang menjadi norma sosial. Lebih jauh Ries dalam buku terbarunya Repositioning (2010) mengatakan Culture is the way we do things here- inilah cara kami! dan cara kami seperti yang dikatakan oleh Hall dalam High Content Culture tadi adalah tidak to the point .   Menurut Teori Konteks dari Profesor Edward T. Hall, pesan komunikasi selalu mengandung konteks tertentu yang bersifat situasional, relasional, politik, ekonomi, dan budaya.  Sekalipun yang paling sulit dipahami adalah konteks budaya seperti  misalnya, Pak Harto yang terkenal dengan sebutan the smiling general  ketika melemparkan senyum, apa artinya,  dalam kasus bro Anas, pemahaman akan budaya Jawa sudah cukup untuk membaca isyarat yang diberikan oleh Pak Be Ye. Dalam konteks pidato SBY , pernyataan yang disampaikan ke publik adalah komunikasi simbolik ala Jawa yang sangat high  Javanese content culture.  Dan bro  Anas yang merupakan orang  Jawa tentu paham apa maksudnya! Boleh saja bro Anas menerjemahkannya  dengan konteks hubungan  bapak –  anak  dimana  sang  bapak sedang marah kepada anaknya, tetapi publik mungkin melihatnya  dari konteks hubungan industri dimana  pemilik saham memutuskan untuk mengambil alih tugas direktur utama, dan kalau menggunakan konteks ini…silahkan terjemahkan sendiri karena itulah uniknya  menjadi bangsa yang berbudaya konteks tinggi, semua perlu kejelian untuk menginterpretasi. Bukankah  Frederick Nietzsche  seorang filosop  Jerman mengatakan : tidak ada yang namanya realita hanya interpretasi. 

Selamat  menginterpretasi mas mas bro semua!

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: , , , , | Leave a comment

Komunitas Penulis Perubahan

Di era Pertahanan Rakyat (Kamra) kita pernah mengenal pentingnya hansip.  Meski di era sekarang anak-anak muda lebih bergengsi berpakaian biru-putih menjadi Satpam, kadang di berbagai acara komedi kita masih sering melihat guyonan tentang hansip yang berseragam hijau, tanpa senjata, agak kedodoran, namun di kampung masih sangat dihormati. Di kampung saya, hansip menjadi alat bagi ketua RT untuk menjaga keamanan, mengatur lalu lintas, dan parkir saat hajatan.

Pada masanya, pernah muncul wacana untuk mempersenjatai hansip. Artinya mereka juga diberi bedil sehingga bisa tampil segagah tentara.  Gagasan itu tentu saja ditolak. Pengalaman pahit masyarakat menyaksikan hansip menembak sungguh mengerikan.  Hansip yang kurang terlatih dalam  memegang senjata bisa salah tembak. Kita masih ingat jokes-nya, “Tembak kaki kena kepala….mati deh…”

Menembak Ketidakadilan

Kita tentu tak bisa mengatasi masalah pendidikan dengan ilmu hansip, seberapa panasnya pun hati kita melihat ketidakadilan.  Kalau kita hanya ingin melumpuhkan pejahat, jangan tembak kepalanya, melainkan tembaklah kakinya.  Tapi kalau…

View original post 837 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Presiden Korupsi Sapi

Berita yang paling  mengejutkan dalam minggu ini dan berhasil mengalahkan  tertangkapnya RA dalam pesta  narkoba dan bangkrutnya  Batavia Air adalah ditangkapnya Presiden PKS atas tuduhan korupsi pengadaan impor daging sapi. Sontak masyarakat Indonesia  yang kreatif langsung mengaitkan dengan naiknya harga daging sapi di pasaran akhir akhir ini dengan memberi cap PKS sebagai Partai Korupsi Sapi…nah nyaho elu…karena yang dikorup tidak keren. Bandingkan dengan politisi politisi lain  yang diembat adalah bank, proyek proyek triliunan bahkan pengadaan kitab suci. Masalahnya menjadi menarik karena boss besar partai yang ditangkap ini berbasis agama, dikenal sesama kolega sebagai orang yang sangat alim dan selama ini dikenal sebagai partai paling bersih yang mana tidak satu pun kadernya yang ketangkap (belum ketahuan kali ya)  karena korupsi tetapi sekali ketangkap langsung bos besarnya. Dalam sistem yang menggunakan quality is better than quantity  penangkapan boss besar langsung melejitkan citra partai tersebut  ke tingkat  paling atas   sama seperti penentuan perolehan medali dalam olimpiade London. Perolehan 1000 medali perunggu satu negara akan langsung melorot peringkatnya  terhapus begitu  saja ketika  ada satu negara yang berhasil memboyong medali  emas….nah kira kira begitulah yang terjadi  dengan partai ini sekarang  -suka atau tidak suka, rela atau tidak, tapi saat ini harus nrimo ing pandum di vonis sebagai  Partai Korupsi Sapi.

PKS?

Karena yang terlibat adalah big boss tentunya para pengikut yang jutaan baik di level grass root sampai yang  menduduki jabatan di lembaga tinggi dan tertinggi negara tentu saja berusaha membela  bossnya.  Harap maklum saja dalam suatu negara yang menganut Shame  Culture : semuanya ditandai oleh rasa malu dan disini tidak dikenal rasa bersalah. Menurut pandangan ini budaya malu (shame  culture) adalah kebudayaan dimana  kata kata seperti “hormat”, “reputasi” , “nama baik”,  ”status”, dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila seseorang melakukan suatu kejahatan, hal ini  tidak dianggap  sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, tetapi boleh disembunyikan demi kepentingan yang lebih besar. Malapetaka  hanyalah terjadi  bilamana kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain sehingga pelaku kehilangan muka, dan ketika diketahui-pun seperti yang terjadi sekarang ini masih tetap dibela. Gejala apa lagi ini? Kita memang terkenal sebagai bangsa yang kreatif dalam mencari PEMBENARAN bukan KEBENARAN. Dalam  Teologi  dikenal istilah  Apologetics (from Greek ἀπολογία, “speaking in defense”) – the discipline of defending a position (often religious) through the systematic use of information biasanya digunakan untuk membela  sang Imam. Apologetic politik adalah usaha untuk membela  big boss yang menjadi petinggi partai dengan menunjukkan kebaikan dan prestasi prestasi ybs untuk menggiring opini publik bahwa hal  tersebut tidak mungkin dilakukan oleh sang Imam yang sangat religius , alim serta  sangat fasih mengutip ayat ayat dari kitab suci. Sepertinya  para petinggi partai ini sangat paham akan psikologi masa yang masih sangat menjunjung nilai  nilai tinggi keagamaan, sehingga dilaunchingkan program pertama adalah ajakan Tobat Nasional, entah siapa yang diajak. Jadi tolong diingat yang terjadi adalah bukan penyuapan, tapi percobaan penyuapan, bukan  Partai Korupsi Sapi tapi Presiden-Nya Korupsi Sapi! Ngoten mas mas bro.

Kalau sang presiden memang terbukti, maka terbukalah mata dunia lebar lebar inilah jagad politik Indonesia dengan realitanya : parpol dan korupsi adalah dua sisi mata uang. Kalau anda ke Palembang, belum afdol kalau nggak nyicipin empek empek Palembang, kalau ke Singapore belum sah sebelum ada foto mejeng di patung Merlion, ke London tidak ada greget kalau tidak mejeng di Big Ben, nah gitu juga dengan Parpol, kayanya belum  lengkap kalau tidak korup. Dengan tidak bermaksud tendensius, realita sosial yang ada di masyarakat kalau kita melihat  anak nakal, bengal, bandel, ndablek, tolol, etc, pertanyaan basic selalu : anak siapa? Kalau sudah gini…kayanya  mendingan pindah partai aja lah mas mas bro demi menyelamatkan periuk nasi.

Selamat mencari partai baru saudara saudara sebangsa dan setanah air, bila pilihan kita masih salah dengan partai yang pernah kita harapkan ini, jangan lupa  kita masih berdo’a paling sedikit menyebut : tunjukilah aku jalan yang lurus (termasuk memilih partai yg didukung) 17 x dalam sehari.  Tidak perlu meratap ketika apa yang dipuja puja selama ini ternyata sami mawon. Setidak tidaknya  kita  terhindar dari golongan yang  meminta jalan yg lurus tapi dalam praktek kehidupan menerapkan STMJ : Sholat Terus Maksiat Juga!

Categories: Budaya, Indonesiana | Tags: , , , | Leave a comment

Komunitas Penulis Perubahan

Kisah persahabatan antara ayam dengan burung elang pernah saya bahas dalam buku Cracking Zone. Kisah persahabatan keduanya selalu menarik perhatian, termasuk penerima hadiah Nobel Desmond Tutu, penulis Avelynn Garcia, eksekutif Christopher Gregorowsky dan kartunis Niki Daly. Belum lama ini, bahkan Gregorowsky menulis buku yang sangat inspiratif: Fly, Eagle, Fly: An African Tale.
Dan akhir tahun lalu, di tengah-tengah konversi manajemen mutu di Surabaya, saya juga ditanya soal yang sama. Soal itu tak lain tentang sulitnya “mengkandangkan” elang. Dan ini menjadi tantangan besar pengelola UKM di tahun 2013. Masalahnya elang adalah satu-satunya burung yang berburu sendirian. Mereka bukan makhluk kandangan. Mereka terbang tinggi, dan semakin tinggi saat badai menerjang. Kalau makhluk-makhluk lain berhenti terbang saat badai datang, elang justru menggunakan badai agar bisa terbang lebih tinggi lagi.
Elang adalah simbol dari manusia produktif, intrapreneur, pekerja profesional yang melanglang buana dengan helicopter view, dan menerkam peluang secepat kilat. Larinya lincah. DNA nya…

View original post 540 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

TIGA MENGUAK TAKDIR

Tahun 2013  sudah kita jalani dan sebentar lagi hiruk pikuk politik akan membahana  di tahun 2014. Dan seperti biasa  banyak peramal peramal dadakan dengan bungkus  pengamat mulai bergerilya  dengan ramalannya dan kalau salah toh orang juga  mudah lupa. Tanpa bermaksud mengikuti arus menjadi peramal, tulisan ini hanyalah merupakan sumbangan pemikiran yang  karena dipengaruhi oleh gaya  saya sebagai seorang  akademisi    selalu berawal dari melihat fenomena dan kemudian berusaha merumuskan apa yang terjadi di balik fenomena tersebut dan bagaimana  kita seharusnya menyesuaikan langkah kita.  Hidup di era  digital dewasa ini harus menerima kenyataan  bahwa perubahan teknologi dan ekonomi  akan mempengaruhi  sifat sifat dari pekerjaan kita, dan di negara  negara maju, biasanya ekonomi mempengaruhi politik, bukan sebaliknya, jadi  jangan biarkan hiruk pikuk politik  menyita kehidupan kita.  Karena perubahan  dahsyat dibidang teknologi  dan ekonomi tersebut, konsekuensinya  sekarang memiliki  pekerjaan yang  bagus  tidak  menjamin tercapainya karir yang gemilang karena  kemampuan anda tidak lagi ditentukan oleh apa yang anda ketahui. Selamat datang  di era baru dunia kerja dimana  masa depan anda akan ditentukan oleh  sekuat apa sinyal yang anda pancarkan di tengah hiruk pikuk persaingan tenaga kerja di dunia.  Hal ini  sejalan    dengan yang dikatakan oleh Steven Covey pengarang buku   7  Habits of Highly Effective People  tentang habit yang ke 8: Finding your voice and helping others find theirs ; tunjukan jati diri anda dan bantu orang lain menemukan jati diri mereka . Buat diri anda terdengar, sudah lewat masanya seperti iklan Isuzu Panther beberapa tahun yang lalu : Nyaris  Tidak Terdengar  seiring  dengan Isuzu Panther nya sendiri yang semakin tidak terdengar. Supaya “terdengar” atau sinyal yang anda pancarkan ditangkap, menurut  Dr Tomas Chamorro-Premuzic,   seorang Professor of Business Psychology di University College London (UCL), kita harus menguasai 3 (tiga) hal: self-branding, entrepreneurship, dan hyperconnectivity.

Self-branding adalah   menjadi sinyal      ditengah hiruk pikuk  modal insani. Semakin kuat merek anda , semakin kuat sinyal yang dipancarkan.  Di era persaingan yang begitu  keras, self-branding lebih penting daripada apapun bentuk  bakat dikarenakan  pasar sudah  tidak mampu (atau tidak mau) lagi  untuk membedakan antara merek dan bakat. Lihat saja seorang dosen yang memiliki merek sekalipun  tidak berbakat mengajar satu subjek karena bukan keahliannya tetap   masih difavoritkan. Sewaktu saya  masih tinggal di Surabaya  beberapa tahun yang lalu, suatu pameran pendidikan  kalau  penyelenggaranya bukan Jawa Pos biasanya  peminat   dalam hal ini PTS  di Jawa Timur yang mau berpartisipasi  biasanya  sedikit. Jawa Pos yang jelas jelas koran, bukan event organizer  sangat diminati karena tidak lepas dari Merek Jawa Pos tersebut.

Kita semua makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda , tetapi   kalau kita tidak memiliki  merek, individualitas kita sebagai makhluk  Tuhan yang unik tidak  akan terlihat. Menjadi merek berarti menampilkan apa yang membuat Anda istimewa, dengan cara yang berbeda (dikenali), diprediksi (konsisten), dan bermakna (memungkinkan orang lain untuk memahami apa yang Anda lakukan dan mengapa). Inilah sebabnya mengapa Hermawan Kertajaya dan Agnes  Monica  jauh lebih berhasil daripada pesaing mereka yang  lebih berbakat – mereka mengerti bahwa menjadi fenomena pemasaran itu lebih penting daripada menampilkan keterampilan berceramah tentang pemasaran  yang luar biasa atau bakat musik, dan lebih terfokus pada self-branding dibandingkan  yang  rekan-rekan mereka lakukan.

 Entrepreneurship  adalah tentang menciptakan  nilai tambah lebih  kepada masyarakat dengan menghilangkan tahapan  yang tidak perlu:    mengubah masa kini ke masa lalu dengan menciptakan masa depan yang lebih baik. Antri beli tiket kereta api  dan  pesawat di travel agent, ngantri bayar pajak motor dan mobil di SAMSAT , terbang  dgn tiket sangat mahal,  harga laptop mahal   adalah sebagian contoh masa lalu  karena hasil karya karya para entrepreneur.

Kita semua sibuk, tapi satu-satunya aktivitas yang benar-benar penting adalah kegiatan yang memiliki nilai tambah.  Entrepreneurship  adalah perbedaan antara menjadi sibuk dan menjadi sebuah bisnis, dan alasan mengapa beberapa orang  dapat bertahan dalam bisnis.

Perang   bakat dewasa ini  adalah perang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan  insan yang dianggap  sebagai agen perubahan sejati.  Agen  perubahan sulit untuk ditemukan, sulit untuk dikelola, dan sulit untuk dipertahankan. Entrepreneurship  adalah tentang menjadi agen  perubahan. Agen  perubahan bila  diibaratkan  sebagai sinyal sinyal radio  adalah   Suara Surabaya 100 FM yang  sinyalnya sangat kuat memancar  kemana mana  sedangkan  yang lain  hanyalah sinyal krosak krosok yang tidak jelas apa tuh.  Hampir dipastikan di era ini, apapun profesi anda jika Anda tidak membawa pertumbuhan, anda diganti dan   didaur ulang, sama seperti sinyal yang krosak krosok tidak jelas tadi pasti diganti.

Apakah Anda bekerja sendiri atau dipekerjakan oleh orang lain, apakah Anda bekerja di sebuah bisnis besar atau memiliki usaha kecil, kesuksesan karir anda tergantung pada kemampuan anda untuk menawarkan sesuatu yang baru: solusi baru untuk masalah yang ada, layanan baru, produk, dan ide-ide baru dll.  Segala sesuatu yang tidak baru dianggap usang , dan jika anda melakukan hal yang usang  maka anda terjebak di masa lalu. Dalam  era  Entrepreneurship masa depan anda adalah   baru, dan nilai anda tergantung pada kemampuan anda untuk melakukan sesuatu yang berbeda.  Never let your memories be greater than your dreams (Doug Ivester) , Live out of your imagination, not your history (Steven  Covey), Only 2 things generate money:Marketing and Innovation  (Peter Drucker) adalah sekelumit contoh dari pandangan para pakar dibidangnya akan pentingnya sesuatu yang baru.

Hyperconnectivity adalah tentang menjadi sinyal dalam lautan data,  kemudian membuat dan membentuk gelombang pengetahuan sosial. Dalam bahasa yang lebih sederhana bagaimana supaya tweet, facebook dan blog anda dibaca. Banyak orang  yang terkoneksi  secara online, tapi apa yang penting adalah menjadi konektor yang relevan. Hyperconnectivity bukanlah tentang menjadi online 24 jam,  ini tentang mengoptimalkan pengalaman secara  online untuk  dibagi  kepada orang lain. Kalau anda tidak menjadi  seorang hyperconnector  berapa orang  yang tahu anda  memenangkan suatu kompetisi, prestasi apa saja yang anda capai?,   tetapi ketika anda seorang hyperconnector, ribuan orang akan menonton film yang anda sukai dan rekomendasi  anda akan membentuk opini publik. Dalam era informasi  dimana  informasi  yang disampaikan  sudah mencapai tingkatan over  berlebihan, menjadi sumber terpercaya informasi adalah komoditi yang langka .  Hal ini  bisa dikatakan  sebagai  Digital Word-Of-Mouth  terbaru dalam evolusi pemasaran. Hyperconnectors mengarahkan kita ke arah yang benar. Siapa saja dapat meng-upload video di YouTube atau tweet, tetapi hanya sedikit yang bisa mengarahkan kita ke video atau tweet yang ingin kita lihat.

Singkatnya,  di era digital ini, masa depan anda tergantung pada kemampuan anda menguak takdir dengan melakukan 3 hal:  menjadi merek, agen perubahan, dan link ke informasi yang berguna. Menjaga  kepribadian   dan mengelola reputasi   (bagaimana orang lain melihat ) akan mengubah anda menjadi merek yang sukses, menghasilkan  ide-ide kreatif  dan menentang status quo serta cara yang kuno  akan membantu anda menjadi agen perubahan, dan menjembatani kesenjangan antara luasnya  pengetahuan sosial   didunia digital dan apa sebenarnya  yang dibutuhkan  oleh masyarakat  akan membuat  anda menjadi hyperconnector.

Selamat tahun baru 2013, selamat menguak takdir   dan selamat bekerja untuk Indonesia  yang lebih baik!

Categories: Budaya, Ekonomi, Human Resources Management, Marketing | Tags: , , | Leave a comment

Menjual Pariwisata: dengan Vietnam saja kita kalah?

Menyebut nama  Vietnam, apa  yang ada  di benak anda, perang, Vietcong, gerilyawan, beras,  atau  varian sipilisnya yang  sangat dahsyat terkenal  dengan sebutan Vietnam Rose? Secara  mengejutkan diam diam negara yang pernah hancur lebur dikoyak perang tersebut  dengan  segala  keterbatasannya  berhasil mendatangkan  wisatawan  sampai sepuluh juta orang. Bandingkan dengan Indonesia  dengan berbagai  pesona budaya dan keindahan alam termasuk peninggalan bersejarah masih belum mampu mencapai angka tersebut. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata,  ketinggalan Vietnam dengan Indonesia  sudah  terlihat sejak pesawat mendarat.  Kalau di Indonesia  pesawat yang  merapat ke  bandara cukup di pandu oleh  petugas air traffic controller tetapi di  bandara international Tan Son Nhat  Ho Chi Minh  pesawat   dipandu oleh mobil, yah semacam polisi cepek lah kalau di jalan raya Indonesia..anda jangan ketawa dan melecehkan karena memang begitu. Tapi setidak tidaknya radar di bandara ini belum pernah ngadat  seperti di bandara international Soetta beberapa hari yang lalu.

Image

Pesawat Lion Air  Indonesia  dipandu mobil di Tan Son Nhat Airport   Ho Chi Minh

Keterbatasan  lain  juga terlihat di fasilitas yang dimiliki oleh perguruan tinggi paling ngetop di Vietnam, University of Economics  Ho Chi Minh City. Untuk  perguruan  tinggi  papan atas ini  bangku   kuliah yang digunakan    lebih jelek  dari  fasilitas  kursi untuk SD INPRES  di wilayah pedalaman Indonesia; hanya bangku panjang seperti di warung warung kopi pinggir jalan PANTURA.

Image

Kursi panjang untuk 5 0rang, ngebayangin nggak rasanya kuliah disini

Keterbatasan  tidak mereka jadikan alasan untuk menarik wisatawan. Vietnam bisa disebut sebagai salah satu negara yang amat cerdas menjadikan wisata sebagai industri penghasil devisa. Negara yang pernah tercabik-cabik karena perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat ini jeli melihat peluang mengail wisatawan asing. Terowongan  tempat persembunyian di kemas  diolah seperti suasana zaman perang  lengkap dengan lapangan tembak   untuk menggunakan  AK 47 asli sehingga menjadi serasa di dunia perang beneran, rongsokan mesin mesin perang Amerika yang tertinggal dijadikan  museum. Tapi satu hal yang jangan sekali kali dicoba yaitu naik becak dan ojek di Vietnam karena semuanya rata rata penipu, begitu anda naik siap siaplah untuk diperas dengan harga yang jauh melebihi untuk  ongkos naik taksi.

Sebetulnya, dibanding Vietnam, Indonesia memiliki jauh lebih banyak obyek wisata yang fantastis, dan benar-benar kelas dunia ditambah dengan tukang becak dan ojeknya yang  jujur . Akan tetapi wisatawan asing yang datang tidak sampai sepuluh juta orang. Jauh di bawah Singapura, sebuah negara dengan luas hampir sama luas wilayah DKI Jakarta. Ada apa ini?

Kita perlu belajar banyak dari negara lain, kalau perlu dari Vietnam yang jauh ketinggalan, tidak perlu lah studi banding sampai ke Eropa sono.

Categories: Budaya, Ekonomi | Tags: , | Leave a comment

Kalau Mau di kenal Ngeblog dan Ngetwitlah

Kehadiran instagram yang menghasilkan gambar  yang bisa dikirim dengan cepat untuk  memvisualisasikan  kondisi sebenarnya suatu hal memang membantu kalau yang divisualisasikan  sudah real di depan mata, tetapi kalau yang mau divisualisasikan berupa ide ide pemikiran  dimana sesuatu biasanya dimulai dengan ide ide dan pemikiran, maka instagram tidak akan membantu.  Inilah yang membuat  sekalipun pertumbuhannya mulai  pesat, Instagram masih bukan merupakan alat sosial media yang paling ampuh dewasa ini. Karena itu bagi organisasi dan individu yang mau dikenal akan ide idenya, cara yang paling  jelas, sekalipun masih dipandang rendah- adalah melalui blog atau mini blog semacam Twitter.

Kalau anda ingin membentuk opini publik, anda harus  menciptakan  narasinya!   Pentingnya narasi ini jauh jauh hari telah didengungkan oleh Steven Covey  pengarang buku   7  Habits of Highly Effective People  dan  habit yang ke 8 selanjutnya menurut beliau ialah : Finding your voice and helping others find theirs ; tunjukan jati diri anda dan bantu orang lain menemukan jati diri mereka . Lebih ngetrend lagi pakar pemasaran dunia Phillips Kotler  dalam bukunya   Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit   mengakui pentingnya ngecap menjual diri ini dengan mengatakan  salah satu elemen  dari marketing  3.0 adalah : tell your story to the world.

Dan opini publik yang tercipta bermula  dari  narasi yang telah anda ciptakan. Makanya di negara  yang  penduduknya super kreatif  karena  pemerintahnya tidak seberapa peduli, ketika Bang Haji Rhoma Irama  mencalonkan   dirinya  menjadi Capres 2014, narasi  yang dinyanyikan  lewat lagu lagu  beliau cenderung dijadikan  publik sebagai bahan yang lebih berupa olok olok, sebut saja : tidak akan berada di istana karena Berkelana  terus, lembur ditiadakan karena    Begadang tiada artinya, dll.  Tentunya anda   ngeh sekarang kenapa  ABR  capres dari Golkar  di wilayah Sidoarjo yang menderita karena semburan lumpur Lapindo tidak dinarasikan sebagai Abu Rizal Bakri  tapi Asli  Raja B*h*ng?  Itu semua karena  narasi yang diciptakan sudah terlanjur melekat, lain cerita kalau beliau menulis  paling tidak di blog atau koran yang berisi pemikiran kenegaraan cerita mungkin akan lain. Kita masih menunggu narasi apa lagi yang akan tercipta ketika Bung Farhad Abbas pun menyatakan kesiapan nya  menjadi Capres 2014, tidak lambat bro..kalau mau ikut ikutan blogging sekarang supaya pemikiran anda bisa membentuk opini publik! Semudah itu…nanti dulu?

Suatu  penelitian yang dilakukan oleh Yahoo di tahun 2011  menunjukkan bahwa  hanya 0.05 % dari   keseluruhan pengguna Twitter  yang Tweetnya  dibaca orang, artinya dari sekitar 100 juta  pengguna  di dunia hanya sedikit sekali yang berhasil menjadi orang orang elit di dunia maya karena  tweetnya di baca, selebihnya dilewatkan begitu saja. Bagaimana mau  tweetnya di baca kalau isinya cuman..,nyapres  ah…. makan bebek goreng dulu ….rujakan yu  atau paling banter  isinya cuman 3 hal : bola, makan makan dan jalan..bagaimana  bisa menginspirasi orang?

Salah seorang dari khulufaur rasyidin mengatakan ” sebaik baik teman di segala masa adalah kitab.” Di negara yang peradaban pengetahuannya lebih maju, pertanda status sosial itu adalah buku. You ARE what you READ. Buku dan tradisi membaca yang kuat selalu menjadi elemen penting bagi hadirnya sebuah peradaban yang digdaya. Teman teman yang memiliki  background  Pendidikan bahasa Inggris  tentu   mengenal doktrin : Reading  is a passive command of  Written Language  and   Writing is  the active command of  written language.  Dengan  doktrin  ini secara  tersirat  bahwa  kemampuan  menulis sangat ditentukan oleh   berapa banyak dan sepaham apa yang dibaca. Tetapi  orang juga tidak akan tahu sepintar apa  anda dari yang  dibaca bila tidak dituangkan  atau di tweetkan melalui tulisan…jadi jangan disalahkan bro kalau ada yang menilai  you are what you twit!
Image

Reading is a passive command of written language

Memang menuangkan ide dalam blog berupa 700 atau lebih kata dan tidak dibayar bukanlah pekerjaan mudah, tapi kalau anda mau jadi presiden apakah jadi lebih mudah? Karena itu berlatihlah dulu membaca buku dan menulis supaya orang tahu isi otak anda wahai calon calon presiden jadi modalnya nggak cuman siap doang atau jawaban yang tidak terukur seperti karena prihatin melihat kondisi bangsa, karena panggilan nurani. Miss World saja mensyaratkan 3B: beauty, body, and brain.

Writing is still the clearest and most definitive medium for demonstrating expertise. Dan kalau anda tidak melakukannya jangan salahkan publik yang membentuk narasinya sendiri melebihi syarat untuk menjadi Miss World yang 3B saja menjadi 4B, tapi ini  Benar Benar Bloon  Bro!   Dan kalau ini yang terjadi   ingatlah kata kata Mark Twain   seorang novelist terkenal yang namanya  karena susah dieja diucapkan oleh teman saya  semasa kuliah  di jurusan bahasa Inggris dulu   “Merek Taiwan” :   Never argue with fools yang versi Quran-nya adalah   Wa a’rid ‘an al-jahilin. :Berpalinglah dari orang orang  bodoh.

Masih mau  nyapres?

Categories: Marketing in Digital Era, Strategi | Tags: , , , , | 1 Comment

Blog at WordPress.com.